
Yari terjatuh terguling guling kebawah. Batu besar ikut menggelinding jatuh menghantam muka Yari. BHUAAKKK....
Mereka yang diatas tersenyum puas diiringi ketawa cekikikan jahat. Mereka merasa bahwa ini adalah jalan yang terbaik untuk menjauhkan Chan dari Yari yang dikira mempunyai niatan menggoda Chan. Andai saja mereka tahu kebenaranya, bahwa Yari bukan wanita penggoda para lelaki tajir, entah akan bagaimana reaksi mereka semua setelah tahu siapa Yari sebenarnya.
Lama sudah melihat, mereka akhirnya meninggalkan Yari yang sedang meringis sakit. Sudah beberapa kali Yari berteriak meminta tolong, tapi tidak ada orang yang datang. Mustahil juga bila ada orang yang mendengar, karena letaknya didalam hutan tak berhuni.
"Hiks.... Hiks.... siapa pun tolong aku! Huhu kenapa tidak ada yang mendengar? Aku sangat sakit disini." ucap Yari.
******
"Tuan lukamu sudah saya obati. apakah ada hal lain yang bisa saya bantu?" ucap para pegawai medis.
"Iya bantu aku memeriksakan istriku selanjutnya!"
"Istri tuan?"
"Iya yang paling cantik kau coba cari!"
"Emmm tuan...."
"Apa lagi?" ucap Chan marah.
"Mohon bantuanya tuan."
"Merepotkan sekali kau. Hanya aku minta mencari istri ku saja tidak bisa." ucap Chan sambil menyapu pandangan mencari Yari dimana berada. Tetapi setelah lama memandangi kesana kemari, Yari tidak ada diantara mereka. Mulai hatinya merasa khawatir, tetapi dia mencoba untuk berpikir positif. Siapa tau Yari sedang berada ditoilet begitu pikirnya.
"Jo kau mendengarku?" Chan berteriak kencang.
"Ada apa tuan?"
"Dimana Yari?"
"Sebenarnya sedari tadi saya juga mencari nona untuk memeriksa apakah tubuhnya terluka. karena semua orang hanya sedang sibuk dengan anda, saya berniat untuk mengobati nona Yari. tetapi sampai sekarang mencari, kami masih belum menemukan dimana nona berada." ucap Jo menundukan pandangan.
"Sial... kenapa kau tidak bilang padaku dari tadi."
"Karena Saya tidak ingin menambah beban lagi untuk anda."
"Bodoh, segera siapkan pasukan militer dan polisi untuk mencari Yari keseluruh bagian kota seoul. lacak juga handphone nya!"
"Baik tuan." Jo beranjak pergi untuk melaksanakan perintah.
Chan terduduk lemas disofa. Pandanganya kosong, tak berfungsi otaknya untuk memikir. Siapa yang tidak panik jika orang yang sangat kita sayangi tiba tiba menghilang tanpa jejak.
__ADS_1
Pembunuhan, pencurian, dan pemerkosaan adalah pikiran Chan sejak tadi. Dia sangat takut bila yang dipikirkan benar terjadi kepada Yari. Chan sangat menyesal, kenapa bisa dengan rasa tak bertanggung jawab dirinya meninggalkan Yari sendiri tanpa pengawasan.
"Yari ada apa denganmu?
tunggu aku sebentar lagi ya, jangan bergerak sedikitpun dan tetap ditempatmu. Aku pasti segera menyusul kesana." batin Chan.
Beberapa saat kemudian.
"Tuan kami sudah melacak handphone milik nona. Data mengatakan, nona saat ini berada di hutan dekat pojokan laut, lokasi itu sangat jauh jaraknya dari kota seoul." ucap Jo menjelaskan.
"Oke ayo kita berangkat!" Chan bergegas menuju mobil, namun dengan cepat dihadang oleh Jo didepan.
"Apa yang anda lakukan tuan? Hari sudah memulai sore tuan, sebaiknya anda tetap menunggu disini, biar kami yang akan mencari nona."
"Apa kau gila? mana mungkin aku meninggalkan Yari sendiri disana."
"Kami mengerti. Tapi keselamatan anda adalah prioritas yang kami harus jaga. Saya tidak mau bila nanti kehilangan tuan saya yang kedua kalinya."
.…...Hening.........
"Menepilah!"
"Tuan"
"Tuan jangan seperti itu..."
Bhuakkk.... pukulan keras menghantam perut Jo.
"Jangan coba menghalangi aku lagi!"
"Uhhh baiklah tuan." jawab Jo sambil memegangj perutnya.
Mobil Chan akhirnya berjalan juga, diikuti dengan mobil militer dan ambulance. Melewati pintu masuk perusahaan milik Chan. Mereka bergegas sampai membunyikan alarm darurat untuk memberhentikan pengguna jalan lainnya. Jo sangat heran kepada tingkah laku Chan yang tadi. Seberat apapun situasinya, Chan tidak merasa se khawatir seperti Ini.
Setelah 1 jam berkendara, akhirnya mereka telah sampai di hutan yang dimaksud. Para pasukan militer mulai berjaga jaga untuk melindungi Chan. Tim medis pun juga segera manyiapkan alat medis mereka. Chan mulai melakukan pencarian bersama para orangnya. Hari yang mulai menggelap sangat mengganggu pencarian kali ini. Nampak sekilas ada cahaya tertangkap oleh mata Chan. Cepat hati dia langsung menghampiri cahaya itu tanpa dikawal oleh penjaga.
Setelah sedang mengambil apa barang itu. Betapa terkejutnya dia tahu bahwa barang ini adalah handphone milik Yari. Dia perfikir, bila handphone nya berada disini, pasti orang nya pun tak jauh dari sini. Feeling bertambah reaksi pada saat melihat jurang yang curam. Dengan membawa senter dan korek api dia memberanikan diri untuk turun kedalam jurang.
Setelah sampai dibawah, dia terus menyenter kesana kemari untuk melihat dengan jelas. Tidak tau kenapa hatinya tiba tiba merasa sakit. Dengan begitu dia memutuskan untuk duduk sejenak dibawah pohon besar. Tanpa sadar seperti aroma darah tercium oleh hidung Chan. Langsung dirinya membalikan badan untuk mencari dimana aroma itu berasal. Betapa terkejut dan takutnya setelah menemui Yari yang penuh dengan darah.
"Ya ampun Yari! apa yang terjadi padamu? kenapa banyak sekali darah? Yari bangunlah!" ucap Chan panik.
Maksud hati Chan ingin segera membawa nya pergi keatas, tetapi jurang ini terlalu dalam, kemungkinan tidak akan bisa dirinya memanjat jurang sambil menggendong Yari.
__ADS_1
"Yari aku minta kau untuk bersabar sayang! para tim medis pasti akan secepatnya menemukan kita."
"Op....pa apa itu kau? aku senang melihatmu untuk terakhir kalinya. Jika nanti terjadi apa apa padaku, aku mohon sampaikan pada keluargaku untuk merelakan aku!" ujar Yari lemah.
"Apa yang kau bicarakan itu. Jangan membuatku takut seperti ini. Kau pasti akan baik baik saja, percayalah padaku!"
"Aku sangat sakit oppa. Aku mengira hidupku bakal tak lama lagi."
"Mana yang sakit? tunjukan padaku! biar aku memijat tubuhmu yang sakit." Chan langsung memijat dengan pelan tubuh Yari.
"Apakah pijatanku sangat baik, aku sudah cukup profesional dalam hal memijat lho. Coba lihat badanmu! kenapa bergetar? pasti karena kau sedang malu jika aku sentuh Ya." canda Chan untuk menghibur hati Yari.
"Haha mana ada aku malu karenamu."
"Lalu kenapa? oh apa kau dingin? baiklah pakai jas ku untuk mengurangi rasa dinginmu." ucap Chan sembari memasangkan jas nya ketubuh Yari.
"Tidak perlu oppa! jika aku memakainya, apa yang akan kau pakai selanjutnya."
"Ahh jangan pedulikan aku! badanku cukup kebal."
"Baiklah terima kasih. Oh iya apa kau tidak mempunyai media penerangan? hari semakin malam."
"Aku membawa senter." Chan memeluk Yari sambil memainkan senter Miliknya. "Apa yang sebenarnya terjadi padamu. Kenapa aku tinggal sebentar kau sudah menghilang dari pandanganku, dan tiba tiba sudah berada disini dengan keadaan sudah berdarah darah?"
"Aku......emm...."
"Sudah sudah jangan dilanjutkan lagi. Hampir terlupa apakah kau lapar?
"Hehe sepertinya begitu."
"Maafkan aku sayang, Tunggu sebentar lagi ya." kode kode Chan agar yari mau menahan rasa laparnya.
Yari sebenarya agak kecewa karena tidak ada makanan, tapi dirinya mengerti bahwa memang didalam hutan yang seperti ini tidak ada sesuatu yang dapat dikonsumsi. Yari duduk dalam pelukan hangat Chan. Pelan pelan hatinya mulai terbuka untuk Chan. Chan sudah seperti malaikat penyelamat baginya. Mungkin bila Chan tidak ada disini akan menjadi apa dirinya.
-
-
-
-
Jangan lupa dukunganya guys.
__ADS_1