
Sampai sudah dirumah, Chan terduduk capek diatas kasur. Pria itu menatap jam dinding yang sudah bertuliskan pukul 4 sore.
"Air tolong!" Mengibas ibaskan tangan.
"Hah?" Yari mengernyit.
"Air.... Aku haus, tolong ambilkan."
Yari pun mengeri yang dimaksut Chan. "Ah iya Oppa mau air, tunggu ya aku ambilkan." Katanya, lalu segera pergi kedapur untuk mengambil air.
Yari segera pergi kedapur, dia mengambil gelas berwarna pink, lalu menuang air digelas tersebut. Terisi penuh sudah gelasnya, Yari dengan secepat kilat, dia langsung menuju kembali kekamar.
"Ini airnya." Yari memberikan segelas air putih kepada Chan.
"Terima kasih." Chan langsung meminum dengan sangat cepat. Tidak sampai 1 menit, gelas pun kosong tak tersisa. Karena saking hausnya, sampai air yang diminum tumpah tumpah tak beraturan membasahi leher dan bajunya. Tetesan air terus mengalir kebawah, yang membuat baju semakin basah dan terawang.
Glekk....
"Sial!! Hanya minum saja, kenapa harus seseksi itu sih. Mataku belum siap." Guman Yari tergoda.
"Ehem." Chan berdehem menyadarkan pikiran kotor Yari. Yari yang salting langsung memalingkan wajahnya kebelakang.
"Eh.... Apa yang bisa aku bantu lagi?" Yari malu sampai muka nya secara otomatis berwarna merah padam.
"Aku ingin tidur."
"Tidur......Ya sudah tidur saja sana. Apa urusan nya denganku."
"Nina bobo dong sayang." Chan menepuk nepuk kasurnya.
"Hah!"
"Seperti ini lah tugas seorang istri." Chan menyilangkan kedua tangan dibelakang kepalanya.
"Tapi aku mau man...."
__ADS_1
"Jangan beralasan lagi. Aku paling tidak suka menerima penolakan seseorang. Sekalipun itu orang tuaku."
Takut akan ancaman Chan, Yari pun membaringkan badan untuk pergi tidur bersama. Tangan kekar terlihat melingkar dipinggul Yari. Pria yang sangat tampan, tidur dengan bulu mata panjang ditambah rambut berantakan membuat Yari semakin deg degan. Seketika tangan gatalnya tidak terkontrol ingin membelai rambut pria ini.
Chan mengerutkan dahi ketika ada sesuatu yang mengacak acak rambutnya. Mata kilau perlahan terbuka.
"Jangan ganggu aku! Aku lelah." Memegang kedua tangan Yari sambil terpejam kembali.
Yari menelan ludah sambil mengangguk pelan.
"Eh maaf!"
Chan menahan tawa melihat ekspresi Yari yang terlihat takut. Padahal dirinya tak menganggap serius apa yang dikatan nya tadi. Dia tidak menyangka bahwa Yari bisa setakut itu.
Begitu mengerikan kah dirinya ini? Chan rasa tidak begitu.
Suara napas yang khas terdengar kuat ditelinga Yari. Perlahan Yari mendongak. Pria itu tengah tersenyum kuat kapada Yari. Dipikir ada yang tidak beres dengan otak Chan, Yari memilih untuk mengacuhkan. Yari menundukan kembali pandanganya berharap agar Chan berhenti memberi pandangan manis itu.
Lagi lagi Chan terkekeh, membuat Yari bertambah malu sampai tidak bisa berkata kata.
"Sifatmu yang seperti itu mengingatkanku kepada seseorang." Chan melirik wanita yang masih dalam pelukan nya yang masih tengah malu malu.
"Ada saja! Kau tak perlu tau."
Yari tiba tiba terbangun dari pelukan chan. "Ih kok begitu sih. Sudah mau main rahasia rahasian Ya sama Yari." Dia merajuk sambil melipatkan kedua tanganya didepan dada. Wajahnya cemberut tak beraturan, semakin membuat gemas.
"Kalau kau sangat ingin tau, kau harus bercerita akan masa lalumu dahulu, baru aku setelahnya."
"Enak saja! Gak mau ah." Yari bangun dari tempat tidur saking terkejutnya.
"Ya sudah kalau tidak mau." Chan kembali memejamkan mata dengan santai. Sedangkan Yari nampak kecewa akan pilihanya tersebut, kenapa dia tidak sebaiknya bercerita saja, toh masa lalunya tidak ada yang terdengar memalukan.treatment
Yari semakin kesal lagi saat ditinggal tidur oleh Chan. Bisa bisanya ya tertidur dihadapan orang yang masih berbicara. Untung sabar, jika tidak bumm... Hancurlah.
Yari menatap lekat pundak pria itu berharap agar bangun dan menawaran Yari supaya ikut tidur juga. Namun nihil setelah ditunggu lamanya, tidak ada satu pun gerakan. Yari sangat marah, dia memutuskan untuk mencari angin diluar rumah agar menjadi lebih rileks.
__ADS_1
Sampai diluar rumah.
Yari berkeliling taman hendak untuk melihat terbenamnya matahari. Dia mulai berjalan ke tempat duduk dibawah pohon sakura, dan mulai duduk menikmati harumnya bunga bunga indah ini.
Suasananya sangat berbeda jika dibandingkan di indonesia. Jam segini biasanya akan banyak orang yang sedang berjualan dan bersantai. Namun dikorea ini, tak ada satupun orang yang bersantai. Semuanya sedang sibuk mempersiapkan energi untuk hari esok.
Ini membuat Yari rindu akan kampung halaman. Apalagi teman baiknya semua ada disana.
Hari semakin gelap saja. Yari akan segera kembali kerumah sebelum Chan mencarinya.
Tetapi Yari tidak langsung pulang kerumah. Karena perutnya yang merasa lapar, dia memutuskan untuk berbelanja sejenak lalu pulang akgirnya. Untung supermarket nya tidak jauh dari rumah mereka berdua. Sehingga tak membutuhkan untuk berjalan menggunakan mobil atau sejenisnya.
....................
Disisi lain
"Aduh kepalaku rasanya mau pecah. Yari tolong siapkan air kompresan untukku."
Hening.
"Yari kau mendengarku?"
"Hening.
"Yari hello." Chan bangun dari tidurnya, dan mencoba untuk mencari Yari. Namun setelah dicari dikeseluruhan sudut keberadaan Yari masih tidak ditemukan.
"Oke pasti Yari sedang keluar rumah tanpa aku tau. Sangat nakal, lihat saja nanti." Chan mulai memakai baju santai untuk mencari Yari. Tak tau pasti dimana Yari berada, namun firasatnya mengatkan bahwa Yari sedang berada di supermarket. Memang batin yang sangat kuat.
Chan mulai menuju kearah supermarket. Menyisir pandangan kearah kanan dan kiri. Hingga tertangkap sesosok wanita yang sedang memilih milih buah mangga. Chan pun langsung bergegas menghampiri wanita itu. Dengan satu tarikan, membuat wanita ini berbalik spontan.
"Yari beraninya kau!! WAHHHHH......"
-
-
__ADS_1
-
-