
Mobil pun telah terparkir didepan perusahaan. para security berdatangan untuk menyambut Chan yang sedang melangkah keluar. Seketika wajah mereka yang tadi terlihat bersemangat, berubah menjadi tak ber ekspresi ketika melihat Jo yang sedang menggotong perempuan mabuk.
"Maaf pak, apakah wanita tersebut perlu kami awasi?" tanya security.
"Tak perlu." ucap Chan dingin.
"Baik pak."
Chan mulai melangkahkan kaki untuk masuk kedalam, dan seperti biasa karyawan berbaris rapi untuk memberi salam selamat pagi, Chan yang berjalan tak menghiraukan mereka yang berbaris.
Sampai akhirnya mereka telah sampai di kantor direktur. Jo cepat cepat membaringkan Yari di sofa lalu pergi meninggalkan mereka berdua didalam. Jo sangat tau, jika Chan paling tidak suka diganggu saat bersama wanita, apalagi Yari.
DIDALAM KANTOR DIREKTUR
"Lain kali aku akan menaruh minumanku dengan aman, orang rakus sepertimu itu sangat bahaya. Apa saja yang terlihat seperti makanan dan minuman pasti akan dimakan olehmu, dasar orang rakus." guman Chan, disaat dirinya sedang asik berguman, tiba tiba teralihkan oleh Yari.
"Kau tampan sekali." ucap Yari yang masih dalam keadaan mabuk, pikiranya jernihnya sudah terputus saat ini.
"Benarkah aku tampan? apa kau menyukai orang yang tampan sepertiku?"
"Tentu saja, aku suka sekali yang namanya tampan."
"Begitu kah, jadi sudah ada berapa orang yang tampan bersamamu saat dulu?" Chan mencoba untuk memancing Yari.
"Banyak sekali, tetapi tidak ada yang setampan denganmu."
"Sesuka itukah kau padaku?"
"Iya." Jawab Yari antusias.
"Baiklah, bagaimana kalo aku memberimu hadiah yang istimewa karena kau menyukaiku"
"Serius! aku mau sekali."
__ADS_1
Chan tergelak tipis menyikapi tanggapan Yari yang plin plan. Yari tidak mengetahui bahwa hadiah istimewa nya adalah sesuatu yang pasti sangat dihindari olehnya. Sebenarnya Chan tidak mau melakukan itu, tetapi kesempatan tak datang dua kali. Jika tidak dilakukan sekarang mungkin Yari tidak akan mau memilikinya. Karena dalam kondisi mabuk, Yari pasti akan sangat penurut, jadi itulah sebabnya Chan terpaksa memperdayai Yari walau caranya bisa terbilang licik.
"Ayo buat anak yang lucu."
"Bisakah kau memberiku hadiah yang pantas." ucap Yari yang masih dibawah pengaruh alkohol.
"Kenapa? apa kau tidak ingin mempunyai anak dengan seseorang yang tampan."
"Hmmm...." Yari berfikir.
"Tik...tok...tik...tok.... waktumu telah habis." Chan menarik tangan Yari menuju kamar istirahat.
Sesampai dikamar Chan membaringkan tubuh Yari dengan pelan pelan. Membukakan satu persatu pakaian Yari sampai tak tersisa sehelai benang. Tanpa pikir panjang, dia mulai mencium sekujur tubuh Yari tanpa ada rasa canggung. Memelai dengan lembut setiap lekukan badan disentuhnya. Yari hanya bisa merintih menikmati rasa yang diterima, waktu pertamanya akhirnya diberikan juga kepada pria yang sah alamatnya.
Chan mengalihkan ciumannya menuju bibir kecil Yari. Menjulurkan lidah nya masuk kedalam mulut Yari, menghisap air liur Yari yang terus menetes karena kasarnya ciuman itu. Karena Chan tau waktunya tidak banyak dan juga disini masih berada didalam kantor, akhirnya dia mulai melakukan aksinya. Menguasai tubuh Yari dengan sangat kasar tanpa memikirkan rasa sakit yang diderita Yari.
"Huhu sakit...." rintih Yari.
"Stttt diam." ucap Chan membungkam mulut Yari.
Chan mulai melangkah kan kakinya dengan hati hati supaya tidak membangunkan Yari. Setelah keluar dari ruangan, nampak Jo berdiri menunggu untuk meeting hari ini. Chan pun dengan segera menghampiri Jo, dan mereka berjalan menuju ruang meeting.
"Tuan apakah ada sesuatu yang bahagia saat ini? dari tadi saya melihat ekspresi anda sepertinya sangat senang." ucap Jo
"Kau benar sekali."
"Apa ini ada hubungannya dengan nona?"
"Iya, dan aku minta kau untuk bersiap mulai dari sekarang!"
"Bersiap untuk apa tuan?" tanya Jo yang tidak mengetahui sama sekali.
"Lihat saja nanti." ucap Chan yang cuek lalu mulai memasuki ruangan meeting. acara pun dimulai.
__ADS_1
Sementara disisi lain, Yari yang tertidur lama akhirnya terbangun. Kesadarannya sedikit demi sedikit mulai berkumpul. Sakit kepala yang dirasakan Yari sangat menyiksa, apalagi tubuhnya merasa sakit sekali tanpa dia ketahui. Dia bertanya-tanya dimanakah dirinya berada saat ini, dia mencoba mengingat ingat kembali aktivitas yang dia lakukan terakhir kali, namun usahanya sia sia karena tak ada satupun ingatan yang muncul.
Yari melihat kearah jam dinding yang sudah menunjukan pukul dua siang. Artinya sudah sangat lama dirinya sudah berada disini. Yari sesegera keluar dari ruangan ini, untuk mencari kebenarannya. Namun setelah turun dari ranjang betapa terkejutnya dia melihat badannya yang tak berbusana.
"Arkhhh.... apa yang terjadi ini? pasti aku sudah bermimpi yang aneh aneh saat tertidur tadi, sesampai melepas bajuku sendiri". guman Yari. Cepat cepat dirinya mencari baju untuk menutupi badannya. Dia berpikir bahwa dirinya telanjang karena ulahnya sendiri, tetapi kenyataan bukan begitu. Yari terus mencari bajunya untuk dipakai kembali, namun tidak kunjung menemukan juga. Akhirnya dia terpaksa memakai sebuah kemeja yang masih terbungkus baru. Ukuran yang sangat besar jika diapakai Yari, sehingga dia tidak perlu memakai bawahan lagi.
Yari mulai melangkah untuk keluar, namun ternyata kamar itu tembus menuju kantor Chan yang dia kunjungi kemarin. Yari merasa seperti ada yang janggal dengan semua ini, tetapi dia mencoba untuk berfikir positif. Namun tiba tiba Chan masuk kedalam dan menatap Yari yang berdiri membatu.
"Sudah bangun?" ucap Chan sambil melepaskan jas.
"Iya, emmm...."
"Apa?"
"Apakah ada yang terjadi padaku selama aku tidur tadi? dan juga kenapa aku sudah sampai dikantormu saja, jelas jelas tadi pagi aku masih berada dirumah."
"Ntahlah, tanyakan sendiri pada dirimu." ucap Chan yang akan pergi meninggalkan Yari lagi.
"TUNGGU!" ucap Yari keras.
"Apa?"
"Entah kenapa dan mengapa, setelah bangun tidur badanku sudah dalam keadaan telanjang. Aku mencoba untuk mencari pakaianku kembali, tetapi aku belum kunjung juga menemukannya. Namun aku juga tidak mempermasalahkan hal itu"
"Lalu?"
"Apakah kau tidak mempunyai baju wanita. Aku tidak nyaman memakai kemeja ini."
"Tidak ada, pakailah kemeja itu dahulu. Nanti setelah pulang dari sini, aku akan membawamu pergi ke mall."
"Tapi...."
"Aku sibuk, kita lanjutkan nanti saja pembicaraan nya." ucap Chan dan langsung meninggalkan Yari sendirian.
__ADS_1
Yari hanya bisa bernafas berat. Dia sempat berpikir ada apa sebenarnya ini? Masalah satu belum terungkap kebenarannya, datang lagi masalah dua yang menyiksa dirinya. Demi bisa mengungkapkan kebenaran, Yari harus bersabar menunggu Chan yang sedang bekerja dan membicarakan baik baik. Hanya cara ini salah satu yang paling jelas.