
"Hah dari mana kau tahu bahwa aku mempunyai lelaki lain." yari sedikit menggoda Chan.
"Apa!!!"
"Jadi itu benar." Chan dengan cepat-cepat segera menghindar dari dekat Yari, seakan tak percaya yang dikatakan oleh istrinya.
Yari yang merasa sudah menang mempermainkan suaminya, seketika terpingkal-pingkal. Reaksinya yang begitu besar sangat lucu dilihat, menurut yari.
Chan yang sadar sudah dipermainkan oleh Yari, hanya bisa berdiam diri menahan rasa kesalnya.
"Apa yang kau tertawakan? Tidak ada yang lucu disini."
"Ah si om marah. Maafkan saya om."
Bukanya diam, yari malah semakin menjadi-jadi menggoda Chan. Itu membuat dia semakin bertambah kesal. Sesegera Chan menghampiri Yari yang masih mengejeknya.
Perempuan itu lantas terkejut setengah mati. Kapan datangnya orang ini?
Tiba-tiba saja Chan mendekatkan wajahnya kearah Yari. Membuat jidat mereka satu sama lain saling menyatu. Perasaan berdebar membuat suasana seketika hening.
"Apa aku terlihat seperti om-om?" ucap Chan dengan seksi.
Merasa jarak mereka terlalu dekat. Yari Dengan sekuat tenaga mendorong tubuh Chan.
"Tepi lah!"
Saking kuatnya dorongan yang didapat. Sesampai membuat Chan hampir menimpa vas bunga. Untungnya dia cekatan untuk menghindar. "Sialan!"
"Mangkanya om, jangan macam-macam dengan saya." ucapnya seperti psikopat yang sedang mengancam budaknya.
Lantas Yari langsung keluar ruangan. Dia terlihat sangat bangga telah menakut-nakuti Chan tadi. Dia kira Suaminya itu takut dan tak berani macam-macam lagi kepada dirinya.
Namun disisi lain, Chan masih tak berkutik dari tempatnya. Senyum tipis muncul di bibir. Entah kenapa dia sangat suka akan kejadian tadi. Ekspresi Yari yang imut, kata-kata mengancamnya, dan suara yang lantang selalu terngiang-ngiang dalam pikiranya. Hingga pikirannya seketika terbuyarkan karena panggilan masuk. Cepat-cepat Chan mengangkat telepon.
"Halo! Ah iya-iya saya akan segera datang."
Kini Chan akan pergi keperusahaan. Sementara Yari dengan sibuknya membereskan barang yang tampak kocar-kacir.
.....
Dikantor Chan nampak sibuk mengerjakan pekerjaan nya. Dengan didampingi oleh bawahannya, beberapa menit kemudian akhirnya pekerjaan itu pun selesai mereka kerjakan. Hanya tinggal menyelesaikan bagian stempel sebagai pelengkap terakhir. Namun ia terlupa membawa stempel dari rumahnya. Chan benar² pikun, kemarin malam ia lupa memasukan stampelnya kedalam tas kerjanya.
Bukan karena alasan, Chan memang sering membawa stampel untuk dibawa pulang. Banyaknya pekerjaan tak cukup untuk ia kerjakaan dikantor saja, sehingga mau tidak mau harus dikerjakan dirumah juga. Perlengkapan alat kerja lainnya pun tak luput ia ikutkan pulang bersamanya.
Chan segera meraih ponsel nya dan melakukan panggilan suara ke nomor list pertama.
Yari nampak asik sedang menonton drama serial kesukaannya, sambil memegang snack yang ada didepan perutnya, ia terlentang tidur dengan ditumpu beberapa susunan bantal untuk dijadikan senderan.
Drt.... Drt.....
__ADS_1
Handphone yari berbunyi riang. Ia langsung mengangkat handphone nya tanpa melihat nama yang tertulis.
"Halo dengan yari disini. Ada yang bisa saya bantu? Kalau tidak ada, sambungan akan saya tutup!" Ucap yari yang masih dengan tatapan kearah layar tv.
Krik.... Krik.... Hening
"Hem." Lalu dijawab deheman oleh lawan bicara.
Yari yang merasa bingung karena hanya dijawab deheman oleh seseorang, sontak ia langsung melihat nama telepon yang tertulis dilayar hp nya.
BERONDONG TUA (nama yang tertulis)
Yari langsung melotot sejadi jadinya, karena yang menelpon adalah chan yang tidak lain adalah suaminya. Bagaimana tidak melolot, mengingat betapa sopannya ia berbicara ditelepon tadi. Mengancam jika tidak ada hal yang penting, ia akan menutup teleponnya. Bisa dipastikan akan ada perang dunia ke-100 setelahnya.
"Sudah aku tak ingin ribut lagi. Aku menelpon hanya ingin bilang, tolong hantarkan stampel yang ada dilaci meja kerjaku sekarang. Sudah itu saja."
tut...... telepon ditutup.
Huh menyebalkan.......
Yari mendesah kasar. Jujur semenjak penindasan yang dilakukan oleh para karyawan suaminya, ia agak takut untuk pergi keperusahaan. Traumanya masih ia rasakan saat ini juga. Marah, takut, dan malu bila yari ingat kejadian kembali, ia sangat tertekan, sehingga membuatnya tak ingin menceritakan kejadian yang dialami kepada siapapun.
Setelah lama berfikir, akhirnya yari memutuskan untuk pergi juga. Dengan memakai kaos hitam biasa dan celana jeans panjang, ia terlihat cantik seperti ABG pada umumnya. Yari berpakaian seperti ini karena tidak ingin bermewah saja.
Setelah selesai bersiap diri, ia langsung memesan taxi online dan pergi ke perusahaan.
.......
Tanpa pikir panjang ia langsung masuk dan menuju kearah resepsionis.
"Permisi! Saya mencari bapak chan disini. Apakah ada?" ucap Yari sopan.
Karyawan itu nampak berbisik dengan rekannya dengan bahasa korea, yang membuat Yari kebingungan. Namun didetik terakhir keduanya saling beranggukan.
"Mencari direktur ya? Mohon tunggu sebentar nona! Saya akan panggilkan sekertaris Jo untuk datang kesini." Yari hanya menjawab dengan anggukan dan senyuman.
3 menit kemudian.
"Nona." Panggil seseorang dari lif khusus CEO. Mengisyaratkan Yari untuk masuk kedalam lif itu. Yari pun menyetujuinya dan ikut masuk bersama sekertaris jo.
tak perlu waktu lama, akhirnya mereka telah sampailah didepan pintu kantor direktur.
Lantas yari segera masuk sedangkan sekertaris jo pamit undur diri.
Sebelum masuk kedalam ruangan, Yari tidak lupa mengetuk pintu dahulu.
Tok..... Tok.....
"Masuk!" perintah seseorang dari dalam. Tanpa segan Yari langsung masuk.
__ADS_1
Nampak seseorang pria berawakan tinggi nan gagah, tengah berdiri menghadap arah jendela. tatap matanya tajam, namun sangat berwibawa.
Lalu pria itu berbalik menghadap yari. Senyuman keduanya nampak terpancar setelah mata mereka saling bertemu.
"Sudah datang." Chan menghampiri Yari yang masih nampak senyum senyum sendiri. Entah mengapa, sepertinya Yari agak terpesona dengan ketampanan Chan.
Cup.... Satu kecupan mendarat ditangan Yari. Mungkin maksudnya sebagai tanda selamat datang.
"Lama sekali." Ucapnya yang masih memegang tangan Yari.
"Eh maaf, macet soalnya tadi." Yari linglung.
"Emm ya sudah. Mana stempelku?"
"Ini." Yari memberikan benda itu kepada Chan. Dengan cekatan, Chan langsung mengambilnya dan mulai memberikan cetakan stampel dikertas yang ditumpuk.
Yari termakan waktu. Perutnya tiba tiba berbunyi lancang. Dengan berusaha ia mencoba menghentikan bunyi dengan memukul pukul perutnya. Menurutnya cara ini akan berhasil untuk menunda rasa laparnya.
Chan yang melihat Yari sedang memukul mukul perutnya terkejut setengah mati. Bagaimana tidak terkejut, ada bayinya dikandungan perempuan itu. Dan lagi Yari masih belum diberitahukan olehnya bahwa ia tengah mengandung. Masih belum siap Chan untuk membuka suara.
"Aduh! Hentikan! jangan pukul lagi." Chan panik sesampai ia reflek menutupi perut Yari dengan kedua tangannya. Yari yang merasa aneh dengan sikap suaminya langsung menghentikan pukulannya.
"Kenapa?"
"Jangan nanti sakit perutnya. Ayo! Ayo! Kita makan." Chan mencoba mengalihkan pembicaraan. Lalu disetujui oleh anggukan Yari. Merekapun pergi kekantin untuk membeli makanan. Sedangkan berkas² yang distempel tadi dibiarkan begitu saja.
...........
Dikantin Chan membiarkan Yari memesan segalanya yang wanita itu mau. Hitung hitung sebagai wujud terima kasihnya untuk kehadiran sang buah hati.
Pesanan yang mereka pesan mulai nasi goreng, daging, seafood, dan banyak lagi lainnya. Banyak sekali bukan, tetapi dengan ajaibnya Yari bisa menghabiskan semua. Semua orang yang menyaksikan nampak terheran heran, bagimana bisa seorang wanita kecil mampu menampung sebegitu banyaknya makanan. Namun sudah biasa Chan menanggapi Yari yang makan banyak seperti itu.
"Ah kenyang sekali." Yari bersender pada kursi sambil mengusap usap perutnya. Tapi ucapannya tadi disaut cepat oleh Chan.
"Mustahil jika tidak kenyang. makanan yang biasanya dihabiskan untuk 10 orang, kau makan semuanya sendirian. Woah tidak heran jika badanmu seperti gajah, Daebak!" Ucap Chan sambil mengangkat kedua jempolnya.
"Sialan." Yari hanya mengumpat. Bagaimanapun semua yang dikatakan oleh Chan adalah kenyataan.
Chan tersenyum gemas. Sejauh ini hubungan mereka semakin membaik setiap harinya. Bahkan mulai saling merindukan satu sama lainnya.
Pagi sudah berlalu tergantikan siangnya hari. Waktu istirahat telah usai. Mereka memutuskan untuk kembali kekantor. Chan melakukan pekerjaan nya kembali, sedangkan Yari tidur siang diruang istirahat milik Chan.
Tok.... Tok.....
"Izin masuk bos, saya sekertaris Jo."
"Masuklah!" ucapnya yang masih berkutat dengan komputer.
"Ha ada apa?"
__ADS_1
"Dia kembali."
Bersambung...........