
Chan dan keluarga besarnya mulai memasuki kamar mereka masing masing. Hotel ini terdiri dari 5 kamar utama lengkap beserta kamar mandi, kolam berenang, ruang keluarga, dan ruang makan. Jika dijabarkan, hotel ini lebih ditujukan kepada para konglomerat.
Yari merebahkan tubuhnya disofa. Sambil menatap sekeliling hotel yang dia tempati. Senyum manis terpancar dari bibir wanita itu. Dirinya sangat menikmati liburan kali ini. Apalagi berlibur bersama keluarganya, sangat langka dan jarang bisa mendapatkan kesempatan indah ini.
Chan yang melihat tingkah laku Yari, membuat dia geli sendiri. Ini pasti otaknya yang bermasalah, begitu pikir Chan. Namun jika dilihat kembali, senyumnya begitu cantik untuk dipandang. Sangat cantik, sampai mengalahkan cantiknya seluruh dunia.
Dia pun ikut bergabung merebahkan tubuhnya disamping Yari.
"Otakmu baik baik saja." Chan memulai pembicaraan. Mengejek adalah kebiasaan yang sering dia lakukan.
"Hah apa?"
"Aku tanya. Apakah otakmu baik baik saja. Dari tadi aku lihat, sepertinya kau gila."
"Apa katamu?" Yari berapi api. Dia bangkit dari duduknya, dan berdiri dihadapan Chan berada.
Chan pun mendongak.
Yari yang sangat marah langsung menjambak rambut lelaki itu. Menjambak dengan sekuat tenaga sampai membuat Chan kesakitan..
"Aduh!! Duh!! lepaskan wanita gila!" dia kesakitan.
"Ha rasakan itu."
Lama mereka saling cek cok. Tiba tiba
Tok tok..
Datang seseorang memanggil mereka berdua. "Sudah maktunya makan cemilan. Ayo turun nak! Kita perlu berbincang sebentar." ucap mama.
Chan langsung sersentak, melihat penampilan yang berantakan akibat ulah Yari, akan membuat mama kaget. Segera dia merapikan rambut dan bajunya. Lalu pergi membuka pintu. Cklekkk
"Iya ma, kami akan turun. Iya kan Yari sayang."
Dari belakang Yari muncul. " Ahaha iya ma, ini sudah mau turun kok hehe."
"Ya sudah."
Mereka akhirnya turun juga.
Semua orang sudah berkumpul. Papa, mama, ibu, ayah, dan... Sepasang kekasih tak dikenal juga hadir dalam obrolan mereka. Siapa mereka?
Yari menoleh kepada Chan karena bingung atas kehadiran orang asing itu. Lalu dibalas anggukan pelan oleh Chan, mengartikan diri bahwa semuanya baik baik saja.
Mereka berdua akhirnya ikut bergabung dalam perkumpulan keluarga.
__ADS_1
Yari bertambah bingung saat sang pria yang tidak dikenal itu sedang menatap dia lekat lekat. Yari pun menundukan pandanganya agar tak lagi dilihat oleh orang itu. Takut, malu, dan bingung dirasakan secara bersamaan. Jantungnya berdegup kencang tak karuan. Dia kembali mendongakkan pandanganya, namun terlihat masih tak bergeming pria itu menatap.
Hati si Yari pun tenang saat papa mulai membuka pembicaraan mereka.
"Ya diantara kita disini. Pasti orang yang paling bingung adalah Yari." papa menyinggung nama Yari, hingga membuat pemilik nama itu terkaget.
"A-aku." dia tergagap.
"Iya! Yari perkenalkan, dia adalah kakak kandung Chan, dan yang satunya adalah istrinya. Mereka tidak datang kepernikahanmu karena suatu alasan."
"Anyeonghaseyo!" ucap mereka sambil membungkukan setengah badan.
"Emmm?" Yari bingung, tidak bisa menjawab. Dia menoleh kepada Chan, untuk minta dibantu. Lelaki itu hanya bisa menghela napas kasar.
"Sudahlah kakak jangan bercanda, dia tidak bisa."
"Hoho baiklah. Halo! Perkenalkan saya adalah kakak iparmu dan ini istriku. Semoga kita bisa menjadi keluarga yang harmonis." ucapnya sambil mengulurkan tangan.
Yari dengan hati hati membalas salaman itu. "Halo Saya senang bisa mengenal anda sebagai keluarga. Mohon bimbingan anda untuk kedepannya!"
"Pasti! Kau adalah wanita yang baik. Pasti aku akan membimbingmu menjadi adik ipar yang baik juga tentunya."
Disaat asiknya mereka berkenalan, selalu ada papa yang mengganggu.
"Baiklah."
Mereka akhirnya menuju keaula pinggira pantai. Mulai membagi tugas masing masing. Satu pasangan kekasih, harus mempunyai satu tenda. Chan dan Yari pun bekerja sama untuk mendirikan tenda mereka. Dengan satu tindakan, tenda selesai juga dirakit. Begitupun juga milik pasangan pasangan yang disana juga.
-
Hari mulai menggelap. Tempat bakaran untuk malam nanti sudah disediakan.
Mereka lebih memilih mencari ikan dan kerang dipantai, daripada membeli sendiri di mall. Karena lebih fress dan menghadirkan sensasi tersendiri.
Ada yang memancing, ada yang mengumpan, dan ada yang menangkap langsung ikan itu. Begitupun Chan dan Yari yang menangkap ikan dengan cara menangkapnya langsung.
"Hei bodoh! Jangan kau obok obok seperti itu airnya. Nanti mereka akan pergi." Chan tergopoh gopoh membawa ember besar. Mencari ikan bersama seorang Yari adalah pilihan yang salah pikirnya.
"Oh baiklah. Eh lihat itu! Ikannya sangat besar. Aku tangkap ya, hupp....... Yes dapat oppa." Yari mementeng ikanya keatas.
"Wah hebat! Taruh ember cepat."
"Aku datang."
Malam hari telah tiba, Chan dan Yari memutuskan untuk kembali ketenda karena langit sudah mulai menggelap. Juga ikan yang didapatnya sudah banyak. Keduanya menghela nafas, capek yang dirasa ternyata sebanding dengan hasil yang didapat. Seperti kata pepatah, usaha tidak akan menghianati hasil.
__ADS_1
Api unggun sudah dinyalakan oleh papa. Ini adalah waktunya untuk bersenang senang dalam arti sesunguhnya. Para human lainya juga ikut bergabung untuk menikmati hasil memancing tadi.
Cshhh...... Cshhh......
"Harumnya! Aku mau satu." Yari tak sabaran.
"Sebentar lagi nona, ikanya bahkan masih mentah. Emangnya kau mau makan ikan mentah?"
"Hum... Lama sekali." Yari merajuk sehingga membuat dirinya begitu gemas.
"Sabar sedikit ya sayang." lelaki itu membelai rambut Yari. Lalu fokus kembali dengan ikan bakarnya.
Yari tiba tiba merasakan kehangatan dari sikap Chan yang seperti itu. Mulai datang benih benih cinta diantara mereka berdua, namun terlalu gengsi untuk mengakui.
"Wah pasutri baru ini nampaknya sangat berbahagia ya sayang."
"Sepertinya begitu." jawab istrinya.
"Ah halo kakak ipar." Yari membungkukan badan.
"Jangan terlalu sopan. Kami masih keluargamu disini. Jika bertemu denganku, cukup sapa aku dengan sebutan saja." kakak Chan menjelaskan.
"Baiklah kakak ipar. Mari kak ikut bergabung bersama kami saja. Biarkan para orang tua disana menikmati masa tuanya sendiri." Yari mempersilahkan kedua kakak iparnya itu untuk duduk, sambil menunggu hidangan ikan dan kerang bakar siap.
"Terima kasih adik."
Mereka bertiga duduk tenang diatas tikar, kecuali Chan yang masih sibuk dengan tugasnya tersebut.
Suara ombak yang riang dan hembusan angin malam, menyapu suasana asri disana.
Ikan bakar pun sudah jadi untuk disantap.
"Nah ikan bakar spesial ala chef Chan sudah jadi."
Mereka antusias kegirangan. Dengan lahap Yari menyantap ikan bakar itu. Membuat Chan yang melihat merasa senang. Tak ada yang menyenangkan, kecuali melihat Yari yang menikmati hasil jernih payahnya sendiri.
_
_
_
_
Guys jangan lupa uang parkirnya. Cukup like, komen dan vote ya. Saya doakan yang suka cerita saya dapat pahala😂
__ADS_1