
Yari masuk kedalam tenda dan hendak tidur. Lalu disusul juga oleh Chan. Mereka mulai membaringkan tubuh ditenda yang kecil itu.
Tidak ada kata kata setelahnya. Hanya hening.
Yari membalikan tubuh kecilnya untuk menghadap kearah Chan. Namun Chan berposisi sebaliknya. Chan meringkuk seperti bayi yang kedinginan, sehingga membuat yari tersentuh hatinya. Jujur saja meskipun Chan memiliki tubuh yang kuat dan besar, namun siapa sangka bahwa dia tidak tahan akan dingin.
Yari pun memeluk badan besar itu Dengan satu dekapan. Tubuhnya yang kecil mampu mendekap pria itu sampai keperut sixpack. Memeluk erat sehingga orang yang dipeluknya terengah engah.
"Jika kau seperti itu. Mungkin aku akan mati." ucapnya yang masih tidak membalikkan badan.
"Ah maaf." yari sedikit melepaskan pelukan nya.
"Tidak apa. Bisakah kau memberikan kehangatan yang lebih untukku!"
"Seperti apa itu."
Tiba tiba pria itu berbalik. Membuat Yari terkaget. Chan mendekatkan bibirnya kearah kening Yari. Dan mengecup dengan penuh amanat.
"Seperti ini." cup.....
"Begini saja sudah bisa memberiku sejuta kehangatan."
Wanita itu hanya bisa terdiam menahan rasa malunya yang hampir meledak. Lalu membenamkan wajahnya kedalam pelukan Chan.
Chan hanya bisa memberikan pelukan yang sepastinya. Membalasnya dengan belaian ramah dirambut.
"Tidurlah sayangku! Besok kita harus bangun pagi untuk pergi membeli oleh oleh."
"Oke oppa!"
"Panggil aku sayang! Sebutan itu membuatku geli untuk didengar."
Lantas Yari mendongakkan pendanganya. "Sayang."
"Pandai!" dia mengusap berulang kali rambut Yari.
"Oh iya, bolehkah aku membeli banyak barang untuk oleh oleh."
"Ya terserahmu saja. Kau ingin membeli seluruh dunia pun aku sanggup." Dia agak membusungkan badanya. Membuat wanita itu mendecik kesal akan kesombongan nya. Dan akhirnya keduanya terlelap dalam mimpi masing masing.
-
__ADS_1
-
Esok harinya.
"Sayang sudahkah belum? cepat kami sudah mau berangkat." teriak Chan dari arah ruang tamu.
Yari bergegas menuju arah suara itu. Sambil membawa dua tas besar yang berisikan banyak snack kesukaan. Semuanya melongo, tak percaya melihat pemandangan yang mengerikan seperti itu. Apa lagi orang tua Yari sendiri, tidak biasa Yari suka makan snack sebegitu banyaknya
"Apa yang kau bawa itu. Taruh!" bentak Chan.
"Aku hanya membawa makanan saja, apa masalahnya."
"Kubilang taruh. Nanti kita bisa beli banyak disana." dia menghampiri Yari dan mengambil paksa tas itu. Yari pun merebut kembali tas yang diambil oleh Chan.
"Tidak mau! Kembalikan itu!" wanita itu melompat lompat ingin mengambil tas yang jauh dari jangkauan nya.
"Tidak boleh Yari. Ini kita simpan saja untuk cemilan nanti malam ya."
"Tidak mau! Aku cuma mau yang itu."
"Sudahlah Chan! Berikan saja." ucap papa.
"Ini urusan rumah tangga saya. Jadi tolong kepada pihak yang tidak bersangkutan, jangan ikut campur untuk saya melarang siapa dan memerintahkan siapa."
Akhirnya Yari mengalah, meskipun hatinya tampak kecewa. Mereka masuk pada mobil masing masing. Seperti biasa, 4 mobil telah terparkir diluar, menunggu datangnya bos yang akan bepergian.
Brakk.....
Pintu mobil dibanting keras oleh Chan. Yari hanya bisa terdiam sepi.
"Ada apa padamu? Kenapa kau akhir akhir ini sering suka makan. Dan itu makanan yang tidak sehat pula." chan masih dalam keadaan marah.
"Aku.... Aku hanya suka saja." Yari menundukan kepala menahan tangis yang akan pecah. Selain suka makan, dirinya juga suka baper akan perasaan, entah tau apa penyebabnya.
Chan menatap lekat wajah imut istrinya itu. Yang tampak akan menangis. Diiringi juga sesegukan yang sengaja ditahan, sehingga bunyinya seperti orang yang cegukan. Membuat Chan memukul jidatnya pelan, gara gara ulahnya sih Yari sampai menangis.
"Kok nangis?"
Cepat cepat yari segera mengusap air matanya. "Siapa yang nangis." jawab dia dengan raut muka kesal, Ingin menutupi bahwa dia tidak menangis. Tetapi suaranya yang bergetar tak bisa dibohongi.
"Ya baiklah, terserahmu."
__ADS_1
2 jam kemudian.....
Chan dan Yari turun dari mobilnya. Lalu disusul juga oleh yang lainnya. Sebuah swalayan kecil namun asri sangat indah dipandang. Apalagi para penjual dan pembeli yang berlalu lalang, mengingatkan kita akan masa masa yang lalu. Namun karena seiring berjalan nya waktu, Swalayan yang seperti model pasar tradisional ini sudah jarang ditemui. Bahkan hampir punah keberadaan nya.
Sedih yang dirasa Yari berubah drastis setelah melihat banyak jajanan enak menggiurkan lidah. Matanya yang berbinar binar, membuat Chan tak tega untuk tidak membelikan jajanan itu.
Yari menarik narik lengan baju pria itu. "Sayang!"
"Hmmm."
"Aku mau itu." dia menunjukan jarinya kearah permen kapas yang sangat besar.
Chan pun menoleh ke arah yang dituju Yari. Lalu menoleh lagi kepada Yari. Dia hanya menghela nafas dalam.
"Iya beli saja."
Dalam hitunga detik wanita itu langsung melesat kearah penjual permen kapas itu. Lalu kembali lagi dengan gumpalan kapas ditangannya.
Ayah dan papa apalagi kakak Chan hanya bisa melongo. Meskipun badannya kecil, untuk masalah makanan jangan ditemehkan lagi.
Para lelaki itu datang kearah Chan yang masih menggeleng gelengkan kepalanya.
"Chan!" panggil papa.
Chan langsung menoleh kearah suara itu. "Oh papa dan ayah mertua, eh ada kakak juga. Ada apa memanggil?
"Apa kau tidak merasa ada yang aneh dengan Yari." Ucap Ayah dan papa.
"Tidak." ucap Chan santai.
"Sebaiknya kalian pergi kedokter saja! Kami risih melihat Yari yang banyak makan seperti itu."
"Iya pa. Aku sudah menyuruh dokter untuk kerumah setelah pulang nanti."
"Baguslah!"
-
Tak terasa sore sudah datang. Tepatnya pada jam 16.00 petang. Ayah dan ibu Yari sudah pulang ke indonesia dua jam sebelum waktu ini. Sedangkan papa, mama, dan kakak Chan sedang dalam perjalanan untuk pulang kerumah masing masing.
Bersambung.......
__ADS_1
Jangan lupa parkirnya ya guys. Gak bayar kok! tinggal like and comen.