
"Sudah berhentilah menangis, jangan seperti anak kecil."
"Huh aku kan memang anak kecil."
"Oh...emm..... Iya juga ya." ucap Chan malu.
Nampak dari balik pintu, Jo masuk kedalam ruang rawat Yari. Yari nampak bingung ingin menyapa Jo bagaimana. Chan yang tahu isi hati yari yang ingin menyapa asisten nya itu, langsung memperkenalkan Yari kepada Jo.
"Hampir terlupa. Yari ini adalah asistenku, kau bisa memanggilnya Jo. Semenjak beberapa hari ini pasti kau kebingungan dengan orang itu kan?" Chan memperkenalkan Jo kepada Yari.
"Halo nona saya Jo asisten pribadi tuan Chan. Saya sudah bekerja sangat lama dengan tuan disini. Jika anda mengalami masalah, jangan sungkan untuk meminta bantuan saya!" Jo berkata sangat penuh hormat.
"Ah baiklah asisten Jo. Saya mohon bimbingan anda untuk kedepanya."
"Baik nona."
Setelah pergi memperkenalkan diri. Jo langsung pergi meninggalkan mereka berdua. Tak lupa juga Jo memberikan selembar kertas berlogo sebelum dia pergi. Dengan antusias Yari yang penasaran langsung mengintip intip kertas yang dipegang Chan.
"Apa itu?"tanya Yari
"Dokumen perusahaan."
Yari yang mendengar kata perusahaan tiba tiba langsung diam tak bergerak. Karena tak ada jawaban, Chan melirik Yari yang sedang termenung. Merasa ada yang janggal terhadap sikap Yari, Chan pun mulai mencurigai kecelakaan kemarin pasti berhubungan dengan orang yang berada diperusahaan. Sebenarnya ada apa ini? Ini sih sudah pasti, ada apa apa yang tidak Chan ketahui. Untuk memperkuat bukti, Chan mencoba untuk memancing sedikit pertanyaan kepada Yari.
"Mau ikut kekantor denganku lagi?"
Dengan cepat Yari langsung menjawab. "Tidak!! Aku akan disini saja. Aku masih tidak ingin mati." Yari berkata sambil memasang mimik takut.
Dengan terkejutnya Chan mendengar responan Yari yang blak blakan. Tidak selerti sifat Yari yang seperti biasa. Feling Chan semakin kuat atas dugaaan yang dia benarkan. Dia mencoba untuk memainkan pikiran psikolog pertanyaan dengan Yari.
"Hei ada apa denganmu? Hanya pergi keperusahaan saja, kenapa harus mati. Aku bahkan tidak memelihara harimau disana. Jadi tidak akan ada yang mau membunuh." ucap Chan lembut sambil memegangi kedua tangan Yari.
"Aku bilang aku masih tidak ingin mati." Yari bertingkah seperti orang yang stres.
"Sifatmu terlalu berlebihan."
"Tidak mau." Yari berkata tidak nyambung
"Oke oke aku tidak akan mengajakmu datang ke perusahaanku. Tapi bisakah kau memberi alasannya! Bukankah kau akan senang bila aku mengajak mu pergi kesana?"
"Sudah hiks...tidak lagi hiks..." ucap Yari meneteskan air mata.
"Iya aku paham tapi mengapa?"
"Tidak ada."
"Cobalah untuk seri...."
__ADS_1
"Aku tidak mau. Tolong jangan paksa aku!" Yari meringkuk seperti bayi sambil mengeluarkan banyak air mata. Chan merasa tak tega untuk bertanya kembali. Apa boleh buat, akhirnya Chan pasrah untuk mencari tahu kebenaranya Setelah.
"Iya sudah aku tidak berani lagi. Tolonglah agar tidak sedikit dikit menangis! Cengeng tau."
Setelah mereka selesai bercanda nya. Tiba tiba handphone Chan berdering.
Tring.... Tring.... Tring....
"Sebentar ya! Aku angkat telepon dulu." ucap Chan, lalu diterima dengan anggukan kepala Yari.
"Halo?"
"Tuan kapan anda akan datang untuk rapat pentig kali ini? Semua orang sudah menunggu Ana disini." ucap sekretaris Chan.
"Aduh aku melupakannya lagi. Begini saja suruh mereka untuk menungguku sebentar. Kemungkinan aku akan tiba setengah jam lagi untuk menuju kesana." ucap Chan sambil memijat mijat kening nya.
"Baik tuan."
Bagaimana ini? Dirinya sangat bingung sekali. Rapat penting akan dimulai sebentar lagi, juga dia harus menjaga Yari dirumah sakit. Ingin meminta bantuan seseorang, tetapi dirinya tidak bisa percaya kepada orang lain. Oh iya kan ada asisten Jo, kenapa tidak terpikirkan sampai kesana. Oh iya ding, akan percuma juga dilakukan karena Jo juga memiliki tugas yang lebih penting darinya.
"Aduh kenapa jadi sulit begini! Aku tidak bisa meninggalkan rapat kali ini, namun Yari juga tidak bisa ku tinggal." guman Chan kebingungan.
Dia akhirnya memutuskan untuk masuk kedalam. Dilihat nya Yari yang moodnya sedikit mereda. Dengan takut Chan menghampiri Yari dan mengajaknya berbicara.
"Yari."
"Ayo ikut sebentar keperusahaan. Aku berjanji tidak akan membiarkan seseorang melukaimu." Yari kembali ciut mendengar itu. Sebenarnya Chan tau akan begini akhirnya jika mengajak Yari datang keperusahaan.
"Aku berjanji tidak akan meninggalkan kamu sendiri. Jika kau mau, aku tidak akan pernah melepaskan genggamanku padamu. Jadi bolehkan kau mempercayaiku."
..............
Masih tidak ada jawaban dari mulut Yari. Chan menghembuskan napas kasar.
"Tolong bantu aku sayang! Rapat kali ini sangat penting jika ditinggalkan. dan kau juga tidak kalah pentingnya. Jika aku meninggalkan rapat ini, aku takut kehidupan kita tidak akan mudah dijalani. Jadi dengan itu......."
Tak selesai bicara. Yari memotong tutur kata Chan.
"Sutttt aku percaya padamu oppa. Aku akan ikut keperusahaan bersamamu." ucap Yari menutup rapat mulut Chan.
Dengan senyuman lebar Chan berkata. "Makasih sayang."
Mereka pun pergi menyiapkan mobil mewah untuk pergi keperusahaan itu. Dengan tangan yang masih penuh dengan perban dan muka yang terluka, sedikit membuat Yari merasa minder. Dia mencoba untuk menutup muka dengan masker dan kacamata. Chan yang melihat sedikit prihatin.
"Jangan kau tutup wajahmu begitu! Lepaskan semuanya!" perintah Chan.
"Tidak mau!"
__ADS_1
"Kenapa?"
"Aku malu........dengan keadaan yang seperti ini. Penuh dengan luka yang menjijikan." ucap Yari sambil menunduk malu.
"Hahaha lucu sekali."
"Ihhh kenapa tertawa." ucap Yari kesal.
"Ya karena lucu saja. Wajah cantik seperti itu kok dibilang jelek."
Blusss....
Wajah Yari memerah seperi udang rebus. Chan yang melihat pemandangan itu tak henti hentinya tertawa.
Sudah lama mereka berkendara, sudah berlalu 25 menit. Dengan cepat Chan langsung menggandeng Yari masuk
Para karyawan seperti biasa memberi hormat disepanjang Jalan. Mereka sedikit terkejut dengan perban ditangan Yari. Luka lukanya juga yang membuat semua orang melihat merasa miris. Yari hanya bisa tertunduk malu sambil digandeng dengan Chan.
Mulai memasuki ruang rapat. Tetapi Yari melepaskan genggamanya dari Chan.
"Ada apa?"
"Pergilah masuk! Aku akan menunggumu di ruang direktur saja."
"Tidak boleh. Aku sudah berjanji padamu untuk tidak akan pernah melepaskan genggaman ini."
"Tapi kan...."
"Ah sudahlah! Ayo ikut bersamaku." Chan langsung membawa masuk Yari keruangan rapat.
Banyak sekali orang yang hadir saat ini. Mereka akan melaksanakan rapat sambil membawa istri dan anak mereka. Karena itulah suasana semakin ramai saja.
Pandangan mereka semua teralihkan pada saat Chan sudah memasuki ruangan. Dengan rapi orang orang itu mulai duduk ditempat masing masing. Mereka yang terlibat agak sedikit bingung karena Chan membawa seorang perempuan yang penuh perban ditanganya. Tanpa basa basi seseorang mulai bertanya siapakah wanita itu.
"Maaf presdir Chan. Kalau boleh tau siapa wanita yang disana." ucapnya sambil menunjuk kearah Yari.
"Ah perkenalkan! Ini istriku.
"ISTRI!!!"
-
-
-
-
__ADS_1