Kembaran Beda Usia

Kembaran Beda Usia
Eps 12 - Menangis adalah andalanku


__ADS_3

"Pergilah! tidak ada yang aku butuhkan."


"Baik tuan."


" Saya sudah menyiapkan hotel mewah untuk anda beristirahat."


"Tidak perlu, aku akan tidur dirumah sakit ini bersama Yari." Chan pun meninggalkan Jo tanpa berkata kata. Jo hanya menghela napas berat.


******


Chan menatap sedih keadaan Yari yang sedang dipasangi selang infus. Para dokter dan perawat nampak sibuk membereskan perlengkapan mereka. Satu persatu perawat nampak meninggalkan ruangan Yari dirawat. Hingga dokter yang menangani Yari akhirnya keluar juga dari ruangan.


"Dok! Dok!" Chan berlari kearah dokter itu.


"Iya pak. Apa yang bisa saya bantu?"


"Bagaiman keadaan istri saya."


"Ah bapak tidak perlu khawatir. Memang istri bapak mengalami patah tulang yang serius tadi. Tapi kami sudah bisa memperbaiki retakan retakan tulangnya. Hanya harus menunggu hingga sembuh." ucap Dokter menjelaskan.


"Syukurlah dok. Apakah pasien saat ini, sudah bisa dijenguk?"


"Iya pak silahkan. Jika ada sesuatu yang dibutuhkan, tolong panggil saya langsung."


Chan langsung masuk kedalam ruangan Yari. Dengan hati yang getir dia mendekati Yari terbaring lemah dan balutan perban ditangannya.


Dia menatap dalam wajah seorang wanita yang dia cintai. Dengan halus Chan mengusap kening Yari. Rasa kasihan menghantui pikiran Chan. Dia berpikir sudah gagal menjadi suami sejati, tidak bisa hanya menjaga seorang remaja dengan baik.


Benar benar sudah gagal. Karena merasa lelah, akhirnya Chan pergi tidur disamping Yari. Dia memeluk tubuh kecil Yari dan sesekali mencium kening Yari. Sesuatu yang sangat berharga dimiliki nya tidak boleh sampai terluka lagi. Sekalipun hanya luka goresan, Chan tidak akan mengampuni orang yang terlibat dalam peristiwa manapun.


*****


Pagi pun telah tiba. Suara berisik para perawat membuat Yari terbangun. Dengan bingung dia bertanya tanya dimanakah dirinya berada? Bukanya kemarin dia masih berada didalam hutan Ya? Juga badanya terasa sangat ringan, dan tidak sakit lagi! Ketika Yari sedang akan bangun. Badanya tertahan seperti ada yang menindihnya. Yari langsung berbalik untuk melihat barang apa yang menindihnya. Terlihat seorang pria tampan dan rambut tak beraturan, yang sedang tidur dengan mendekap badan Yari.


"Arkkkk!!! Apa yang dilakukan orang ini? Kalo mau tidur ya tidur saja, kenapa malah menindihku seperti ini. Berat lagi!" guman Yari. Karena tak bisa berbuat apa apa, dia hanya bisa pasrah menunggu sampai Chan bangun. Diam diam Yari memandangi wajah tampan Chan.


"Wah! Wah! Wajahnya jika dilihat ternyata tampan ya. Ini sih kalo mau ikut audisi model, tanpa banyak omong langsung lulus."Guman Yari terpesona.


Karena sangat asiknya dia menatap Chan. Tidak sadar dirinya bahwa Chan sudah membuka matanya.

__ADS_1


"Sekali lihat Rp 100.000!" ucap Chan menggoda. Yari langsung terkejut setengah mati.


"Apaan sih! Si...siapa ju...juga yang lihat."


"Tidak apa! Jangan malu!" Chan kembali mendekap tubuh Yari. Dia menempelkan wajahnya ke pundak Yari.


"Lepaskan aku!"


"Tidak mau!"


"Ihh minggir!"


"Nona galak mau makan apa?" Chan tak menghirukan perkataan Yari.


"Tidak mau makan bersamamu huh...." ucap Yari kesal.


"Kau yakin? Baiklah tadinya aku ingin mengajakmu keluar untuk makan. Yah berhubung kau tidak bersedia, dengan begitu aku akan meminta perawat untuk menyiapkan makanan rumah sakit ini." Chan mulai beranjak dari tempat tidur untuk mencari perawat berada. Namun tergagalkan oleh Yari.


"Tidak! Tidak mau! Aku tidak mau makanan disini. Tidak ada rasanya. Aku akan ikut bersamamu keluar saja ya."


"Keputusan sudah bulat, tidak dapat digugat kembali. Silahkan anda menunggu sampai perawat membawa makanan tiba!" ucap Chan sambil melepaskan tangan yang memegang tangannya.


"Sudah tidak bisa."


"Please!"


"Ti... Dak.." Chan langsung pergi meninggalkan Yari untuk menemui perawat. Tidak menghiraukan Yari yang sedang mengomel didalam.


"Dasar kejam! Pria brengsek! Pria pemarah! Tunggulah pembalasanku segera!"


20 menit kemudian akhirnya perawat tiba sambil membawa nampan yang berisi semangkok bubur, salat sayur, ikan goreng, susu, dan 5 butir obat.


Yari nampak acuh ketika perawat itu menaruh nampan dimeja. Dirinya sangat enggan untuk melihat isi nampan itu. Chan yang melihat tingkah Yari merasa sangat geram. Akhirnya dia mengambil nampan itu dengan tujuan menyuapi Yari.


"Buka mulutmu!"


"Enyahlah."


"Ayolah! Aku sangat sibuk sekarang. Dengan sikapmu yang seperti ini sangat merepotkanku, bukan cuma kau saja yang aku harus jaga."

__ADS_1


"Kalau begitu pergilah!" ucap Yari datar.


"Tidak bisa. Kau adalah tanggung jawabku."


"Pergilah! Bukankah kau sangat sibuk? Kalau begitu silahkan pergi mengurus kesibukanmu itu. Aku tidak perlu dijaga. Lantas mengapa kau masih berada disini? Dan bukankah kau bilang aku merepotkan, tinggal buang saja dipinggir jalan agar aku tidak merepotkanmu huh...huh....huh..." ucap Yari marah. Tiba tiba.


PRANG...


Sesuatu yang dapat pecah jatuh kelantai. Yari yang tadinya sangat marah akhirnya terdiam tak berkutik.


"Sudah puas bicaranya? Bukankah aku pernah berkata padamu agar tidak keterlaluan kepada seorang yang lebih tua. Baru kemarin saja aku peringatkan, tetapi sekarang sudah berani berbuat lagi. Ternyata istriku sangat berani ya." Chan pergi mendekat kearah Yari. Dia memegangi dagu Yari dengan sangat kasar. Wajah yang ketakutan dia lihat begitu kasihan Tetapi kesalahan tetap kesalahan, dan setiap kesalahan harus lengkap bila ada hukuman.


"Hiks.... Hiks..." tanpa sadar air mata menetes dipipi Yari. tangis Yari pecah karena rasa takutnya kepada Chan. Yari sudah tidak peduli akan bagaimana Chan menghukumnya. Hal yang paling dapat dia andalkan sekarang adalah menangis.


"Jangan menangis! Atau aku pukul kau." ancaman yang sangat ringan terkontarkan dari mulut Chan. Tetapi siapa sangka ucapan itu dapat membuat Yari menangis bertambah keras.


"Huwaaaa.... Pria jahat! Pria jahat!" Yari menangis dengan keras.


"Hei berhentilah menangis! Aku hanya bercanda tadi." alih alih ingin marah tetapi tetap tidak bisa, malahan dirinya yang takut sendiri karena membuat Yari menangis.


"Sudah! Sudah! Cup... Cup..." Chan memeluk lembut Yari sambil menepuk nepuk punggung Yari.


Perawat mulai berdatangan karena mendengar suara tangisan Yari.


"Ada apa tuan? Apakah ada yang bisa saya bantu?" ucap perawat tersebut khawatir.


"Tidak ada nona. Kami baik baik saja, hanya ada kesalah pahaman saja." ucap Chan yang masih memeluk Yari yang menangis tersedu sedu.


"Ah begitu. Kalau begitu maafkan saya yang telah mengganggu kenyamanan anda."


"Iya tidak apa."


Karena dipikir kesalah pahaman akhirnya perawat itu pergi meninggalkan mereka berdua.


-


-


-

__ADS_1


-


__ADS_2