
Pagi tiba
Para keluarga sudah mempersiapkan koper mereka masing masing. Tiga buah mobil telah terparkir bersama dengan para sopirnya.
Sedangkan Yari masih menggulung dibawah kasur. Padahal waktu untuk pergi piknik keluarga akan datang sebentar lagi.
Srekkkk
Suara gorden terbuka, Cahaya matahari masuk diantara jendela kaca. Yari menggeliat dan mengercap mata karena terangnya cahaya yang masuk. Dia melihat jam dinding yang sudah menunjukan waktu pagi.
Chan menatap Yari dingin. Menarik selimut yang masih terbalut tubuh wanita itu."Heh bangun! Pergi mandi sana! Sebentar lagi sudah waktunya berangkat."
"5 menit lagi." Katanya yang masih setengah sadar.
"Tidak ada 5 menit. Cepat mandi jika kau tak ingin tertinggal."
Yari akhirnya mengalah. Dia turun dari tempat tidur dan pergi kekamar mandi untuk membersihkan diri.
Uap air hangat mengembun lebat dikaca. Percikan gemercik air mulai menampakan suara.
Harum aroma sampo merangsang indera penciuman Chan yang sedang menunggu akan datang nya orang mandi tersebut.
Tak tahan, Chan mengendap endap memasuki kamar mandi yang lumayan besar itu. Mata nya terkunci saat melihat badan telanjang berbody indah tersebut. Tak terduga air liurnya menetes sampai banyak. Rasa ingin memeluk tiba tiba datang. Chan melangkah masuk kedalam tanpa memikirkan keselamatan dirinya sendiri.
***
Yari terdiam sejenak, mulai sadar bahwa seseorang masuk tanpa izin. Dia menoleh kearah cermin didepan, terpantul jelas siapa yang masuk kala itu.
Tetkejut dengan kedatangan seseorang yang sedang melihat tubuhnya telanjang, membuat Yari menjerit keras.
"Ahhhhhh apa yang kau lihat!!! Pergi!!" ucap Yari sambil menutupi tubuhnya menggunakan handuk.
Namun sekeras apa Yari berteriak, tak membuat Chan untuk pergi, malah semakin mendekat.
Tujuan hati berteriak sekencang mungkin untuk memanggil seseorang dari bawah untuk membantu, namun apa boleh buat karena jelas tahu bahwa kamarnya kedap suara. juga mereka adalah suami istri sah, apa yang salah?
Chan mulai selangkah lebih dekat dengan Yari. Dia merangkul kuat pundak Yari, dan mulai mencium kening wanita itu. Lalu ciuman itu mulai turun dan turun. Mengecup beberapa kali leher yang tadinya putih berubah menjadi merah lekat diberbagai sisi. Si Yari hanya bisa terdiam, tak berani melihat. Jujur ini adalah kali pertamanya.
"Au! Tolong jangan menggigit!" Dia mendesah kesakitan. Membuat Chan berhenti menggigit.
__ADS_1
"Memang begini permainan nya." Chan kembali melanjutkan aksinya, namun terhenti lagi disaat ketokan pintu terdengar dari luar.
Sedikit kesal. Chan pergi meninggalkan wanita itu lalu membukakan pintu kamar. Sedangkan Yari cepat cepat memakai bajunya agar Chan tidak melakukannya lagi.
Pintu terbuka.
"Oh ada apa bu." ucap Chan.
"Ayo nak! Sudah mau berangkat. Dimana Yari? Jangan bilang kalau dia masi tidur."
"Emm 10 menit lagi bu. Saya dan Yari akan datang seventar lagi."
"Ya sudah cepat!" ibu meninggalkan dia dan mulai turun kebawah.
Cklek
Pintu tertutup kembali. Chan berkerut dahi, melihat Yari yang sudah dengan rapinya berdandan sambil membawa dua koper. Cepat sekali berkemasnya, begitu pikir Chan.
Karena tak tega melihat istrinya yang kesulitan membawa barang, akhirnya diambil alih oleh dirinya.
"Ayo turun! Ibu sudah menunggu dibawah." dia mulai keluar dari kamar, dan hilang dari edaran. Yari pun mengikuti dari belakang.
Si biang kerok Yari hanya tersenyum kearah para bapak bapak itu.
"Lama sekali. Kami sudah menunggu kalian berdua sudah dari tahun lalu." ucap kesal ayah Chan.
"Jangan salahkan aku! Salahkan menantumu itu. Dan ayah juga jangan menyalahkan ku lagi, anakmu yang membuat kita semua menunggu lama disini." jelas Chan. Membuat Yari tak bisa berkata kata.
"Iya aku salah. Maafkan ya papa, ayah." Si Yari berulah meminta maaf.
"Tidak apa sayang, bangunlah! Ini bukan sepenuhnya bukan salah kamu."
Chan melotot tabjuk. Apa mantra yang digunakan si Yari sebenarnya? Sehingga membuat papa nya yang bisa marah pada siapa saja, luluh seketika terhadap rayuan manis belakang.
"Sudahlah ayo berangkat."
"Jom." ucap serentak.
Mereka memasuki mobil masing masing. Satu mobil untuk satu pasangan.
__ADS_1
Mobil pun mulai berjalan menuju lokasi utama.
***
Didalam mobil Chan dan Yari. Mereka berdua diam dalam pikiran masing masing. Sejak dari tadi, sepatah kata pun tidak berani mereka ucapkan. Yari masih teringat kejadian dikamar mandi tadi, rasa ciuman itu terasa sakit namun nikmat. Sesekali dia melirik Chan yang sedang berkutik pada laptopnya.
Chan menghentikan kegiatannya, menatap wajah orang yang dari tadi terus melirik.
"Apa? Kau ingin lagi." Chan dengan santainya.
"Dasar gila." guman Yari.
"Kau benar, aku memang gila. Iya gila akan pesonamu." ujar Chan seraya menaruh laptopnya di saku mobil. Lalu melipatkan tangannya, sambil menggoda Yari yang tersipu malu.
"Haha lucu sekali anda."
"Yeah bahkan aku lucu hanya untukmu seorang."
Yari benar benar kalah dalam gombalan. Jantungnya berdegup kencang, Sampai sopir yang diposisi paling depan dapat merasakan suara jantung itu.
Chan terpekik menang.
"Apa kau tau aku mempunyai seorang kakak?"
"Tidak." ujar Yari menetralkan keadaan kembali.
"Kini saatnya kau tau, sebenarnya aku punya satu kakak. Nanti saudaraku akan hadir juga dalam piknik keluarga ini. aku akan memperkenalkan kau pada kakaku secara resmi."
"Baiklah, aku menanti itu."
Lama mereka berbincang, akhirnya sudah sampai lah ditempat tujuan. Mobil pun terparkir dihotel yang bisa saja.
Memang hotel biasa, namun siapa sangka dibalik sederhananya itu, menyimpan berbagai keindahan tersendiri. Jika tahu, Sebenarnya dibalik hotel ini ada sebuah pantai yang sangat indah. Itulah tujuan untuk piknik kali ini. Yaitu untuk bermalaman didasar pantai sambil menikmati dinginya angin malam.
_
_
_
__ADS_1
_