
Astaga.....
Chan terkejut sekali akan wanita bodoh itu. Terlihat bahwa Yari dengan tenangnya sedang duduk manis diantara jendela yang terbuka. Secepat kilat Chan menghampiri Yari yang termenung dan sudah seperti mau jatuh kebawah. Entah apa beban hidup yang dimiliki wanita itu, namun sepertinya tidak ada beban hidup.
" Apa yang kau lakukan disana?"
Yari tak menjawab.
"Hei jangan coba coba, turun!"
Masih tidak ada jawaban. Namun sedikit terdengar hisakan tangis dari mulut Yari. Tidak ada bukti yang kuat mengapa Yari seperti ini, namun ini sangat menyakitkan untuk Chan yang mendengar tangis wanita bodoh itu. Hati hati Chan mencoba untuk menghampiri Yari yang masih terduduk diatas balkon. Berjalan injit agar Yari tidak terkejut akan kehadiran Chan.
Dengan satu sergapan, Chan langsung menarik badan Yari kedalam, sehingga membuat keduanya jatuh terjungkal.
Brukk......
Tangan Chan terbentur mengenai sudut lemari yang tajam, perlahan tanganya mengeluarkan cairan merah yang tak sedikit jumlahnya. Cairan itu mulai membasahi kemeja putih Chan dengan cepatnya.
Merasa ada hal yang tidak normal, Yari langsung mencari tau apa yang tidak normal tersebut.
Deggg......
Nampak jelas sekali bahwa Chan sudah berlumuran banyak sekali darah yang keluar. Tubuh Yari bergetar seketika, kakinya lemas tak berdaya untuk berdiri lagi. Dengan cekatan Chan langsung berdiri juga dan segera memegangi tubuh Yari yang tak berdaya. Namun aksi penyelamatan Chan ditolak mentah oleh Yari.
"Jangan sentuh aku!" Yari menjauhkan diri dari Chan.
"Ada apa denganmu?" Ucap Chan bingung, dia bahkan mencoba untuk memeluk Yari agar lebih tenang. Lagi lagi Yari menolak pelukan itu, juga semakin bertambah menjauhi Chan.
"Aku bilang jangan sentuh aku!" Yari terhisak dalam.
"Oke! Oke! Aku tidak akan menyentuhmu. Tapi tenangkan dirimu terlebih dahulu."
__ADS_1
"Aku....." Tak selesai bicara, Chan memotong percakapan Yari
"Iya seperti itu! Tenang dan rasakan." Chan perlahan membelai rambut Yari lembut.
"Hik... "
" Ya tidak apa, keluarkan semuanya."
"Jangan! Jangan terlalu baik padaku. Aku hanya pembawa sial untukmu. Hik... Kau selalu terluka saat selalu bersamamu." Ucap Yari yang masih terisak.
"No! No! Tidak seperti itu. Aku seperti ini sudah karena takdirku sendiri."
"Iya ini pasti takdir karena kau menikah denganku, jadi aku adalah takdir yang diberikan oleh tuhan untuk selalu menyusahkanmu."
"Aduh pake acara salah bicara lagi." Guman Chan.
"Dengarkan aku! Ini semua tidak ada kaitan nya dengamu. Apa yang terjadi padaku, sudah menjadi kesalahan ku. Jadi tidak masuk akal sekali bila ini semua karena salahmu." Dengan ragu ragu Chan mencoba memeluk Yari. Yari pun akhirnya menerima pelukan itu.
Pelan pelan Yari melupakan apa yang terjadi. Menuruti juga semua perkataan Chan. Tiba tiba fikirnya tersadar bahwa Chan masih dalam keaadaan terluka.
Yari pun langsung pergi mengambil kotak P3K. Bisa bisanya dia melupakan bahwa Chan masih dalam kesakitan.
Kotak P3K sudah siap digunakan. Tanpa malu malu Yari langsung membuka kemeja Chan untuk mengobati luka. Chan pun merebahkan kepalanya diatas pangkuan Yari agar dapat menahan rasa sakit itu.
"Tahan sebentar oppa. Ini mungkin akan sedikit sakit." Yari mengoleskan obat merah di bagian luka yang terluka parah milik Chan. Agak ngeri sih, tapi karena ketekatan hati yang terdalam, Yari memaksakan diri untuk mengobati luka Chan walau sedikit takut juga.
"Ahhhhh perih." Gerang Chan keras. Mungkin karena terkejut, Yari pun ikut menggerang.
"Ahhhh maafkan aku! Aku akan lebih berhati hati lagi."
Sudah lama Yari mengobati luka itu, akhirnya selesai juga. Bagian terakhir hanya membalut perban diantara kulit yang robek. Dan dengan sangat mahir, akhirnya beres sudah Yari menjadi ibu dokter.
__ADS_1
Chan sedikit agak bangga terhadap Yari. Dia tidak menyangka bahwa gadis kecil itu ternyata sangat ahli dalam bidang medis. Dirinya tidak berhenti berdecik kagum, dan sesekali memuji keterampilan Yari dalam hal medis. Namun balasan dari Yari hanya senyuman manis saja.
Senyuman yang begitu indah, membuat Chan ingin mengecup bibir itu. Tetapi dirinya tersadar bahwa waktunya tidak tepat. Kecewa juga akhirnya.
Oh iya juga ya. Masalah ini masih belum kelar solusinya. Chan langsung ingat pada tujuan Yari pertama duduk dijendela sana. Tiba tiba ekspresi yang tadinya hangat berubah menjadi dingin. Yari yang takut merasakan hawa yang tidak enak, akan terjadi sesuatu padanya.
"Oh iya apa yang kau lakukan dijendela sana hah? Kau tau kan itu sangat tinggi. Jika kau jatuh pasti kau akan hancur berkeping keping." Ucap Chan sambil menatap tajam seperti harimau.
"Eh itu aku lagi....."
"Lagi apa?"
Yari memasang tampang kasihan, "Itu tadi aku ambil roti dimeja kerjamu. Aku berniat untuk memakannya sambil melihat pemandangan dari jendela itu."
"Lalu?" Chan seperti tak sabaran menunggu jawaban.
"Lalu tanpa sengaja rotinya jatuh menggelinding, namun sepertinya masih bisa ku ambil menurutku. Jadi aku naik dari jendela itu untuk mengambil rotiku yang jatuh disana." Ucap yari memelas.
"Bodoh." Chan mencubit hidung Yari keras. Yari pun merasa sakit karena dicubit.
"Aduhh sakit."
"Kan kau bisa mengambil yang lainnya disana. Haduhh baru pertama ini aku bertemu dengan orang yang sebodoh ini." Ucap Chan gemas ingin menggigit wanita ini.
Setelah tanya menanya terjadi lamanya. Akhirnya waktu sudah menunjukan pukul 15.00
Karena lelah, Chan memutuskan untuk pulang lebih awal. Dia meminta Jo agar segera menyiapkan mobilnya. Tak butuh 1 menit, akhirnya mobil sudah siap. Sesegera keduanya masuk kedalam mobil untuk pulang.
Penat hati dan raga semakin menimal Chan seorang. Saking banyaknya masalah, membuat dia seperti orang yang stress. Padahal sebelum dia menikah dengan Yari, keadaanya tidak seperti ini, Malahan semakin jaya dirinya. Namun semenjak kehadiran Yari, membuat hidupnya semakin berantakan. Mungkin ini akibatnya jika menikah dengan seorang anak kecil. Tetapi apa yang sudah terjadi tidak akan meninggalkan penyesalan bagi Chan untuk terus mencintai Yari dengan sepenuh hati.
-
__ADS_1
-