Kembaran Beda Usia

Kembaran Beda Usia
Eps 11 - Akhirnya datang juga


__ADS_3

Hari mulai menghitam pekat dari biasanya. Bunyi petir bagai mengamuk terdengarnya. Hembusan angin kencang memadamkan api unggun yang mereka punya. Juga rintikan hujan mulai jatuh membasahi tanah kering yang tandus. Hanya sebuah harapan hidup yang mereka berdua harapkan.


"Oppa lihat! Tanahnya mulai tandus!" Yari mengatakan sambil mengarahkan jari telunjuk kearah tanah yang mulai tandus.


"Tidak apa apa. Itu adalah sesuatu yang wajar. Jangan terlalu dipikirkan!" ucapnya agar Yari tetap tenang.


Ha.....hachoooo.


Suara bersinan Yari membuat Chan kaget.


"Kau flu? Ya ampun bagaimana kau bisa terkena flu?"


"Aku tidak apa. Hanya sedikit dingin saja."


"Dingin? Bagaimana sekarang, apakah aku kurang hangat untuk dipeluk?" ucap Chan sambil memeluk badan Yari.


"Masih terasa dingin." canda Yari.


"Seperti ini." Chan memeluk dengan sangat kuat dan keras.


"Hekk..... Oppa aku tidak bisa bernafas. U....uhukk.... Tolong le....lepaskan aku!" Yari tercekik dalam pelukan Chan.


Karena melihat Yari yang kesakitan, Chan langsung melepaskan pelukannya.


"Kenapa? Apa aku menyakitimu?" ucapnya panik.


"Huh....bukan lagi. Kau bahkan mencoba membunuhku!"


"Aku tak sengaja. Maafkan aku!"


"Tak akan." ucap Yari membentak.


"Heh aku tidak masalah jika kau tidak mau memaafkanku. TAPI KAU TIDAK PANTAS MEMBENTAKKU SEPERTI INI. RASAKAN INI!" Chan menjewer telinga Yari. Yari pun berteriak keras karena sakit akan jeweran telinga itu.


"Aww Aww Sakit...... huwee.... Ibu tolong aku!"


"Percuma kau mengadu pada ibumu seperti itu, Tidak akan membuat ibumu datang kemari." ucap Chan yang masih menjewer telinga Yari.


"Iya iya ampuni hamba. Hamba bersalah karena tak menghormati tuan. huhu cepat lepaskan tangan penuh dosamu itu!"


"HAH?"


"OMG apa yang aku katakan tadi. Dasar mulutku, kenapa bisa kau mengatakan yang seperti itu? Haduh bodoh nya aku." guman Yari.

__ADS_1


"Hehehe yang tadi itu bercanda sayang. Aduh tolong lepaskan tanganmu dulu oppa."


"Oke tapi....."


"Tapi apa?"


"Berjanjilah agar kau tidak akan membentak kepada orang yang lebih tua, apalagi suamimu!"


"Iya iya, Demi lautan Samudera pasifik saya berjanji tidak akan membentak kepada orang yang berumur lebih tua dari umur saya." Yari memasangkan ekspresi imut dan suara seperti anak kecil, agar Chan segera melepas hukumannya. Dengan ajaib, ternyata Chan benar benar melepas nya dengan begitu mudah.


"Baiklah ingat jangan begitu lagi." ucap Chan.


"Iya janji."


Keduanya kembali berpelukan setelah perdebatan tadi. Suasana yang menegangkan dan banyak romantisnya. Ini mungkin akan menjadi hari yang begitu menyenangkan bagi mereka. Sampai tua pun pasti mereka akan selalu ingat peristiwa ini. Begitu menyenangkan sesampai mereka tak sadar bahwa sesungguhnya jam sudah menunjulan pukul 00.00 malam. Bantuan kemanakah kau berada? Kenapa lambat sekali untuk datang kemari? Sudah bosan hidup ya?


Tak berselang beberapa menit, suara desiran helikopter datang mendekat. Lampu menyorotkan tepat dimana Chan melambai tangan. Dengan antusias orang yang berada didalam helikopter itu langsung menyebarkan informasi.


Itu tuan muda! Segera beri informasi kepada tim pusat!" ucap pilot helikopter tersebut.


"Yes sir...." ucap co pilot.


"Attention! Attention. Come immediately to where our radar is located!" (Perhatian! Perhatian! Datang segera ketempat radar kami berada!")


"Yes sir."


"Tuan muda apa kau baik baik saja?" ucap pilot itu menggunakan megafon. Chan langsung mengibas ngibaskan tanganya agar jangan berisik. Mereka yang masih berada diudara akhirnya menganggukan kepala mengerti.


Suatu yang ditunggu tunggu akhirnya datang juga. Para tim medis dengan hati hati menggendong Yari yang tertidur lemas, untuk menuju keaula parkir nya ambulance. Sedangkan Chan berjalan dibelakang mereka berada. Dengan bantuan alat teknologi, mereka dengan mudahnya naik memanjat tanah yang sangat bidang.


Setelah berjalan agak lama menyusuri hutan, mereka pun akhirnya sampai keaula aman. Mereka dengan sigap mengobati Yari dan Chan yang terluka. Awalanya tidak ada hal yang serius pada saat tim medis memeriksa tubuh Chan. Tetapi saat mereka memeriksa tubuh Yari, tiba tiba.


"Tuan muda, gawat!"


"Ada apa?"


"Tubuh nona Yari mengalami masa serius. Tulang tangannya patah, sebaiknya kita membawa nona kerumah sakit saja tuan!"


"Apa patah! kenapa harus patah."


"Dari hasil medis, kami menduga bahwa tubuh nona Yari terbentur pada batu batu besar saat terjatuh. Terutama pada tangan nona."


"Baik segera bawa dia kerumah sakit!" Chan sesegera masuk kedalam mobil, untuk menuju kerumah sakit.

__ADS_1


Tinut....... Tinut........ Tinut.......


Begitulah suara ambulance yang dalam keadaan darurat. Untuk memerintahkan pada pengguna jalan lain agar menepi dari trotoar.


Masalah kembali hadir. Entah dari mana asalnya sebuah media berita mengumumkan bahwa, ada mayat seorang perempuan yang terbuang di hutan yang sama. Dilihat dari lokasi tempatnya pun sangat mirip. Karena tak ingin membuat Chan bertambah marah, akhirnya Jo menangani masalah ini sendiri.


Setelah lama dicurigai bahwa seorang mayat perempuan itu adalah Yari. Ternyata hasilnya benar sekali. Apa sebenarnya tujuan mereka? Kenapa ada kejadian seperti ini, mereka tidak langsung melaporkan kepihak yang berwajib?


Logikanya begini, siapapun orangnya dan bagaimana kondisinya jika ada peristiwa yang begini, mereka akan melapor dahulu kepihak yang berwajib. Bukan malah sebaliknya, membuat berita dahulu lalu melapor setelahnya. Tak hanya tinggal diam, Jo langsung menekan media itu untuk mencari tahu apa motifnya.


Kembali lagi dalam cerita Yari.


Setelah sampai dirumah sakit terdekat. Mereka membawa Yari keruang darurat. Para dokter pun bergegas untuk memberi penanganan.


"Maaf pak silahkan tunggu diluar dahulu!" ucap Dokter.


"Baik pak. Tolong sembuhkan istri saya ya pak!" Chan memegangi kedua pundak dokter itu.


"Baik pak jika tuhan berkehendak. Intinya bapak harus banyak berdoa saat ini. Kalau begitu tuan tuan semuanya saya akan pergi kedalam dahulu".


"Baik pak silahkan!" ucap Jo yang berada dibelakang Chan.


"Bagaimana ini jo? Jelas jelas saat Yari masih bersamaku terlihat tidak baik baik saja. Bahkan dia masih bisa tertawa riang bersamaku. Ternyata sebenarya dia merasa sakit. Bagaimana aku bisa sebodoh ini? Hal kecil seperti itu saja aku tidak dapat menyadari." Chan mengacak acak rambutnya dengan kasar. Jo yang meladeni tuanya merasa sedih.


"Tuan mungkin nona adalah wanita kuat. Dia berbeda dengan wanita lainnya, tidak cengeng." ucap Jo menenangkan hati Chan.


"Dia bukan wanita yang kuat Jo. dia sebenarnya wanita yang lemah, tetapi dia berpura pura menjadi kuat dihadapanku, agar aku tidak merasa khawatir kepadanya."


"Saya turut sedih tuan. Saya percaya nona akan segera membaik."


"Aku juga berharap begitu."


"Ya sudah tuan. tuan sekarang sudah pukul 1 malam. Apakah kau tidak merasa lapar?"


"Whatt!! jam 1 malam?"


-


-


-


-

__ADS_1


Jangan lupa like, vote, rate, dan komen nya kakak.


__ADS_2