
Dalam perjalanan menuju apartemen, Eza melewati minimarket tempat dimana dia pernah bertemu dengan Thira. Saat akan berlalu, Eza melihat Thira masuk ke dalam minimarket.
Eza memarkirkan mobil dan pura-pura berbelanja ke dalam minimarket.
"Tuan Eza..?" teriak Thira terkejut melihat Eza ada di minimarket.
"Ngapain kamu ikutin saya?" Eza sengaja menggoda Thira. Dia sangat senang ketika melihat wajah Thira yang gugup.
Thira membulatkan matanya tidak senang dengan tuduhan Eza.
"Maaf Tuan, saya mengganggu" Thira langsung mebalikan badan meninggalkan Eza.
Eza meraih tangan Thira dan menariknya membuat tubuh mereka hanya berjarak beberapa cm.
"Deg...deg" jantung Thira berdebar kencang, dia teringat kejadian diruangan Eza.
Thira melangkah mundur memberi jarak diantara mereka. Dia tidak ingin Eza mendengar debaran jantungnya.
"Huft...kenapa sech jantung ku ga bisa diam" batin Thira.
"Mau kabur kemana kamu?" Eza sedikit menarik ujung bibirnya.
Thira menaikan alis, wajahnya terlihat semakin kesal. Hal ini malah membuat Eza senang.
"Siapa yang mengikuti Tuan? Rumah saya dekat dari sini tentu saja saya sering kemari"
__ADS_1
"Dimana rumah mu? Saya tidak percaya"
"Lepaskan tangan saya" Thira menarik tangannya. "Kalau Tuan tidak percaya, Tuan bisa ikuti saya"
Thira berjalan menuju kasir dan segera keluar dari mini market.
Eza tersenyum sambil mengikuti Thira dari belakang. Dia memang sengaja ingin tau dimana rumah Thira.
"Kenapa Tuan mengikuti saya? Tuan tidak percaya saya tinggal dekat sini?" Thira tidak menyangka kalau Eza benar-benar mengikutinya.
"Hemmm.."
"Cih...dasar aneh" Thira mendengus kesal
"Ti...tidak ada" Thira tidak menyangka Eza akan mendengar ucapannya.
Thira mempercepat langkahnya. Dia ingin segera sampai di rumah. Dia ingin Eza srgera pergi agar jantungnya bisa berdetak normal kembali.
Didepan pintu rumah Thira membalikan badannya dan melihat Eza masih ada dibelakangnya.
"Disini saya tinggal, Tuan sudah percaya kan, jadi Anda bisa pergi sekarang"
"Kenapa kau malah mengusir tamu? Dasar tidak sopan" Eza masih penasaran dengan rumah mungil yang Thira tempati.
"Echh...." Thira masih berdiri canggung di depan pintu. Dia teringat kejadian di ruangan Eza, membuat dia ragu untuk mengajak Eza masuk ke dalam.
__ADS_1
"Emm...ini sudah malam Tuan, tidak baik bertamu jam segini" Thira memberi alasan yang masuk akal, memang sekarang waktu yang cukup malam untuk seorang pria bertamu ke rumah wanita yang tinggal seorang diri.
Eza melirik jam tangannya, jam menunjukan pukul 11 malam. Sebrnarnya dia enggan untuk pergi, tapi melihat wajah Thira yang sedikit takut kepadanya membuat dia mengurungkan niat untuk bertamu.
"Lain kali jangan berjalam sendirian malam-malam beginii"
Thira melihat Eza pergi, tubuhnya makin menghilang dikejauhan.
"Apa dia khawatir? Tidak mungkin" Thira menggelengkan kepalanya menghilangkan apa yang barusan terlintas dipikirannya.
Eza kembali duduk di belakang setir, dan melajukan mobil kembali ke apartemen. Sesampainya di apartemen, Eza duduk diatas sofa memikirkan sikapnya mepada Thira.
"Kenapa aku terus memikirkan dia, ach...apa yang kupikirkan?" dia memegamg rambutnya dengan gusar.
Mereka berdua tenggelam dengan pikiran masing-masing dalam keheningan malam. Dua insan yang masih bingung dengan perasaannya, hingga mereke terlelap ke dalam alam mimpi.
****
Uda masuk episode 10 gaes...
Mohon dukungannya dengan vote, like and coment.
Kasi saran ya kalau ada yang kurang-kurang.
Makasi uda mau mampir buat baca 😘😘😘
__ADS_1