Kenangan Indah...

Kenangan Indah...
Ep. 14


__ADS_3

Thira kembali merangkul Eza membantunya berjalan dari parkir hingga depan pintu apartemen. Eza menekan sandi dan pintu terbuka. Thira melepaskan rangkulannya, membiarkan Eza masuk sendiri kedalam apartemen. Merasa Thira sudah tak merangkulnya Eza membalikan badan.


"Mau kemana kamu?"


"Emmm....saya mau pulang Tuan ini sudah malam"


"Enak saja, tugasmu belum selesai. Cepat bantu saya berjalan"


Thira masih diam mendengar peritah Eza, kakinya membeku didepan pintu.


"Kamu kira saya bisa rawat diri sendiri. Cepat masuk" bentak Eza.


Karena kondisi Eza terlihat semakin lemah, Thira memberanikan melangkah masuk kedalam apartemen Eza. Thira merangkul Eza menuju kamar tidur dan membaringkan perlahan tubuh Eza diatas kasur. Tak lama kedua mata Eza tertutup dan mulai terlelap. Thira melihat kondisi Eza sangat lemah, dia semakin khawatir.


"Apa dia sudah makan? Sepertinya hanya tadi siang saja. Perutnya tidak boleh kosong, dia harus minum obat"


Thira bergegas menuju dapur, membuka lemari es mencari bahan-bahan yang dia perlukan untuk membuatkan bubur.


"Lengkap juga isinya. Apa tiap hari dia masak?"

__ADS_1


Walapun Eza tinggal sendiri, Eza tidak pernah lupa melengkapi lemari es dengan bahan makanan, karena setiap weekend akan ada pembantu yang datang untuk memasakan makanan kesukaan Eza. Tentu saja itu perintah dari ibunya.


Thira menyiapkan bubur untuk Eza, cukup lama dia menghabiskan waktu di dapur. Saat bubur sudah siap Thira menyajikan diatas mangkok dan segera menuju kamar tidur. Thira berdiri dipinggir ranjang sambil menatap wajah Eza yang masih terlelap.


"Lagi tidur aja tetep ganteng" sambil tersenyum menatap wajah Eza yang pucat.


"Tuan..." Thira memberanilan diri membangunkan Eza perlahan.


"Tuan....anda harus makan dan minum obat"


Mata Eza perlahan terbuka, lama dia menatap wajah Thira. Perlahan kesadarannya kembali dan teringat kenapa Thira bisa ada di apartemennya.


"Kepala anda masih sakit?"


Thira membantu Eza duduk dan menyenderkan punggungnya dengan bantal.


"Anda harus makan Tuan, saya sudah buatkan bubur. Silahkan dimakan selagi hangat"


Thira meletakan nampan berisi bubur diatas kasur.

__ADS_1


"Nanti saja, saya belum lapar"


Thira tidak menerima penolakan jika merawat orang yang sakit. Thira meraih nampan dan meletakannnya di meja nakas. Dia meraih sendok dan menyodorkan ke depan mulut Eza.


"Anda harus makan Tuan"


Melihat sendok sudah disodorkan kewajanya dengan terpaksa Eza membuka mulut dan menelan bubur perlahan.


Thira dengan telaten menyuapi bubur ke mulut Eza. Perhatian yang Eza dapatkan membuat dia melupakan sakit kepalanya.


Tak lama bubur dimangkok habis Eza makan. Thira menyodorkan segelas air. Semua yang Thira perintahkan Eza lakukan, dia menjadi pasien yang penurut membuat sesekali Thira tersenyum.


Thira mengambil tissue dan mengelap pinggiran bibir Eza yang belepotan. Sentuhan Thira membuat perasaan Eza bergemuruh.


Eza meraih tangan Thira dan menariknya perlahan, membuat jarak tubuh mereka


sangat dekat. Hanya suara nafas yang terdengar. Eza menyentuh dagu Thira, perlahan dia ******* bibir mungil Thira.


Dua insan didalan kamar dengan penerangan yang redup membuat mereka terbuai. Thira yang awalnya terkejut akhirnya pasrah tanpa penolakan.

__ADS_1


Ciuman Eza semakin dalam, nafas mereka memburu penuh gairah membuat Eza lupa diri. Ciuman yang awalnya dibibir mulai berpindah ke leher, Eza memberikan tanda kepemilikan disana. Thira yang merasa sedikit sakit mengeluarkan desahan kecil membuat Eza hilang kendali. Tangan Eza mulai berpindah meraih kemeja Thira, membuka perlahan kancing satu demi satu. Tangannya meremas ******** Thira dengan lembut penuh gairah.


"Tuan..." Thira menahan tangan Eza.


__ADS_2