Kenangan Indah...

Kenangan Indah...
Ep. 09


__ADS_3

Pertemuan malam ini berada di Memphis Hotel, Brian dan Cecile sudah datang terlebih dahulu. Handoko yang melihat kedangan Brian langsung menyambut mereka dan mempersilahkan duduk.


"Dimana Eza?" tanya Handoko karena Eza tidak datang bersama Brian.


"Dia sudah dalam perjalanan. Kau tau sendiri Eza sangat sibuk dengan pekerjaannya." sebelum Brian tiba dia sudah menghubungi Eza terlebih dahulu. Dia mengingatkan Eza harus datang ke Hotel Memphis. Brian sangat berharap pertemuan malam ini bisa membuat Eza menerima perjodohannya.


"Kenalkan putri kesayangan ku, Lyla" 


"Selamat malam Om, Tante," sapa Lyla dengan senyum manisnya.


Lyla begitu cantik dengan wajah blesterannya, Brian sangat yakin kalau Eza akan tertarik dengan Lyla. Dia sangat berharap mereka bisa segera menikah.


"Kamu cantik sekali Lyla" puji Seruni.


"Terima kasih Tante" senyum Lyla malu-malu mendengan pujian seruni.


Lyla tau tujuan dari pertemuan malam ini, yaitu perjodohannya dengan Eza. Tentu saja Lyla tidak akan menolak dijodohkan dengan pengusaha muda seperti Eza. Dia berdandan naksimal malam ini untuk merebut hati Eza yang terkenal dingin dengan semua wanita.


Eza tiba di Memphis Hotel, dia segera menuju tempat dimana orang tuanya menunggu.

__ADS_1


"Maaf saya terlambat"


Semua orang yang ada diruangan langsung melihat kearah Eza yang baru datang.


"Nak Eza sudah lama kita tidak bertemu. Kamu semakin tampan" puji Handoko mempersilahkan Eza untuk duduk.


"Ini putri Handoko, Lyla. Kalian sangat serasi" Brian terus memuji kecantikan Lyla.


Setelah makan malam selesai, Brian meminta Eza mengajak Lyla jalan-jalan di taman. Eza terpaksa mengiyakan, dia tetap menjaga kesopanan didepan orang tuanya.


Mereka berjalan menyusuri taman Hotel, lampu taman yang bersinar redup membuat suasana canggung. Lyla mengajak Eza duduk di sebuah kursi taman yang bergaya klasik.


"Ayahku dan Om Brian dekat sekali ya.." Lyla berusaha memecahkan keheningan.


"Kamu tau pertemuan ini membahas tentang kita?" Lyla terus berusaha menarik perhatian Eza.


Eza hanya diam, dia sibuk mengutak atik benda pipih ditangannya.


"Aku setuju saat Ayah bilang akan menjodohkan ku dengan mu"

__ADS_1


"Maaf Nona Lyla, sepertinya anda salah paham. Saya kesini hanya untuk memenuhi permintaan makan malam dengan orang tua saya." Eza beranjak dari kursi, dia sudah tidak tahan berada disana.


"Mari saya antar kembali ke dalam"


Mendengar ucapan Eza yang dingin, malah membuat Lyla semakin tertarik. Dia akan berusaha mendekati Eza bagaimanpun caranya.


Mereka berjalan menuju ruangan dimana orang tua mereka berada.


"Om saya pamit, maaf tidak busa menemani karena saya ada janji"


Brian menatap tajam kearah Eza. Dia tidak suka dengan sikap tidak sopan anaknya.


"Tidak apa-apa Eza, Om tau kamu sibuk" 


"Ya Han, itulah yang membuat aku khawatir. Dia hanya sibuk dengan pekerjaannya saja" Brian merasa tidak enak kepada Handoko dan Lyla


"Baik Om, Eza pamit. Pa, Ma, Eza pergi" Eza segera meninggalkan ruangan, tiba-tiba pusing dikepalanya datang lagi


"Ach...kepala ku kumat lagi" Eza duduk didepan setir mobil, dia berusaha menahan sakit dikepalanya.

__ADS_1


Tidak ada yang mengetahui Eza sakit selain Heri. Eza sering mengeluhkan sakit kepala belakangan ini, Heri sudah sering meminta Eza untuk cek ke dokter. Tapi Eza selalu lupa karena kesibukannya mengurus perusahaan. 


Saat dirasa sakitnya sudah berkurang Eza melajukan mobilnya untuk kwmbali ke Apartemen.


__ADS_2