
Ada yang berbeda dengan pemandangan hari ini. Biasanya para pegawai wanita menikmati pemandangan indah melihat dua pria tampan dan gagah berjalan bak foto model. Tapi sekarang ada sosok wanita cantik dengan tubuh mungil ikut berjalan beriringan dengan dua pria yang disegani itu. Tentu saja membuat iri para kaum hawa.
Semua mata tak bisa berpaling dari Thira, dia cukup membuat seisi kantor bertanya-tanya.
Lift berhenti, mereka kembali ke ruangan masing-masing. Thira segera duduk di mejanya dan memyelesaikan pekerjaan yang tertunda. Walaupun dia hanya 3 bulan sebagai sekretaris pengganti, tapi Thira sudah cukup menguasai tuga-tugasnya.
Telpon di meja Thira berdering.
"Halo"
"Bawakan saya kopi" perintah Eza.
"Baik Tuan"
Thira berdiri didepan pintu ruangan Eza, dia ragu-ragu untuk masuk. Kejadian kemarin masih teringat jelas dan takut bila berasa satu ruangan dengan Eza.
Cukup lama Thira berdiri didepan pintu, dia menarik nafas panjang dan mengetuk pintu ruangan Eza.
"Masuk"
"Permisi Tuan" Thira meletakan cangkir kopi diatas meja.
"Hemmm"
Eza terlihat sibuk dengan pekerjaannya, ada rasa sedikit kesal karena Eza sama sekali tak melihat kearahnya.
"Saya permisi" Thira membalikan badan dengan wajah sendu.
"Nanti kamu jangan pulang dulu sebelum saya selesai" perintah Eza tanpa melihat kearah Thira. Dia masih sibuk dengan berkas-berkas dimejanya.
__ADS_1
Thira membalikan badan tersenyum, tapi ternyata Eza sama sekali tak melihat kearahnya.
"Baik Tuan" jawab Thira kesal dan berlalu meninggalkan Eza,
"Cih...dia sama sekali tak melihat ku. Ach...kenapa aku malah kesal"
*****
Jam sudah menunjukan pukul 7 malam. Heri sudah terlebih dahulu meninggalkan kantor karena harus meeting di kantor cabang. Thira masih menunggu Eza selesai dengan pekerjaannya.
Satu...Dua...Tiga jam berlalu. Thira mulai bosan dan lelah. Dia memberanikan diri mengetuk ruangam Eza karena ingin segera pulang.
"Permisi Tuan" tidak ada jawaban dari dalam ruangan.
Thira membuka pintu perlahan mengintip kearah meja Eza. Terlihat Eza duduk dengan kepala tertunduk. Merasa ada yang aneh Thira mendekati meja Eza.
"Hemmm... kepala saya sakit" Eza masih menunduk menahan rasa sakit dikepalanya.
"Ayo tuan kita ke dokter, sepertinya kondisi tuan tidak baik"
"Tidak perlu, kamu antarkan saya pulang saja Saya ingin istirahat di rumah"
"Ta...tapi saya tidak bisa mengendarai mobil"
"Hubungi sekuriti suruh siapkan mobil, kamu ikut saya"
Eza berdiri perlahan, rasa pusing dikepalanya masih sangat terasa. Melihat wajah Eza yang pucat, tanpa sadar Thira langsung mendekati Eza dan membantunya berjalan. Thira merangkul pinggang Eza dan meletakan salah satu tangan Eza dibahunya.
Eza yang terkejut dengan sikap Thira langsung tersenyum. Sebenarnya Eza masih bisa berjalan sendiri tapi melihat perhatian Thira membuat Eza senang dan langsung merangkul pundak Thira.
__ADS_1
"Hati-hati Tuan"
"Hemmm...."
Beruntung kondisi kantor sudah sepi jadi tidak ada yang melihat kedekatan mereka berdua. Sopir segera membuka pintu mobil setelah melihat Eza dan Thira keluar dari pintu lift.
"Silahkan Tuan"
Eza duduk di kursi belakang, dia menarik tangan Thira ketika dilihat akan melangkah keluar.
"Kamu duduk disamping saya"
Thira terdiam didepan pintu masih bingung dengan ucapan Eza.
"Cepat masuk kepala saya makin sakit"
Melihat wajah Eza yang pucat Thir segera masuk kedalam mobil dan duduk disebelah Eza. Supir yang heran dengan kedekatan mereka sedikit melirik kearah spion.
"Tumben Tuan mau duduk bersebelahan dengan wanita" batin supir di kutsi kemudi.
"Ke apartemen sekarang" perintah Eza.
"Anda harus ke dokter Tuan. Sepertinya kondisi anda kurang baik" Thira merasa khawatir melihat wajah Eza yang semakin pucat.
"Aku hanya butuh istirahat" Eza memejamkan mata dan bersender dikursi belakang.
Mobil melaju menuju apartemen. Thira hanya bisa diam menatap keluar jendela. Dia mulai tersadar yang dilakukannya tadi membuat tubuhnya sangat dekat dengan Eza. Wangi parfum Eza yang menempel ditubuhnya membuat wajahnya memerah.
"Ach....kenapa isi otak ku mesum begini"
__ADS_1