
Thira sudah menunggu di depan ruangan Eza. Dia masih takut bagaimana nasibnya hari ini.
"Ting.." pintu lift terbuka, Eza keluar dari lift diikuti Heri.
"Se.. Selamat pagi Tuan"
Eza hanya berjalan melewati Thira tanpa menoleh dan langsung masuk keruangannya. Heri mendekati Thira dan meminta dia mengikutinya.
"Sementara kamu mengganti sekretaris yang sedang cuti. Itu meja kamu, setiap jadwal Tuan Eza ada di komputer kamu harus selalu cek dan mengirimkan ke saya. Dimeja ada buku paduan tugas-tugas sekretaris kamu bisa baca. Jika ada yang kurang jelas kamu bisa tanya saya" Thira menggangung, Dia menghela nafas lega karna tidak dihukum oleh Eza.
Heri menuju ruangan Eza. Dia menyerahkan beberapa berkas untuk ditanda tangani.
"Sudah kamu jelaskan tugasnya?"
"Sudah Tuan"
"Kamu bisa kembali keruangan mu"
Thira masih sedikit gugup dia membolak balik buku panduan. Tiba-tiba seorang wanita cantik muncul dan langsung masuk ke ruangan Eza.
"Kakak kenapa membawa ku pulang? Aku sudah bilang aku tidak mau pulang sebelum Papa merestuiku" Eca langsung duduk di sofa dan terus mengomel.
Eza hanya melirik adiknya, dia masih sibuk dengan laptop didepannya. "Lanjutkan kuliah mu di sni, jangan membantah atau kakak akan memblokir semua fasilitasmu" ancam Eza.
"Kenapa kakak ikut campur? Aku sudah besar. Kenapa kalian selalu mengekang ku?"
"Tok...tok.." Thira masuk keruangan Eza sambil membawa 2 cangkir minuman.
"Permisi Tuan" dia meletakan 1 cangkir di atas meja Eza, dan 1 lagi di depan Eca.
"Silahkan Nona"
__ADS_1
"Terima kasih. Kamu karyawan baru?" tanya Eca penasaran karena tumben kakaknya mempekerjakan sekretaris muda dan cantik. Biasanya dia mempekerjakan wanita paruh baya.
Eza mencuri-curi pandang kearah Thira. "Cepat tanggap juga dia" puji Eza dalam hati.
"Ya Nona, saya hanya diperbantukan sementara" Thira pamit meninggalkan ruangan Eza.
Eca melirik curiga pada Eza. "Siapa wanita itu Kak? Kau menyukainya?".
"Uhuk...uhuk..." mendengar ucapan adiknya Eza sangat terkejut dan terbatuk saat meminum kopi yang Thira berikan.
"Wach... aku akan mengatakan kepada Papa dan Mama kakak mempunyai pacar" senyum licik muncul dibibir Eca.
"Diam anak kecil, tidak usah ikut campur" bisa-bisa dia disuruh segera menikah kalau orang tuanya tau. Karena selama ini Eza tidak pernah terlihat dekat dengan wanita.
"Pokoknya aku tidak mau pindah kuliah atau aku akan bilang kalau kakak sudah punya pacar" ancam Eca.
"Bilang saja aku akan langsung memblokir semua kartu mu"
"Eca kau sudah janji keluar negri untuk kuliah, bukan untuk pacaran dan sering bolos. Kamu kira kakak tidak tau kelakuan mu disana?"
Eza juga sudah menyelidiki terntang kekasih adiknya. Edo bukanlah anak yang baik, dia sering berpesta dengan teman-temannya. Tentu saja Edo mendekati Eca karena tau dia berasal dari keluarga yang berada. Eza tidak ingin menyakiti hati adiknya, jadi dia tidak menceritakan semua temuannya tentang siapa Edo.
"Tapi kak aku mencintai Edo" rengek Eca.
"Tau apa kamu soal cinta, masih bau kencur. Sudah pulang sana. Bulan depan kamu mulai kuliah, kakak sudah mengurus semuanya."
Eca sudah tidak bisa meyakinkan kakaknya, dia tau kalau kakaknya sudah mengambil keputusan dia tidak bisa membantah.
*****
Telpon diatas meja Thira berderimg. Eza meminta Thira masuk keruangannya.
__ADS_1
"Permisi tuan" jantung Thira tidak berhenti berdetak kencang. Dia hanya bisa tertunduk ketika masuk keruangan Eza.
"Apa yang kamu lihat dibawah?" melihat wajah Thira yang menunduk dan pucat membuat Eza ingin mengerjainya.
"Maaf Tuan" perlahan Thira mengangkat wajahnya memandang ke arah Eza.
"Deg...deg...deg..." jantung Thira makin berdetak kecang. Rasanya dia tidak bernafas ketika melihat mata Eza yang menatapnya tajam.
"Kapan kau akan menghajar ku?"
"Apa tuan?" tanya Thira saking gugupnya dia tidak jelas mendengar apa yang Eza ucapkan.
"Kapan kau akan menghajar ku? Sudah berapa kali kita bertemu, tapi sepertinya kau lupa dengan cacian di rooftop?" senyum sinis terlihat dibibir Eza.
"Ma..maafkan saya Tuan. Sepertinya anda salah dengar. Saya tidak mungkin mengatakan itu" sanggah Thira dengan gugup. "Habislah aku..." batin Thira.
Eza bangkit dari kursinya dan mendekati Thira. Melihat Thira yang gugup membuat dia terlihat manis. Tanpa dia sadari wajahnya mendekat kearah Thira.
"Cup..." kecupan dibibir Thira membuatnya membulatkan mata dan mendorong tubu Eza. Tanpa sadar dia menyentuh bibirnya. Jantungnya terus berdetak kencang. Wajahnya yang pucat sekarang berubah merah.
"Ciuman pertama ku" hanya itu yang terlintas dipikiran Thira.
Melihat wajah Thira yang merah padam, Eza kembali duduk dimejanya. Dia tidak mau Thira melihat wajahnya yang mulai tersipu.
"Itu hukuman karena telah mencaci ku. Kau bisa keluar" Eza langsung sibuk dengan berkas-berkas diatas mejanya. Dia tidak mau terlihat gugup didepan Thira.
Tanpa pamit Thira kembali kemejanya. Kakinya lemas, jantungnya berdetak kencang, keringat dingin sudah membajiri tangannya.
"Apa yang terjadi tadi?" pikiran Thira masih melayang, dia bingung atas tindakan Eza tadi.
"Ach....apa yang aku lakukan tadi? Kenapa dia manis sekali" Eza terus tersenyum, rasanya dia ingin mengulang apa yang barusan terjadi.
__ADS_1
"Ada apa dengan otak ku"