
Eza memasuki ruangannya dengan tatapan tajam. "Siapa wanita kurang ajar tadi, berani-beraninya dia memegang ku" Jangankan menyentuh menatap lama saja para karyawan takut.
"Her...apa aku ada menabrak wanita kemarin?" sekilas dia mengingat tuduhan Thira tadi.
"Hari ini memang Anda bertabrakan dengan salah satu karyawan. Tapi, kemarin saya kurang tau. Saya akan segera cek cctv Tuan" tanpa diperintah Heri tau apa yang harus dia lakukan.
Heri keluar ruangan dan menuju ruang khusus para pengawas cctv perusahaan.
"Selamat siang Tuan, ada yang bisa kami bantu?" para karyawan diruangan itu segera berdiri menyadari kedatangan Heri.
"Putar rekaman kemarin"
Heri segera mengecek rekaman yang sudah diputar, dia ingat kapan dia tidak besama Eza jadi dengan cepat dia bisa menemukan kejadian saat Eza menabrak Thira sampai dia tersungkur.
Heri segera menuju ruangan Eza dan menunjukan hasil rekaman yang diminta.
"Ternyata yang diucapkan wanita itu benar" batin Eza. Tentu saja hal itu tidak penting baginya dan dianggap angin lalu.
"Her apa masalah Eca sudah kamu bereskan? Kapan dia akan pulang?" Eza mengalihkan tatapannya dali laptop.
"Besok Nona Eca akan pulang Tuan. Dan Hari ini Tuan Besar akan pulang ke rumah. Apa Tuan akan menjemput Tuan Besar dari rumah sakit?" Eza hanya menggelengkan kepala pelan.
__ADS_1
"Apa ada jadwal meeting lagi hari ini?" Eza sibuk melihat beberapa dokument yang harus dia tanda tangani.
"Jadwal meeting Anda hanya tadi pagi Tuan."
"Ya sudah kita ke apartement saja. Kepala ku sedikit pusing" Beberapa hari ini Eza memang sering mengeluhkan sakit dikepalanya. Mungkin akibat kelelahan.
Ketika memasuki lift Eza melihat Thira berjalan melewatinya. Saat pintu akan tertup dia segera menahannya.
"Tuan mau kemana?" batin Heri mengikuti Eza masuk keruangan CS.
Eza melihat Thira duduk dimejanya. Senyuman licik muncul diwajah Eza. Entah kenapa ada keinginan untuk mengerjai Thira saat dia melihatnya.
Seketika para karyawan yang melihat Eza masuk langsung berdiri dan membungkukan badan. Thira yang tidak sadar dengan kedatangan Eza hanya mengikuti karyawan lain dan ikut membungkuk. Heri tau kenapa atasannya datang ke ruangan ini setelah melihat Thira
Eza berjalan ke arah meja Thira. Karena jarak mereka yang tidak terlalu jauh membuat Thira tersadar akan aroma yang tidak asing dihidungnya. Thira langsung mengangkat kepala dan terkejut ketika melihat orang penting yang datang adalah orang yang menabraknya. Badan Thira langsung kaku dan tanpa dia sadari keringat dingin keluar dari telapak tangannya. Dia terus mengigit bibir bagian bahwa karna menahan cacian yang ingin dia keluarkan ketika bertemu dengan Eza. Thira sadar dia dalam masalah sekarang.
"Selamat sore Tuan" sapa Cecile dengan senyum menggoda.
"Cecile berapa CS baru yang diterima?" tanya Eza tanpa mengalihakan tatapan tajamnya kearah Thira.
Bibir mungil merah, hidung mancung, mata bulat yang berwarna coklat dan kulit wajah putih bersih membuat Thira terlihat sangat menarik. Eza sedikit melupakan tujuan utamanya saat melihat kecantikan Thira. "Ternyata dia cantik juga"
__ADS_1
"Ada 4 CS baru Tuan" jawab Cecile dengan bingung. "Tumben Tuan mengurusi karyawan baru" batin Cecile dengan tatapan bingung yang jelas terlihat dari wajahnya.
"Apa dia salah satunya?" tanya Eza dengan tatapan tajam kearah Thira.
Thira yang mendengar ucapan Eza seketika pucat. "Mati aku" batin Thira karena dia tau dia bisa saja dipecat hari ini. "Achhhhh...gimana ini..." teriak Thira dalam hati.
"Ya Tuan. Apa dia ada buat kesalahan?" tanya Cecile dengan tatapan menuduh kepada Thira.
Thira semakin tidak bisa berfikir jernih. Rasanya dia tidak bisa bernafas. Detak jantungnya begitu cepat. Kakinya terasa lemas, keringat dingin yang keluar dari telapak tangannya semakin banyak. Eza yang melihat perubahan wajah Thira terkekeh dalam hati. "Lucu juga wajahnya kalau ketakutan"
"Mulai besok dia pindah keruangan ku"
Sebelum Cecile menjawab uacapan Eza, dia langsung pergi menuju lift. Heri yang melihat atasannya segera menyusul. "Apa yang dipikirkan Tuan?" pertanyaan yang terus terlintas dalam pikiran Heri karena keanehan atasannya hari ini.
"Cara murahan apa yang kamu pakai untuk merayu Tuan Eza?" dengan tatapan penuh curiga dan merendahkan kepada Thira. "Cih...Menjijikan..."
Thira hanya bisa diam dan menunduk dengan tuduhan yang diucapkan oleh Cecile. Sambil mengucapkan kata-kata yang menyindir Cecile kembali keruangannya dan membanting pintu dengan keras.
Semua karyawan yang ada diruangan itu memandang Thira dengan tatapan iba. Siapapun yang mendapat masalah dengan Cecile tidak akan bisa hidup tenang.
Kaki Thira lemas, dia langsung terduduk saat mendengar pintu ruangan Cecile dibanting. Thira menatap kosong layar komputer didepannya.
__ADS_1
"Apa aku akan dipecat? Apa aku akan jadi babu? Apa lebih baik aku berhenti?" begitu banyak pertanyaan yang terlintas dikepalanya.