
"Eza Pratama Putra" itulah nama pria yang menabrak Thira. Dia adalah anak Sulung dari "Brian Rasta Pratama" pemilik PT. Andakasa Pratama.
Eza tergesa-gesa menuju pintu keluar. Seseorang sekuriti sudah menunggunya didepan pintu mobil.
"Silahkan Pak" pria tersebut membukakan pintu mobil kursi belakang. Mobilpun langsung melaju setelah Eza duduk dikursi penumpang.
"Gimana kondisinya apa parah? tanya Eza dengan wajah yang khawatir.
"Dokter sudah melakukan yang terbaik Tuan. Kondisi Ayah anda sekarang sudah stabil" Jawab Heri sekretaris dan tangan kanan Eza.
"Lebih cepat Her" perintahnya
Sesampai di rumah sakit Ia bergegas munuju ruang ICU. "Bagaimana Jeff kondisi Bokap gue. Kenapa bisa tiba-tiba dia pingsan?" tanya Eza yang heran dengan kondisi Ayahnya karena tadi pagi mereka masih sarapan bersama dan tidak ada yang aneh dengan Ayahnya.
__ADS_1
"Tenang Za, Om Brian uda stabil. Dia hanya kaget aja. Sedikit shock yang buat dia pingsan. Tapi ga ada masalah yang serius. Lu tenang aja Om Brian uda sadar kok" Jeffry adalah sahabat Eza sekaligus dokter keluarga mereka.
Eza bisa sedikit tenang mendengar penjelasan dari Jeffry. Saat Eza akan masuk keruangan Ayahnya terlihat "Nyonya Seruni" Ibu Eza keluar dari sana.
"Ma... Papa uda sadar? tanya Eza.
"Uda nak, Papamu gapapa. Dia cuma kaget tadi habis terima telpon dari Eca" jawan Ibu Eza dengan tatapan sedikit kesal.
"Napa lagi tu anak Ma?" Eza sudah biasa dengan tingkah laku adik semata wayangnya yang tidak pernah bisa buat mereka tenang. Eca berada diluar negri sedang menjalani kuliahnya. Sebenarnya orang tua Eza tidak mengizinkan Eca kuliah jauh dari mereka. Tapi, rengekan Eca selalu bisa meluluhkan hati Ayahnya.
"Uda ma ga usa dipikirin, nanti Eza yang bakal ngomong sama Eca. Mama tenang aja. Eza masuk dulu ya Ma. Mama pulang aja ama Heri biar Eza yang jaga Papa." Heri mengangguk dan langsung menuntun Seruni menuju mobil.
Ezap masuk keruangan Ayahnya. "Gimana kondisi Papa? Apa ada yang sakit?" tanya Eza mengalihkan lamunan Ayahnya.
__ADS_1
"Papa baik-baik aja Za. Kapan Papa bisa pulang?"
"Kalau kondisi Papa sudah makin membaik besok sudah bisa pulang. Papa ga usa mikir aneh-aneh. Eca biar Eza yang urus. Papa istirahat aja ya" bujuk Eza.
"Hemmm..." Ayah Ezapun membaringkan badannya dan mulai terlelap. Setelah dilihat Ayahnya tertidur Eza keluar dari ruangan.
"Tuan Nyonya sudah di rumah. Apa kita kembali ke kantor?" tanya Heri yang baru tiba dari mengantarlan Seruni.
"Ga usa Her, kamu pulang aja. Saya akan istirahat di sini."
"Baik Tuan. Nanti malam akan saya jemput" Heri mengerti kapan waktunya dia harus kembali.
"Hemmm..." jawan Eza singkat.
__ADS_1
Heri meninggalkan Eza. Dia bukan pulang ke rumahnya tetapi lebih memilih kembali ke kantor untuk menyelesaikan beberapa dokument penting yang sempat tadi dia tinggalkan. Karena sekretaris yang membantu Heri sedang cuti.
Sesampainya di kantor Heri langsung menuju keruangannya. Semua karyawan yang melihat langsung membungkuk hormat. Tentu saja hal itu wajib mereka lakukan karena Heri adalah orang nomor dua setelah Eza yang dihormati disana. Saat sampai diruangannya Heri langsung mengambil semua dokumet dan bergegas menyelesaikannya.