
"Apa itu bisa disebut cinta?"
Mata Thira membulat mendengar pengakuan Eza. Ya...pengakuan cinta blak blakan dari Eza. Bertubi-tubi Thira dikejutkan dengan tingkah Eza. Semua terasa tidak nyata.
"Hemmm....sejak kapan perasaan Tuan seperti ini?"
"Sejak pertemuan kita di rooftop. Sejak saat itu aku mulai memperhatikan mu"
Awalnya Thira mengira jika perasaan Eza muncul ketika ciuman pertama mereka, kalau saat itu perasaan yang Eza rasakan pasti hanya sebuah nafsu tidak tulus. Tapi dugaan Thira salah, jawaban Eza semakin membuat Thira bimbang.
"Kamu tidak perlu buru-buru menjawab. Aku tau kamu butuh waktu, tapi beri aku kesempatan untuk menunjukan keseriusan ku. Tolong jangan jauhi aku. Dan mulailah bicara santai, tidak perlu seformal saat bekerja."
"Saya...hemmm...aku butuh waktu. Aku belum tau bagaimana perasaan ku. Ini terlalu mendadak. Tapi aku janji tidak akan menjauhimu"
"Terima kasih" Eza tersenyum girang langsung memeluk tubuh Thira.
Thira yang terkejut dengan tindakan Eza, langsung menjauhkan tubuh Eza.
"Maaf... Aku tidak bermaksud..." sesaat Eza lupa dengan tindakannya membuat Thira tidak nyamam.
"Saya....ehemmm aku masih butuh waktu."
Eza mengangguk mengerti. Ya...dia memang harus lebih bersabar untuk bisa mendapatkan Thira.
"Tok...tok..." suara ketukan pintu menghentikan pembicaraan mereka. Thira bergegas beranjak dari duduknya dan membuka pintu.
"Napa Di?"
__ADS_1
"Tumben lu nanya? Biasanya gw langsung masuk aja."
Thira menoleh kearah Eza, teringat perkataan Eza yang tidak suka dengan kedekatan dia dan Erdi membuat Thira sedikit khawatir.
"Emm....masuk"
Erdi terkejut saat melihat Eza ada di rumah Thira sepagi ini.
"Ngapain dia sini?"
"Bukan urusan lu" jawab Eza ketus.
Erdi melirik Thira, menatap dengan penuh tanya.
"Emmm....kemarin gw ga enak badan jadi Tuan Eza jenguk gw" Thira terpaksa berbohong agar Erdi tidak banyak tanya lagi.
"Sepagi ini?" Erdi masih tidak percaya dengan penjelasan Thira.
"Hemmm...kalian kalau uda ga ada perlu lagi pergi dech. Aku mau istirahat" Thira berjalan kearah pintu.
Dua pria di ruang tamu saling pandang. Melihat Thira yang sudah berdiri membukakan pintu membuat mereka terpaksa harus pergi.
"Nanti malam aku datang" bisik Eza.
Thira tidak menjawab, dia hanya terdiam melihat kepergian Eza.
"Mau gw anter ke dokter Ra?"
__ADS_1
"Ga usa, pake istirahat aja hilang"
"Ya ud ntar malem aja dech gw kesini lagi"
"Jangan...."dengan cepat Thira melarang Edi datang.
"Hah...?"
"Maksud gw, ga usa. Gw cuma butuh istirahat, jadi jangan ganggu gw hari ni." Thira tidak ingin nanti Erdi bertemu Eza lagi, karena mereka pasti akan berselisih lagi.
"Lu yakin gapapa?"
"Yakin. Gih sana pulang gw pengen cepet tidur"
Thira mendorong tubuh Erdi keluar.
"Bye..."
Belum sempat Erdi membalas Thira sudah menutup pintu. Cukup lama Erdi berdiri didepan rumah Thira, dia merasa ada yang aneh dengan sikap Thira hari ini.
"Apa dia baik-baik saja?" pertanyaan yang terlintas dibenak Erdi.
Setelah puas berdiri di depan rumah Thira, akhirnya Erdi kembali ke rumahnya.
Thira yang melihat Erdi berdiri cukup lama di depan rumah membuat dirinya merasa bersalah. Pertama kali dia mengusir Erdi dari rumah, tapi hari ini perasaan Thira masih kacau. Dia takut nanti Erdi terus bertanya mengenai Eza, jadi lebih baik hari ini mereka tidak bersama.
Setelah Erdi pergi barulah Thira menuju kamar tidur. Thira membanting badannya diatas kasur, memandang langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong.
__ADS_1
"Hah...apa yang harus aku lakukan?"