Kenangan Indah...

Kenangan Indah...
Ep. 21


__ADS_3

"Kamu ga denger dia bilang lepas?"


Eza menarik tangan Thira membawa tubuh Thira berada di belakang tubuhnya.


"Bukan urusan mu" bentak Erdi.


"Tentu ini urusan saya, kamu membawa tunangan saya secara paksa"


"Jangan bercanda...!!!" Erdi begitu marah mendengar ucapan Eza. Mana mungkin mereka bisa bertunangan, jelas Thira tidak suka dengan Eza dari awal.


"Di...tolong tenang. Lu kenapa sech marah-marah gini?"


"Lu ga tunangan sama ni orang kan Ra? Gw tau lu ga suka sama dia"


"Di ntar gw jelasin, lu tenang dulu dunk"


Erdi semakin tidak suka dengan jawaban Thira.


"Lu pilih dia apa gw?"


"Maksud kamu gimana? Thira tunangan saya dia tidak perlu memilih" Eza ikut terbawa emosi.


"Di lu kenapa sech? Lu sahabat gw, napa lu malah suruh gw milih?"


"Selama ni cuma lu yang anggep kita sahabat. Apa ga bisa lu lihat gw sebagai lelaki? Selama ni gw yang slalu ada disamping lu" pengakuan Erdi sangat terdengar putus asa, dia sudah tidak bisa membendung perasaannya.


Mata Thira membesar mendengar pengakuan Erdi. Belum selesai Thira menata hatinya untuk Eza, sekarang Erdi malah mengungkapan perasaannya.


Melihat Thira yang hanya diam menatap bingung membuat Erdi tau bahwa persaannya hanya bertepuk sebelah tangan. Sakit...kecewa itu yang Erdi rasakan. Dia pergi meninggalkan Thira dan Eza.

__ADS_1


"Di...tunggu" Thira ingin menyusul Erdi tapi tangannya ditahan Eza.


"Lepasin"


"Biarin dia tenang dulu. Dia masih emosi ga baik kalian bicara dengan emosi"


Buliran air mata jatuh di pipi Thira.


"Aku takut Erdi membenci ku. Dia sudah seperti kakak ku hik...hik..."


Eza medekap tubuh Thira kedalam pelukannya, dia berusaha menenangkan Thira.


"Beri dia waktu, kamu juga butuh waktu" Eza tidak tega melihat Thira yang menangis begitu pilu. Ada rasa cemburu yang muncul dipikiran Eza, tapi dia segera menepisnya.


"Ayo kita pulang, kamu butuh istirahat"


*****


"Tidurlah"


Thira menganggukan kepala dan memejamkan matanya. Tak lama Thira mulai tertidur, Eza menepis rambut diwajah Thira. Memperhatikan wajah Thira yang sembab karna habis menangis.


Matahari semakin terik, Thira membuka matanya. Perlahan dia menuju ruang tamu karna mendengar suara televisi yang menyala.


"Kamu ga pulang dari tadi?"


Eza menoleh kearah suara Thira.


"Ga mungkin aku ninggalin kamu dalam kondisi menangis. Kamu sudah baikan?"

__ADS_1


Thira mengangguk pelan.


Kamu sudah lapar?"


"Emm... ya... tunggu sebentar aku masak"


"Ga usa aku pesen online aja, kamu ada pengen makan apa?" Eza membuka layar ponselnya melihat berbagai makanan yang bisa dipesan.


"Apa aja, terserah kamu"


Eza memesan beberapa makanan agar Thira bisa memilih.


"Tok...tok" Eza membuka pintu dan mengambil beberapa makanan yang dipesan.


"Ayo makan, aku sudah lapar" Eza meletakan makanan diatas meja makan.


Mereka menikmati makan siang bersama dalam suasana hening. Eza melirik Thira sesekali, memperhatikan raut wajah Thira.


"Apa dia sudah baik-bailk saja" pertanyaan yang terus terlintas dipikiran Eza.


Thira melihat raut wajah khawatir Eza, dia tau Eza khawatir kepadanya.


"Aku baik-baik saja kamu ga usa khawatir"


"Hemmm... ya aku tau"


"Apa tidak apa-apa kencan kita ditunda dulu? Aku masih lelah"


"Ya tentu saja, aku akan menemanimu"

__ADS_1


Thira tersenyum kecil senang dengan pengertian dan perhatian Eza.


__ADS_2