
Jam sudah menunjukan pukul 6 sore. Thira dan Jenna besiap-siap untuk pulang."Thira, lututmu masih sakit? Apa lukamu ga perlu diobatin? tanya Jenna sambil melihat lutut Thira yang masih merah dengan bekas goresan kecil.
"Gapapa Na, luka segini mah bukan apa-apa" jawab Thira dengan cuek.
Mereka berjalan kearah pintu keluar dan berpisah persis di depan halte bus. Karena bus tujuan mereka memang berbeda.
Sesampainya di rumah Thira segera membersihkan tubuhnya. Dia begitu lelah tapi tetap senang karena sudah mendapatkan pekerjaan yang bisa dibilang dengan gaji yang lumayan.
"Drrrttt..." ponsel Thira bergetar dia langsung menjawab setelah melihat nama panggilan pada layar. "Halo Bu, Thira kangen" rengeknya. Walaupun Thira yang menginkan bekerja di kota tapi tetap rasa rindu pada keluarganya tidak pernah bisa hilang.
"Kamu uda makan nak?" tanya Ibu Thira.
"Belum Bu, Thira baru pulang kerja sebentar lagi Thira masak" sambil terkekeh melihat adiknya yang terus mendekat ke layar ponsel dan menghalangi Ibunya.
"Adel...jangan ditarik-tarik sayang. Ibu lagi ngomong sama Kakakmu" Ibu Thira berusaha menjauhkan benda pipih itu dari tangan adiknya.
"Adel juga mau lihat kak Thira Bu. Adel kangen..." dengan wajah sendu dia terus berusaha meraih posen Ibunya.
Benda pipih itu diletakan Ibu Thira diatas meja agar mereka berdua bisa memandang wajah Thira. "Kamu mau masak apa nak? jangan masak mie instan lagi..." tegura Ibu Thira.
"Ga Bu, aku mau masak nasi goreng...hehehe" hanya makanan simple itu yang dia pikirkan karena dia lelah kalau harus masak dengan banyak bahan makanan.
"Adel gimana sekolahnya hari ini? Ada buat onar lagi ga?" Thira selalu khawatir sama tingkah adik kecilnya yang sering berkelahi di sekolah karena sikap tomboinya yang suka membela teman-temannya jika ada yang membully di sekolah. Padahal dia baru kelas 3 SD.
__ADS_1
"Aman kak Adel uda ga berantem lagi. Semua uda takut sama Adel" celetuk Adek dengan bangga.
"Kamu jangan buat Ibu susah ya Del, kasian kalau Ibu harus bolak balik ke sekolah gara-gara kamu berantem" Adel hanya mengangguk pelan.
"Kak Merry mana Bu? kok ga kelihatan?" tanya Thira karena biasanya mereka berbicara berempat saat Ibu menghubunginya.
"Dia lagi keluar sama Bimo, gimana hari pertamamu nak? apa baik-baik saja?"
"Baik Bu, perusahaan tempat ku bekerja bagus banget Bu, besar. Thira uda dapet temen juga Bu, baik-baik orang disana." sesaat dia teringat kejadian saat dia ditabrak oleh seorang pria hingga terjatuh. Tapi cepat-cepat dia menghilangkan ingatan buruk dihari pertamanya biar Ibunya tidak khawatir.
"Ya uda nak kamu jangan lupa makan ya, jangan suka begadang biar ga telat bangun. Jangan sering-sering makan mie instan, jaga kesehatan, jangan lupa hubungi Ibu kalau ada apa-apa ya nak..." begitu banyak nasehat yang Ibu Thira sampaikan dia hanya mengangguk dan terus tersenyum melihat Ibunya. Omelan inilah yang membuat dia rindu selama ini.
"Kak jangan lupa pulang bawa oleh-oleh ya. Adel mau mainan yang besarrrrr sekali kan kakak uda janji gaji pertama bakal beliin adel mainan" rengek Adel mengingatkan janji kakaknya saat dia hendak meninggalkan rumah.
"Ya bawelll...terus aja diingetin tiap telpon kakak. Emang kangennya ama mainan ya bukan ma kakak? jawab Thira sambil menggoda adiknya.
"Ya uda Bu, Thira mau masak dulu ya. Ibu jangan lupa jaga kesehatan" Thira mengakhiri panggilan setelah mereka melambaikan tangan perpisahan. Thira segera masuk ke dapur dan mulai memasak nasi goreng untuk makan malamnya.
Malam semakin larut Thira sudah merasa lelah dengan hari pertamanya. "Besok semoga lebih baik dari hari ini" guman Thira sambil merebahkan tubuhnya diatas kasur dan mulai terlelap.
*****
Pagi ini Thira tidak bangun kesiangan seperti kemarin. Dia sudah bangun pukul 5 pagi dan memasak beberapa makanan untuk sarapannya. Karena hidup sendiri dia sudah terbiasa mengerjakan semua pekerjaan rumah.
__ADS_1
"Tok...tok" Thira mendengar pintu rumahnya diketuk dan segera membuka pintu untuk melihat siapa yang pagi-pagi uda datang mengunjunginya.
"Ra gw laper, lu masak ga?" Erdi langsung masuk menuju meja makan tanpa permisi.
"Lu kebiasan Di, kalo gw masak pasti tau" Jawab Thira dengan kesal sambil menghembuskan nafas kasar.
Erdi adalah teman pertama dan tetangga Thira di kota. Mereka bertemu pertama kali saat Thira bingung mencari alamat kontrakan yang sudah dia siapkan sebelum dia berangkat ke kota. Kontrakan yang Thira tempatin adalah milik salah satu sahabat Ibunya, jadi harga yang diberikan lebih murah dibandingkan dengan kontrakan lainnya. Kontrakan Thira memang tidak besar tapi untuk dia yang hidup sendiri menurut dia sudah cukup nyaman.
"Tau dunk, alarm di perut gw yang bunyi kl lu masak" jawab Erdi sambil menyuap makanan ke dalam mulutnya. Dan merekapun sarapan bersama.
Jam sudah menunjukan pukul 7 pagi. Sudah waktunya Thira menuju ke halte, dia teringat akan teguran dihari pertamannya untuk tiba di kantor lebih awal.
"Di buruan gw harus brangkat nih. Lu ga kerja?" tanya Thira sambil merapikan pakaiannya dan menuju pintu.
"Kerjalah tapi gw masuk siang. Lu mau gw anterin?" jawab Erdi dengan santai.
"Ga hari ini gw ga telat. Napa sech ga kemarin lu kesini kan jadinya gw ga telat dihari pertama" ucap Thira sambil jalan menuju halte diikuti Erdi.
"Kan gw ma bokap ke rumah Oma gw. Kok Lu lupa sech, uda tua Lu bentar lagi expired dach" ledek Erdi sambil cekikikan.
"Sialan..." tendangan tepat dikaki Erdi membuat dia sedikit meringis.
Melihat bus yang Thira tunggu sudah datang dia segera berlari dan masuk ke dalam bus sebelum Erdi membalas kejailannya.
__ADS_1
Didalam bus Thira duduk dan melihat Erdi masih memegang kakinya. Saat Erdi melihat kearahnya Thira langsung menjulurkan lidah mengejek Erdi "Weekk" dia tertawa puas.
Buspun melaju dan meninggalkan Erdi sendiri. Dia terus melihat sampai bus yang membawa Thira hilang dari pandangannya.