Kenangan Indah...

Kenangan Indah...
Ep. 11


__ADS_3

Alarm di ponsel nakas berbunyi, Thira beranjak dari tenpat tidur. Membasuh muka dan menuju ke dapur. Hal yang biasa yang dilakukan pagi hari memasak dan sedikit bersih-bersih rumah.


Sarapan sederhana sudah siap tersani, Thira segera mandi dan bersiap bekerja.


"Tok...tok"


"Pasti tu anak mau sarapan" Thira tau sapa yang mengetuk pintunya sepagi ini.


"Masuk aja, ga dikunci gw masih siap-siap" teriak Thira dari kamar.


Thira masih sibuk dengan make up di tangannya.


Terdengar langkah kaki seseorang masuk ke dalam.


"Lu duluan aja sarapan, bentar lagi gw siap"


Thira keluar dari kamar menuju meja makan. Betapa terkejutnya yang dia lihat bukanlah Erdi, melainkan Eza yang duduk manis di depan meja makan.


"Deg...Kenapa Tuan ada disini?" jantung Thira kembali berdetak kencang.


"Tadi kamu yang suruh saya masuk" Eza tersenyum melihat Thira yang terkejut.


"Tadi saya kira bukan Tuan. Lagian kenapa Tuan datang pagi-pagi ke sini?


"Semalem kan saya tidak jadi bertamu, tentu pagi ini saya datang untuk bertamu"


"Tapi kan bisa nanti sore sepulang kerja tidak harus pagi-pagi seperti ini"


"Ya sudah nanti pulang kerja saya bertamu" dengan santai Eza mengiyakan ucapanThira.


"Ech...bukan gitu maksud saya" Thira semakin bingung dengan jawaban Eza.


"Uda saya laper, mana nasinya"


"Itu di depan Tuan, masa ga kelihatan"


"Cepat ambilkan"


Thira mengikuti permintaan atasannya. Dia menuangkan nasi dan beberapa lauk diatas piring Eza.


"Ra ada mobil sapa di depan?" Erdi masuk kedalam rumah Thira tanpa mengetuk karena heran melihat ada tamu sepagi ini.


Eza dan Thira menoleh kearah pintu masuk. Eza dengan cuek menyantap makanan didepannya.


"Duduk sini sarapan bareng"

__ADS_1


Erdi duduk disebelah Thira dan mentap sinis Eza.


"Cepetan makan uda jam segini gw mau kerja"


"Ngapain dia ke sini?"


Thira mengakat bahunya. Erdi tau pria didepannya menyukai Thira.


Mereka bertiga sarapan bersama dengan suasan yang canggung.


"Uda jam segini saya harus ke halte. Anda bisa pergi sekarang Tuan"


"Kamu ikut saya saja" jawab Eza tegas.


"Enak aja, Thira berangkat sama gw" Erdi langsung bergerak cepat meraih tangan Thira.


"Apaan sih?" Thira melepaskan genggaman Erdi.


"Silahkan kalian berdua keluar" Thira mendorong badan kedua pria tersebut keluar rumah. Dia mengunci pintu dan jalan menuju ke halte meninggalkan 2 pria uang sedang berdebat.


Eza yang melihat Thira pergi langsung meninggalkan Erdi dan masuk ke dalam mobilnya. Erdi melihat Eza pergi begitu saja.


"Shit" umpat Erdi


"Tin...tin..." Eza berhenti di depan halte.


"Tidak tuan saya biasa naik bus" 


"Naik atau saya pecat...!" ancam Eza.


Thira yang mendengar ucapan Eza seketika menuju pintu mobil belakang. Dia duduk dikursi penumpang.


"Kamu kira saya supir? Pindah..."


Thira dengan ragu pindah ke kursi depan sebelah Eza. Jantungnya kembali berdetak kencang. Tanpa sadar dia menekan dadanya dan terlihat oleh Eza.


"Kamu sakit?" 


"Ti...tidak Tuan" Thira berusaha mengatur nafasnya.


"Trus kenapa dada kamu?"


"Ach...ini. Tadi gatal" jawab Thira asal.


Thira memalingkan pandangannya kesamping. Dia tidak bisa tenang duduk disebelah Eza.

__ADS_1


Sesekali Eza melirik ke arah Thira.


Perjalanan menuju kantor terasa lebih lama. Hening...hanya itu yang bisa mereka rasakan.


"Tuan, saya turun disini saja"


"Kenapa? Ini masih jauh"


"Saya tidak ingin karyawan lain salah paham. Tolong Tuan berhenti disini saja"


Belum sempat membalas ucapan Thira, ponsel Eza berdering.


"Halo.."


"Tuan ada dimana? Saya tadi ke apartemen Tuan tetapi tidak ada. Di kantor juga tidak ada"


"Saya sudah jalan menuju kantor. Ada jadwal penting Her?


"Jam 9 pertemuan penting Tuan di hotel Boneo"


"Ok saya langsung ke lokasi"


Belum selesai Heri bicara Eza menutup ponselnya, Heri bergegas meninggalkan kantor menuju hotel Borneo.


"Kita mau kemana Tuan?"


"Saya ada pertemuan penting kamu ikut saja"


"Tapi...sa..." 


"Sudah diam kalau tidak mau kupecat" ancam Eza sambil menatap tajam.


Thira mengunci bibirnya, sudah berapa kali dia mendengar kata pecat membuat dia harus patuh saat ini.


"Turun" perintah Eza saat mereka tiba di Hotel Borneo.


"Kamu tunggu di restauran, pesan apa saja. Jangan pergi kemana-mana, atau sa.."


"Saya pecat" Thira langsumg memotong ucapan Eza.


"Saya mengerti Tuan, saya tidak akan kemana-mana"


Senyum Eza terlihat jelas diwajahnya. Dia senang akhirnya Thira tidak membantah.


"Kamu pesan apa saja yang kamu mau"

__ADS_1


Thira menganggukan kepala. Eza pergi meningalkan Thira menuju ruang meeting. Thira terus memandang punggung Eza yang semakin menghilang.


"Dia tampan sekali, ach...jantung ku" Thira tersenyum sendiri.


__ADS_2