Kenangan Indah...

Kenangan Indah...
Ep. 06


__ADS_3

Dengan langkah gontai Thira masuk ke dalam kontrakan, dengan cepat dia membersihkan badannya dan berbaring diatas kasur. Hari ini terasa lebih melelahkan dari kemarin. "Apa besok dia akan baik-baik saja?" pertanyaan itu terus berputar dikepalanya.


"Tok..tok" ketukan pintu membuyarkan lamunan Thira. Dengan malas dia berdiri menuju pintu. 


"Napa wajah lu? Jelek tau? Kelihatan banget lu tua" ejek Erdi langsung duduk di sofa ruang tamu.


Thira menghembuskan nafas berat dan duduk lemas disebelah Erdi. 


"Mati gw, gmn ni nasib gw besok?"


"Apaan sech? Pasti lu buat masalah lagi ya?" tuduh Erdi karena tau Thira memang susah mengendalikan emosinya bila bertemu dengan orang yang tidak dia suka.


Thira menceritakan semua kejadian 2 hari ini di tempat kerjanya. Semua kejadiannya dengan Eza. Erdi hanya terkekeh geli.


"Lagian kok bisa lu ga tau siapa atasan lu? Uda tenang aja palingan besok lu jadi pesuruh aja" tawa Erdi membuat Thira kesal.


Erdi melihat kearah lutut Thira yang ditempel plester. "Lutut lu luka gara-gara jatuh kemarin?"


"Hemm...." jawab Thira dengan malas.


Erdi langsung berdiri mengambil kotak obat dan duduk kembali disebelah Thira. Dia mengakat kaki Thira keatas pahanya.


"Ngapain sech lu, uda kering kok lukanya. Lagian ga sakit" Thira berusaha menarik kakinya turun.


"Diem lu, masih basah gini lukanya." Erdi dengan lembut membersihkan luka di lutut Thira dan menempelkan plester baru.


Erdi memang kadang menyebalkan tapi sebenarnya dia sangat perhatian kepada Thira. Mereka berdua sangat dekat walaupun baru beberapa bulan kenal. Thira sudah mengangap Erdi seperti kakaknya, tentu saja tidak dengan Erdi. Walaupun Erdi tau benih-benih cinta mulai tumbuh dihatinya tapi dia tidak berani mengungkapkan perasaannya. Dia sadar itu terlalu cepat untuk mengungkapkan perasaannya.


"Lu uda makan?" sambil menurunkan kaki Thira yang sudah selesai dia obati.


"Blon... Males masak gw. Nyokap lu masih disini?" tanya Thira karena dia belum sempat menyapa orang tua Erdi saat datang kemarin.

__ADS_1


"Uda tadi pagi. Lu mau makan apa? Biar gw pesenin?" 


"Yach...ga sempet ketemu. Padahal kangen masakan Nyokap lu. Apa aja dach yang pedes-pedes."


Erdi memesan makanan pedas untuk Thira, karena dia tidak kuat dengan pedas dia memesan makanan yang lain. Setelah makan malam, mereka keluar menuju mini market dekat perumahan.


"Lu mau beli apa sech? Ga kenyang apa tadi uda makan banyak gitu?" Erdi berjalan pelan sambil memegang perutnya yang kekenyangan.


"Gw pengen es krim, biar tenang ni otak" salah satu cara Thira kalau lagi ada masalah selalu memakan es krim biar otaknya dingin.


Setelah membeli apa yang Thira cari mereka duduk di kursi mini market sambil menikmati es krim. Thira sangat lahap memakannya, es krim sudah belepotan di bibir mungilnya. Melihat kelakuan Thira, Erdi langsung mengusap bibir Thira yang belepotan. Thira hanya cuek dan melanjutkan makannya.


"Hemmm...." suara yang tidak asing terdengar ditelinga Thira, Dia langsung terkejut dan seketika berdiri melihat Eza sudah ada di depannya.


"Selamat malam Tuan" Thira langsung membungkukkan badan dengan sopan.


"Ngapain kamu bermesraan malam-malam didepan umum?" dengan tatapan tidak suka kearah Erdi.


Erdi yang sadar bahwa pria didepan Thira adalah atasannya langsung berdiri disebelah Thira sambil merangkul bahunya. Eza yang melihat tingkah Erdi langsung menatap tajam kearah Thira seakan meminta penjelasan.


"Saya tinggal dekat sini Pak. Kenalkan dia Erdi temen saya." penjelas Thira membuat Erdi tidak suka, dadanya sesak mendengar kata teman yang diucapkan Thira.


Tanpa sadar Eza tersenyum tipis mendengar penjelasan Thira. Ada rasa lega dihatinya. "Cih...dia cuma teman tapi uda brani meluk-meluk" ucap Eza dalam hati.


"Besok kamu jangan sampai terlambat. Hukuman menantimu." Ancam Eza sambil berlalu memasuki mini market.


Apartement Eza juga tidak jauh dari mini market yang mereka datangi. Eza lebih memilih tinggal sendiri dibandingkan di rumah orang tuanya. Sesekali dia menginap dirumah keluarga saat Ayahnya meminta dia datang, atau saat Ibunya memasak makanan kesukaannya.


"Uhuk...uhuk..." Thira terbatuk mendengar ancaman Eza.


Erdi diam melihat Eza berlalu, dia langsung mengajak Thira untuk pulang. Ada rasa kesal yang masih dia rasakan ketika tadi Thira memperjelas hubungan mereka.

__ADS_1


"Lu kenapa sech? Jangan cepet-cepet dunk? Kaki gw kan kecil..." Thira sedikit berlari mengikuti langkah kaki Erdi.


Melihat Thira kesusahan mengikuti langkahnya, Erdi mulai berjalan pelan.


'Lu kenapa Di?" tanya Thira lagi masih kesal dengan sikap diam Erdi.


"Gapapa gw ngantuk" jawab Erdi singkat. "Ach.... dasar ga peka" teriak Erdi dalam hati.


Setelah mengantarkan Thira ke kontrakannya Erdi langsung menuju rumahnya, Dia membanting kasar badanya diatas kasur. Dengan tatapan kosong dia memandang langit kamarnya. "Ach...." teriak Erdi kesal.


*****


Seperti bisa Thira selalu bangun jam 5 pagi. Menyiapkan sarapan , sedikit bersih-bersih dan bersiap untuk kerja. Thira sudah duduk didepan meja makan dan menghabiskan sarapannya.


"Tumben tu anak ga dateng" Thira melihat jam tangannya sudah menunjukan pukul 7 pagi.


Saat membuka pintu rumah Erdi sudah menunggunya diatas motor sambil memegang helm.


"Ngapain lu ga sarapan bareng tadi? Lu mau kemana?" tanya Thira berjalan mendekati Erdi.


"Naik" Erdi memasangkan helm kepada Thira.


"Mau kemana? gw kerja hari ini?"


"Bawel, gw anter." jawab Erdi sambil menghidupkan motornya.


"Ada apa nich anak tiba-tiba baik" batin Thira.


Merekapun berangkat meuju kantor Thira. Tepat di pintu masuk Erdi menurunkan Thira dan melepaskan helm dikepala Thira. 


"Nanti pulang jam berapa? Gw jemput."

__ADS_1


"Ga usa, gw naik bus aja lagian lu ga kerja apa." tolak Thira "Uda sana pergi gw ga mau kena masalah kelamaan ngobrol ma lu, makasi uda antein gw" Thira meninggalkan Erdi dan menuju pintu masuk.


Erdi hanya memandang punggung Thira yang semakin menghilang. Dari kejauhan Eza sudah melihat Thira dan Erdi datang bersama. Ada sedikit rasa kesal dihatinya. Heri memang diminta menghentikan mobil saat akan masuk kedalam. Awalnya Heri bingung, apa atasannya tidak jadi ke kantor. Tapi setelah dia melihat Thira didepan pintu masuk dengan seorang pria, Heri tau itu penyebabnya.


__ADS_2