Kenangan Indah...

Kenangan Indah...
Ep. 24


__ADS_3

"Za turunin aku di halte. Aku ga mau orang-orang kantor berfikir yang enggak-enggak"


"Kamu ga perlu mikirin mereka, kalau ada yang berani mengganggu mu akan aku pecat" Eza paling tidak suka dengan karyawan yamg suka mencampuri urusan pribadinya. Tentu semua karyawan tau siapa Eza dan tidak berani membicarakannya.


"Tapi..."


"Sudah kamu jangan khawatir dengan hal yang tidak penting" potong Eza cepat sambil tersenyum.


Thira hanya bisa menghela nafas berat, dia belum siap menghadapi situasi yang tidak nyaman di tempat kerja. Apalagi dia masih terhitung karyawan baru.


Mobil berhenti tepat didepan pintu masuk. Dengan sigap sekuriti membukakan pintu mobil Eza.


"Selamat pagi Tuan"


Eza mengganguk tanpa mengucapkan sepatah katapun. Aura Eza berubah menjadi dingin ketika tiba di kantor. Thira mengikuti Eza berjalan menuju lift. Beberapa karyawan yang melihat Thira turun dari mobil Eza mulai memasang tatapan penuh tanda tanya.


Mereka hanya bisa diam mengamati, tidak berani membicarakannya karena berhubungan dengan Tuan Eza. Para karyawan membungkuk memberikan hormat kepada Eza tanpa berani memandang kearahnya.


Thira berusaha mengikuti langkah Eza, dia berlari kecil agar tidak tertinggal.


Eza yang mendengar langkah Thira terburu-buru membuatnya menoleh kearah Thira dan menghentikan langkahnya. Dia tersadar Thira pasti tidak bisa menyamai langkahnya.


"Bruk..." Thira menabrak punggung Eza.


Thira terlalu sibuk menyamai langkah Eza tanpa menyadari Eza nenghentikan langkahnya.

__ADS_1


"Maaf... Apa sakit?" Eza menyentuh wajah Thira mengecek apa ada yang terluka.


Semua mata karyawan menoleh kearah Eza, ini pertama kalinya mereka mendengar suara ramah dari atasanya. Mendengar Eza berbicara ramah kepada Thira pandangan para karyawan wanita berubah menjadi sinis.


"Saya baik-baik saja Tuan" berusaha menjauhkan wajahnya dari tamgan Eza.


Eza mengangkat alisnya, perubahan sikap Thira terasa aneh didengar. Segera dia melihat kesegala arah.


"Apa kalian mau saya pecat?" suara lantang keluar dari mulut Eza.


Serentak semua karyawan yang memperhatikan Thira membubarkan diri. Lebih baik mereka mencari aman daripada kehilangan pekerjaan.


"Ayo..." Eza meraih tangan Thira menuju ke lift.


Sepanjang perjalan Eza tidak melepas genggamannya. Heri yamg melihat kedatangan atasannya segera menghampiri.


"Rapat diundur setelah jam makan siang Tuan" ucap Heri sambil melirik tangan Eza yang mengenggam erat tangan Thira.


Eza mengangguk dan masuk kedalam ruangannya, Thira hanya bisa pasrah sambil mengangguk hormat kepada Heri mengikuti Eza.


"Tuan lepaskan, saya baik-baik saja" Thira berusaha melepaskan genggaman Eza.


Eza membalikan badan dan mendekap tubuh Thira.


"Maafkan aku tidak menyadari kalau langkah mu tidak bisa menyamai ku"

__ADS_1


Suara Eza terdengar menyesal, Thira tersenyum dalam dekapan Eza. Perlakuan manis yang dia terima dari Eza benar-benar hal baru tapi menenangkan.


"Aku baik-baik saja, jangan khawatir" Thira membalas pelukan Eza.


Cukup lama mereka saling berpelukan, sampai terdengar suara ketukan pintu. Thira langsung mendorong tubuh Eza.


"Saya akan kembali ke ruangan saya Tuan" Thira merasa malu dengan apa yang barusan dia lalukan.


Eza terkekeh memperhatikan tingkah Thira yang canggung.0


"Dia manis sekali"


Heri masuk kedalam ruamgan Eza setelah Thira membuka pintu dan kembali ke mejanya.


"Tuan semua berkas sudah diatas meja anda"


"Her...apa Mona sudah memberi kabar kapan dia akan kembali?"


Mona adalah sekretaris Eza yang sedang mengambil cuti karena menikah.


"Cuti yang diambil 2 minggu Tuan, jadi minggu depan Mona sudah mulai bekerja"


Eza terdiam, dia tidak ingin berjauhan demgan Thira. Dia harus memikirkan cara agar Thira bisa tetap didekatnya.


Heri yang melihat tingkah atasanya yang dimabuk cinta hanya bisa geleng-geleng kepala.

__ADS_1


__ADS_2