
Jam makan siang sudah tiba. Thira masih duduk dimejanya. Dia tidak ingin masuk lagi keruang Eza untuk meminta ijin. Lebih baik dia menahan lapar dari pada harus masuk keruangan Eza.
"Kamu boleh makan siang" Heri melihat Thira yang masih sibuk di mejanya.
"Ba...baik Pak, terima kasih" dia segera beranjak dari kursi dan cepat-cepat menuju lift. Dia tidak ingin bertemu Eza saat ini.
"Apa dia sangat kelaparan sampai buru-buru seperti itu?" Heri heran melihat Thira buru-buru pergi.
Didalam ruangan Eza tidak henti-hentinya tersenyum mengingat kejadian tadi.
"Bibirnya lembut sekali" sesekali dia memegang bibirnya.
"Tuan sudah saatnya makan siang bersama Tuan Besar"
"Ayo kita pergi" Eza bangkit dari kursinya.
Saat dia keluar menuju lidt, Eza melirik kearah meja Thira, matanya mencari dimana Thira berada. Heri yang melihat tingkah atasannya langsung mengerti Eza sedang mencari Thira.
"Thira sudah keluar untuk makan siang Tuan"
"Aku tidak mencari dia" sanggah Eza.
"Cih...emang siapa lagi yang dia cari di meja itu" ucap Heri dalam hati.
*****
"Thira..." Jenna langsung merangkul lengan Thira begitu melihat yang didalam lift adalah Thira.
__ADS_1
"Jenna...kamu sudah kembali?" mereka berjalan menuju kantin, Jenna tidak melepaskan rangkulannya.
"Aku dengar kamu sekarang ditugaskan di ruangan Pak Eza. Ach...kamu beruntung sekali Ra, bisa melihat wajah tampannya setiap hari. Aku iri kepada mu"
Mendengar ucapan Jenna wajah Thira berubah merah, dia teringat kejadian diruang Eza.
"Kamu kenapa? sakit?" melihat wajah Thira yang merah Jenna langsung khawatir.
"Ti..tidak, aku hanya kepanasan. Ayo cepet ke kantin aku sudah lapar" Thira segera menghilangkan pikirannya.
Mereka duduk di meja yang kosong, Jenna terus menanyakan bagaimana rasanya bekerja dengan Eza, dia begitu penasaran.
"Biasa saja" Thira mencoba untuk menjawab dengan tenang.
"Kapan kamu kembali ke kantor pusat?" Thira mengalihkan pembicaraan tentang Eza.
"Tadi pagi siapa yang mengantar mu? Aku mau menyapa mu tadi tapi takut mengganggu..." ledek Jenna sambil cekikikan.
"Dia teman ku, kami tinggal berdekatan. Jangan pikir aneh-aneh dia sudah seperti kakak ku"
"Kakak?" tanya Thira tidak percaya
"Ya kakak. Sudah habiskan makanan mu jangan tanya yang aneh-aneh terus"
Jenna hanya terkekeh melihat Thira mulai kesal.
***
__ADS_1
Dikediaman keluarga Pratama, Eza tengah menyantap makan siangnya bersama orang tua dan adiknya. Heri ikut satu meja dengan mereka.
"Kak Heri siapa nama sekretaris kakak yang baru" goda Eca sambil melirik kearah Eza.
"Thira Nona"
Eza berusaha tenang dan tetap menyantap makanannya. Dia tau adiknya sengaja memancingnya didepan orang tua mereka.
"Siapa itu? tanya Seruni
"Itu ma, kakak punya sekretaris baru masih muda dan catik banget" Eca sengaja memanas-manasi Ibunya.
"Eca kita lagi makan, jangan banyak bicara. Cepat habiskan makanan mu" Eza menatap adiknya dengan tajam.
Melihat reaksi Eza, niat Eca mengerjai kakaknya langsung menciut. "Pasti kakak suka sama wanita itu" batin Eca yang semakin penasaran.
Setelah makan siang selesai Eza masuk keruangan kerja Ayahnya.
"Kenapa Pa? Tumben minta Eza datang dijam makan siang"
"Papa ada janji makan malam dengan sahabat Papa hari ini, kamu harus datang juga"
"Kan sudah ada mama Pa, kenapa aku harus ikut? Bawa Eca saja Pa"
"Pokoknya kamu harus datang, Papa sudah janji akan mengenalkan kamu kepada Pak Handoko. Dia ingin mengenal mu dan perusahaan kita"
Eza tidak bisa mebantah kalau Ayahnya sudah memaksa seperti ini. Sebenarnya dia malas sekali harus ikut ke pertemuan yang ayahnya minta.
__ADS_1
Brian sudah beberapa kali mengenalkan Eza kepada putri dari sahabatnya, tapi tanggapan Eza selalu dingin. Diusia Brian yang makin tua dia ingin melihat Eza segera menikah. Eza tidak pernah terlihat berjalan dengan wanita. Dia selalu sibuk dengan pekerjaannya. Sejak Brian mempunyai penyakit jantung, semua pekerjaan Eza yang pegang. Tentu saja Seruni tidak mengizinkan suaminya lelah seperti dulu lagi.