
Thira tiba di PT. Andaksa Pratama tepat 30 menit sebelum jam kerja dimulai. Dengan tenang dia bejalan menuju lift tidak seperti kemarin. Tak lupa saat dipintu masuk dia menyapa para sekuriti dengan senyuman ramahnya. Thira memang gadis ramah yang murah senyum tapi terkadang dia bisa menjadi gadis yang galak kalau ada yang mengganggunya.
"Ting" pintu lift terbuka. Thira segera menuju mejanya. Dia tidak melihat Jenna diruangan itu. "Apa Jenna belum tiba?" ucap Thira dalam hati.
Langkah kaki kasar terdengar dari arah ruangan meeting. Jenna keluar dengan muka masam seperti menahan kesal.
"Kenapa Nna? Kok muka mu ditekuk gitu pagi-pagi?
"Sssttt...jangan keras-keras Ra nanti didenger ma mak lampir" jawab Jenna yang membuat mata Thira membulat.
Belum sempat Thira meminta penjelasan, tiba-tiba dari arah ruang meeting keluar wanita dengan wajah yang tidak ramah. Dia menggunakan blazer merah menunjukan ketegasannya. "Cecile Rasya" dia adalah supervisor CS yang terkenal dengan kejudesannya. Rumor yang beredar bahwa Cecile adalah perawan tua, jadi dia tidak pernah bisa ramah dengan para staff CS khususnya wanita yang lebih cantik dari dirinya. Walaupun baru pertama kali Thira melihat Cecile, dia langsung tau siapa wanita yang baru keluar dari ruang meeting. Karena sebelumnya para senior mereka sudah mewanti-wanti untuk bersikap hati-hati di depan Ibu Cecile.
"Selamat pagi Bu" sapa Thira pada Cecile.
Cecile hanya melihat Thira sekilas dan langsung mengarahkan pandangannya pada Jenna. "Kamu harus berangkat sekarang bersama 2 orang lainnya" ucal Cecile dengan suara tegasnya
"Ba.. baik Bu" jawab Jenna terbata.
"Kamu ambil beberapa dokument yang sudah disiapkan di ruang Pak Edward. Bawa keruangan meeting segera" suruh Cecile kepada Thira dan langsung meninggalkan mereka begitu saja.
Dengan pandangan bingung Thira bertanya pada Jenna "Kamu mau kemana Nna?"
__ADS_1
"Aku ma senior disuruh ke kantor cabang beberapa hari Ra. Disana lagi ada audit jadi diperbantukan sementara beberapa hari." jawab Jenna sambil menghela nafas berat. "Mana jauh lagi kalo dari rumah ke kantor cabang...hik...hik" rengek Jenna. Thira hanya bisa mengucapkan sabar kepada Jenna.
Jenna meninggalkan ruangan mereka dan Thira menuju ruangan Pak Edward dilantai 3.
"Tok...tok" ketukan pintu membuat laki-laki paruh baya itu mempersilahkan Thira masuk.
"Kamu dari bagian CS ya? Thira hanya mengangguk kecil. "Ini dokument yang diminta Ibu Cecile." sambil menyerahkan beberapa dokument ketangan Thira.
Dokument tersebut tidak sedikit, sehingga pandangannya sedikit terhalang. Thira langsung keluar ruangan Pak Edward dan menuju lift.
"Bruk..." dokument yang Thira pegang berhamburan ke lantai.
"Maaf saya tidak sengaja" ucap Thira sambil mengambil dokument yang terjatuh. Tanpa sengaja dia menabrak seseorang yang bejalan di depannya.
Belum sempat Thira membalas ucapan pria itu, dia mencium aroma parfum yang tidak asing. Dia masih melamun dan mengingat dimana dia pernah mencium aroma ini. Tiba-tiba seorang pria menghampiri Thira "Kamu tidak apa-apa? Thira mengangguk kecil. "Lain kali hati-hati. Maaf saya tidak bisa bantu" Pria tersebut berjalan cepat menyusul pria yang Thira tabrak.
Thira mengambil beberapa dokument yang terjatuh dan merapikannya. Saat dia teringat dengan aroma yang tidak asing saat bertabrakan tadi Thira langsung mendengus dengan kesal "Sial itu pria brengsek kemarin. Awas saja kalau aku bisa menemukannya" celetuk Thira.
Thira bergegas keruangan meeting membawa dokument yang Cecile minta. Dengan tatapan marah Cecile melihat Thira masuk, didalam sudah ada beberapa staff yang duduk di meja meeting.
"Kamu tidak tau sudah berapa lama saya menunggu? Kamu kalau kerja hanya menggunakan wajah lebih baik keluar saja dari perusahaan ini..!!!" bentak Cecile didepan smua orang di ruangan meeting.
__ADS_1
Thira hanya menunduk dan meminta maaf tanpa bisa memberikan pembelaan apa-apa. Dengan lemah dia menuju ke meja kerjanya.
"Dua hari ini kenapa aku sial terus?" Thira hanya menghela nafas.
Jam sudah menunjukan waktu makan siang. Beberapa karyawan sudah menuju kantin. CS yang lain juga sudah mengajak Thira untuk makan bersama tapi Thira menolak dia masih kenyang atau lebih tepatnya tidak ada nafsu makan. Thira bangkit dari kursi menuju lift.
"Tring" pintu lift terbuka di rooftop. Thira ingin menumpahkan kekesalannya disana, ini tempat paling aman untuknya sekarang.
"Dasar cowok brengsekkkk....pembawa siallll....awas sampai ketemu lagi akan ku hajar kauuuu....." teriak Thira dengan lantang.
"Berisik. Kau bisa diam???" bentak Eza yang sudah lebih awal berada di sana. Eza memang sering diam di rooftop saat suasana hatinya tidak bagus. Dan sialnya Thira tidak menyadari kalau ada orang lain disana.
"Anda siapa???" Thira bertanya dengan gugup.
Eza berjalan kearah Thira memperhatikannya dengan tatapan tajam dan berlalu ke arah pintu. Seketika hidung Thira mencium aroma parfum yang dia kenal. Tanpa berfikir panjanga dia langsung menarik tangan Eza.
"Ech...anda yang kemarin dan hari ini menabrak saya kan? Jangan kabur anda harus minta maaf. Gara-gara anda saya kena sial." tuduh Thira sambil tetap memegang tangan Eza. Sekilas dia memperhatikan wajah Eza, "Ternyata dia cakep juga" batin Thira. seketika dia langsung menghilangkan pikiran anehnya dan mengingat tujuan awalnya.
"Singkirkan tangan kotormu, berani-beraninya kamu menyentuh ku." dengan keras dia menghempas tangan Thira.
"Aw..." pekik Thira
__ADS_1
"Thira Customer Service" tulisan itu yang dibaca Eza saat melihat ID yang digunakan Thira. Eza berjalan meninggalkan Thira dengan tatapan tajam seperti ingin menusuknya dengan pedang.
Saat tersadar Eza akan pergi Thira meneriaki Eza "Hei...jangan kabur. Anda belum minta maaf" Eza tetap meninggalkan Thira tanpa menoleh sedikit pun sehingga membuat Thira makin kesal dengan Eza. "Awas saja kalau sampai aku ketemu lagi bakal aku kasi pelajaran dia" umpat Thira sambil menahan amarahnya.