
Lebih dari dua jam Eza belum kembali, Thira sudah mulai merasa bosan. Diaj memperhatikan sekeliling restaurant, dan pandangannya tertuju ke arah taman diluar.
"Sepertinya jalan-jalan sebentar tidak apa"
Thira berjalan mengelilingi taman yang sangat rindang. Beberapa bunga yang mulai bermekaran terlihat sangat indah. Diujung taman terlihat kursi kecil yang dikelilingi oleh bunga, dia duduk sambil menikmati udara yang wangi dan sejuk.
Angin berhembus perlahan membuat suasana begitu nyaman. Rasa kantuk mulai datang menghampiri Thira, tanpa sadar mata Thira tertutup perlahan menuju ke alam mimpi. Thira terlelap dalam posisi duduk bersandar dikursi taman.
*****
Cukup lama Eza keluar dari ruang meeting. Dia segera menuju restaurant, sedikit rasa bersalah karena cukup lama meninggalkan Thira sendirian.
"Anda mencari siapa Tuan?" Heri mengikuti langkah kaki Eza yang terburu-buru. Terlihat jelas Eza bingung mencari sesorang disana.
"Thira. Kemana dia?"
"Hah...Thira bersama Tuan" batin Heri.
Karena tak menemukan Thira, Eza menuju meja bardidalam restaurant tersebut.
"Apa kamu lihat wanita yang duduk disana" Eza menunjuk meja dekat jendela tempat Thira berada tadi.
"O...Nona tadi, saya lihat dia jalan kearah taman Tuan" jawab seorang bartender.
Mendengar ucapan bartender, Eza dengan cepat meninggalkan bar menuju ke taman. Dia mengelilingi taman mecari keberadaan Thira. Setelah lama berjalan akhirnya Eza menemukan Thira duduk di kursi taman dengan mata terpejam.
__ADS_1
"Apa dia tidur"
Eza duduk disebelah Thira sambil memandang wajah polos Thira yang tertidur pulas. Tatapannya berhenti pada bibir mungil Thira. Rasanya dia ingin ******* bibir mungil itu. Eza menundukan kepalanya, wajah mereka sudah berdekatan.
"Tuan disini?"
"Shit... kenapa dia mengikuti ku" Eza mengangkat kepalanya dan memandang Heri dengan kesal.
"Hemmm...kenapa kau mengikuti ku?"
"Hah" mulut Heri terbuka lebar, entah apa yang harus dia jawab, karena tugas Heri selama ini memang selalu mengikuti Eza saat dijam kantor.
Suara kedua pria tersebut mampu membuat Thira terbangun dari alam mimpinnya. Dia melihat Eza sudah duduk disampingnya, bahkan sangat dekat.
"Maaf Tuan" Thira reflek berdiri sambil mengusap bibirnya takut ada iler yang tertinggal.
"Her suruh orang mengambil mobil mu. Kau bawa mobil ku saja"
"Baik Tuan"
Eza masuk kedalam mobil disusul Heri dan Thira yang duduk di kursi depan. Mobil pun melaju ke arah kantor.
"Tadi kamu sudah makan?"
"Belum Tuan"
__ADS_1
"Kenapa kamu yang jawab Her?"
"Lah...salah lagi" Heri melirik Eza dari kaca spion. Ada yang aneh dengan Eza. Beberapa hari ini tingkah Eza sangat berbeda selama 8 tahun dia bekerja.
"Kenapa kamu tidak jawab?" Eza meninggikan suaranya.
Thira melirik kearah samping, melihat Heri yang mencuri pandang dengan wajah bingung. Ada apa dengan dua pria di dekatnya. Yang satu seperti orang yang linglung, yang satu marah-marah saja dari tadi.
"Sudah Tuan" Thira tersadar pertanyaan itu ditunjukan untuknya.
"Kapan?"
"Tadi Tuan di rumah"
"Itukan tadi pagi. Apa kamu tidak makan siang?"
"O....saya sudah ada janji makan siang dengan teman" Thira berbohong, dia hanya ingin segera kembali ke kantor.
Eza melirik tidak suka kearah Thira. Enak sekali dia sudah buat janji dengan orang lain.
"Tidak boleh, kamu makan siang dengan saya"
"Tapi Tu...."
"Her berhenti di restaurant di depan" Eza tidak memberi kesempatan untuk Thira berbicara.
__ADS_1
"Huuffttt... dasar menyebalkannnn"
Eza melirik Thira dari kaca spion, Thira terus bersungut, bukannya marah Eza malah cekikikan sendiri di kursi belakang. Andaikan bisa dia ingin sekali ******* bibir mungil Thira sekarang juga. Eza hanya bisa mengusap wajahnya kesal.