
Dari siang Thira menyibukan dirinya dengan pekerjaan rumah. Dari bersih-bersih hingga merawat tanaman di halaman rumahnya. Tentu saja Eza juga ikut membantu. Mereka sesekali terlihat tertawa bersama. Thira bisa melupakan sedikit pertengkarannya dengar Erdi.
Matahari mulai terbenam, Eza masih setia menemai Thira di rumah. Walaupun kencan mereka tertunda tapi Eza sangat senang karena mereka tetap menghabiskan waktu bersama.
"Kamu ga mandi?" tanya Thira setelah selesai membersihkan dirinya.
"Ya aku ambil baju ganti dulu di mobil" Eza selalu membawa baju ganti di mobilnya, terkadang dia harus pergi keluar kota tanpa bisa pulang ke apartemennya.
Saat Eza mandi Thira sibuk di dapur menyiapkan makan malam. Dia memasak beberapa menu rumahan.
Semua makanan sudah siap diatas meja makan, Thira mengajak Eza makan bersama.
"Ayo makan" Thira meraih piring menuangkan nasi dan lauk keatas piring Eza.
"Terima kasih" Eza tersenyum melihat perhatian Thira.
Setelah makan malam selesai Eza mengajak Thira ke minimarket untuk membeli es cream. Eza tau Thira sangat menyukai es cream, apalagi sesuatu yang manis bisa membuat hati kita sedikit tenang.
Thira memilih 2 es cream dan memberikan 1 ke Eza. Mereka kembali ke rumah dan duduk di halaman sambil menikmati es cream.
"Terima kasih sudah menemaniku seharian ini"
"Kamu sudah baikan?"
__ADS_1
"Ya...aku baik-baik saja"
Eza melihat kearah bibir Thira yang belepotan es cream. Dia mengusap perlahan bibir Thira, mata yang saling bertemu membuat wajah Thira memerah.
Eza mendekatkan wajahnya, deru nafas mereka terasa begitu berat. Thira memejamkan matanya saat bibir tipisnya bersentuhan dengan bibir Eza. Tak ada perlawan dari Thira saat Eza mulai menciumnya semakin dalam. Ciuman yang sangat lembut dan manis membuat Thira terbuai.
Eza melepaskan pagutan yang cukup lama dia lakukan. Eza tersenyum melihat pipi Thira memerah, dia sangat menggemaskan.
"Maaf, aku lancang mencium mu tiba-tiba"
Thira bingung harus menjawab apa, dia memalingkan wajahnya karena sangat malu. Apalagi dia melakukannya tanpa perlawanan, bahkan sempat terbuai dan memejamkan mata.
"Sudah malam, kamu harus istirahat. Besok pagi aku jemput"
"Tidak ada penolakan" ucap Eza cepat.
Thira hanya bisa mengangguk pasrah, sudah cukup perdebatan dia dengan Erdi hari ini. Thira tidak mau berdebat dengan Eza setelah seharian ini mereka tertawa bersama.
"Baiklah..." Thira mengantarkan Eza sampai depan halaman.
"Masuklah, udara sangat dingin"
Thira terdiam sejenak, memandang wajah Eza yang makin terlihat tampan.
__ADS_1
"Hemmm.... kabari aku kalau sudah sampai" Thira langsung membalikan badannya menahan malu atas ucapannya sendiri.
Eza langsung menarik tangan Thira membuat badannya berbalik menghadap Eza. Rona merah dipipi Thira terlihat sangat jelas, membuat Eza semakin gemas melihatnya.
"Cup..." Eza memberikan ciuman manis dikening Thira. Eza langsung masuk ke dalam mobil dan berpamitan untuk pulang. Thira masih berdiri kaku melihat kepergian Eza.
"Ach...jantung ku rasanya mau copot" Thira memegang keningnya merasakan ciuman singkat yang diberikan Eza tadi sambil terus tersenyum.
*****
Di apartemen Eza.
Setelah membersihkan tubuhnya Eza duduk di sofa kamar sambil mengirim pesan kepada Thira.
"Sudah tidur?" cukup lama Eza tidak menerima balasan dari Thira.
Sesekali di melihat layar ponselnya, tapi balasan dari Thira tak kunjung datang.
Akhirnya Eza menghubungi Thira, dia sudah tidak sabar menunggu balasan. Tapi sayang saat Eza menelpon Thira yang dia dengar bukanlah suara yang dia inginkan melainkan suara operator.
"Kenapa tidak bisa dihubungi" Eza dengan kesal mencoba berulang kali menghubungi Thira, namun tetap yang menjawab operator.
Tak terasa malam makin larut Eza tertidur diatas sofa sambil menggenggam ponselnya.
__ADS_1