Kenangan Indah...

Kenangan Indah...
Ep. 16


__ADS_3

Malam semakin larut, Eza masih berada di rumah Thira. Dia tidak ingin meninggalkan Thira sendirian dalam kondisi tak sadarkan diri. Nafas Thira sudah kembali teratur, Eza meninggalkan kamar Thira menuju ruang tamu.


Eza membaringkan tubuh di sofa. Bayangan kejadian di kamar saat bersama Thira kembali teringat. Wajah Eza mulai memerah, dia mengusap kasar wajahnya.


"Kenapa aku bisa semesum itu. Ach....brengsek."


Jam sudah menunjukan pukul 7 pagi. Eza masih belum bisa terlelap. Sesekali Eza mengecek kondisi Thira. Karena hari ini weekend, Eza bisa berlama-lama menemani Thira.


"Ceklek..."


Pintu kamar Thira terbuka, Eza yang mendengar segera bangkit dari sofa menatap kearah kamar Thira.


"Kamu sudah bangun. Kamu baik-baik saja?"


Thira menatap Eza, kondisi Eza sangat berantakan membuat Thira merasa kasihan. Disatu sisi dia tidak ingin melihat Eza, tapi disisi lain dia kasian melihat kondisi Eza. Tentu kejadian tadi malah tidak hanya Eza yang salah, Thira sadar dia juga sempat terbawa suasana.


"Tolong tinggalkan saya sendiri, saya bail-baik saja. Anda bisa pulang."

__ADS_1


"Tapi...kita harus bicara. Aku akan menunggu sampai kamu siap, jadi jangan menghindar. Aku mohon."


Suara Eza yang sangat putus asa membuat Thira merasa iba. Lingkaran hitam di mata Eza terlihat jelas dia belum tidur dari semalam.


Thira kembali masuk ke dalam kamar. Eza yang melihatnya menghembuskan nafas berat.


"Dia sangat membenci ku"


"Mandilah, saya akan siapkan sarapan."


"Apa dia sudah tidak marah? Aku harus minta maaf secara benar sekali lagi nantii" Eza tersenyum lega melihat perubahan sikap Thira.


Eza yang sudah selesai mandi duduk di meja makan sambil memperhatikan Thira memasak. Sesekali Thira melirik kearah Eza, tanpa sengaja mata mereka bertemu.


"Deg...deg...deg..." detak jantung Thira tidak karuan. Wajahnya mulai memerah.


Eza yang melihat tingkah Thira yang grogi berinisiatif pindah ke ruang tamu. Dia tau kalau dia terus memperhatikan Thira pasti membuatnya tidak nyaman.

__ADS_1


Sarapan sudah siap dan disajikan di meja makan. Thira kembali ke kamar untuk membersihkan dirinya sebelum mereka memulai sarapan bersama.


Setelah sarapan Eza mengajak Thira ke ruang tamu untuk meminta maaf secara benar.


"Thira....aku minta maaf atas perbuatan ku semalam. Aku sangat menyesal. Tolong maafkan aku."


"Aku sudah memaafkan Tuan. Kejadian semalam bukan salah Tuan saja, saya juga sempat terbawa suasana. Jadi kita bisa melupakan semuanya, anggap semalam tidak terjadi apa-apa. Saya sudah baik-baik saja."


"Tapi... ucapan ku semalam melamar mu itu serius. Aku tidak bercanda. Aku....aku benar-benar takut kehilangan mu, jadi tolong maafkan aku dan menikahlah denga ku. Aku janji akan menjagamu selamanya."


Thira menatap mata Eza. Tidak ada kebohongan dari matanya. Tapi, kenapa gampang sekali dia mengajaknya menikah. Mereka baru saja bertemu. Apa mungkin secepat itu Eza mencintajnya.


"Apa Tuan mencintai saya?"


Eza menatap dalam mata Thira, sorot mata Thira yang penuh rasa tidak percaya membuat Eza semakin ingin meyakinkannya.


"Aku memang tidak tau cinta itu seperti apa. Tapi, yang aku rasakan begitu sesak. Aku ingin kamu jadi milik ku, aku takut kehilangan kamu, aku ingin kita selalu bersama, aku ingin menjagamu selamanya, aku tidak suka saat kamu dekat dengan teman lelaki mu itu dan hanya kamu wanita yang bisa membuat ku tersenyum. Apa itu bisa disebut cinta?"

__ADS_1


__ADS_2