
Amber memarkir mobilnya di depan rumah orang tuanya, lalu turun dan mengambil koper dari bagasi.Dengan perlahan Amber berjalan sambil melihat sekeliling rumah yang sudah lama tidak dikunjunginya.
"Ibu!" seru Amber begitu memasuki rumah dan menaruh kopernya di lantai ruang tamu.
Begitu sepi.
Kemana semua orang.
"Ibu?" panggil Amber sambil berjalan mencari keberadaan ibunya.
Samar-samar di dengarnya suara dari arah belakang rumah, Amber melangkah lebar-lebar tak sabar untuk segera menemui ibunya.
"Di sini ibu rupanya" kata Amber lega.
Ny.Williams menoleh saat mendengar suara putri yang sangat di rindukannya.
"Amber!!"
Amber memeluk ibunya dan mereka pun masuk kedalam rumah.
Mendadak pandangan Amber menangkap perban yang membalut pergelangan kaki ibunya. "Astaga! Kaki Ibu kenapa??" tanyanya khawatir.
Ny.Williams tersenyum kecil melihat kekhawatiran putrinya. "Tidak apa-apa, kaki Ibu hanya terkilir".
"Apa sudah ke dokter?"
"Dokter sudah memeriksanya dan kaki ibu tidak apa-apa, hanya tidak boleh banyak berjalan sementara waktu"
Ny.Williams menghela nafas pelan.
"Masalahnya...."
"Apa?"
"Ibu tidak bisa bekerja"
Ny.Williams bersandar di sofa sambil menatap wajah cantik putrinya yang cemberut.
Amber berdecak kesal. "Ibu harus memikirkan kesehatan Ibu, jangan memaksakan diri.Gajiku cukup untuk membiayai ibu, jadi ibu bisa berhenti bekerja dan menikmati waktu ibu".
"Ibu suka hidup mandiri selama ibu bisa, Ibu tidak ingin membebani putri ibu"
"Aku tidak merasa terbebani Ibu,sudah kewajibanku sebagai putrimu"
"Lagi pula ibu suka pekerjaan ibu, membuat kue bisa menghilangkan kejenuhan ibu"
Amber hanya bisa menghela nafas panjang.
"Kalau begitu sampai kaki ibu sembuh,ibu jangan menerima pesanan dulu"
"Masalahnya Ibu terlanjur menerima pesanan dari Ny.O'Neil"
Ny.Williams mengamati perubahan ekspresi di wajah putrinya saat nama O'Neil di sebut.
"Amber, ada yang ingin kusampaikan padamu"
"Apa Ibu?"
"Dia akan menikah.Dia sudah bertunangan."
Amber mulai berkeringat dingin. "Oh ya?" katanya dengan enggan. "Bagus sekali"
"Ya, Daren memang beruntung" kata ibunya sambil tersenyum mengingat lelaki yang hampir menjadi menantunya itu.
"Daren?" Amber bertanya pelan.
Ibunya menatap Amber dengan heran. "Ya tentu saja Daren, mantan tunanganmu- siapa lagi kalau bukan dia"
Amber mengelap dahinya yang basah dengan punggung tangan. Kemudian beranjak ke dapur dengan dalih mengambil minum saat melihat ekspresi penuh tanda tanya Ibunya.
Amber membuka kulkas dan mengambil air dingin dari sana sambil berusaha menenangkan dirinya.
Bukan Daren yang pertama terpikir olehnya saat mendengar berita pertunangan itu, tetapi Kyne.
Kyne O'Neil - kakak mantan tunangannya. Pria dengan mata coklat yang dingin,tampan dengan watak keras serta tubuh yang tegap dan seksi. Kyne O'Neil - pria yang telah merubah jalan hidup Amber tanpa disadarinya.
***
Amber duduk dengan gelisah, menunggu kedatangan Daren, tunangannya.
Setelah berhari-hari tidak bisa tidur memikirkan masalah itu, akhirnya Amber mengambil keputusan bahwa pertunanganya dengan Daren tidak bisa dilanjutkan.
Ia dan Daren belum lama menjalin hubungan.
Daren baru beberapa bulan ini tinggal di lingkungannya untuk menemani ibunya setelah ayahnya meninggal.
__ADS_1
Amber sendiri setelah lulus kuliah tidak tinggal dengan ibunya karena mendapat pekerjaan dikota lain.Ia berkenalan dengan Daren saat pulang menemui ibunya.
Sejak pertemuan itu Daren mengejarnya, dan Amber pun merasa tersanjung dengan kegigihan dan sikap manis Daren.Akhirnya Amber pun menerima Daren sebagai kekasihnya, sikap Daren yang terlihat dewasa menyentuh hatinya.Amber berfikir dia telah menemukan pria baik yang akan menjadi suaminya.
Tetapi ada satu hal yang mengganggu Amber.Perbedaan usia di antara mereka, Daren lebih muda 3 tahun darinya, dia telah meniti kariernya di perusahaan arsitektur, sementara Daren masih kuliah.
Dan alasan lain yang membuat ia tidak dapat menikahinya, karena dia tidak mencintai Daren! Ia sangat sayang pada Daren karena dia begitu baik, tapi Ia tidak dapat mencintai Daren seperti seharusnya wanita mencintai laki-laki.Dan dia merasa itu tidak adil untuk Daren jika mereka tetap melanjutkan rencana pernikahan itu, Daren berhak mendapat wanita yang lebih baik darinya dan juga mencintainya.
Amber berniat menyampaikan keputusannya sehalus mungkin agar tidak menyakiti Daren, meskipun ia tahu pria itu pasti merasa terpukul dengan keputusannya.
Amber mendesah sekali lagi, pikirannya mencoba merangkai kata-kata yang akan diucapkannya pada Daren.Setelah ini dia harus memberi tahu ibunya dan juga Ny.O'Neil- Ibu Daren.Amber tidak mempunyai keluarga lain sementara Daren punya beberapa.
Sejenak terbesit di pikiran Amber apa kakak Daren telah diberitahu tentang rencana pernikahan mereka.Kakak Daren tinggal di Amerika dan berhasil dalam bisnisnya, Amber merasa bahawa Daren dan ibunya sangat kagum pada sang kakak.
*
Amber berdiri dengan tidak nyaman saat membantu membuat kue di rumah Daren - untuk menyambut kepulangan sang kakak.
Mendadak ia merasa salah tingkah, seolah ada yang mengawasinya.Ia berpaling dengan perlahan saat di dengarnya suara langkah kaki dan langsung berhadapan dengan sang kakak. Tangannya yang memegang spatula mendadak menjadi dingin,perasaan takut melandanya ketika tatapan mereka bertemu.
Amber tentu saja telah melihat fotonya yang terpajang di seluruh sudut rumah Daren.Dan sosoknya pun sering di beritakan di televisi sebagai pengusaha muda yang sukses,kaya raya dan berkuasa.
Sekilas Amber melihat ada kemiripan antara Kyne dan Daren, namun sosok mereka benar-benar berbeda.Daren lembut dan ramah, sementara sang kakak terkesan keras dan dingin.Bibir Daren penuh dan manis serta mudah tersenyum, sedang bibir pria yang ada di hadapannya tipis dan tegas, dan yang pasti jarang tersenyum.Mendadak pikiran gila melintas di pikiran Amber, bagaimana rasanya dicium oleh orang seperti itu- membuat wajahnya memerah begitu dia menyadari pikiran melanturnya itu.
Cepat-cepat dia membuang pikiran gilanya saat dilihatnya senyum sinis muncul dibibir pria itu.
Amber diam tak bergerak, tubuhnya seolah membeku saat gejolak sensual tiba-tiba saja melandanya.Amber menatap mata coklat pria itu dan merasa gusar saat menyadari bahwa jantungnya berdetak sangat cepat.
"Kau pasti Kyne" ujar Amber memecah kebisuan di antara mereka.
"Dan kau pasti si gila harta" balas Kyne dengan ekspresi sinis.
Amber mengira dia salah dengar, saat Kyne mengucapkan kata itu.Tanpa sadar bulu kuduknya meremang melihat tatapan tajam dengan sorot melecehkan di mata Kyne.
Amber menarik nafas, berusaha untuk tetap tenang.Dia tidak boleh terpancing.
"Apa maksudmu?"
Kyne menaikkan alisnya " Sepertinya gambaran diriku tentang dirimu terlalu berlebihan" kata Kyne dengan nada mengejek. "Aku menyebutmu gila harta,yang artinya..."
"Aku tahu apa artinya" potong Amber. "Tapi apa maksudmu berkata seperti itu"
"Apalagi yang bisa kupikirkan saat adikku yang masih kecil akan menikah dengan orang yang baru dikenalnya dan berusia lebih tua darinya?
Amber merasa kesal mendengar ucapan pria tersebut. "Hanya tiga tahun lebih tua, dan dijaman sekarang banyak pria yang menikah dengan wanita yang lebih tua.
Apakah harta itu yang membuatmu tertarik dengan adikku, Amberlee?"
Amber menggigil. Cara Kyne menyebut namanya begitu sensual, membuat wajahnya memerah.
"Aku tidak harus tinggal disini dan mendengar semua omong kosongmu" kata Amber gemetar menahan amarahnya.
Dia menaruh spatula yang di pegangnya dan akan beranjak saat suara memerintah Kyne membuat kakinya terpaku di lantai.
"Kau tetap disini, dan mendengarkan"
Pandangan Kyne turun ke tubuh Amber dan berhenti di dadanya,matanya menjelajahi kedua bukit yang menonjol di balik T-shirt yang dipakainya dengan kurang ajar.
"Seperti yang kuduga, tubuh seksi yang panas dengan wajah lugu yang polos, kombinasi yang sangat memikat, semua pria pasti tergoda, tapi tolong jangan jadikan adikku sebagai korbanmu".
Amber menahan luapan kemarahannya. Pikirannya kacau balau dan reaksi tubuhnya menanggapi tatapan Kyne membuatnya terkejut.Sepanjang hidupnya belum ada pria yang mampu membangkitkan gairahnya seperti ini.
"Mengapa kau memperlakukanku seperti ini?" bisiknya dengan nada tak percaya.
Kyne mengangkat bahu "Aku hanya memikirkan kepentingan adikku" tukas Kyne dengan dingin."Adikku baru saja beranjak dewasa,perasaanya masih labil.Jika dia menikah sekarang itu akan menjadi kesalahan besar.Dia belum siap untuk menikah."
Aku pun belum,batin Amber.
Dengan sembunyi-sembunyi Amber memperhatikan pria itu - wajahnya keras penuh tekad, arogan dan sok kuasa - tipe laki-laki yang biasa mendapatkan apa yang diinginkannya-dengan cara apapun.
Amber ingin tahu sejauh apa Kyne akan bertindak untuk membatalkan pernikahannya denga Daren.
Tiba-tiba saja, ia dirasuki niat untuk membalas perlakuan Kyne terhadapnya.
"Kau tidak bisa mencegah pernikahan kami!" katanya santai
Mata Kyne menyipit,ketika ia menangkap perubahan sikap Amber.
"Aku memang tidak bisa mencegahnya.Tapi aku bisa menahan bantuan keuangan yang selama ini dinikmati Daren". Kyne menatap Amber dengan tajam.
"Kurasa daya tarik Daren akan hilang jika semua kemewahan ini tidak dimilikinya. Iya kan?"
Amber mengangkat kepalanya dengan berani membalas tatapan tajam Kyne.
"Kalau aku mau menikah dengan Daren, apapun yang kau katakan atau lakukan, takkan ada pengaruhnya buatku," katanya jujur."Jadi kau sudah kalah, kan?"
__ADS_1
"Aku tidak pernah kalah, Amberlee.Tidak pernah"
Mereka saling menatap dengan tajam untuk beberapa saat, "Aku punya tawaran untukmu"
Amber berpikir apa yang akan dilakukan Kyne untuk mencapai keinginannya.
"Teruskan" kata Amber pelan.
Sejenak Kyne tampak ragu-ragu, "Aku bersedia memberimu sejumlah uang bila kau membatalkan pernikahan ini."
Mata coklat itu begitu dingin menatap Amber, membuatnya menggigil.
"Kau benar-benar tidak suka padaku ya?"
Kyne tak bereaksi,wajahnya menjadi tegang.
"Tidak, aku tidak menyukaimu"
"Mengapa? Apa alasanmu sesungguhnya?"
"Kau bukan wanita yang tepat untuk Daren"
Nadanya begitu yakin membuat Amber melongo menatap Kyne.
"Dari mana kau dapatkan hak untuk mengatakan itu?" bisiknya tak percaya.
"Dari sini," jawab Kyne, suaranya penuh emosi yang tidak di mengerti oleh Amber. Ia menyambar pinggang Amber dan tanpa basa basi lagi menciumnya.
Mata Amber membulat sempurna saat bibir Kyne menyentuh bibirnya, sesuatu yang belum pernah dirasakannya menjalar keseluruh tubuhnya.Mengapa aku menjadi seperti ini hanya karena sebuah ciuman? Amber bertanya- tanya dengan kalut, saat gairah yang begitu panas langsung mengalir ke pembuluh darahnya begitu bibir Kyne bersentuhan dengan bibirnya.
Amber membuka bibirnya menyambut ciuman Kyne seakan-akan ia sudah menunggu seumur hidup untuk itu, Tubuhnya gemetar didera oleh hasrat untuk mendapatkan lebih dari sekedar ciuman.Amber mendambakan sentuhan Kyne di tubuhnya yang belum pernah dijamah pria lain, ia ingin bercinta dengan Kyne pada saat itu juga...
Namun kemudian Amber tersadar dari fantasi gilanya oleh suara teriakan dari dalam rumah.
Ia merasa tangan Kyne di lepaskan dari pinggangnya dan ciuman itu pun berakhir.
Amber berusaha menghindar saat Kyne mengangkat kepalanya dan menatapnya dengan sinis.
"Kau lihat sendiri" katanya penuh cemooh.
Untuk membuktikan ucapannya Kyne memperlakukannya seperti *******, dan gilanya Amber bersikap seperti ******* saat membalas ciuman Kyne!.
Perasaan yang melandanya saat berada dipelukan Kyne begitu menakutkan, membuatnya kehilangan kontrol, dan menjadi pihak yang kalah.
Amber begitu tidak berdaya sehingga dia tidak ingin lagi bertemu dengan Kyne untuk selamanya.
Namun Amber melihat sesuatu yang lain di balik pandangan jijik yang ditampilkan wajah Kyne, tampak hasrat terpendam membuat mata Kyne berkilat-kilat dan urat lehernya berdenyut cepat.Dia menginginkan aku, pikir Amber, dan pada saat yang sama dia juga memandang rendah diriku.
Dia pria yang biasa mendapatkan semua keinginannya.
Sejenak Amber merasa takut melihat sorot mata Kyne.Aku harus menjauh darinya, aku harus membuatnya begitu jijik padaku,sehingga dia tidak akan lagi menggangguku selamanya.
Amber tersenyum kecil, sebuah rencana muncul di otaknya.
"Hmmm...Berapa uang yang kau tawarkan padaku?"
Binar dimata Kyne langsung menghilang di gantikan dengan sorot melecehkan saat memandang Amber.
Ia menyebutkan sebuah nominal dan Amber membiarkan senyum tamak menghiasi bibirnya.
"Baiklah...Aku setuju, tapi dengan satu syarat".
"Tidak ada syarat, Amberlee" sahut Kyne. "Kecuali aku yang menentukannya"
Amber menggeleng "Aku akan membatalkan pernikahan ini dengan caraku, kau hanya perlu merahasiakan apa yang terjadi sekarang"
Kyne menatap Amber seolah menimbang syarat dari Amber.
"Baiklah, aku setuju"
Amber mengangguk, "Bagaimana kalau sekarang kita menyelesaikan urusan kita?"
Dengan pandangan muak Kyne mengeluarkan ponselnya dan mentransfer sejumlah uang ke rekening Amber.
Amber menghela nafasnya, tidak menyangka hatinya akan sesakit ini.
***
Amber menggelengkan kepalanya mencoba mengusir bayangan Kyne dari pikirannya.Sudah hampir tiga tahun sejak kejadian itu, tapi dia tidak bisa melupakannya.Setiap pulang ke rumah orang tuanya kenangan pahit itu selalu muncul, membuatnya jarang pulang selama hampir tiga tahun sejak kejadian Kyne menciumnya.
Kyne. Sampai kapan sosok lelaki itu akan terus menghantuinya?.
***
Sehari setelah Kyne menciumnya dia menemui Daren dan membatalkan pernikahan mereka,sikap Daren yang tenang saat mendengar keputusannya membuat Amber berterima kasih.
__ADS_1
Setelah menyelesaikan semua urusannya Amber pergi berlibur untuk menenangkan dirinya selama dua minggu.Dia pun sudah mengambil uang yang ditansfer Kyne dan menyumbangkan semuanya ke sebuah panti asuhan dan bersumpah mengenyahkan bayangan Kyne O'Neil dari kepalanya.