
Amber seperti tersambar petir saat mendengar pertanyaan Kyne.
"Apa...apa maksudmu?", ucap Amber terbata-bata.
"Aku hanya ingin tahu,apa ada kemungkinan kau hamil karena kencan semalam kita.Mengingat aku tidak sekalipun memakai pengaman dan kurasa kau juga tidak, mengingat itu adalah pengalaman pertamamu".
Perkataan Kyne yang tanpa basa basi itu sukses membuat wajah Amber merona,mengingat malam panas mereka.
"Tidak!"
"Tentu saja tidak."
Ditatapnya Kyne tanpa berkedip,apa salahnya berbohong toh kebohongannya untuk menyelamatkan bayinya.
Untuk apa Kyne susah-susah menemuinya hanya untuk menanyakan hal itu,jika bukan karena ia tidak ingin ada kosenkuensi dari kencan semalamnya.
Ia ingin melindungi bayinya dari Kyne,meskipun pria itu adalah ayahnya.
Ia tidak tahu akan seperti apa reaksi Kyne jika mengetahui dirinya hamil,dan dia benar-benar tidak ingin mengambil resiko.
Ia tidak keberatan jika harus membesarkan bayinya seorang diri.
Katakannlah dirinya egois,tapi dia benar-benar tidak siap untuk mengetahui reaksi Kyne.
"Jika hanya itu yang ingin kau ketahui,kau sudah tahu jawabannya bukan? Jadi bisakah kau pergi dari sini?", Amber berusaha membuat Kyne segera pergi dari rumahnya.
Jika pria itu lebih lama dirumahnya Amber takut kebohongannya akan terbongkar.
"Kau mengusirku?" tanya Kyne sedikit tajam.
"Katakanlah begitu," jawab Amber.
"Apa kau takut?"
"Tidak! Aku hanya tidak ingin membuat kekasihku salah paham dengan keberadaanmu di rumahku." Pada akhirnya Amber berkata,sekali lagi kebohongan diucapkannya.
Mata Kyne menggelap dan otot tubuhnya menegang saat mendengar ucapan Amber.
Rasa amarah mulai menyelimuti hatinya.
Kekasih?
Ia tidak suka kata itu keluar dari mulut Amber.
Hanya dia yang boleh menjadi satu-satunya kekasih Amber.
Hanya dia yang boleh memiliki wanitanya.
Hanya dia!
"Kekasih?", tanyanya sambil tersenyum meremehkan."Benarkah? Siapa kekasihmu kali ini?"
Amber tidak menanggapinya.
"Bukan urusanmu!" jawab Amber tanpa basa basi.Membuat senyum Kyne semakin melebar,entah apa yang dipikirkanya, Amber tidak ingin tahu.Ia hanya ingin Kyne segera pergi dari rumahnya.
"Kau mau minum? Sebelum pulang?".
"Tidak.Aku tidak ingin minum.Kau tahu yang kuinginkan.Kau!" mata Kyne menyipit,menebarkan janji-janji keintiman.
__ADS_1
Tubuh Amber memberikan reaksi yang tidak di inginkannya.Wajahnya memerah dan darahnya berdesir, hormon kehamilan membuat Amber semakin merasakan sensasi aneh menjalar disekujur tubuhnya,hanya karena ucapan Kyne.
"Aku tidak bisa berhenti menginginkanmu, Amberlee, tahukah kau? Apapun yang kulakukan perasaan itu tidak mau menghilang.Apa kau juga begitu?"
Kyne mendekat ke arah Amber, tangannya terulur meraih tubuh Amber saat dilihatnya pertahanan wanita itu mulai goyah.
Bibir Kyne menelusuri leher Amber dan berhenti di bibirnya, menciumnya dengan penuh gairah sementara Amber semakin tenggelam kedalam suasana yang ditimbulkan Kyne.Tangan Kyne menelusuri tubuh Amber dengan ringan, meremas lembut dada Amber saat ciuman mereka semakin bergairah.Ketika Kyne berusaha menyusupkan tangan kebalik gaunnya, Amber tersadar.Kyne memang hanya satu malam bercinta dengannya,tapi dalam satu malam itu,ia telah menjelajahi setiap senti tubuhnya dengan tangan dan bibirnya,pria itu sudah sangat mengenal lekuk tubuhnya dengan akrab.Jika dia membiarkannya , Kyne pasti dapat menebaknya hanya dengan merasakan bentuk tubuhnya yang mulai berubah.Perutnya yang sedikit membuncit dan buah dadanya yang menjadi lebih besar dan kencang, karena kehamilannya.
Alram bahaya seolah berbunyi di telinga Amber, membuatnya melompat dari sofa dan mendorong tubuh Kyne.
Pria itu memandangnya dengan alis terangkat."Kenapa?" tanyanya acuh.
"Apa kau ingin menyangkal? Tubuhmu tidak bisa berbohong sayang." Kyne berdiri dan mendekat ke arah Amber.
"Aku jadi penasaran, apa kau juga akan seresponsif ini saat bersama kekasihmu? Apa kau benar-benar punya kekasih Amberlee?".
Amber menyentakkan tangan Kyne yang terulur padanya,meskipun kerinduannya pada lelaki itu begitu kuat,dia tidak boleh lemah.
Demi bayinya dia harus kuat.
"Aku tidak harus mendengar kata-katamu!
Kumohon pergilah Kyne!", pinta Amber sedikit putus asa.Dia tidak tahu lagi bagaimana meminta Kyne pergi dari rumahnya,tenaganya seolah habis karena kedatangan Kyne yang tidak terduga ditambah sesorean tadi dia merasakan mual karena kehamilannya.
Kyne tidak bergeming mendengar ucapan Amber.
"Aku punya tawaran untukmu", pada akhirnya Kyne berkata.
"Tawaran lagi?", tanya Amber dengan nada sedingin es, ingatan akan Kyne yang menawarinya uang dan kencan semalam mereka datang begitu saja.
"Apa kau menawariku uang?"
"Kencan semalam lagi?", ucap Amber masih dengan nada dingin.
"Tidak! Bukan seperti itu." jawab Kyne dengan berat.
"Lalu apa?"
"Aku ingin kita berkencan."
"Maksudnya?", hati Amber seolah ingin bernyanyi mendengar ucapan Kyne,tapi dia berusahan menepisnya,ia tidak boleh lagi terpesona oleh Kyne.
"Benar-benar berkencan seperti dua orang dewasa.Kita bisa menghabiskan waktu berdua seperti orang lain saat berkencan,kita bisa pergi menonton,piknik,makan atau apapun yang kau inginkan."
"Kurasa kau tidak akan melupakan tempat tidur bukan?" sambar Amber, membuat Kyne menatapnya seolah ingin menelannya.
"Tidak.Tentu saja tidak.Karena itu akan menjadi tempat vaforitku bersamamu"
Amber bersyukur sekarang dirinya sedang hamil,seandainya tidak, dia pasti dengan senang hati menerima tawaran Kyne yang tanpa melibatkan perasaan itu.Bayi dalam kandungannya telah menyelamatkan dirinya dari tindakan bodoh.
"Maaf!" katanya ringan. "Aku tidak berminat".
Wajah Kyne menjadi geram,ekspresinya semakin kelam, membuat Amber bergidik.
Kyne bukan tipe orang yang biasa menerima penolakan.Amber bertanya-tanya apa mungkin Kyne akan menciumnya lagi untuk meluluhkannya.Amber tidak pernah tahu karena bel rumahnya kembali berbunyi.
Amber bersyukur pada siapapun yang datang kerumahnya,karena menyelamatkan dirinya dari kebodohan yang mungkin dilakukannya karena Kyne.
Amber berjalan menghampiri pintu, sementara Kyne masih berdiri, menatapnya dengan ekspresi yang tidak terbaca.
__ADS_1
Amber membuka pintu rumahnya dan mendapati Charlie sedang tersenyum lebar dan membawa sebuket bunga.
"Kebetulan aku melihat ini dan..." Ia berhenti berkata saat menyadari pesan yang disampaikan Amber lewat sorot matanya.Dan pada saat itu juga sebuah ide muncul di kepala Amber, dengan cara ini mungkin Kyne tidak akan lagi mengganggu hidupnya.
"Sayang..!" serunya dengan mesra, lalu mengambil buket bunga di tangan Charlie yang kebingungan dengan tingkah Amber.
Lalu Charlie mengerti, saat melihat sosok lelaki berjalan mendekat di belakang Amber.
"Bunga ini cantik sekali.Tapi kau tak perlu repot-repot..kau terlalu memanjakanku."
Saat suara kaki di belakangnya berhenti,Amber berbalik seolah-olah baru teringat dengan Kyne yang sejak tadi mengawasinya.
Charlie sangat terkejut saat mendapati Kyne O'Neil ada dirumah Amber.
"Sayang,kau pasti sudah mengenal tuan O'Neil, dia kesini karena menyampaikan pesan ibuku."
Suasana menjadi tegang dan menekan,Kyne tersenyum kecil menyambut uluran tangan Charlie."Urusanku sudah selesai dan kebetulan aku sudah mau pamit"
Ia menatap Amber sekilas "Goodbye."
Nadanya begitu final sehingga Amber merasa Kyne bukan hanya mengatakan 'Permisi' tapi benar-benar 'Selamat Tinggal'.
Tiba-tiba Amber dilanda rasa panik, seharusnya ia merasa senang karena harapannya terkabul,tapi hatinya merasakan hal lain, ia tidak rela Kyne pergi.
"Aku akan mengantarmu keluar".
Amber pun mengikuti Kyne keluar.Melihat sikap tubuhnya Amber tahu bahwa pria itu sangat marah.Amber tergoda untuk mengatakan hal yang sebenarnya pada Kyne, tapi saat pria itu berpaling,Amber langsung membatalkan niatnya, saat melihat sorot melecehkan memancar begitu jelas dimata Kyne.
"Ternyata kau memang wanita yang pandai merayu bos-bos" ucapnya penuh ejekan dan amarah.
"Katakan padaku, apakah kau juga tidur dengan bos yang kau anggap kekasihmu itu?
Apa Charlie tersayang tahu bahwa beberapa menit sebelum ia datang kau sedang menikmati bercumbu denganku? Apa bosmu begitu bodoh sehingga mudah dibohongi olehmu?"
Kata-kata yang keluar dari bibir Kyne begitu menyakiti hati Amber, lebih dari yang bisa dibayangkannya.
"Beraninya kau!" katanya sambil menggertakkan gigi.
"Kau tidak tahu apa-apa Kyne! Jadi jaga ucapanmu, dan aku tidak akan membiarkan kau menghina Charlie!"
"Aku tidak menghina bosmu tersayang, tapi kau!"
"Pergi!"
"Aku akan pergi." Kyne menunduk dan dengan brutal mencium Amber.
"Terima kasih atas kenangan yang kau tinggalkan" ucapnya dengan getir setelah melepaskan ciumannya dan segera berlalu.
Amber terpaku dihalaman rumahnya dengan wajah pucat,bibirnya bergetar dan air matanya mengalir deras, pertahanannya telah jebol.Charlie menghampirinya dan meraihnya kedalam pelukannya yang hangat dan membawanya masuk kedalam rumah ,lalu menghiburnya sampai air mata Amber mengering.
"Sudah..sudah..kasian bayinya jika ibunya terus menangis", katanya lembut."Semua pasti beres".
Amber menggelengkan kepalanya dengan putus asa, "Tidak" bisiknya pilu."Semua kacau.Semuanya kacau."
"Dia ayah bayimu, kan?"
Tidak ada gunanya menutupi hal itu, dan Amber tidak ingin berdusta lagi.
"Iya," jawabnya singkat.
__ADS_1
"Aku tak menyangka, kau bisa menjalin hubungan dengan Kyne O'Neil," Charlie berkomentar."Apa kalian saling mengenal sebelum ini?" tanyanya dan hanya di jawab dengan anggukan kepala oleh Amber.