KENCAN SEMALAM

KENCAN SEMALAM
Bab 12


__ADS_3

Amber berjalan pelan-pelan ke ruang tamu saat bel rumahnya berdering.Kandungannya sudah memasuki bulan kesembilan dan tinggal menunggu hari ia akan melahirkan.


Berat badannya naik drastis di trisemester ketiga kehamilan,membuatnya tidak bisa bergerak dengan leluasa,seiring dengan perutnya yang semakin membuncit.


Amber melihat monitor -yang baru dipasangnya-sebelum membuka pintu dan mengerjapkan matanya berulang kali saat melihat siapa yang datang.


Ia tidak percaya dengan yang dilihatnya.


Amber mundur dan bersandar ke dinding,berusaha mengatur detak jantungnya saat melihat Kyne di depan pintunya setelah hampir enam bulan.


Mau apa Kyne datang kerumahnya.


Bukan itu yang terpenting,batin Amber.Kyne tidak boleh melihatnya sekarang.


Ia harus mencari cara agar Kyne tidak masuk kedalam rumahnya dan mengetahui kondisinya.


Bel pintu berdering lagi dan Amber dapat melihat wajah tidak sabar Kyne.


"Buka pintunya,Amberlee! Aku tahu kau ada dirumah, mobilmu ada didepan, dan kata tetanggamu kau biasanya beristirahat di sore hari begini.Aku tidak akan pergi sebelum bertemu denganmu!".


"Aku tidak ingin bertemu denganmu,jadi katakan saja apa maumu" balas Amber pada akhirnya.


"Kau mau buka pintu atau tidak?"


"Tidak!"


"Ibumu yang memintaku kemari"


Amber terkejut, "Ibuku? Untuk apa ibuku menyuruhmu kemari?"


"Dia mengkhawatirkanmu"


Amber memejamkan mata, merasa bersalah pada ibunya.Tapi ia tidak punya pilihan, ia memang masih rutin menelpon,tapi sejak kandungannya membesar ia tidak pernah pulang untuk menemui ibunya.Dan berdalih sedang banyak pekerjaan dan harus mengawasi pembangunan rumah yang didesignnya.Itu tidak sepenuhnya bohong karena memang sejak kepergian Kyne waktu itu, Amber menghabiskan waktunya dengan sepenuh hati mendesign rumah impiannya untuk klien yang tidak pernah di temuinya.


Saat membuat design rumah itu, Amber membayangkan Kyne dan bayi mereka.


"Aku akan menelponnya,jadi kau bisa pergi dan tidak perlu khawatir karena aku baik-baik saja," teriak Amber.


"Tapi aku sudah berjanji akan menyerahkan paket ini secara langsung padamu"


"Paket?"


Amber melihat Kyne mengangkat sebuah kotak persegi.


"Aku tidak tahu apa di dalamnya, ibumu menitipkan ini untukmu".


"Taruh saja di depan pintu,aku sungguh tidak ingin bertemu denganmu Kyne.Cobalah mengerti!" ucap Amber sedikit putus asa.


"Baiklah aku akan pergi, kutinggalkan kotaknya di depan pintu, tapi kau harus berjanji segera mengunjungi ibumu, oke!"


"Iya, aku berjanji.Sekarang pergilah,kumohon."


Amber dapat melihat Kyne membungkuk dindepan pintunya,lalu berlalu.


Amber menunggu sejenak sebelum membuka pintu,untuk memastikan Kyne telah jauh dari rumahnya,karena dia tidak dapat mendengar suara mobil Kyne.

__ADS_1


Perlahan-lahan dan hati-hati Amber membuka pintu.Dengan susah payah dia membungkuk untuk mengambil kotak yang ditinggalkan Kyne.Saat ia berdiri sambil mengusap punggungnya, matanya bertemu dengan mata Kyne yang menatapnya dengan terkejut.


Amber berusaha masuk kedalam rumah dengan cepat,namun kehamilannya membuatnya kalah cepat dari Kyne.


Kyne menangkap lengannya sebelum ia sepenuhnya masuk kedalam rumah.


"Oh..Tuhan.." bisik Kyne masih dengan keterkejutannya.


"Apa karena ini.Apa ini penyebabnya" ulangnya begitu sadar dari rasa terkejutnya.


Amber terhuyung dan nyaris terjatuh jika saja Kyne tidak segera menangkap tubuhnya dan menopangnya.


"Kau baik-baik saja?"


"Aku mau kedalam" jawabnya parau.


Amber berusaha mengatasi perasaanya dan mempersiapkan diri untuk menghadapi Kyne, saat gelombang rasa sakit tiba-tiba menderanya.Amber bersandar di sofa saat rasa sakit kembali menyerangnya,keringat dingin mulai menghiasi dahinya.Kyne yang melihatnya segera berjalan mendekati Amber.


"Kau kenapa?" tanyanya khawatir.


Amber berusaha menjawab Kyne sambil menahan rasa sakit, "Ku.. kurasa aku...aku akan melahirkan".


Amber berusaha mengatur nafas seperti yang sudah diajarkan,ia memegangi perutnya sambil melihat jam,mencoba menghitung kontraksinya.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanya Kyne,membuat Amber merasa sedikit bersyukur ada yang menemaninya meskipun dia adalah lelaki yang tidak pernah di harapkannya.


"Telepon dokter" kata Amber dengan tersengal-sengal karena kontraksi yang dirasakannya semakin sering.


Kyne meraih ponsel Amber dan mencari kontak dokter Amber lalu menghubunginya.


Amber merasa nyaman saat tangan Kyne mengelus punggungnya, dan sakit yang dirasakannya pun sedikit berkurang.


Amber mendengar Kyne berbicara dengan dokter,lelaki itu terlihat menyimak ucapan dokter. "Dua menit dan kontraksinya teratur"


Ternyata dia memperhatikan juga,batin Amber saat Kyne menjawab.


Amber kembali merasakan sakit saat Kyne menutup telponnya.


"Sebentar lagi ambulans datang,dimana kau simpan tas pakaianmu?"


"Dikamar" Amber memejamkan mata,berusaha menahan rasa sakitnya.


Kyne kembali sambil membawa tas, lalu ia membungkuk di samping Amber, "Kau ingin aku menghubungi seseorang?" tanyanya dengan wajah datar.


"Siapa?" tanya Amber lemah.


"Ibumu?"


"Jangan.." kata Amber dengan terengah


"Ibu...tidak tahu."


"Begitu rupanya," sahut Kyne dengan wajah geram.


"Kyne! Kumohon jangan beritahu ibuku sekarang!" pinta Amber dengan memelas.

__ADS_1


"Tidak akan ,karena bukan hak ku untuk memberitahunya, apalagi ini tidak ada hubungannya denganku."


Kyne menatap tajam, "Atau ini ada hubungannya denganku, Amberlee?"


"Tidak" jawab Amber cepat.


Ia berharap Kyne tidak menanyakan ayah bayi ini.


"Lalu apa aku harus menghubungi Char..." ucapan Kyne terpotong karena ambulans sudah datang, dan Amber bersyukur karena tidak harus menjawab Kyne.


Amber mencoba bangkit,tetapi ia kesulitan.


"Diamlah, mereka membawa kursi roda" perintah Kyne,


"Dia akan baik-baik saja kan?" tanya Kyne saat petugas paramedis mendorong kursi roda yang membawa Amber masuk ke dalam ambulans.Paramedis itu tersenyum sambil mengangguk.


"Jangan kuatir tuan,istri anda kelihatan cukup sehat.Menurut pengalaman saya,justru para suamilah yang merasakan sakit saat persalinan.Tenang saja, sebentar lagi bayi anda akan lahir dengan selamat."


Amber tahu petugas itu pasti mengira mereka adalah pasangan suami istri,ia ingin menyangkalnya tapi tidak bisa.


"Silahkan naik, Tuan"


Kyne masuk kedalam ambulans dan duduk disamping Amber.Ekspresinya muram dan tertutup.


"Kau mau apa?" tanya Amber bingung.


"Aku akan mengantarmu"


"Kyne..."


"Kau tidak bisa menghadapi ini sendiri," ucap Kyne penuh penekanan."Aku akan menemanimu, atau kau ingin orang lain yang menemanimu?"


Amber menatap wajah tampan Kyne, "Tidak!Aku tidak...". Amber tidak melanjutkan ucapannya karena perutnya berkontraksi lebih sering lagi, dan petugas medis pun melarangnya untuk bicara.


Selama perjalanan Amber merasa Kyne tidak berhenti mengelus kepalanya dan tangannya menggenggam tangan Amber.


Begitu sampai dirumah sakit Amber segera di bawa keruang bersalin.Kyne pun dengan sabar menemaninya tanpa sedetik pun meninggalkannya, melewati persalinan yang mempertaruhkan nyawanya.


Sepanjang proses persalinan, Amber menggenggam tangan Kyne,kehadiran pria itu disampingnya saat ini seolah memberinya kekuatan.Saat dirinya dikuasai rasa sakit yang amat sangat, ia mengejan kuat-kuat saat melihat dokter menganggukkan kepalanya.Beberapa menit kemudian si bayi lahir dan langsung menangis keras


"Laki-laki!", bisik Kyne di telinganya.


"Bayi laki-laki yang sangat tampan."


Air mata Amber menetes saat bayi laki-lakinya diletakkan didadanya,rasa lelah dan sakitnya hilang begitu melihat bayinya,hatinya diliputi perasaan yang sulit di artikan.


"Dan Daddy boleh menggendongnya sebentar," ucap seorang perawat sambil tersenyum.Amber hanya diam tidak berkata apa-apa.Diliriknya Kyne yang sedang menatap wajah bayinya yang sedang menyusu,wajah yang menjadi duplikat wajahnya sendiri.


"Bayi anda sangat sehat dan sempurna" ucap si dokter "Beratnya juga cukup mengingat dia lahir di usia kandungan anda mencapai 38 minggu"


Kata-kata dokter membuat Kyne menatap Amber tajam penuh dengan tanda tanya,kemudian mata itu menggelap saat kesadaran itu menghantamnya.


Perawat mengangkat bayinya dari dada Amber untuk di bersihkan dan dia dipindahkan ke ruang rawat inap untuk pemulihan.Kyne meminta kamar VVIP untuknya, setelah berdebat dengan Amber,karena ia menolaknya.


"Aku ingin yang terbaik untuk anakku,Amberlee." ucap Kyne penuh penekanan membuat Amber berhenti berdebat karena ia dibuat terkejut oleh ucapan Kyne.

__ADS_1


__ADS_2