
seperti hari2 biasa, kyara dan heni pergi menuju kampus untuk melihat jadwal sidang skripsi mereka, tiba2 handphone kyara berdering menandakan ada panggilan masuk yang ternyata dari keenan
"hallo.. (sapa kyara)"
"selamat pagi sayang (ucap keenan)"
"iihh pak keenan apaan sih (wajah kyara sudah memerah)"
"oh jadi masih anggep saya bapak kamu ni?"
"eh salah, maksud saya kak"
"jangan diulang lagi ya, kamu lagi apa?"
"saya lagi nungguin jadwal sidang, tapi belum keluar2 juga dari tadi"
"sabar ya, nanti juga ada jadwalnya"
keenan berbincang2 dengan kyara dan sesekali keenan menggoda kyara dengan kata2 sayang, tanpa keenan sadari ternyata shanti sudah masuk ke dalam ruangan itu, shanti berdiri tepat di belakang kursi keenan karna keenan duduk membelakangi mejanya, ketika keenan mematikan ponselnya dan memutar kembali kursinya menghadap ke depan keenan sangat terkejut karna di dapatinya shanti sudah berada dibelakangnya
"shanti!!! kalo mau masuk ketuk pintu dulu (ucap keenan meninggikan suaranya)"
"maaf pak, saya tadi udah mengetuk pintunya tapi bapak masih asik telfonan (jawab shanti)"
"ya sudah... ada tujuan apa kamu kesini?"
"saya cuma mau ngasih berkas2 ini pak"
shanti memberikan berkas2 itu untuk keenan tanda tangani, mata shanti terus menatap ke arah keenan seolah2 ingin memangsanya
"pak keenan (ucap shanti dengan sedikit berbisik)"
"kenapa? (tanya keenan sinis)"
__ADS_1
"saya denger kyara mau nikah, bahkan dia sudah tunangan (ucap shanti sinis, shanti tidak tau kalau kyara bertunangan dengan keenan)"
"terus? (tanya keenan singkat sambil melihat berkas2 itu)"
"saya rasa kyara itu sudah hamil duluan deh pak"
keenan yang mendengar ucapan shanti itu langsung terkejut di buatnya, bisa2nya shanti menjelekan calon istrinya itu di depannya
"kamu jangan asal kalo bicara!! (ucap keenan)"
"saya nggak asal bicara, logikanya kalo dia nggak hamil duluan kenapa tiba2 mau nikah?"
"kamu itu nggak tau apa2 shanti, silahkan keluar dari ruangan saya!!! (keenan mengusir shanti dengan tatapan kesal)"
shanti melangkahkan kaki menuju keluar, ada rasa puas tersendiri ketika dia berbicara seperti itu ke keenan tadi
"selamanya cuma aku yang pantes buat kamu pak keenan (shanti menyunggingkan salah satu sudut bibirnya)"
"selamat siang bos.. (ucap zaka)"
keenan hanya diam melirik ke arah zaka
"lo kenapa bos? kok di tekuk gitu mukanya?"
"bilang sama manusia yang namanya shanti nggak usah ketemu sama saya lagi, pindahin ruangan dia untuk magang menjadi sekretaris di ruangan direktur keuangan"
"kenapa gitu bos? dia berulah lagi?"
"dia berani jelek2in kyara di depan saya"
"waahh nggak beres cewek itu, ya udah deh gue keluar dulu mau ngurus perpindahan shanti"
sekitar setengah jam zaka mengurus pindah ruangan shanti, dan zaka langsung memanggil shanti yang ada di depan ruangan keenan
__ADS_1
"shanti kamu beresin barang2 kamu ya (ucap zaka)"
"loh memang kenapa pak?"
"mulai hari ini kamu pindah magang di ruangan direktur keuangan, ini perintah presiden direktur"
"saya nggak mau, saya tetep mau di ruangan pak keenan"
"itu sih terserah kamu kalo memang kamu nggak mau dapet nilai dari perusahaan ini (zaka meninggalkan shanti)"
shanti menggerutu kesal karna keenan sudah memindahkan dia keruangan direktur keuangan
"siaalll, awas ya pak keenan.. jangan macem2 sama gue (shanti terus menggerutu kesal)"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1