
Ditepi pantai anggi dan yang lainnya masih menunggu zaka, kyara dan keenan
"zaka lama banget ya ngambil gitar? (tanya anggi)"
"mungkin dia balik lagi ke kamar (jawab ridwan santai)"
"lah kok malah ke kamar?"
"panjang nggi ceritanya"
tak lama kemudian keenan dan kyara datang menghampiri mereka yang masih setia duduk di tepi pantai sambil menyalakan api unggun
"zaka mana?(tanya keenan)"
"lagi ngambil gitar bos (jawab ridwan)"
keenan menganggukan kepalanya dan ikut duduk bersama yang lainnya, ketika mereka sedang berbincang2 tak lama itu zaka datang membawa gitar dengan nafas yang tak beraturan
"kamu dari mana? kok ngos ngosan gitu? (tanya anggi)"
"nggi kita nikah di percepat aja deh, nggak kuat gue"
"nggak kuat? maksudnya?"
"nggak kuat nggi jadi jomblo, susah apa2 sendiri terus (ucap zaka dan merebahkan dirinya diatas pasir)"
ridwan terkekeh geli mendengar ucapan zaka, sedangkan yang lainnya hanya memperhatikan tingkah ridwan dan juga zaka yang tidak bisa dimengerti
"ada apa sih?(tanya keenan penasaran)"
"ada yang birahi pak (jawab ridwan)"
zaka langsung menutup kuat2 mulut ridwan dengan tangannya yang membuat semua orang semakin keheranan
"gila lo, kalo gue mati gimana???(ucap ridwan pada zaka)"
"jangan lo omongin begooo (saut zaka dengan nada sewot)"
mereka masih terus bernyanyi dan menikmati deburan ombak dan angin malam di tepi pantai itu, rudi yang sedari tadi melirik ke arah heni sesungguhnya banyak sekali yang ingin ia utarakan, tetapi apalah daya karna heni selalu menghindar darinya.
"samperin dong... (bisik zaka pada rudi)"
"dia masih marah (ucap rudi)"
"cewek itu maunya di bujuk, kasih pembuktian kalo lo beneran sayang"
"caranya?"
"ya lo pikir aja sendiri"
rudi mendengus kesal karna zaka memberi nasehat tanpa memberikan saran yang tepat.
kyara terus bersandar manja di pundak keenan hingga para sahabat2nya itu merasa iri di buatnya, tiba2 ponsel keenan berbunyi menandakan ada panggilan masuk
"siapa sih tengah malem gini nelpon (gerutu keenan)"
"shanti???? ngapain dia nelpon? (ucap keenan dalam hati)"
"siapa? (tanya kyara)"
__ADS_1
"shanti, nggak tau kenapa nelpon malem2"
"angkat aja"
"kamu aja ya yang angkat"
kyara mengangguk dan segera mengangkat telfon dari shanti
"hallo.. (ucap seseorang di seberang sana)"
"ada apa? (jawab kyara)"
"mana pak keenan? (tanya shanti ketus)"
"dia lagi sibuk, ada apa?"
shanti mematikan telfonnya tiba2 dan menggerutu kesal karna yang mengangkat telfonnya ialah kyara
"sialan, kenapa sih cewek gatel itu yang angkat (gerutu shanti)"
shanti melempar ponselnya ke sembarang arah dan langsung merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur
"kalo aja si kyara itu nggak magang di perusahaan pak keenan pasti gue yang udah dapetin pak keenan"
shanti masih terus menggerutu kesal karna ia tidak mendengar suara keenan malam itu
"kenapa dia nelfon? (tanya keenan)"
"nyariin kamu (ucap kyara cuek)"
kyara memberikan ponsel itu pada keenan dan wajah kyara seketika murung sesudah mendapat telfon dari shanti, keenan yang menyadari itu langsung merangkul pinggang istrinya itu
"kok cemberut? (tanya keenan)"
"kamu liat ini"
keenan melihatkan layar ponselnya pada kyara dan menunjukan pada kyara bahwa nomor shanti telah ia blokir dan hapus
"kenapa kamu hapus?"
"aku nggak mau istri aku ngambek cuma karna hal yang nggak penting kayak gini"
kyara masih berusaha cuek pada keenan padahal ia menahan senyumnya karna kyara merasa senang ketika keenan menghapus kontak shanti.
mereka melanjutkan obrolan yang sempat tertunda tadi karna panggilan masuk di ponsel milik keenan
"bos nikah enak nggak sih? (tanya zaka tiba2)"
"enak dong... (jawab keenan santai)"
"enaknya gimana?(tanya ridwan yang semakin penasaran)"
"enaknya banyak, yang pasti nggak bikin dosa"
"aduh jadi tersinggung gini gue (jawab ridwan sambil menggarukan kepalanya)"
mereka semua tertawa ketika mendengar ucapan ridwan, begitu juga heni dan rudi yang ikut tertawa dan tidak sengaja mata mereka saling beradu pandang.
"ehem ehem, kalo masih sayang mah jangan gengsi kali (ledek keenan)"
__ADS_1
"iyaa, udah tau masih sayang eh main putus2 aja (saut zaka)"
rudi dan heni yang mendengar ucapan dari teman2nya itu hanya bisa menunduk, zaka dan yang lainnya masih terus saling goda satu sama lain.
waktu sudah menunjukan hampir jam 12 malam, angin di tepi pantai semakin terasa dingin menusuk ke dalam tulang
"masuk yuk, udah tengah malem (ucap anggi)"
mereka mengiyakan perkataan anggi dan bergegas masuk ke dalam villa, ketika akan masuk ke dalam villa tiba2 rudi menarik tangan heni
"hen tunggu.. (ucap rudi)"
"lepasin, gue mau masuk (heni berjalan meninggalkan rudi)"
"kita harus ngomong berdua"
"nggak ada lagi yang harus di omongin rud"
heni berlalu pergi meninggalkan rudi yang masih ada di tepi pantai itu, rudi berdecak kesal melihat heni yang terus menjauh darinya
¤¤¤
di dalam kamar kyara langsung masuk ke dalam kamar mandi mencuci kaki dan tangannya begitu juga dengan keenan
"sayang sini.. (keenan menepuk tempat tidur disebelahnya)"
kyara berjalan menuju tempat tidur itu dan langsung merebahkan diri disamping keenan
"aku sayang banget sama kamu (ucap keenan sambil memeluk kyara yang begitu menggemaskan)"
"aku juga sayang kamu (ucap kyara membalas pelukan keenan)"
"kapan kamu mau pake baju itu?"
"baju apa?"
"hadiah dari anggi dan yang lain"
kyara membulatkan matanya mendengar ucapan dari keenan, kyara merasa sangat malu ketika keenan berbicara seperti itu
"emmm, besok aja ya sayang, soalnya dingin banget"
"kan ada aku"
"besok aja ya pliisss aku janji besok"
"heheh ya udah, tapi janji ya"
kyara menganggukan kepala dan menenggelamkam wajahnya di dada bidang milik keenan, tak terasa mereka sudah tertidur sangat pulas malam itu.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.