
Arjuna dibuat seolah barang daur ulang yang tidak berharga walaupun masih bisa dipakai. Srikandi yakin tidak akan memungut sampah yang telah dibuang walaupun telah diolah menjadi barang lain. Sekali limbah selamanya tetap limbah. Srikandi menguatkan hati untuk tidak menoleh ke arah Arjuna walaupun di dalam hati masih tersimpan dan nama lelaki ini. Srikandi harus tegar dan teguh untuk tidak menoleh ke masa lalu. Masa depan cerah telah menantinya bersama dengan kedua putranya.
Arjuna masih mematung melihat kepergian Srikandi dan Utari dari tempat pesta. Sikap Srikandi yang dingin membuat Arjuna benar-benar terpukul. Arjuna tidak tahu seberapa dalam kebencian Srikandi kepadanya. Mungkin melebihi dalamnya palung Mariana di kepulauan Mariana barat samudra Pasifik dekat Jepang. Tak ada yang bisa prediksi seberapa dalam Palung tersebut. Mungkin begitulah kedalaman bencinya Srikandi kepada Arjuna dan Kunti.
"Mas Juna...kita balik ke pesta?" tegur Kunti menggamit lengan Arjuna untuk balik ke pesta.
"Pesta? Pesta apa yang kamu maksud? Orang yang seharusnya menikmati pesta telah kamu usir. Mereka lah tokoh penting di pesta ini. Kamu tahu kenapa pesta ini diadakan? Itu untuk menyambut kehadiran dokter yang kita undang. Kamu hebat...sangat hebat...aku salut pada kebodohan kamu!" sahut Arjuna sangat gusar ulah Kunti membuat Baladewa dan Srikandi meninggalkan pesta.
"Bukankah sudah kubilang papa akan cari ganti yang lebih hebat? Siapa mereka? Sudahlah mas! Aku akan bertanggung jawab cari gantinya. Kan masih ada dokter Alam. Biarkan saja mereka pergi."
Arjuna menggeleng tidak memahami apa yang ada di otak Kunti. Wanita ini tak jera hanya mengandalkan kekayaan orang tua menjadi seorang dokter. Wanita ini mengira semua bisa dibeli dengan uang.
"Kunti... belum cukupkah kamu membuat keributan di sini? Kamu tahu rumah sakit kita sudah mengundang mereka dari tahun lalu tetapi tidak mendapat kesempatan karena mereka ditugaskan di tempat lain. Sangat tidak mudah mengundang mereka ke sini dan kamu sia-siakan hanya ingin menunjukkan egomu yang tidak tak tahu arah. Kusarankan kamu minta maaf secara terbuka sebelum mereka benar-benar pergi. Aku tak mau Rumah sakit hancur hanya gara-gara kamu. Kamu pikir mereka dokter yang bisa dibeli dengan uang? Mereka memiliki lisensi internasional bukan seperti kamu hanya dokter umum yang bisa berkoar pakai mulut." Arjuna kelihatan sangat marah kepada Kunti. Sikapnya yang biasa nya sangat ramah berubah menjadi pemarah kelas wahid.
Kunti tak menyangka kalau Arjuna akan semarah ini. Semula Kunti mengira dengan menyingkirkan Srikandi maka kesempatan dia bersama Arjuna makin lebar. Kehadiran Srikandi di tanah air akan mengancam kedudukannya sebagai wanita satu-satunya di samping Arjuna. Kunti bukanya tidak tahu kalau di hati Arjuna masih tersimpan nama Srikandi. 8 tahun berada di samping Arjuna tetapi tidak mampu mengetuk pintu hati lelaki itu. Tak ada cara lain selain mengaku pada semua orang kalau dia adalah tunangan Arjuna. Untungnya Arjuna tidak pernah membeli reaksi negatif terhadap pengakuannya maka Kunti makin semena-mena menganggap Arjuna adalah milik pribadi.
"Mas... Srikandi itu hanya anak kemarin yang kebetulan bernasib baik. Kita belum mengetahui sampai di mana kemampuan anak itu. Mungkin saja dia hanya menjual tampang untuk mendapat jenjang lebih tinggi. Mas bisa lihat kalau dia menggoda Baladewa yang jelas memiliki posisi lebih baik. Aku sudah bilang akan bertanggung jawab mencari dokter ganti dari negara yang manapun. Yang pasti lebih baik daripada Srikandi."
Arjuna ingin sekali mencari lakban untuk menutupi mulut kursi yang tidak pernah mempunyai lisan yang baik. Setiap kalimatnya selalu meremehkan orang seolah Dia adalah manusia paling sempurna di muka bumi ini.
"Srikandi memiliki reputasi jauh lebih baik daripada Baladewa maka begitu namanya dikeluarkan dari rumah sakit internasional kami sangat senang. Kamu ini manusia atau bukan? Selalu memandang rendah pada orang lain padahal kamu sendiri tidak memiliki kemampuan apa-apa di bidang kesehatan. Ku sarankan kamu pulang dan merenungi semua kesalahan kamu." selesai berkata demikian Arjuna meninggalkan Kunti di pelataran parkir tanpa rasa iba. Arjuna betul-betul dibuat sakit hati oleh perbuatan Kunti yang secara langsung menyingkirkan Srikandi dan Baladewa. Padahal Arjuna sudah sangat senang menerima kehadiran kedua dokter handal itu.
Siapa sangka hanya dengan beberapa kalimat Kunti telah berhasil mengusir kedua dokter mumpuni dari pesta yang diadakan khusus menyambut mereka. Arjuna mendapat PR baru harus bisa menahan kepergian Baladewa dan Srikandi.
Kunti termangu di pelataran parkir merasa hatinya makin dingin. Kunti sangat sedih diabaikan oleh Arjuna bahkan kalimat yang keluar dari mulut Arjuna sangat menyakiti hatinya. Arjuna memiliki kesan merendahkan kemampuan Kunti di bidang kedokteran. Justru mengagungkan orang yang paling dibenci oleh Kunti yakni Srikandi. Rasa benci dan dendam makin membara di dalam hati Kunti. Rasanya Kunti ingin meremukkan Srikandi seketika agar tak ada di permukaan bumi ini lagi. Apapun caranya Srikandi harus disingkirkan dari sekitar Arjuna. Jika perlu menggunakan trik kotor bahkan kekerasan agar Srikandi menghilang dari sekeliling Arjuna.
Acara di pesta sudah menjadi tidak penting bagi Kunti karena Arjuna telah merendahkan dia. Lebih baik Kunti meninggalkan tempat ini menenangkan pikiran sekaligus mencari cara menyingkirkan Srikandi. Padahal tadi sudah cukup baik karena Srikandi sudah ingin meninggalkan rumah sakit kembali ke tempat asalnya. Namun sayang Arjuna bersikeras harus membuat Srikandi menetap di rumah sakit ini. Ini sangat berlawanan dengan keinginan Kunti maka itu dia harus memutar otak mencari jalan mengenyahkan Srikandi.
Utari dan Srikandi meninggalkan tempat pesta tanpa kesan itu. Sebenarnya Utari sangat gemes pada kesabaran Srikandi terhadap Arjuna dan Kunti. Srikandi tidak mengatakan sepatah kata pun walaupun berkali-kali menghinanya. Kalau Utari berada di posisi Srikandi pasti akan membalas semua kalimat Kunti dan menghinanya habis-habisan. Apa sih hebatnya menjadi seorang pelakor yang merusak rumah tangga orang lain. Mungkin hanya Kunti lah satu-satunya wanita yang pede menjadi seorang pelakor. Yang lain mungkin akan merasa malu tak berani untuk pergi di depan umum. Kunti justru bangga pamer dia telah sukses kuasai Arjuna.
Cuma sayang ada kekurangannya selama 8 tahun tidak ada perkembangan berarti hubungan Arjuna dan Kunti. Dari tahun ke tahun hanya berjalan di tempat tak ada perkembangan ke jenjang lebih serius. Mereka jadi pasangan abadi tanpa status.
"Sri...kenapa tak kau balas mulut ember kuntilanak itu?" tanya Utari dalam perjalanan pulang.
__ADS_1
Srikandi tersenyum tipis tak ingin menambah image buruk di dalam dirinya. Biarlah Kunti ngoceh sesuka hati tetapi yang jatuh tetap wanita itu.
"Apa aku perlu turun tangan untuk mempermalukan wanita setan itu?" Srikandi berbalik bertanya dengan kalemnya.
Utari tertawa kecil menganggap Srikandi bermain sangat cantik. Srikandi cukup diam namun Kunti yang dipermalukan atas ulahnya sendiri.
"Aku tak habis pikir mengapa Arjuna bisa terlibat dengan wanita itu? Seingat aku Arjuna itu orangnya sangat tegas dan pemilih. Dia sangat menyayangi dan mencintaimu melebihi apapun tapi pada akhirnya justru dia jatuh pada seorang wanita yang sebelas duabelas dengan PSK."
"Sudahlah!!! Kita tak perlu mengulang cerita yang menyayat hati. Aku sudah bisaa menata hati serta punya kehidupan tenang. Untuk apa ulang-ulang cerita pahit."
Utari menyipitkan mata tidak percaya pada omongan Srikandi. Kalau Srikandi bisa move on dari Arjuna mengapa sampai detik ini tidak memiliki pasangan. Utari menangkap kalau Srikandi sedang menyimpan perasaan sesungguhnya. Srikandi masih mencintai Arjuna maka tak ingin mencari ganti lelaki itu.
"Kau yakin itu suara hatimu yang jujur? Aku kok merasa kamu masih sayang pada Arjuna." pancing Utari mau tahu apa jawaban Srikandi.
"Apa itu penting?"
"Penting...kalau kau masih sayang jangan mau kalah dari kuntilanak. Aku yakin Arjuna akan kembali padamu bila kau buka hati. Apa kau tak lihat wajah Kunti sudah sangat mirip kuntilanak original."
Srikandi tertawa keras menutupi rasa galau di hatinya. Srikandi takut kalau Utari berhasil meraba isi hatinya yang telah dia balut dengan erat agar tak ada yang bisa melongok ke dalamnya.
Lantas keduanya tertawa terbahak-bahak merasa lucu Kunti disamakan dengan kuntilanak asli. Hanya makhluk demit yang tidak mempunyai perasaan tega menyakiti sesama wanita. Itulah Kunti. Orang tua Kunti sangat pandai cari nama seolah sadar kalau besar kelak anak mereka akan jadi makhluk sejenis setan. Muncullah nama yang mengerikan tinggal ditambah beberapa huruf menjadi maklumat pemangsa bayi.
Tiba-tiba ponsel Utari berdering kencang. Benda pipih yang terletak di atas dashboard bergetar dan berdering memanggil pemiliknya untuk menyambungkan koneksi. Utari tidak menghentikan mobil hanya melirik sekilas dan melihat siapa yang memanggilnya. Di situ tertera nama Yanti membuat Utari menduga kalau telah terjadi sesuatu di rumah mereka.
Utari tetap menyetir memasang earphone ke kuping untuk menjawab panggilan masuk dari Yanti. Srikandi berdiam diri membiarkan Utari menyambut panggilan masuk.
"Halo...ada apa?"
"Aduh Bu... ibunya mas Duryudana memaksa ingin pulang ke rumah tetapi ditahan oleh satpam. Keributan sedang terjadi di rumah tetapi aku tidak bisa ke sana karena tak ada yang menjaga minimarket. Kak Hastina yang sudah ke sana untuk meredakan keributan. Ibu harus segera pulang." suara Yanti terdengar panik melaporkan kelakuan keluarga Duryudana.
"Aku segera pulang... tidak kapok-kapoknya orang itu membuat masalah. Kamu tenang saja. Hastina tidak lapor polisi?"
"Kak Hastina lupa bawa ponsel jadi aku tak bisa kontak dengannya. Pokoknya ibu cepat pulang."
__ADS_1
"Baiklah..." Utari mematikan hubungan dan hela nafas. Sampai kapan keluarga Duryudana akan menjadi duri di dalam dagingnya. Mereka sudah tidak memiliki hubungan apa-apa tetapi masih saja menganggap hak Duryudana setinggi gunung di rumah Utari.
Srikandi merasa iba dengan kemelut yang sedang melanda temannya. Srikandi juga memiliki masalah tetapi tidak sampai seribut ini. Srikandi memilih mundur ketimbang harus tarik urat leher bertengkar dengan Kunti dan Arjuna. Itu hanya membuat dirinya makin sakit hati dan mendapat malu.
"Are you ok?" Srikandi prihatin dengan masalah temannya itu. Tetapi Utari jauh lebih tegar dari Srikandi tak anggap itu satu masalah besar. Utari hanya bosan di rongrong oleh manusia-manusia tak tahu malu itu.
"Aku antar kamu dan langsung balik ya!"
"Tak usah Tar.. aku turun di sini saja karena jalan rumah kita sangat berlawanan. Aku bisa pulang dengan mobil taksi. Sekitar sini kan masih ramai pasti aman dan lagi aku tidak memiliki barang berharga yang harus dirampok."
"Siapa bilang kamu tidak memiliki barang berharga? Wajahmu yang cantik akan menjadi sasaran perampok berotak mesum. Aku tidak akan meninggalkanmu walaupun harus menempuh lautan api. Demi rasa sayangku kepada Srikandi aku rela menyeberangi lautan." Utari bercanda untuk menghalau rasa tegang di dalam hati. Sejujurnya Utari belum menempuh menemukan cara mengusir manusia-manusia tak tahu malu itu selain menempuh jalur hukum.
Srikandi tidak membantah lagi membiarkan Utari melakukan apa yang dia inginkan agar mood wanita itu tidak makin memburuk. Mungkin bersamanya perasaan Utari akan jauh lebih baik.
"Apa perlu aku temani kamu sikat mantan tak punya ******** itu?"
"Dia punya ******** kok cuma tak punya rasa malu. Kalau tak punya benda ajaib itu bagaimana mungkin dia bisa berselingkuh. Kamu aneh-aneh saja."
Akhirnya keduanya tertawa geli membayangkan Duryudana tak memiliki ********. Bagaimana lelaki itu merasakan malam pengantin bersama ketiga istri barunya. Gara-gara ******** tak punya otak maka terjadi perselingkuhan. ******** memang tak memiliki otak maka yang harus disalahkan adalah pemiliknya.
Utari bergegas pulang begitu mengantar Srikandi. Utari mau lihat keributan apa yang telah ditimbulkan oleh mantan mertuanya itu. Seberapa panjang urat malunya sampai tak bisa diputuskan. Utari bukannya tidak geram pada kelakuan keluarga mantan suaminya itu tapi apa mau dikata dia terlanjur menikah dengan manusia tak memiliki etika dan norma yang ada.
Begitu mobil Utari sampai di depan pintu pagar tampaklah mantan mertuanya berdiri di depan pintu pagar sambil mengacungkan tangan ke langit berteriak agar dibukakan pintu. Pintu pagar yang begitu kokoh tertutup rapat tidak ada celah buat mata mertuanya untuk masuk.
Utari bergegas turun dari mobil untuk menenangkan wanita tua itu. Utari bukannya takut kepada wanita itu tetapi malu pada tetangga. Tetangga sudah maklum kejadian yang menimpa Utari sama sekali tidak menyalahkan Utari namun tetap saja membuat malu Utari sebagai orang terpandang di sekitar situ.
"Bu... apa yang kamu lakukan di sini?" Utari berjalan sampai di depan mantan mertuanya dan berkata dengan keras.
Mantan mertua Utari berkacak pinggang menantang Utari seolah-olah dia adalah pemilik utama dari rumah mewah ini. Orang yang sudah terbiasa berada di atas angin tak rela dihempas ke bawah.
"Kau tanya apa yang kulakukan? Ini rumah anakku mengapa aku tidak boleh pulang?"
"Bu...aku dan anakmu sudah bercerai. Sekarang dia memiliki istri baru jadi lebih baik ibu pulang ke rumah menantu ibu."
__ADS_1
"Mana bisa gitu? Kalaupun kalian bercerai setengah rumah ini adalah milik anakku karena ada pembagian harta gono gini. Ayo segera buka pintu karena anakku dan menantuku akan segera pulang! Aku harus segera mempersiapkan tempat tidur mereka. Malam ini kamu harus tidur di kamar lain karena kamar utama akan digunakan oleh anakku dan Prita."