KESEMPATAN KEDUA SEWINDU TAHUN

KESEMPATAN KEDUA SEWINDU TAHUN
KESABARAN YUDISTIRA


__ADS_3

"Kusarankan bapak hubungi istri bapak untuk menanyakan hal ini. Bukankah dia yang yang menjaga ayah bapak." Srikandi menyerahkan kepercayaan kepada Yudistira agar mengetahui lebih jelas apa yang dilakukan istrinya selama ini.


Yudistira termakan dengan omongan Srikandi segera mengeluarkan ponsel untuk menghubungi orang yang disebut istri. Saran dari Srikandi akan memperjelas duduk perkara. Srikandi sebagai orang luar tidak berhak memberi keterangan mengenai apa yang dilakukan oleh istri lelaki itu. tugas Srikandi hanya menyembuhkan orang tak boleh mencampuri urusan internal satu keluarga.


Srikandi dan Sriwati berdiam diri memberi kesempatan kepada lelaki itu untuk menghubungi keluarganya. Yudistira akan tahu sendiri bagaimana kelakuan istrinya bila sudah ngobrol.


"Halo...di mana kamu?"


"Bisa di mana lagi sayang...pasti menjaga papa kita. Papa dalam kondisi stabil dan banyak istirahat. Tadi baru kusuapi makan pagi. Sekarang tidur!"


"Apa kamu yakin dengan apa yang kamu katakan?" tanya Yudistira dengan nada mulai emosi. Jelas-jelas orang di seberang sedang berbohong mengatakan berada di rumah sakit sedangkan Yudistira berada di rumah sakit bertemu dengan dokter yang bakal merawat ayahnya.


"Aduh sayang...ngapain aku bohong. Sayang kerja yang tenang saja. Papa seratus persen sehat kok. Tenang ada aku jaga papa tercinta."


"Sampai kapan kamu mau berbohong? Katakan di mana kamu! Aku berada di rumah sakit dan papa koma."


"Aku...aku..."


"Dasar pembohong..." Yudistira menutup ponsel dengan kasar. Untung tangan gede kalau tidak benda mahal itu pasti sudah remuk terbanting ke lantai.


Srikandi masih diam beri kesempatan pada Yudistira meredakan emosi. Srikandi salut pada wanita dipanggil istri. Dalam keadaan genting masih sanggup berbohong. Dia selalu beri laporan kalau mertuanya dalam kondisi baik padahal kondisi sebaliknya.


"Maaf aku kasar...! Bisakah kita lihat kondisi ayahku?"


"Tentu saja...tugasku memang merawat pasien. Kita berusaha tapi yang tentukan tetap yang mahakuasa."


Srikandi dan Sriwati kembali menemani Yudistira untuk melihat papanya yang sendirian di ruang perawatan kelas 1. Yudistira bisa melihat dengan mata kepala sendiri kondisi orang tuanya yang tertinggal sendirian selama ini. Orang yang diharapkan untuk merawat ayahnya justru berbuat semena-mena meninggalkan orang tua itu.


Mata Yudistira berubah merah menahan emosi setinggi bangunan megah di Dubai. Kalau katakan setinggi langit mungkin belum capai taraf itu. Srikandi dan Sriwati hanya bisa menunggu bagaimana keputusan Yudistira tentang pengobatan orang tuanya.


Yudistira mendekati ayahnya lalu menyentuh tangan yang berkeriput itu. Tangan itu terasa sangat dingin walaupun telah diselimuti. Tak ada tanda-tanda Pak tua itu mengenali anaknya sendiri. Kalau tidak segera dilakukan tindakan maka nyawa Pak tua ini bisa saja dijemput oleh malaikat maut.


"Apa yang harus dilakukan untuk menyelamatkan ayahku..."


"Aku harus melakukan berbagai pemeriksaan dulu karena aku tak bisa sembarangan mengobati seseorang tanpa mengetahui sumber penyakit. Yang penting bapak memberi persetujuan kami melakukan tindakan. Mungkin akan dilakukan operasi ulang untuk mengangkat sumber penyakitnya." Srikandi memberi penjelasan termasuk yang terburuk harus dioperasi lagi.


"Mengapa pihak rumah sakit tidak pernah memberi kabar Kalau kondisi ayahku sudah begini." Yudistira menyalahkan pihak rumah sakit tidak tanggap kelanjutan pengobatan ayahnya.


"Kurasa pihak rumah sakit sudah konfirmasi sama keluarga anda tapi ya tak ada tanggapan maka tak ada tindakan selanjutnya. Kami tidak bisa bekerja tanpa persetujuan dari keluarga."

__ADS_1


Yudistira merasa lehernya tercekik penjelasan Srikandi. Artinya selama ini wanita yang menjadi istrinya itu telah berbohong. Selalu mengatakan ayahnya dalam kondisi baik hanya butuh istirahat. Ternyata pernyataannya jauh berbeda dengan apa yang dikatakan oleh. Bukan sedikit biaya telah Yudistira kucurkan demi kesembuhan ayahnya. Ini bukan sembuh malah tambah parah.


"Lakukan yang terbaik..." akhirnya Yudistira memberi keputusan walaupun meragukan kemampuan Srikandi menangani orang sakit. Srikandi seperti anak magang yang baru lulusan dari kedokteran. Dalam usia sangat muda tidaklah mungkin dia telah menjadi seorang spesialis. Yudistira menaksir Srikandi baru umur 20-an belum pantas menjadi seorang dokter spesialis.


"Terimakasih... silakan bapak menandatangani prosedur persetujuan melakukan tindakan! Kami akan segera melakukan apa yang bisa kami lakukan untuk menyelamatkan nyawa ayah anda." Srikandi berkata tegas perlihatkan dia seorang dokter profesional. Tatapan mata Yudistira jelas sekali tak percaya kemampuan Srikandi. Laki ini hanya lihat casing tak lihat kemampuan.


Coba kalau Yudistira tahu berapa umur Srikandi pasti akan menyesal telah salah analisa tahun kelahiran wanita ini. Sekilas Srikandi memang tak ubah anak kemarin sore. Srikandi terlalu imut menjadi seorang dokter apalagi dibilang dokter internis. Sangat jauh dari bayangan orang awam.


Srikandi segera meminta Sriwati mempersiapkan semua tindakan untuk menangani ayah Yudistira. Mereka harus berpacu dengan waktu mengingat kondisi Pak tua itu makin memburuk. Srikandi juga tidak paham apa yang dilakukan oleh dokter yang merawat ayah Yudistira sampai begini mereka tidak mengetahui apa yang telah terjadi. Betapa lengah dokter yang menangani ayah Yudistira itu.


Namun Srikandi tidak ingin berpikiran dulu terhadap dokter lain menganggap diri lebih pintar. Mungkin saja dokter itu tidak mendapat akses untuk melakukan tindakan seperti yang dialami barusan tadi. Orang yang dimintai tanggung jawab bersikap cuek maka dokter tidak berani melakukan tindakan apapun. Srikandi turun tangan sendiri sewaktu dilakukan pemeriksaan melalui alat-alat canggih. Yudistira yang penasaran dengan keahlian Srikandi mengikuti semua kegiatan pemeriksaan ayahnya.


Yudistira memperhatikan gerak-gerik Srikandi menunjukkan sikap seorang dokter profesional yang sudah lama berkecimpung dengan alat-alat medis canggih. Wanita itu sangat menguasai semua peralatan yang tidak diketahui namanya oleh Yudistira. Yudistira hanya bisa memperhatikan tidak bisa ikut campur karena tidak mengetahui seluk beluk ilmu medis. Yudistira hanya bisa memperhatikan dari jauh tidak diijinkan masuk ke dalam ruangan tindakan.


Yudistira mengerutkan wajah kesal kepada istrinya yang telah pandai berbohong. Dia nyaris kehilangan ayahnya gara-gara istrinya menelantarkan orang tua mereka. Hukuman apa yang pantas diberikan kepada wanita pembohong itu. Yudistira bukan orang ramah yang mudah tergiur oleh rayuan manis seorang wanita.


Yudistira mondar-mandir di depan ruang di mana ayahnya sedang dilakukan pemeriksaan ulang. Dalam hati Yudistira tidak henti berdoa semoga ayahnya bisa diselamatkan. Ibunya sudah lama meninggalkan mereka karena menderita penyakit liver. Dan sekarang ayahnya dalam keadaan sekarat sangat memukul mental Yudistira. Yudistira sangat menyesal mempercayakan kesehatan ayahnya kepada Ratih istrinya. Ternyata wanita itu pembohong selalu mengabarkan ya baik-baik sementara ayahnya dalam kondisi sekarat.


"Sayang..."


Yudistira menoleh melihat seorang wanita dengan memakai sepatu hak tinggi berlari kecil menghampirinya. Dandanan wanita itu seperti seorang supermodel yang baru turun dari catwalk. Bau parfum yang menyengat telah tersebar ke seluruh Rorong Rumah sakit seakan ingin mengabarkan wanita ini telah datang.


"Aku baru pergi sebentar cari sarapan. Jumpa teman lama kami ngobrol sebentar. Papa masih tidur sewaktu aku pergi. Mas kan tahu aku bosan sendirian menjaga Papa maka pergi mencari makanan." Ratih berkata manja berbuat dia tak lalai rawat mertua dia. Ini adalah jurus paling ampuh untuk meluluhkan hati Yudistira. Berbohong lalu bermanja-manja semua akan berlalu.


"Semalam kau nginap di mana?" bentak Yudistira lupa dia berada di rumah sakit. Hati Yudistira sangat sakit dibohongi wanita yang dia anggap bisa jadi teman hidup.


"Aku di sini jaga papa... aku bisa ke mana Papa dalam kondisi sakit. Mana tega Aku meninggalkan Papa..." Ratih mulai berdrama memperlihatkan wajah sedih dituduh telah menelantarkan orang tua Yudistira.


"Kau mau aku minta petugas keamanan sini buka rekaman CCTV?" Yudistira tak termakan segala kebohongan Ratih. Sudah cukup dia kena tipu muslihat Ratih selama ini. Yudistira tak ingin jatuh ke lubang yang sama.


Wajah Ratih kontan puncak pasi diserang Yudistira dengan satu kalimat. Ratih sudah tidak bisa mengelak dari kesalahannya meninggalkan ayah Yudistira tanpa pengawasan. Otak Ratih harus cepat bekerja mencari alasan agar lolos dari ancaman ditendang dari keluarga tajir ini. Ratih belum mau hidup sengsara menjadi gelandangan miskin.


"Mas... Aku bisa jelaskan kalau ini hanya salah paham. Pasti dokter dan perawat ini yang telah memfitnah aku. Mereka iri kepada aku yang telah berhasil menjadi menantu dari apa kita. Aku sangat sayang kepada papa mana mungkin menelantarkan beliau."


"Oh???? Apakah kamu tahu kalau Papa sekarang dalam kondisi koma? Berkali-kali dokter menghubungi kamu untuk menanyakan tindakan selanjutnya tetapi kamu tidak mau menjawab panggilan mereka. Kamu selalu memberi kabar Kalau Papa dalam kondisi sehat. Ternyata semua itu hanya karangan kamu untuk menutupi kenakalan kamu. Kalau terjadi sesuatu pada Papa maka kamu bersiap-siap ku kirim ke neraka."


Ratih kehabisan kata-kata untuk menjawab ancaman dari Yudistira. Ratih mengira kalau ayah Yudistira sudah aman setelah dioperasi ternyata kondisinya makin memburuk karena tidak mendapat tindakan lanjutan.


"Mas...itu salah dokter tak pandai obati orang mengapa aku disalahkan. Tuntut rumah sakit ini lakukan malpraktek. Aku akan viralkan..."

__ADS_1


"Kau pikir dokter tak punya otak seperti kamu? Mereka tidak bisa melakukan tindakan tanpa persetujuan dari keluarga sementara kamu di mana. Mereka ingin meminta izin darimu tapi tak seorangpun berada di samping papa jadi apa yang bisa mereka lakukan? Coba kamu jawab!"


Rencana Ratih ingin melimpahkan kesalahan pada pihak rumah sakit telah dipatahkan oleh Yudistira. Ratih sudah tidak bisa mengelak dari kesalahannya meninggalkan si orang tua sendirian. Jalan terakhir adalah memohon pengampunan dari Yudistira agar melupakan kesalahannya.


"Mas...mungkin aku salah ya! Tapi mas pikir betapa bosan sendirian di rumah sakit tanpa teman. Aku kan hanya pergi kumpul dengan teman cari hiburan. Aku datang kok lihat papa...boleh mas tanya perawat sini."


"Suruh kamu jaga papa kamu merasa bosan. Apa kamu juga bosan meminta uang setiap hari hanya untuk berfoya-foya dengan teman-teman. Kesalahan kamu yang paling utama adalah pergi meninggalkan Papa dan tidur di sembarangan tempat. Aku akan cari tahu dengan siapa kamu menghabiskan malam. Ketahuan kamu menghabiskan malam dengan lelaki maka bersiap-siap pergi ke neraka." Yudistira sedikitpun tidak termakan dengan segala omongan Ratih. Yudistira sudah sangat baik hati memanjakan wanita ini tetapi wanita ini lupa daratan berbuat sesuka hati.


"Mas...kami memang nginap di hotel tapi beramai-ramai. Ada cewek cowok...mana berani aku berselingkuh. Kami hanya happy-happy."


"Wanita seperti kamu masih ada kata tidak berani? Berbohong saja seperti minum air. Apa yang tidak berani kamu lakukan? Katakan sejujurnya atau aku menyelidiki secara langsung dan menghabisi kalian semua termasuk kan teman-teman kamu!"


Lidah Ratih terasa Kelu untuk menyahut. Ratih tahu bukan tak mungkin Yudistira pendapat semua informasi tentang kemana dia habiskan waktu setiap malam. Ratih pergi bergabung dengan teman-temannya di hotel dan bergembira ria dengan alasan menjaga mertuanya. Ratih yang selama ini tidak bisa bergerak bebas seperti burung baru terlepas dari sangkar mengekspresikan kebebasan dengan huru-hara.


"Mas...aku salah.. maafkan aku! Aku janji tak ada dua kali...cukup sekali ini!" Ratih menjatuhkan wajah ke lantai tak bisa garang menuduh orang lain lagi. Jelas semua ini gara-gara dia terbawa arus kenikmatan bersenang dengan para teman satu geng.


"Salahmu apa?"


"Aku telah salah tinggalkan papa untuk bersenang-senang."


"Lalu?" Yudistira sengaja bertanya sepotong-potong mau Ratih mengaku semua kesalahannya.


"Bersenang-senang di hotel..."


"Yang spesifik... bersenang-senang atau tenggelam dalam ranjang lelaki lain?"


Ratih menelan ludah berkali-kali mendinginkan kerongkongan sebelum mengakui kesalahannya yang sangat fatal. Apa mungkin rengekan dia akan membantunya keluar dari hukuman hari ini?


Yudistira tahu kalau Ratih sudah tidak bisa menjawab secara tak langsung mengakui kalau dia telah berbuat di luar batas. Terlena dalam rayuan gombal lelaki lain sehingga menyerahkan diri.


"Kamu pulang dulu ke rumah orang tuamu! Aku akan menemui kedua orang tuamu untuk menjelaskan duduk masalah. Kamu pulang dengan taksi saja. Tinggalkan mobil di sini." Yudistira berkata tegas tanpa toleransi pada wanita tak tahu diri itu.


Ratih tidak menyangka kalau Yudistira akan setegas begini. Ratih menganggap ini hanyalah satu kesalahan kecil tapi hukumannya sangat berat. Yudistira memintanya pulang ke rumah orang tuanya berarti akan mengusir Ratih dari kehidupannya. Ratih yang berasal dari keluarga sederhana mana mau menerima keputusan Yudistira yang dianggap memberatkan dia.


"Mas...aku hanya bersalah satu kali tapi mas hendak singkirkan aku. Mas bersama wanita lain aku tak pernah berkata apa-apa. Apa ini adil?"


"Kau mau menggurui aku? Menelantarkan orang tua untuk berselingkuh kamu anggap itu masalah kecil? Punya harga sebagai seorang istri tidak? Aku bersama wanita tapi tidak pernah segila kamu. Kami berbisnis bukan berzina."


Keduanya berdebat kecil tak berani berteriak karena ini bukan wilayah pribadi melainkan tempat umum orang mencari kesembuhan. Yudistira bener-bener dibuat kecewa oleh kelakuan Ratih. Istri cantik yang dia anggap bisa menjadi teman setia ternyata lupa diri setelah di puncak. Yudistira tidak memasalahkan Ratih berasal dari keluarga sederhana yang penting bisa menemaninya meniti hari-hari terutama menjaga papanya yang telah sepuh. Baru hari ini Yudi melihat kelakuan Ratih yang sebenarnya. Wanita dengan sejuta kebohongan.

__ADS_1


__ADS_2