KESEMPATAN KEDUA SEWINDU TAHUN

KESEMPATAN KEDUA SEWINDU TAHUN
JADI RELAWAN


__ADS_3

Utari mengantar Srikandi pulang ke rumah setelah selesai berdiskusi dengan Bisma. Srikandi juga mengatakan soal undangannya dari pihak rumah sakit yang disampaikan melalui Baladewa. Sebenarnya Utari sangat keberatan Srikandi harus menghadiri undangan yang diselenggarakan oleh pihak rumah sakit untuk memberi kesempatan pada Kunti meminta maaf. Kunti akan makin semena-mena karena sadar dengan menggunakan kata maaf masalah terselesaikan. Namun Utari tak bisa intervensi perasaan Srikandi. tari mengembalikan keputusan di tangan Srikandi.


Utari meninggalkan Srikandi di rumah sendirian setelah memberi pelukan hangat menyemangati wanita muda itu. Badai sebesar apapun suatu saat pasti akan berhenti. Tak mungkin juga badai terus-menerus menerpa seseorang sampai dia tak mampu berdiri lagi.


Begitu menginjak rumah kontrakannya hati Srikandi merasa kosong karena tiada suara kedua buah hatinya. Srikandi tidak dapat membayangkan bagaimana sepinya dunia ini bila Dia kehilangan kedua anak itu. Apapun yang bakal terjadi Srikandi akan bersikeras membesarkan kedua anaknya tanpa harus mengandalkan siapapun.


Di tengah kesepian Srikandi menghubungi Arimbi untuk menanyakan kedua jagoannya. Srikandi sudah tidak sabar ingin mengetahui bagaimana kondisi kedua buah hatinya. Apakah mereka nyaman bersama kakek dan nenek mereka. Kalau terhadap Arimbi Srikandi tidak meragukan kasih sayang gadis itu kepada kedua anaknya.


Srikandi mencari tempat yang nyaman untuk ngobrol dengan Arimbi. Banyak hal yang ingin dia sampaikan kepada gadis itu. Kalau bukan pada Arimbi pada siapa lagi Srikandi harus curahkan isi hati. Jatuh bangun Srikandi hanya ada sepasang tangan Arimbi yang memegangnya erat.


"Assalamualaikum Bim..."


"Waalaikumsalam kak...rugi tidak ikut ke sini. Betapa bahagianya kedua bocah kakak bisa lihat langsung tanaman hijau. Mereka juga mau lihat sapi dan kambing. Selama ini mereka hanya lihat di gambar. Kakak tak tahu betapa noraknya mereka melihat binatang ternak di sekitar rumah orang kampung." cerita Arimbi begitu riang.


Srikandi turut senang kedua anaknya menemukan dunia baru di lingkungan baru. Selama ini keduanya jarang bepergian karena kesibukan Srikandi dan Arimbi. Mungkin kini sudah terbayar sudah rasa penasaran kedua bocah itu.


"Syukurlah! Apa mereka menyusahkan?"


"Kakak ini kayak tak kenal sifat keduanya saja. Mereka sangat pengertian tak menyusahkan orang. Kakak tak usah kuatir soal mereka. Oya...besok kan Minggu. Apa kami boleh nginap?"


Srikandi ingin sekali menolak permintaan Arimbi yang mulai memisahkan dia dengan kedua bocahnya. Tetapi Srikandi mempertimbangkan keceriaan anak-anak yang melihat keindahan alam secara langsung. Banyak sekali yang bisa mereka pelajari langsung dari alam bukan hanya melihat dari gambar-gambar di internet maupun di buku. berdasarkan pertimbangan ini Srikandi terpaksa mengangguk.


"Permintaan mereka?"


"Mereka mana berani meminta menginap karena induk mereka tertinggal di kota. Aku yang mengusulkan yang mengusulkan karena melihat mereka sangat gembira di alam bebas. Percayalah aku takkan culik kedua bocah ini. Sekarang mereka sedang renang di kolam belakang villa."


"Kalian di villa? Apa dia takkan nyusul ke sana?"


"Tenang kak...dia takkan tahu kami di mana. Boleh ngak?"


"Ya boleh..tapi ingat harus pulang ya! Senin mereka kan sekolah."


"Siap bos.."


"Malam ini aku akan pergi undangan dari pihak rumah sakit. Kayak perempuan itu mau minta maaf."


"Benarkah? Syukurin...maunya jangan cepat kasih maaf! Kakak tak usah terlalu baik hati beri maaf langsung. Jual mahal dikit tak perlu ajak dia bicara. Diam itu emas jadi kakak cuma perlu kumpulkan emas sebanyak-banyaknya. Pakai baju yang cantik ya! Jangan mau kalah sama nenek lampir itu..ee bukan.. Kuntilanak."


"Kamu ini bisa aja...kakak bersiap dulu ya! Jaga kedua keponakanmu!"


"Beres kak! Hati-hati di jalan."

__ADS_1


"Iya... assalamualaikum.."


"Waalaikumsalam..."


Srikandi mematikan ponsel beranjak masuk kamar melihat kotak surel mau cek tanggapan dari rumah sakit pusat tempat dia bekerja. Kalau ada restu dari rumah sakit pusat Srikandi mungkin akan pergi tinggalkan Alam dan Baladewa berjuang di sini. Bukan apa-apa, Srikandi belum mampu melupakan Arjuna apalagi setiap hari harus bertemu. Srikandi akan makin sulit melupakan laki itu.


Jantung Srikandi nyaris berhenti membaca kotak surat di email. Sudah ada balasan dari kantor pusat mengijinkan Srikandi kembali ke rumah sakit tapi bersiap di kirim jadi dokter relawan di daerah yang sedang berperang saat ini yakni Israel dan Palestina. Srikandi akan diterjunkan ke daerah rawan untuk mengobati rakyat sipil di sana. Satu lagi ancaman bahaya buat rumah sakit Arjuna yakni takkan dapat sertifikasi internasional karena telah menolak dokter dari pusat.


Srikandi terduduk di atas tempat tidur merenungi kekacauan yang bakal dia timbulkan bila dia pergi dari tanah air. Srikandi sendiri terancam bahaya karena berada di medan perang sedangkan Rumah sakit Arjuna terancam takkan pernah mendapat pengakuan dari rumah sakit internasional. Dilema berat sedang membaluri seluruh tubuh Srikandi. Kalau dia tinggal maka selama setahun ini matanya harus tertutup rapat untuk tidak melihat pemandangan yang menyakitkan. Dan kalau dia pergi maka lebih parah lagi harus mempertaruhkan nyawa juga mempertaruhkan Rumah sakit Arjuna.


Srikandi benar-benar bingung harus pergi atau tetap di tanah air. Dua-duanya akan membawa bencana buat diri Srikandi. Srikandi tak tahu kesulitan apa yang sedang dihadapi oleh Baladewa bila mengundurkan diri dari rumah sakit Arjuna.


Apa mungkin lelaki itu juga akan ditugaskan di daerah rawan seperti dirinya yang seperti sedang berada di ujung tombak. Berdiri di sebelah mana pun akan tertusuk.


Yang paling tepat adalah mencoba menghubungi Baladewa meminta pendapat sebelum mereka benar-benar bertemu dengan Arjuna dan Kunti. Mereka berdua harus bersatu mengalahkan keangkuhan Kunti. Wanita ini mesti dikasih pelajaran agar tahu hargai orang lain.


"Halo....it's me... Srikandi!" Srikandi tak mengucapkan salam sebab tahu Baladewa bukan beragama Islam. Laki itu menganut agama Kristen sesuai kepercayaan dia.


"Dokter Srikandi...sudah siap pergi?"


"Belum...masih ada waktu satu jam lagi untuk bersiap. Aku cuma mau tanya kamu sudah kirim kabar ke rumah sakit kamu?"


"Belum...soalnya aku berencana pergi main ke pulau Dewata Bali. Dari sana barulah Aku akan mengirim surat pengunduran diri. Ini sudah datang undangan dari pihak rumah sakit jadi aku mau melihat apa yang akan disampaikan oleh mereka."


"What??? Ke daerah perang? Bukankah belum ada yang berani masuk sana? Bantuan saja susah masuk apalagi para medis. Ke sana sama saja antar nyawa. Kau mau bertahan atau mau jadi bidadari baik hati?"


Srikandi tertawa mendengar guyonan dokter Baladewa. Kalau Srikandi masih sendirian maka dia dengan ikhlas berangkat ke sana. Tetapi di belakang Srikandi ada dua sosok makhluk terindah di bumi ini membutuhkan dia. Kalau nasibnya sedang apes terkena salah satu rudal dan tubuhnya remuk bagaimana nasib kedua anaknya. Srikandi bukannya takut mati melainkan memikirkan masa depan kedua anaknya.


"Kukira akan bertahan. Kau tahu aku mempunyai anak tak bisa kutinggalkan. Namun kita telah menang karena perempuan itu mau minta maaf. Kuharap pak Baladewa kasih sedikit pelajaran agar perempuan itu sadar dia bukan apa-apa."


"Aku sudah sering jumpa wanita model gitu. Hanya tong kosong yang dicat rapi dari luar. Tepatnya tempat sampah yang dimodifikasi dengan aneka cat sehingga tampak menarik. Kau tak usah khawatir aku akan memberinya pelajaran berharga. Kamu bersiap saja berangkat ke sana."


"Terimakasih dukungan pak Baladewa... kita jumpa di sana."


"Ok.... oh ya bulan depan istri Aku akan menyusul ke sini untuk berlibur. Cuma sayang dia tidak bisa lama di sini karena mendapat cuti sangat singkat."


"Apa anak-anak juga ikut?"


"Mungkin tidak karena mereka masih sekolah. Kuharap kalian bisa kenalan. Kau dokter yang sangat baik.."


"Tak baik memuji perempuan lain selain isteri. Jadikan dia bidadari hatimu."

__ADS_1


"Itu kamu tidak perlu kuatir. Istriku adalah segalanya buat aku dan anak-anak. Dia adalah ibuku, pacarku, kekasihku dan ibu terbaik buat anak-anakku."


Srikandi tertawa senang mendengar Baladewa sangat menghargai istrinya. Ada berapa lelaki di permukaan bumi ini yang sangat mencintai istrinya sampai mengagungkan wanita yang menjadi teman tidur itu. Srikandi berdoa semoga cinta Baladewa pada istri kekal sampai akhir usia.


"Aku senang mendengar betapa agung kasih sayang bapak pada keluarga. Oke kita jumpa nanti."


"Sippp..."


Srikandi agak lega setelah curhat kepada Baladewa. Perasaan Srikandi lebih nyaman setelah mengatakan hal sesungguhnya kepada dokter itu. Sekarang Srikandi harus bersiap untuk berperang dengan perempuan tak tahu malu yang menjadi duri dalam dagingnya selama bertahun-tahun.


Srikandi berdandan rapi tanpa menghiasi wajah dengan dandanan menor. Srikandi lebih senang tampil apa adanya dengan dandanan sederhana. Setiap wanita tetap harus berdandan walaupun sudah terlahir dengan cantik. Sentuhan alat make up akan memberi tes yang lain dari wajah sesungguhnya.


Srikandi mengenakan celana kulot panjang warna coklat dan kaos ketat berwarna krem dengan sapuan make up tipis membuatnya tampak lebih segar seperti remaja hendak kongkow-kongkow dengan teman di tempat tongkrongan.


Kalau dilihat sekilas tidak ada sosok image seorang dokter di dalam diri Srikandi. Srikandi lebih cocok disebut anak kuliahan yang beranjak dewasa. wajahnya masih imut seperti gadis remaja padahal telah memiliki dua buntut yang beranjak remaja.


Srikandi terpaksa merogoh kocek lebih dalam karena tidak memiliki kendaraan pribadi. Wanita ini terpaksa memesan taksi online sebagai transportasi untuk ke rumah sakit. Di sana sudah pasti menunggu dokter Baladewa dan dokter Alam. Mereka lebih senior dari Srikandi maka Srikandi menghormati keduanya. Walaupun tidak senior Srikandi tetap akan menghormati sesama rekan satu profesi walaupun lain bidangnya.


Begitu turun dari taksi online Srikandi melihat Baladewa sudah berdiri di pintu besar rumah sakit sambil memegang ponsel. Srikandi tidak tahu dengan siapa dokter itu melakukan kontak bicara. Itu bukan urusan Srikandi yang penting bagi Srikandi adalah dokter Baladewa telah berbaik hati menunggunya sehingga dia tidak canggung berjalan sendirian menuju ke tempat yang telah disediakan oleh Arjuna.


Ternyata mata dokter Baladewa cukup awas. Dari jauh dia telah melihat sosok Srikandi turun dari mobil sehingga melambaikan tangan agar Srikandi mendekat. Srikandi tentu saja tidak menolak panggilan Baladewa karena dia memang membutuhkan teman untuk menjadi pendamping agar tidak tampak bodoh berjalan sendirian ke pasangan laknat itu.


Baladewa menatap Srikandi dari atas kepala sampai ke ujung kaki. Penampilan Srikandi menarik perhatian Baladewa karena Srikandi terlihat santai dengan pakaian ala remaja masa kini.


"Kukira mahasiswi mana nyasar ke sini. Apa kamu ini beneran seorang dokter spesialis? Kini aku mulai ragu padamu. Jangan jangan kamu sedang menyamar menjadi seorang dokter padahal hanya anak kuliahan!" olok Baladewa kagum pada jiwa muda Srikandi padahal umurnya sudah tiga puluh lebih. Tak ada tanda-tanda Srikandi berumur segitu.


"Sini kukasih tahu...Srikandi itu kakakku...aku nyamar jadi dia." Srikandi tak mau kalah ikut larut dalam gurauan Baladewa. Srikandi berkata sambil berbisik seperti sudah iya sekali dia sedang bersandiwara.


Tawa Baladewa meledak sampai bahunya berguncang. Baladewa tidak tahan dengan gaya Srikandi yang betul-betul menjiwai peran sebagai seorang penyamar. Pakai acara berbisik segalanya.


Keduanya tidak tahu dari dalam rumah sakit 1 sosok tinggi besar menatap cemburu ke arah Maladewa dan Srikandi. Orang itu sangat sakit hati melihat Srikandi tertawa lebar bersama orang lain sedangkan pada dirinya cemberut bahkan tak mau lihat wajahnya.


Orang itu adalah Arjuna mengurut dada berkali-kali menyabarkan diri untuk tidak berbuat salah menghakimi kedua dokter itu. Harusnya Arjuna senang melihat hubungan baik antara kedua dokter itu sehingga adanya chemistry antara sesama dokter di rumah sakit.


"Siap menjadi orang yang berhati mulia? Memiliki sejuta kata maaf untuk orang yang bersalah."


Srikandi tidak menjawab hanya memberi seulas senyum tipis karena dalam hatinya beratus kali mengatakan tiada maaf bagimu Arjuna dan Kunti. Namun di hadapan Baladewa Srikandi tak mungkin memperlihatkan rasa benci kepada kedua orang itu. Srikandi harus profesional membedakan masalah pribadi dengan masalah pekerjaan.


Baladewa mempersilahkan Srikandi masuk duluan menganut paham lady first. Betapa gallant nya sikap Baladewa menghargai wanita. Sungguh beruntung wanita yang jadi istri Baladewa. Tentu menjadi ratu dalam keluarga. Beda dengan Srikandi dicampakkan hanya demi seorang pelakor.


Selanjutnya kedua dokter itu berjalan beriringan mencari tempat yang ditunjuk oleh Arjuna. Srikandi merasa sangat nyaman berjalan di samping Baladewa walaupun dia bukanlah pasangan dari dokter itu. Sikap Maladewa yang sangat ramah membuat Srikandi merasa telah mendapat teman yang sangat cocok. Setahun ke depan mereka akan sama-sama berjuang menyingkirkan semua penyakit dari tubuh setiap pasien yang datang berobat.

__ADS_1


Arjuna mempersiapkan diri untuk menyambut kehadiran kedua orang itu dengan hati terluka. Hati itu mengapa terasa sangat perih melihat Srikandi bisa tertawa bersama lelaki lain. Arjuna tak tahu itu pernah dirasakan oleh Srikandi sewaktu melihat Arjuna bersama Kunti di dalam kamar dengan posisi tidak berpakaian. Orang gila pun bisa menduga apa yang telah terjadi antara kedua orang itu di dalam kamar.


Arjuna mencoba bersikap biasa saja menghadapi Srikandi dan Baladewa. Laki ini memberi senyum ramah kepada kedua dokter itu sebagai ganti hujatan Kunti terhadap kedua dokter spesialis itu. Kunti yang berbuat Arjuna yang harus membayar.


__ADS_2