KESEMPATAN KEDUA SEWINDU TAHUN

KESEMPATAN KEDUA SEWINDU TAHUN
Tak Tik


__ADS_3

Bima tergugu tak bisa langsung jawab. Seluruh tubuh Bima bergetar menahan rasa bahagia dengar Arimbi belum punya pasangan. Ini berita terbaik pernah Bima terima.


Sadewa ikut diam menunggu Bima beri reaksi. Anak lajang ini merasa harus berbuat sesuatu untuk membahagiakan Arimbi. Arimbi sudah banyak berkorban buat mereka jadi Sadewa ingin membalas Budi menyatukan cinta yang pernah kandas. Sadewa memang tidak mengetahui makna cinta tetapi yang dia tahu bahwa Arimbi masih suka melamunkan Bima.


Orang itu sudah ada di depan mata Sadewa maka Sadewa harus berbuat sesuatu agar keduanya kembali bersatu.


"Om...om sudah punya istri ya?"


Pertanyaan Sadewa menyadarkan Bima dari keterpesonaan. Bima cepat-cepat menggeleng agar tidak terjadi salah paham Sadewa pada sikap apatisnya. Bima bukannya tak ingin menjawab melainkan terlalu bahagia mendengar Arimbi masih sendiri. Peluangnya untuk merebut kembali cintanya masih terbuka lebar. Kini Bima tidak perlu berandai-andai lagi karena Sadewa telah mengatakan dengan jelas kalau Arimbi tidak mempunyai pasangan.


"Oh tidak...om masih sayang pada onty kalian. Apakah selama ini onty kalian tinggal bersama kalian di luar negeri?"


"Ya... Kalau mami pergi kerja onty yang merawat kami. Kadang kami dititipkan pada tetangga sampai keduanya pulang."


"Mami kalian orang hebat... begitu kuat dan tegar menghadapi cobaan. Kalian harus menjadi anak baik dan berbakti kepada mami kalian."


Mata bening Sadewa kembali menetap langsung ke mata Bima sehingga terjadi tatapan langsung dua pasang mata itu. Pancaran sinar mata Sadewa tajam ingin menembus retina mata Bima cari tahu sampai di mana laki itu kenal maminya.


"Om kenal mami?"


"Kalau Om bisa kenal Arimbi tentu saja bisa kenal dengan mami kalian Srikandi." Bima bertaruh sengaja menyebut nama Srikandi untuk melihat apa reaksi Sadewa apa memang benar Srikandi itu adalah mami mereka. Kalau Sadewa mengangguk berarti Arjuna tidak perlu melakukan tes DNA lagi.


Sadewa tidak mengangguk hanya menarik bibir membentuk senyum tipis. Bima tidak tahu apa yang dimaksud oleh Sadewa dengan memberi seulas senyum tipis. Bima menjadi rahasia sendiri apa benar Sadewa sedang mengaku atau hanya ingin menolak. Anak ini sungguh pintar bikin Bima mati penasaran. Namun Bima tak mau buat gerakan menakuti anak itu. Bima harus sabar untuk mengorek keterangan dari mulut si kecil ini.


Bima tak tahu kalau anak kecil yang dia anggap hanya anak lugu tak tahu apa-apa jauh lebih licin dari Bima. Kedua anak Srikandi sudah kena gembleng suhu kelas dewa yakni Arimbi. Arimbi mengajar keduanya untuk pandai jaga diri agar tidak terjebak dalam situasi merugikan. Sadewa pilih diam tidak menolak juga tak mengaku.


"Maaf ya om...sudah waktunya aku balik ke kamar. Ntar dicari onty. Kirain kabur tak mau disuntik. Kita pasti jumpa lagi om." Sadewa bangkit membiarkan Bima melongo bingung. Baru ngobrol sebentar anak ini sudah mau kabur. Bima merasa Sadewa tak mau bahas soal mami mereka maka pilih hindari Bima.


"Om antar ke kamar ya!"


"Tak usah om...tuh dekat! Tiga langkah sudah sampai. Kami anak-anak kuat karena besar makan angin badai." Sadewa beranjak pergi ke dalam ruang rawat. Bima makin melongo sampai mulutnya menganga lebar.


Apa yang ingin disampaikan oleh anak itu mengatakan mereka besar hanya makan angin badai. Emang angin bisa dimakan? Omongan agak konyol namun mengandung makna sangat dalam. Kalau Bima mau putar otak dikit akan tahu kalau anak ini mau mengatakan mereka besar di bawah tekanan batin. Mereka tumbuh tanpa didampingi orang tua lengkap tapi mereka tetap tumbuh besar.


Daripada bingung lebih baik Bima diskusi dengan Arjuna lagi. Dokter itu sudah mengusirnya tapi Bima mesti tebalkan muka temui Arjuna membicarakan apa yang barusan dia bincang dengan Sadewa. Bima bukan mau menambah kepusingan Arjuna melainkan membantu temannya pecahkan misteri mengenai si kembar.


Bima pergi setelah lihat tubuh kecil Sadewa telah aman masuk dalam kamar rawat. Dengan langkah gontai Bima turun ke bawah mencari Arjuna lagi. Dengan sedikit keraguan Bima mengetuk kantor Arjuna lagi. Semoga saja perasaan Arjuna sudah lebih baik sehingga mau menerima dia.

__ADS_1


"Masuk..."


Bima masuk munculkan wajah jeleknya di hadapan laki yang sedang frustasi itu. Arjuna menghela nafas melihat siapa yang datang. Bima tak ubah arwah gentayangan tak bisa diusir dari Arjuna.


"Mau apa lagi? Aku belum minum obat sakit kepala jadi jangan tambah beban dulu."


"Cemen amat! Aku baru saja dari atas intip kedua bocahmu dan adikmu. Salah satu di antara mereka keluar temui aku. Kami sempat ngobrol." Bima cepat-cepat sampaikan kabar baik sebelum diusir lagi.


Arjuna tampak tertarik pada cerita Bima. Dokter itu tak mengusir Bima lagi melainkan menyuruhnya untuk duduk. Segala yang menyangkut kedua bocah selalu menarik perhatian Arjuna.


"Apa katanya?"


"Ada maunya baik. Tadi kayak koboi usir penyamun." Bima mencibir Arjuna.


Arjuna tidak peduli pada cibiran Bima. Dia lebih tertarik isi obrolan Bima dengan salah satu anak kembar itu. Arjuna tak tahu siapa yang diajak ngobrol oleh Bima. Bima mana tahu nama mereka. Arjuna sendiri belum tahu yang mana Nakula dan yang mana Sadewa.


"Apa kata mereka?" Arjuna memajukan badan dekat Bima agar menangkap suara laki itu lebih jelas.


"Arimbi itu onty mereka. Lalu kupancing nama Srikandi eh anak itu cuma kasih senyum tipis. Kau tahu apa katanya sebelum pergi. Mereka anak kuat besar makan angin badai."


Arjuna menjatuhkan badan ke kursi kontan lemas. Arjuna lebih paham dari Bima isi hati anak kembar itu. Anak itu mau sampaikan mereka dibesarkan dalam prahara. Bahasa sederhana namun mengandung kepedihan mendalam. Mana ada orang besar makan angin badai.


"Kau ngerti juga ya!" Aku kok jadi sedih bila mereka besar tanpa kasih sayang."


"Mereka dapat kasih sayang tapi tertekan tak bisa ungkap isi hati. Mungkin mereka tak berani bertanya soal bokap mereka takut menyakiti hati nyokap. Mereka menyimpan kesedihan dalam hati."


Kedua laki ini terdiam memikirkan nasib kedua anak kembar itu. Bima yakin kalau Arimbi menyayangi mereka karena mengikuti kemanapun kedua anak itu pergi. Kalau memang mami mereka adalah Srikandi tak mungkin Srikandi mengabaikan mereka karena mereka tumbuh dengan baik. Menurut Bima kedua anak itu merindukan kehadiran seorang figur ayah.


"Kau benar bro...kedua anak itu rindu pada ayah mereka. Kau mau jadi ayah mereka?"


"Ngawur kamu... aku sangat yakin kalau aku lah orang yang mereka cari. Kalau mereka bukan keturunan aku tak mungkin Papa dan Mama sangat sibuk mengurus mereka. Terutama Arimbi yang rela meninggalkan segalanya demi mengejar Srikandi dan kedua bocah itu. Apa yang harus kulakukan sekarang?" Arjuna mengacak rambut sendiri tak tahu harus mulai darimana dekati kedua anak itu.


"Sekolah...kau jumpai mereka di sekolah. Bujuk dan ambil hati mereka. Bocah itu gampang kita atur asal dapat pegang ekor mereka." Bima berkata sok yakin bisa kuasai kedua anak Srikandi.


Kalau Bima sangat yakin malah Arjuna sangat meragukan kemampuan temannya membujuk kedua bocah itu. Bima sendiri belum memiliki keluarga bagaimana mengetahui karakter anak-anak. Apa dalam gambaran Bima anak-anak mudah dikibulin hanya dengan memberikan sedikit hadiah. Menurut Arjuna kalau kedua anak kembar itu tidak mudah dikuasai karena setiap kalimat yang keluar dari mulut mereka seperti kalimat orang dewasa.


"Emangnya kamu sudah pernah mengurus anak kecil?" Arjuna menatap temannya lekak-lekat ingin tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Bima. Sekedar tipuan kecil untuk mengambil hati kedua bocah itu. Nakula Sadewa tak mudah masuk perangkap hanya untuk satu mainan yang menurut mereka hanya untuk anak kecil. Keduanya selalu menganggap mereka telah dewasa mesti melindungi Srikandi.

__ADS_1


Bima tertawa malu karena dia sendiri tidak terlalu memahami dunia anak-anak. Yang dia tahu anak-anak suka sekali dengan mainan dan sedikit makanan ringan agar mereka mau patuh. Lebih spesifik lagi memberi mereka uang untuk membeli jajanan. Itu saja yang dipikirkan oleh Bima untuk merayu kedua anak kembar itu.


"Anak-anak kan mudah kita bohongi. Kasih dikit jajanan sudah kelar. Ayolah kamu cepat urus kedua anak itu biar aku bisa segera mendekati Arimbi! Kau sudah dengar sendiri kalau mamaku asyik menyodorkan cewek untuk kupacarin."


Arjuna makin bimbang langkah apa yang harus dia tempuh agar bisa dekat dengan kedua bocah itu. Kalau menggunakan status dokter tak mungkin dia duduk berjam-jam dengan anak itu. Dokter memeriksa pasien paling lama setengah jam. Dalam tempo setengah jam apa yang dapat dia lakukan dengan anak-anak itu. Untuk masuk ke dalam dunia mereka saja Arjuna harus beradaptasi dengan kedua bocah itu.


"Sebentar lagi aku akan pergi memeriksa mereka untuk melihat bagaimana kondisi mereka. Keduanya ngotot mau pulang kurasa mereka takut kena marah gara-gara makan makanan pantangan mereka. Terima kasih telah membantuku bro!"


"Emangnya kamu pikir aku melakukannya untukmu. Aku lakukan semua ini karena yayang Arimbi. Aku sudah tidak sabar ingin memiliki bocah-bocah seperti si kembar itu. Siapa tahu aku mendapat anak kembar yang lebih ganteng dari anak-anak kamu."


Hati Arjuna bergetar mendengar perkataan Bima seolah-olah kedua bocah itu memang miliknya. Ada rasa bahagia menyebar ke seluruh pembuluh darah membuat badannya terasa hangat. Arjuna tidak bisa membohongi diri sendiri sangat berharap kalau kedua bocah itu adalah anak-anaknya. Dia harus segera memastikannya tanpa harus menyakiti siapapun. Arjuna juga belum tahu apa yang akan dia lakukan memang kalau kedua bocah itu benar-benar anak Srikandi dengan dirinya.


"Apa Arimbi masih ingat kamu? Kuras dia sudah dapat pacar bule.."


Bima menggoyang telunjuk kiri kanan mematahkan pendapat Arjuna. Bima sudah dengar sendiri dari Sadewa kalau onty mereka tak punya pacar. Anak kecil itu tak mungkin kurang kerjaan bohongi Bima. Bima suka waktu Sadewa suruh dia kejar onty mereka. Bima sudah kantongi restu dari bocah yang dijaga Arimbi.


"Pokoknya Arimbi harus jadi milikku...kau lihat saja perjuangan aku rebut Arimbi lagi. Bukan kayak kamu cemen bersembunyi di ketiak Kunti."


"Jaga mulutmu...pergi sono! Aku mau periksa kondisi si kembar." Arjuna malas berdebat dengan Bima takkan habisnya. Yang ada dia makin kesal. Lebih baik pergi pantau kondisi kedua bocah itu. Siapa tahu dwa keberuntungan berpihak padanya beri sedikit peluang mengenal keduanya lebih dekat.


Arjuna mengajak seorang perawat untuk menyempurnakan kegiatannya sebagai seorang dokter sehingga tidak dicurigai datang hanya untuk memantau status kedua anak ini. Arjuna sengaja melakukan apa yang dia lakukan bila inspeksi kesehatan pada pasien. Membawa perawat juga alat stetoskop.


Dalam perjalanan menuju ke ruang rawat jantung Arjuna berdetak kencang dapat dikontrol. Arjuna ketakutan sendiri membayangkan kalau kedua anak itu kembali melancarkan aksi menyudutkannya. Mengapa dia yang telah dewasa harus takut kepada anak kecil. Ini pasti rasa bersalah di waktu delapan tahun lalu. Arjuna tidak terpikir samasekali kalau Srikandi akan hamil. Tapi itu belum tentu walau banyak clue mengarah ke sana.


Apa Arjuna sudah siap menerima kehadiran kedua bocah itu. Rasanya sangat janggal mendadak jadi seorang ayah. Sedikitpun Arjuna tak sangka kalau akan muncul cerita baru dalam hidupnya. Selama delapan tahun ini Arjuna menutup hati rapat-rapat dari semua bayangan cinta. Rasanya dia tak bisa pacaran lagi diusia jelang empat puluh. Masa remajanya telah berlalu. Kalau ingin menikah hanya tuntutan orang tua harap cucu.


Pikiran Arjuna melayang-layang berakhir di depan pintu ruang rawat kedua bocah itu. Arjuna mengintip keduanya sedang main sesuatu di atas tempat tidur salah satu di antara mereka. Arjuna belum jelas keduanya sedang main apa namun mereka tampak tertawa walau tampak masih ada yang nafasnya belum teratur.


Mereka sangat kuat melawan penyakit mereka. Dalam kondisi sakit masih bisa tertawa. Mungkin mereka sudah terbiasa dengan penyakit ini sehingga kebal terhadap rasa sakit bila kumat.


Perawat mengetik pintu sebelum masuk. Kedua bocah itu menoleh ke arah pintu secara serentak lalu saling berpandangan. Kegiatan bermain terhenti seketika berganti cemas melihat siapa yang datang. Arjuna masuk bersama perawat. Sadewa membereskan mainan berupa mainan ular tangga yang di bawa opa mereka. Pandu sengaja beli mainan yang tak menyita energi mata biar tak menguras energi kedua bocah itu.


"Halo...gimana? Sudah enakan?" sapa Arjuna bersandiwara tak mengetahui apa-apa mengenai kedua anak itu. "Pak dokter mau periksa kalian. Ayok kembali ke bed masing-masing!"


Sadewa meloncat ke beda di samping tanpa menginjak lantai. Yang satu ini sudah fit seratus persen menurut analisa mata Arjuna. Satu lagi masih kelihatan tersisa alergi. Arjuna tak tahu yang mana Nakula juga yang mana Sadewa. Dia mesti belajar membedakan kedua bocah ini.


"Yang mana Nakula?" Arjuna membaca nama mereka dari daftar pengobatan.

__ADS_1


Nakula tunjuk jari ke atas tanpa menjawab. Hanya matanya berbicara kurang suka pada Arjuna. Laki ini yang telah merenggut kebahagiaan Srikandi otomatis jadi musuhnya.


__ADS_2