
Sang guru tersenyum lembut tidak memarahi keduanya karena telah melanggar nasehat dari orang tuanya. Sang guru memahami kalau anak-anak tidak bisa dipaksa harus patuh seutuhnya karena dunia mereka belum lah seruwet orang dewasa. Kadang mereka berbuat menurut kata hati belum memahami arti bahaya.
"Ya tak apa...lain kali kalian tak boleh lakukan hal gitu lagi. Onty sedang ke sini."
Sadewa menyentuh tangan gurunya dengan pelan seperti ingin mengutarakan sesuatu. Sang guru menundukkan badan sejajarkan telinga ke wajah Sadewa. Sebagai seorang guru memahami keinginan sang murid mau bicara yang lebih rahasia. Untuk mencari guru yang baik dia harus memahami karakter muridnya.
"Dewa mau bisik apa?" tanya guru itu tetap lembut tak mau Sadewa takut menyampaikan isi hati.
"Apakah Miss bisa janji tidak mengatakan hal ini kepada mami?"
Guru itu tertegun sejenak memikirkan apa yang harus dia katakan kepada anak ini. Sebagai seorang wali murid dia tak boleh menyembunyikan rahasia antara guru dan orang tua. Tapi melihat kesungguhan Sadewa ingin menutupi masalah ini maka sang guru harus lebih bijak.
"Kenapa Dewa tak ingin mami tahu?" gurunya harus mengetahui alasan Sadewa menutupi masalah ini dari maminya. Dia tak boleh mendidik Sadewa dan Nakula menjadi anak pembohong.
"Dewa tak mau mami kecewa dan sakit hati punya anak nakal. Tapi kami berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Kalau kami melanggar janji Miss boleh menceritakannya semua kepada mami."
Guru itu manggut-manggut memahami keinginan Sadewa tak ingin menyakiti hati maminya. Keinginan Sadewa sangat mulia tak ingin menyaksikan maminya bersedih. Sang guru pun tidak ragu mengangguk setuju tidak mengatakan hal ini kepada Srikandi.
"Baik... anggap saja kali ini Miss percaya kepada kalian. Lain kali tidak boleh melanggar nasehat dari orang tua ya."
Wajah Nakula Sadewa kontan berseri karena mereka telah lolos dari predikat anak nakal. Nakula yang masih sesak tak bisa menyembunyikan rasa bahagia karena tidak menyakiti hati maminya. Nakula selalu ingin menjadi seorang pria sejati melindungi mami dan adiknya. Sekarang dia sendiri sedang membuat masalah maka hatinya juga tidak senang.
"Terimakasih Miss..." Sadewa memeluk Missnya dengan suka cita. Anak ini tak malu-malu melingkari pinggang gurunya dengan tangan mungil.
Gurunya juga terharu melihat betapa bahagianya kedua anak ini. Dia juga memiliki anak yang hampir sama dengan Nakula Sadewa. Naluri keibuan sang guru sedang berbicara mengayomi murid yang dia anggap sebagai anak sendiri.
"Miss senang kalian sadar kesalahan kalian... sekarang kalian patuh pada nasehat kakak perawat dan ibu dokter. Miss balik ke sekolah kalau onty kalian sudah datang. Kalian tak usah ke sekolah dulu bila masih sakit."
"Thank you so much...we love you..." Nakula tak mau kalah juga merentangkan tangan minta dipeluk oleh gurunya. Gurunya terpaksa melepaskan pelukan Sadewa terbalik kepada Nakula. Sang guru menumpahkan segala kasih sayang kepada kedua murid yang nakal ini. Mereka nakal tapi tak pernah buat masalah di sekolah. Bahkan keduanya termasuk murid pintar.
Puas pelukan sama guru sudah ada kakak perawat akan antar mereka ke ruang rawat inap. Untuk sementara berdua anak itu tidak berani bertingkah karena sudah berjanji pada gurunya akan menjadi anak baik. Harapan mereka adalah Arimbi yang bisa mengeluarkan mereka dari rumah sakit. Keduanya bukan takut apa-apa melainkan takut tiba-tiba Srikandi pulang dan melihat mereka berada di rumah sakit. Srikandi pasti akan bersedih dan kecewa pada Nakula Sadewa yang tak mau patuh.
Setengah jam kemudian barulah muncul Arimbi bersama Dewi Madri. Kedua wanita ini kaget bukan main mendengar kedua bocah itu masuk rumah sakit karena keracunan es krim. Dewi Madri tahu kalau mereka bukan keracunan melainkan alergi pada makanan dingin. Wanita ini makin tidak ragu kalau kedua anak itu adalah cucu-cucunya. Penyakit ini tidak bisa ditularkan atau terjangkit secara mendadak melainkan menurun dari gen orang tua. Arjuna memiliki penyakit sama jelas dia telah baik hati menurunkan penyakit itu pada kedua putra yang tak dia kenal.
Sadewa terlihat sudah lebih baik tetapi Nakula masih tampak sedikit sesak karena terlalu banyak konsumsi es krim dingin. Dewi Madri segala berburu mendekati kedua cucunya memantau bagaimana kondisi kedua anak itu. Dewi Madri sudah tidak bisa menahan diri untuk tidak menangis karena takut terjadi sesuatu kepada kedua anak itu. Sangat tidak mudah mereka mendapat kembali cucu mereka, kalau terjadi sesuatu pada mereka Dewi Madri tidak akan memaafkan diri sendiri karena telah lalai menjaga kedua cucunya.
Arimbi langsung membesarkan mata begitu melihat kedua bocah itu menunduk tak berani menatap kehadiran mereka. Arimbi sangat kesal pada kedua bocah ini tidak tidak patuh karena berani berbohong. Katanya meminta uang jajan hanya untuk membeli snack ringan tetapi akhirnya membeli makanan pantangan mereka.
Tangan Arimbi sudah terjulur ingin menjewer kuping Sadewa yang tampak sudah semangat. Anak ini sudah bisa menerima hukuman akibat suka membangkang perkataan orang tua. Arimbi tidak berani menghukum Nakula yang masih terlihat belum sehat 100%. Sasarannya adalah Sadewa yang cengar-cengir sudah tahu bakal kena hukuman.
__ADS_1
Dewi Madri segera menahan tangan anaknya karena tak rela cucunya kena hukuman. Hatinya ikut sakit bila terlihat cucunya disakiti. Dewi Madri menghempas tangan Arimbi yang terlanjur melayang di udara.
"Mama bela mereka? Ini akan bawa bencana..." Arimbi mendelik marah kepada kedua bocah itu.
"Mereka hanya anak kecil...kau pergi sana. Biar mama yang urus mereka. Katakan pada guru mereka kalau kita akan merawat kedua anak ini." Dewi Madri mengusir Arimbi yang tampak sangat emosi.
Arimbi emosi bukan apa-apa karena takut terjadi sesuatu kepada kedua keponakannya. Srikandi dan Arimbi pernah nyaris kehilangan keduanya karena kedua bocah ini mencoba mencicipi es salju di musim dingin. Hasilnya mereka dirawat selama dua minggu di rumah sakit karena keracunan es yang luar biasa. Arimbi tidak ingin kejadian itu terulang lagi karena hampir saja mencopot jantungnya.
Arimbi mendengus kesal keluar dari ruang rawat mencari gurunya anak-anak untuk menyampaikan bahwa mereka akan mengurus kedua anak itu. Gurunya sudah boleh meninggalkan rumah sakit dan kembali ke sekolah karena masih banyak murid di sana.
Dewi Madri membelai kepala Nakula yang tampak masih sesak. Kelembutan seorang ibu pasti mampu memberi rasa aman kepada bocah yang sedang melawan penyakitnya. Nakula juga tampak senang dibelai oleh nenek mereka karena selama ini mereka hanya mendapat didikan keras dari Srikandi dan Arimbi. Srikandi telah menerapkan kemandirian kepada kedua bocah ini sejak dini karena sadar mereka tidak memiliki sandaran kuat untuk menopang kehidupan mereka. Kalau tidak belajar berdiri kokoh di atas kaki sendiri bagaimana mereka bisa menyongsong hari depan.
"Sudah enakan sayang Oma?" tanya Dewi Madri sambil berbisik pelan dekat wajah Nakula.
"Sudah Oma...maafkan kami ya!"
Dewi Madri tersenyum tidak menyalahkan mereka, "Oma maafkan kalian tetapi lain kali tak boleh begitu lagi ya! Jantung Oma hampir berhenti mendengar kalian masuk rumah sakit. Kalian belum mau kehilangan Oma bukan?"
"Ya ngak dong! Sebenarnya kami sengaja memakan es krim karena ingin bertemu dengan dokter spesialis anak di rumah sakit ini." Sadewa mengungkapkan alasan mengapa mereka melanggar pantangan mereka.
Dewi Madri yang bersama Nakula memutar badan menghadap ke Sadewa. Kalimat yang keluar dari mulut anak ini bermakna kalau mereka hanya ingin melihat Arjuna. Rasa penasaran mengantar mereka berani melanggar pantangan. Dari perkataan Sadewa mereka tahu siapa Arjuna namun tak bisa mengakui laki itu papa mereka. Srikandi pasti tidak bahagia bila tahu kedua anaknya mencari Arjuna.
"Kenapa kalian tak bilang sama Oma... kalian tidak perlu sembunyi-sembunyi untuk melihat Papa kalian. Oma bersedia mengantar kalian untuk menemui dia."
Nakula menggeleng memperlihatkan wajah sedih. Mereka juga tidak ingin mengakui Arjuna demi menjaga perasaan Srikandi. Yang penting mereka sudah melihat sosok Arjuna secara langsung mereka sudah sangat puas.
"Kami hanya ingin melihat dia secara diam-diam karena mami melarang kami untuk bertemu dengan dia."
Dewi Madri ingin sekali menangis tersedu-sedu melihat derita kedua anak ini. Memiliki Papa tetapi tidak bisa mendekat. Mereka berdua memendam perasaan itu sendirian karena terlalu sayang pada Srikandi.
"Kalian sudah melihat dia?"
Sadewa dan Nakula hanya angguk tanpa suara. Sebenarnya mereka juga merindukan kehadiran sosok Papa mereka tetapi ada tembok tebal menghalangi mereka untuk memeluk orang yang telah berjasa menghadirkan mereka ke dunia.
"Kalian masih kecil... setelah dewasa nanti kalian akan memahami apa yang terjadi di antara orang tua kalian. Yang penting kalian belajar yang rajin dan menjadi anak yang berbakti." Dewi Madri berdiri di tengah-tengah antara Nakula dan Sadewa agar jangan dibilang pilih kasih. duanya sama pentingnya buat Dewi Madri dan Pandu. Pandu telah menetapkan kalau kedua bocah ini akan mewarisi seluruh kekayaan Pandawa. Tinggal bagaimana mendidik kedua anak ini menjadi manusia yang multifungsi.
"Can we go home?" tanya Sadewa masih berharap bisa pulang saat ini juga.
Walaupun tidak mengerti sekali Dewi Madri paham kalau kedua anak ini ingin pulang. Dewi Madri mana berani mengambil risiko membiarkan mereka di rumah tanpa kehadiran dokter. Masih mending kalau ada Srikandi di rumah.
__ADS_1
"Kita tunggu Nakula tidak sesak dulu. Sekarang kalian tidur biar cepat sehat dan kita pulang ke rumah Oma. Sebentar lagi opa kalian datang. Opa bawa hadiah untuk kalian. Ayo anak manis! Pejamkan mata!" Dewi Madri membantu Sadewa berbaring karena dia lebih parah.
Sadewa menarik badan sendiri berbaring. Anak ini melirik sekilas gerakan sang oma membantu Nakula. Entah apa dalam pikiran Sadewa melihat Oma lebih perhatikan Nakula. Semoga saja itu bukan rasa cemburu.
Dewi Madri menarik nafas lega melihat kedua anak itu patuh pejamkan mata beristirahat. Dewi Madri sedih sekali bayangkan tekanan batin kedua bocah ini. Mereka ingin jumpa Arjuna tapi tak berani berterus terang maka mereka pilih cara sendiri untuk lihat papa mereka.
Andaikata Arjuna tidak salah langkah kedua anak ini pasti bahagia punya orang tua lengkap. Takdir berkata lain mengharuskan mereka tak pernah cicipi kasih sayang papanya. Tak terasa air mata meleleh di pipi Dewi Madri sedih memikirkan nasib kedua bocah ganteng ini.
Kita lihat Arjuna yang termenung sendirian di kantor. Raut wajah kedua bocah itu masih segar terlintas di pelupuk mata. Mirip sekali dengan dirinya. Hanya mata saja mirip seseorang yang pernah hadir dalam hidupnya. Anak siapa mereka. Arjuna bertanya pada diri sendiri namun tetap tak ada jawaban.
Ketukan pintu membuyarkan lamunan Arjuna. Laki ini mengusap wajah agar tak tampak kusut. Hidupnya telah cukup kusut sejak kepergian Srikandi. Wanita itu telah kembali tidak membawa benang lebih kusut lagi dalam hidup Arjuna. Hati Arjuna sedih, sakit diabaikan oleh wanita itu. Srikandi telah menghapus seluruh memori mengenai Arjuna. Itu yang ada dalam benak Arjuna. Ntah kenapa Arjuna tak rela Srikandi melupakan dia.
"Masuk..."
Seorang lelaki berpakaian putih dengan celana warna hitam masuk dengan raut wajah tak kalah kusut dari Arjuna. Dengan langkah lunglai laki itu duduk di depan Arjuna seperti pasien hendak konsultasi pada dokter.
Laki itu menjulurkan tangan ke hadapan Arjuna tetap pasang wajah melo. Arjuna menyangka temannya ini sudah hilang akal sehat minta diperiksa dokter anak. Mau bercanda bukan di waktu kerja.
Arjuna menepis tangan temannya singkirkan dari meja kerjanya. "Gila ya?"
"Jadikan aku anak-anak biar duniaku culun dan lugu!" keluh dokter itu.
"Ini belum naik bulan jadi tak usah kumat. Kenapa kumat?"
"Jun...adikmu sudah nikah ya?"
Arjuna mengangkat alis heran mendengar pertanyaan dokter itu. Sejak kapan Arimbi menikah kenapa dia tidak tahu?
"Kapan dia nikah?" berbalik Arjuna yang keheranan mendengar pertanyaan sangat aneh ini. Mungkin dia sebagai Abang tidak mengetahui adiknya sudah menikah. Sebencinya Arimbi kepada dia tentu saja akan mengabari kalau memang Arimbi menikah.
"Aku pernah melihat dia bawa dua bocah. Katanya itu anak-anaknya." ujar dokter itu putus asa. Hari patah hati nasional akan segera dirayakan.
Giliran Arjuna melongo bingung bagaimana mungkin adiknya memiliki dua bocah sedangkan tidak pernah terdengar berita adiknya pacaran. Arimbi lebih memilih mengikuti Srikandi ke luar negeri melanjut kuliah di sana. ini terdengar berita Arimbi membawa dua bocah mengaku bocah itu anak-anaknya. Lelucon apalagi terjadi di sekitarnya.
"Kau yakin?"
"Yakin gimana lagi? Aku melihat sendiri Arimbi membonceng kedua bocah itu. Dia langsung pergi membawa kedua bocah itu setelah jumpa aku di jalan. Kelihatan anak-anak itu baru pulang dari sekolah karena masih memakai baju seragam."
"Keduanya cowok?" tanya Arjuna mulai membayangkan kedua bocah yang alergi makanan dingin itu.
__ADS_1
"Kok tahu? Keduanya seperti anak kembar. Ganteng dan mempunyai lesung pipi seperti kamu. Kedua bocah itu terpingkal-pingkal setelah melihat Arimbi ketus kepadaku maka aku bisa melihat lesung pipi mereka."