
Pagi ini adalah hari pertama Srikandi bertugas sebagai dokter di rumah sakit yang dikelola oleh Arjuna. Lama sekali Srikandi menyiapkan diri untuk bertarung melawan diri sendiri. Srikandi tidak bertarung dengan siapapun karena dia harus pandai mengontrol perasaan sendiri Karena tiap hari akan berjumpa dengan Arjuna dan Kunti. Kedua manusia yang paling tidak ingin dia jumpai. Manusia yang telah memberi hari-hari kelam kepada Srikandi selama 8 tahun.
Srikandi sengaja berangkat agak telat sedikit karena tak ingin berjumpa dengan Arjuna dan Kunti yang pasti sudah duluan berada di rumah sakit. sebisanya Srikandi ingin menghindari bertatap muka dengan kedua manusia itu. Srikandi berangkat dengan kenderaan milik umum yakni taksi online Ayng makin semarak digunakan. Harga tidak terlalu mahal juga mampu memberi rasa aman ketimbang gunakan angkutan umum berupa bus besar.
Begitu tiba di depan halaman rumah sakit Srikandi tidak segera masuk ke dalam menunda langkah melihat ke dalam rumah sakit. begitu dia masuk ke dalam berarti dia telah siap sedia bertempur dengan semua penyakit serta bertempur melawan kebencian yang bercokol dalam dada. sekali dia maju maka tak ada istilah mundur. Dia harus bertahan sampai tahun depan berkecimpung dalam suka duka.
"Selamat pagi dokter Srikandi..."
Secara reflek Srikandi menoleh ke belakang mendengar suara orang yang menyapanya. Tanpa diminta Srikandi memberi seulas senyum manis kepada orang yang menyapa dia. Senyum persahabatan akan berjuang bersama mengobati semua pasien yang ada.
"Selamat pagi dokter Baladewa...ceria amat!!!"
Baladewa mempercepat langkah menyamai Srikandi yang masih terpaku di depan pintu masuk rumah sakit. Baladewa demikian cerah beda dengan wajah Srikandi dibungkus selaput kesedihan. Mulut mengatakan bisa move on dari Arjuna tapi jauh di lubuk hati masih tak bisa terima Arjuna lebih memilih Kunti. Kenapa Arjuna mau menikahinya bila menyimpan nama Kunti. Kunti duluan mengenal Arjuna dibanding dirinya tapi Arjuna pilih menikahi gadis muda tetangga sebelah. Tak ada yang memaksa Arjuna mesti menikahi Srikandi. Dia mengatakan mencintai anak kecil tetangga sebelah. Kunti juga tetangga walau berselang satu pintu.
"Hei... pagi-pagi melamun! Berat jodoh nanti." Baladewa menepuk punggung Srikandi lembut menyadarkan wanita ini ke alam nyata.
"Jodoh apa lagi? Ekor sudah ada dua...siap berperang?"
Baladewa tertawa garing bikin hati Srikandi ikut senang. Baladewa selalu optimis bila menyangkut kerja karena dia adalah pengabdi sejati. Kadang Srikandi iri pada Baladewa bisa mengabdi pada tugas sepenuh hati sedang dia masih ada keraguan pada kemampuan sendiri.
"Ada ekor bukan berarti tak boleh cari jodoh hari tua. Gimana kabar kedua bocah itu? Aku kangen pada Sadewa..." Keduanya mulai melangkah ke depan menyongsong tantangan.
Srikandi mengernyit alis kurang suka Baladewa hanya ingat pada Sadewa. Dia masih memiliki Nakula yang memang agak kaku. Sadewa selalu mendapatkan hati orang karena selalu ramah dan kocak. Sekali jumpa orang akan ingat kelucuan dia.
"Kalau Nakula dengar ini dia akan beri stempel musuh."
Baladewa tertawa nyaris lupa Srikandi masih memiliki anak yang atk kalah tampan dari Sadewa cuma sayang sorot mata Nakula membuat orang segan mengingat anak itu. Ntah apa membuat anak itu susah percaya orang lain.
"Sori...aku selalu teringat pada cara Sadewa menyenangkan kita. Salam untuk mereka ya. Kalau ada liburan kita harus pergi bersama."
"Akan ku sampaikan...kena macet?" Srikandi ingat Baladewa juga telat datang.
"Aku kurang kenal jalan maka tersesat jalan kemari. Kamu gimana?"
__ADS_1
"Maklumlah aku ini mami dari dua bocah. Ya harus urus mereka dulu. Pak Baladewa mengendarai mobil sendiri?"
"Iya...apa kau tak dapat transportasi dari pihak rumah sakit? Pak Alam juga dapat. Dokter Kunti yang atur kenderaan buat kami. Sebenarnya anak itu tidak sejahat kita bayangkan cuma terlalu angkuh dengan kekayaan orang tua."
Srikandi menghela nafas mendengar kata Kunti. Srikandi tahu itu bukan fasilitas dari rumah sakit melainkan pribadi dari Kunti yang ingin mencari nama di antara kedua dokter itu. Kalau memang berasal dari Kunti mana mungkin Srikandi bisa mendapat fasilitas itu karena mereka adalah musuh bebuyutan. Srikandi tidak iri hati walaupun tak mendapat kendaraan seperti Baladewa dan Alam. Malah bersyukur atk perlu menanam budi pada wanita busuk itu.
"Mungkin kedudukan aku belum sepenting pak Baladewa dan pak Alam jadi tak dapat fasilitas."
Baladewa menghentikan langkah tak percaya Srikandi tidak mendapat fasilitas seperti yang dia miliki. Mana mungkin pihak rumah sakit membuat peraturan yang anak tiri kan seorang dokter spesialis dari luar negeri. Nama Srikandi cukup populer di kalangan dokter internasional mana mungkin dikatakan statusnya masih rendah. Mungkin di tanah air Srikandi kurang dikenal tetapi di luar negeri nama dokter Srikandi cukup disegani karena debutnya yang sangat bagus.
"Mana boleh begitu? Aku akan bicara dengan direktur utama Rumah sakit ini mengapa membuat peraturan yang seolah-olah mengecilkan seseorang. Kalau memang begitu aku akan mengembalikan fasilitas ini karena kita datang bersama-sama juga memiliki kedudukan setara."
Srikandi salut para rasa setia kawan Baladewa namun dia tidak ingin membuat semua menjadi kacau. Biarlah begini adanya memang kalau memang begitu keinginan dari pihak rumah sakit. Srikandi tak mau Baladewa membuat masalah yang akan menambah panjang konflik.
"Pak... jangan!!! Mungkin mereka belum menemukan transportasi untukku. Kita tunggu saja...lebih baik kita absensi agar mulai bekerja." Srikandi menahan tangan Baladewa yang sudah ingin berjalan ke kamar kerja Arjuna. Baladewa melirik tangan Srikandi di lengannya. Laki ini mengangguk anggap alasan Srikandi cukup masuk akal.
"Baiklah...kita jumpa makan siang nanti. Kita makan bersama." Baladewa mulai cerah pagi mau menerima apa yang dikatakan Srikandi. Mereka harus segera bekerja tak boleh lalai apalagi baru hari pertama bekerja. Mungkin pasien sedang menunggu mereka.
Srikandi melepas pegangan tangan membiarkan Baladewa menuju ke tempat prakteknya yang tak jauh dari tempat praktek Srikandi. Srikandi mendapat nomor kamar 8. Srikandi melihat dua perawat berpakaian hijau sudah menunggu di depan pintu yang masih tertutup. Pintu belum terbuka sebelum majikan datang untuk melihat kondisi ruang kerja. Srikandi sudah pernah lihat tak ada apa-apa selain peralatan kedokteran.
"Pagi...kalian cantik dan manis...pasien akan lebih cepat pulih bila kalian perawatnya."
Kedua perawat itu tersipu malu mendapat penambahan semangat dari dokter mereka. Kalimat yang keluar dari mulut Srikandi telah menyatakan bahwa dia adalah dokter yang sangat ramah. Seorang spesialis tetapi tidak sombong seperti sebagian dokter yang merasa dirinya sudah hebat bila menyandang gelar spesialis. Tak jarang membentak perawat bila terjadi sedikit kesalahan padahal belum tentu perawatnya yang salah. Dokter yang salah menganalisa tetapi kesalahan dilimpahkan ke perawat yang hanya menjalankan perintah dari dokter.
Srikandi membaca kata bismillah sebelum membuka pintu. Ini sebagai langkah awal meyakinkan diri sendiri bahwa semua akan baik-baik saja. Srikandi masuk ke dalam diikuti oleh kedua perawat itu untuk mendapat pengarahan dari Srikandi sebelum memulai kegiatan. Mereka harus mengerti apa peraturan Srikandi dan cara kerja Srikandi.
Ruangnya tetap bersih dan harum menyegarkan pikiran. Srikandi meletakkan tas kerjanya di atas meja lantas melirik setangkai bunga sedap malam berada di dalam pot menjadi penghias meja kerjanya. Hanya segelintir orang mengetahui kalau Srikandi sangat menyukai keharuman bunga sedap malam. Srikandi tidak perlu menduga-duga siapa yang meletakkan bunga itu.
Arjuna yang mengetahui bunga kesayangan Srikandi. Pasti lelaki itu yang memerintahkan orang untuk menambah setangkai bunga sedap malam sebagai penyegar pikiran Srikandi. Tak ada orang lain lagi di rumah sakit itu yang akan iseng mengorek bunga kesayangan Srikandi kalau bukan Arjuna.
Kedua perawat itu diam saja menanti Srikandi mengatakan sesuatu. Keduanya mengetahui kalau Srikandi sedang memperhatikan bunga yang berada di atas mejanya walaupun hanya setangkai. Kelihatannya makna bunga ini sangat berarti buatkan Srikandi sampai membuat dokter itu terpaku lama menatap bunga yang tidak berarti itu.
"Siapa yang meletakkan bunga ini?" tanya Srikandi lembut.
__ADS_1
"Kami juga tidak tahu bu dokter... sewaktu kami datang bunga itu sudah ada. Mungkin para OB yang membersihkan setiap ruangan dokter." Sriwati menjawab karena memang tidak mengetahui asal usul bunga sedap malam itu.
Srikandi tidak lanjut bertanya lagi menganggap perkataan Sriwati mengandung kebenaran walaupun tahu siapa dalang dibalik munculnya bunga ini. Kalau dia sendirian berada di ruang ini pasti akan mengambil bunga ini dan mencampakkannya keluar. Srikandi tidak mau orang yang menaruh bunga mengira dia masih menyimpan semua memori tentang orang itu. Sebagai seorang dokter Srikandi tidak boleh memperlihatkan image buruk yang akan menghancurkan reputasinya.
"Ya sudah... kita mulai bahas tugas kalian. Di mata aku kalian sama jadi aku bukan pilih kasih dalam pembagian tugas. Kamu Citra bulan ini menjadi pendaftar pasien dan Sriwati membantuku di dalam. Bulan depan kalian harus bertukar posisi Sriwati di depan dan Citra di dalam. Di sini aku akan menilai di mana keahlian kalian jadi jangan pakai acara iri hati maupun cemburuan karena kalian mendapat posisi yang sama. Gimana menurut kalian apa aku sudah cukup adil? Kalian gantian setiap bulan."
Keduanya mengangguk tanpa membantah karena perlakuan Srikandi cukup adil. Mereka mendapat kedudukan yang sama walaupun harus bergantian setiap bulan jadi tidak perlu merasa dicampakkan ataupun terbuang.
"Kami senang kok Bu...ini sudah cukup bagus buat kami."
"Bagus..aku senang bekerjasama dengan orang yang memiliki hati bersih. Apakah kita sudah mendapat pasien pagi ini?"
"Belum dok... tapi tadi ada pengantar dari rumah sakit meminta agar bu dokter memeriksa seorang pasien yang sudah cukup lama menderita penyakit jantung koroner. Beliau sudah dirawat di sini beberapa hari yang lalu tetapi belum tampak ada kemajuan. Mungkin bu dokter bisa memberi solusi untuk menangani penyakit bapak itu."
Seorang dokter tak ada istilah menolak pasien walaupun bukan dari awal dia yang tangani. Mungkin saja pasien itu belum cocok dengan tangan dokter yang menanganinya sehingga belum mendapat kesembuhan. Tidak ada salahnya Srikandi mencoba melihat apa yang harus dia lakukan untuk membantu pasien itu.
"Baiklah...kita ke sana! Citra tunggu di sini saja menunggu pasien lain. Aku dan Sriwati pergi melihat pasien itu. Kalau ada pasien yang akut segeralah menelepon aku. Ini nomor ponsel aku..."
Citra mengangguk menerima tugas. Sriwati dengan sigap menyiapkan data pasien yang telah diterimanya untuk mendampingi Srikandi mengunjungi orang sakit tersebut. Srikandi segera mengambil peralatan untuk pergi bersama Sriwati ruang perawatan pasien itu. Kini wajah Srikandi telah berubah serius karena dia sedang menghadapi masalah yang tidak kecil. Dokter rumah sakit telah berupaya membantu pasien itu tetapi tidak ada penyembuhan berarti penyakitnya tidaklah semudah membalikkan telapak tangan.
Beriringan mereka menuju ke tempat pasien tersebut di ruang atas. Sriwati yang membawa jalan karena dia telah mengenal seluk beluk rumah sakit ini dengan baik. Dia telah cukup lama bekerja di sini dengan majikan yang berbeda-beda. Mereka harus siap walaupun ditempatkan pada dokter yang berbeda-beda. Tugas mereka adalah membantu dokter jadi tidak mempunyai pilihan lain selain mematuhi semua yang dikatakan dokter.
Srikandi dibawa ke tempat pasien kelas 1 di mana seorang lelaki tua berbaring dengan kondisi setengah tidak sadar. Berbagai peralatan medis menempel pada tubuh lelaki tua itu. Sebelum memeriksa Srikandi membaca laporan riwayat penyakit lelaki ini dengan seksama agar mengetahui tindakan apa yang pernah dilakukan pada lelaki tua ini.
Srikandi menaikkan alis karena lelaki tua ini sudah pernah dilakukan pemasangan ring di jantung yang tersumbat. Jumlah pemasangan ring ada tiga buah tetapi tidak ada tampak kemajuan walaupun penyakitnya telah diselesaikan. Srikandi mengembalikan daftar riwayat penyakit itu kepada Sriwati lalu memeriksa layar monitor serta detak jantung lelaki tua ini dengan stetoskop. Srikandi bolak-balik memeriksa lelaki ini untuk meyakinkan apa penyebab lelaki ini tidak bisa pulih walaupun telah dilakukan tindakan.
"Kita lakukan MRI lagi dan USG. Kelihatannya bapak ini bukan hanya mengidap penyakit jantung melainkan ada penyebab lain. Detak jantungnya sudah lumayan bagus tetapi mengapa dia tidak bisa sadar. persiapkan semuanya dan bawa hasil laporannya kepada aku agar aku bisa mengetahui apa penyebab bapak ini tak mau sadar."
"Siap Bu...aku segera laksanakan!" Sriwati bermaksud mempersiapkan apa yang diminta oleh Srikandi.
Srikandi menoleh kiri kanan merasa ada sesuatu yang kurang. Bapak ini menderita penyakit parah tetapi tidak ada yang menunggunya. Lalu siapa yang bertanggung jawab bila terjadi sesuatu kepada bapak ini. Atau bapak ini tidak memiliki keluarga?
"Mana keluarganya?"
__ADS_1
Sriwati baru sadar kalau di ruangan ini tidak ada siapapun selain pasien yang sedang sakit. Sama seperti apa yang dipikirkan oleh Srikandi, Wati juga sangat heran mengapa di ruangan ini tidak ada penjaga pasien. Kalau dibilang pasien ini tidak memiliki keluarga ataupun berasal dari keluarga miskin mengapa dia menetap di ruang kelas 1. ini menjadi pertanyaan besar buat Srikandi dan Sriwati.