KESEMPATAN KEDUA SEWINDU TAHUN

KESEMPATAN KEDUA SEWINDU TAHUN
Pecat Kunti


__ADS_3

Srikandi mencoba mengirim email ke rumah sakit pusat untuk menanyakan kalau dia bisa dipindahkan ke tempat lain. Sejujurnya Srikandi sangat tidak nyaman bekerja di Rumah sakit milik Arjuna. Sekarang sudah ada kesempatan mengundurkan diri maka Srikandi tidak akan menyia-nyiakan kesempatan bagus ini. Srikandi akan dengan senang hati meninggalkan tanah air kembali ke tempat dia bekerja. Srikandi bukannya tidak menyadari kalau ini akan melukai hati Pandu dan Dewi Madri tetapi ini juga salah satu cara untuk menghindari Arjuna melihat kedua putranya.


Sepandai-pandai tupai melompat suatu saat pasti akan jatuh. Sepandai-pandai Srikandi menyembunyikan Nakula Sadewa suatu saat pasti akan ketahuan juga apalagi sekarang Pandu dan Dewi Madri sangat dekat dengan kedua anaknya. Bukan tidak mungkin status Nakula Sadewa akan terbongkar suatu saat.


Srikandi berencana menceritakan semuanya kepada kedua anaknya bila mereka sudah dewasa kelak. Kalau anak-anaknya sudah dewasa pasti mempunyai pilihan sendiri. Mau ikut dengan Arjuna boleh kembali pada Srikandi juga tidak masalah. Waktu itu Srikandi tidak akan kuatir lagi karena anak-anak pasti memiliki jalan sendiri. Tetapi bukan saat ini mereka harus berjumpa dengan papi mereka.


Selesai mengirim surel bukan Rumah sakit pusat Srikandi langsung tidur. Sedikitpun Srikandi tidak kuatir kedua anaknya akan terlantar bila bersama Arimbi. Arimbi sangat menyayangi keduanya pasti akan menjaga mereka dengan baik apalagi sekarang ada kedua orang tua Arimbi. Mereka bertiga pasti akan menjaga Nakula Sadewa dengan penuh kasih sayang. Srikandi bisa istirahat dengan tenang.


Pagi subuh Srikandi sudah bangun menemukan Arimbi masih ngorok tidur telentang. Selimut tak mampu bersaing dengan tendangan maut Arimbi. Selimut kalah telak terhempas tak tutupi tubuh gadis itu. Srikandi menggeleng membayangkan nasib suami Arimbi kelak. Jadi sasaran tendangan pinalti gadis ini. Pingin peluk istri tapi dijadikan bola.


Srikandi tidak lama-lama di kamar. Wanita ini segera ke kamar mandi untuk bersihkan diri hendak dirikan sholat. Srikandi ambil air wudhu barulah ke kamar anak-anak untuk bangunkan mereka. Srikandi biasakan anak-anak menaati hukum agama. Untuk memahami agama harus dipupuk dari kecil agar jiwa mereka tertanam dari dini.


Mata indah Srikandi terbelalak melihat ada orang tidur di sofa ruang tamu hanya diselimuti kain sarung. Srikandi perlahan dekati orang itu lihat siapa gerangan rela menderita meringkuk tidur di sofa kecil. Dapat dibayangkan betapa sengsara tak bisa bergerak menghabiskan malam di tempat bukan untuk tidur.


Srikandi mendekap mulut lihat siapa orang itu. Srikandi tak habis pikir apa yang membuat Pandu hilang akal mau sengsara di rumahnya. Padahal ranjang empuk menunggunya di rumah. Ada Pandu ke mana pula Dewi Madri? Srikandi menyeret langkah mencari mantan mertua perempuannya. Sasaran Srikandi tentu saja kamar anak-anak. Ke mana lagi perempuan tua itu mau habiskan malam kalau bukan di kamar cucunya. Tak mungkin juga Dewi Madri pulang sendiri meninggalkan suami di rumah sang cucu.


Srikandi membuka pintu perlahan kepala ke dalam melihat apa mantan mertuanya ada di dalam. Srikandi kembali dikejutkan oleh pemandangan tak lazim. Kedua anaknya tidur berpelukan dengan Dewi Madri di satu ranjang. Mereka tampak sangat akrab yang saling menyayangi.


Hati Srikandi mencelos mengingat dia ada rencana hendak hengkang dari sini. Baru jumpa Srikandi kembali memisahkan hubungan cucu dan nenek. Apa Srikandi tak punya rasa simpati membiarkan Pandu dan Dewi Madri menikmati waktu lebih panjang bersama buah hatinya.


Kendalanya bukan di orang tua itu melainkan pada Arjuna dan Kunti. Srikandi berusaha berdamai dengan perasaan sendiri namun tetap tak bisa terima Arjuna jadi pengkhianat.


Srikandi tidak tega membangunkan salah satu dari mereka. Pagi subuh ini Srikandi shalat sendirian tanpa didampingi siapapun. Di dalam doa Srikandi tak berhenti memohon agar diberi pencerahan agar hidupnya tidak kelam selalu. Srikandi mau juga hidup di jalan terang diridhoi oleh Allah.


Tak beda dengan hari sebelumnya Srikandi harus menyiapkan sarapan untuk Arimbi dan kedua putranya sebelum mereka bangun. Pagi ini agak istimewa karen ada tamu dadakan. Srikandi memasak lebih banyak untuk jamu mantan mertua. Srikandi bukan ahli dapur namun untuk sekedar isi perut dengan menu ala kadar mungkin masih bisa dipercaya. Kalau untuk memasak secara sepesial mungkin masih perlu kursus memasak. Arimbi apalagi. Cara pegang kuali saja mungkin dia harus berpikir keras mana permukaan dan mana pantat kuali. Gadis itu samasekali tak bisa masak. Bikin mie seduh saja tak beres. Kalau bukan mentah ya kelewat lembek. Nakula Sadewa tak pernah berharap Arimbi menyediakan makanan buat mereka. Takut keracunan makanan.


Sedang asyik menyiapkan sarapan Srikandi merasa ada sepasang tangan mungil memeluk pinggangnya dari belakang. Ada sesuatu menempel pada punggung belakang. Tanpa menoleh Srikandi tahu siapa yang suka iseng usik dia di dapur. Sudah beda negara namun kebiasaan itu terbawa juga.


"Kok telat?"


"Good morning mami...semalam telat tidur! Dewa masih ngantuk. Apa waktu shalat sudah lewat?"


"Masih boleh shalat kok...ajak abangmu sekalian!"

__ADS_1


"Dia masih bobok...opa dan oma tak mau pulang. Mereka mau tidur sama kami."


"Oh... cepat lah shalat kalau tak mau kehabisan waktu!"


"Yes mam..." Sadewa melepaskan pelukan di pinggang Srikandi beranjak ke kamar mandi untuk ambil air wudhu.


Entah kenapa Srikandi merasa terancam dengan kehadiran kedua orang tua Arimbi. Mereka punya banyak waktu untuk menemani kedua anak itu sedangkan dirinya selalu disibukkan oleh tugas. Waktunya bersama anak-anak sangatlah minim membuat Srikandi takut kalau suatu saat keduanya memilih tinggal bersama kakek dan neneknya. Apa yang harus dia lakukan bila masa itu datang? Srikandi belum siap kehilangan kedua anaknya. Karena merekalah Srikandi bertahan untuk lebih maju dan memberi kehidupan layak kepada kedua anak itu tanpa mengandalkan Arjuna.


Matahari telah lelah bersinar barulah seluruh penghuni rumah berkumpul di meja makan. Suasana rumah bertambah hangat dengan kehadiran kedua orang tua Arimbi. Kedua orang tua itu tidak segan berbaur dengan keluarga Srikandi karena itu merupakan keluarga mereka juga. Wajah Dewi Madri bersinar-sinar bak purnama sempurna menerangi bumi. Wanita itu demikian bahagia menemukan cucu-cucunya yang sempat hilang.


Hati Srikandi makin teriris mengingat dia ada rencana meninggalkan tanah air. Secara tak langsung Srikandi telah melukai perasaan kedua orang tua itu dengan membawa pergi kedua cucunya. Tapi mungkin ini adalah yang terbaik untuk melepaskan kenangan masa lalu.


Sandra tetap bersikap ramah kepada kedua orang tua Arjuna tanpa mencampur adukkan masalah pribadi dengan hubungan kakek dan cucu. Sampai kapanpun Nakula Sadewa adalah keturunan dari Pandawa. Cuma sayang kedua anak itu tidak menyandang nama belakang Pandawa.


Pandu dan Dewi Madri tak henti-henti menatap Srikandi yang makin dewasa. Wanita ini tetap tenang menghanyutkan seolah tak pernah terjadi konflik dengan keluarga Pandawa. Sikap dewasa Srikandi yang membuat kagum Pandu. Kenapa Arjuna buta tak melihat pancaran sinar sebongkah berlian justru puas dengan sebutir batu sungai. Pandu tak henti menyesali kebodohan anaknya.


"Sri... hari ini anak-anak tidak sekolah bolehkah kami mengajak mereka pergi main-main?" tanya Pandu sesaat sedang sarapan.


Srikandi menghentikan gerakan tangan menyuap makanan ke dalam mulut. Dalam hati Srikandi pasti sangat keberatan karena bisa saja berjumpa dengan Arjuna. Srikandi sama sekali tak ingin Arjuna mengetahui kalau mereka memiliki sepasang anak kembar. Ke depan pasti akan makin kacau bila Arjuna mengetahui kebenaran.


"Kak... kamu tidak perlu kuatir Kalau kami akan mempertemukan kedua bocah ini kepada si dia. Dia jarang pulang ke rumah karena tinggal di tempat lain." Arimbi membantu Srikandi menentukan jawaban.


Nakula Sadewa menyimak percakapan orang tua tanpa ikut nimbrung. Kedua bocah pintar ini bukannya tidak tahu apa yang dimaksud oleh Arimbi. Sebutkan si dia tentu saja untuk orang yang mempunyai hubungan darah dengan mereka. Namun mereka pilih bungkam karena tak ingin menyakiti hati mami mereka.


"Kalian berani jamin? Aku tak mau ada masalah mempersulit keadaan."


Arimbi angkat tangan jamin tak ada kendala. Arimbi juga ingin memanjakan kedua orang tuanya mempertemukan mereka dengan kedua cucu mereka. Biarlah mereka menikmati hari-hari yang tidak panjang ini. Kalau selesai kontrak Srikandi pasti akan membawa keduanya meninggalkan tanah air. Di saat itu kalau mau jumpa kedua cucunya kedua orang tua Arimbi harus melakukan perjalanan sangat panjang.


"Kakak tak usah kuatir. Kami pasti akan jaga mereka."


"Pergilah! Jangan pulang malam!"


"Beres kak...kids...are you ready???" seru Arimbi kekanakan. Arimbi sangat senang dapat ijin habiskan waktu seharian bersama orang tua dan kedua keponakannya. Sudah terbayang betapa meriahnya bermain dengan kedua bocah itu.

__ADS_1


Pandu dan Dewi Madri tak henti bersyukur Srikandi bersedia membuka hati menerima mereka sebagai kakek dan nenek dari Nakula Sadewa. Sudah Pandu duga kalau Srikandi adalah wanita berhati emas. Mereka segera bersiap setelah kantongi ijin dari Srikandi. Dewi Madri paling sibuk tak tentu lagi saking senangnya dapat bepergian dengan cucu. Senyum bahagia tak lekang dari sudut bibir wanita itu. Pandu berkesan cool menanti dengan sabar. Cepat atau lambat sedikit mereka akan tetap pergi main.


Semua berpindah ke ruang tamu menunggu Arimbi dan kedua anak Srikandi berkemas. Srikandi juga ikut pindah ke ruang tamu untuk menghormati kehadiran mertuanya. Srikandi tak mau dibilang sombong seakan telah menjadi wanita hebat karena telah melahirkan cucu buat keluarga Pandawa. Srikandi tetap tunjukkan sikap rendah hati menunjukkan dia bukan manusia yang tak tahu balas budi.


Keluarga Arimbi telah sangat baik kepada Srikandi maka dia tidak akan melupakan kebaikan orang itu. Apalagi Arimbi telah menemaninya bertahun-tahun di luar negeri. Jasa ini tidak dapat dilupakan oleh Srikandi. Srikandi tahu cara balas budi walaupun bukan dengan materi.


Ketiganya menanti dengan sabar tanpa banyak bicara. Srikandi tidak tahu apa yang harus dia bincangkan dengan kedua orang tua Arjuna. Rasa canggung masih saja melekat di dalam hati sekali di walaupun keluarga Pandu telah menerimanya dengan tangan terbuka.


Ponsel di dalam kantong celana Pandu menjerit-jerit minta perhatian. semua mata serentak memandang ke arah Pandu yang terpaksa mengeluarkan ponselnya untuk melihat siapa yang memanggil di pagi hari ini. Terlihat Pandu mendesak setelah melihat siapa yang tertera di layar ponsel. Pak tua ini tampak kurang senang mendapatkan telepon dari orang tak diharapkan.


Pandu tetap aktifkan untuk jawab panggilan masuk agar tak makin runyam. Pandu mau tahu apa yang akan dikatakan penelepon pagi hari ini. Pandu takkan maafkan orang itu bila sempat gagalkan rencana mereka untuk bahagia.


"Assalamualaikum pa...selamat pagi." suara dari seberang.


"Waalaikumsalam...ada apa?" tanya Pandu kurang ramah.


"Papa di mana? Di rumah kok sepi. Kata pembantu papa dan mama tak pulang semalaman. Memangnya ke mana?"


Pandu gelagapan di brondong beberapa pertanyaan oleh penelepon seberang. Sebelum menjawab Pandu melirik Dewi Madri untuk berpikir sejenak apa yang harus dia katakan kepada penelepon.


"Papa dan mama kamu pergi refreshing...malam baru pulang. Tumben kamu pulang? Biasa mengeram bersama wanita sirik itu."


"Pa...kenapa papa omong gitu? Aku sudah bukan anak kalian ya?"


"Terserah kamu mau anggap apa! Kau tahu kami sangat kecewa padamu."


"Papa kok jadi judes? Aku cuma mau diskusi soal dokter kontrak kita. Mereka akan pergi batalkan kontrak."


Pandu bagai kesengat kalajengking dengar laporan Arjuna. Sangat tidak gampang undang dokter pilihan untuk bantu rumah sakit kini mereka mendadak mau pergi. Kejadian dahsyat apa menyebabkan dokter itu pilih hengkang. Pandu menatap Srikandi yang tampak tenang duduk di sofa. Wanita muda itu tidak katakan apapun mengenai rencana akan meninggalkan tanah air.


Keluarga Pandawa dirugikan secara beruntun. Yang paling utama adalah mereka akan kehilangan waktu bersama kedua cucunya dan yang kedua rumah sakit akan dirugikan secara besar-besaran karena untuk mendapat dokter bantuan dari pihak rumah sakit internasional bukanlah pekerjaan yang mudah. Apalagi sekarang Rumah sakit mereka sedang mengajukan akreditas menjadi Rumah sakit internasional. Rencana jangka panjang mereka telah buyar tanpa alasan yang jelas. Tentu saja Pandu sangat terpukul menerima kabar ini.


"Kenapa mereka pergi?" Pandu kembali bersuara setelah berhasil menarik nafas dalam-dalam agar tidak sesak.

__ADS_1


"Kunti tak sengaja berkata kasar. Salah satu dokter itu Srikandi. Kunti tak senang kehadiran Srikandi maka dia menghina dokter-dokter itu." Arjuna tak punya pilihan lain selain jujur agar masalah tidak lebar ke mana-mana.


"Kamu masih bela perempuan itu? Coba kamu pikir sudah berapa kali dia membuat masalah di rumah sakit. Papa tidak mau tahu kamu harus membujuk mereka untuk menetap apapun caranya. Satu lagi...pecat Kunti dari rumah sakit. Kita tak butuh dokter sampah seperti itu." tegas Pandu di dengar jelas oleh Srikandi.


__ADS_2