KESEMPATAN KEDUA SEWINDU TAHUN

KESEMPATAN KEDUA SEWINDU TAHUN
Kena Skorsing


__ADS_3

"Selamat datang...kami sudah menunggu kehadiran kalian." Arjuna memperlihatkan sikap super ramah untuk menyenangkan Baladewa dan Srikandi. Nasib rumah sakit tergantung pada kemurahan hati kedua dokter ini. Kalau Baladewa angkat kaki otomatis Srikandi juga hengkang. Ini membahayakan reputasi rumah sakit.


Srikandi melangkah terus tanpa menunggu Arjuna dan Baladewa yang beramah-tamah. Baladewa tetap bersikap sopan kepada Arjuna karena bukan Arjuna yang berbuat salah. Baladewa harus mempunyai jiwa seorang lelaki sejati tidak mengkerdilkan nilai Arjuna walaupun dia adalah atasan dari Kunti. Arjuna sudah bertanggung jawab melakukan apa yang harus dilakukan seorang atasan terhadap bawahan yang berbuat salah.


Arjuna menatap punggung Srikandi yang melenggang berjalan lebih cepat meninggalkan dirinya. Tubuh itu tak berubah walau sewindu telah berlalu. Srikandi tetap langsing tak menyimpan lemak di bawah kulit. Arjuna bukannya tak rindu pada sosok lembut itu. Sayang Arjuna sudah tak punya hak menyentuh wanita itu. Jangankan menyentuh bersalaman saja Srikandi tak mau. Gimana mau bersahabat walau telah bercerai kalau salah satu pihak tak tunjukkan sikap bersahabat. Arjuna seperti musuh bebuyutan buat Srikandi.


Arjuna mengantar kedua orang itu menuju ke satu ruang bersih terdapat meja besar di kelilingi kursi- kursi tersusun rapi. Di situ sudah ada Kunti dan pak Wardana dan dokter Alam. Kunti pasang muka masam begitu Srikandi dan Baladewa masuk. Sebenarnya tujuan Kunti pada Srikandi namun rawan terjadi salah paham sebab Srikandi datang bersama dokter Baladewa. Takutnya Baladewa salah sangka lagi bikin suasana tambah runyam.


Arjuna cepat tanggap memberi jalan pada Baladewa untuk cari tempat duduk. Baladewa sengaja duduk di samping dokter Alam seberangan dengan Kunti. Baladewa mau lihat lebih dekat gimana sosok Kunti yang top dengan sejuta ulah. Srikandi juga ambil tempat sejajar dengan kedua rekan mau tantang Kunti apa berani menatap dia lebih lama.


Dokter Alam yang sudah senior bisa rasakan suasana agak mencekam atas ulah Kunti. Dokter ini sudah lama melintang di dunia medis tahu betapa mahal harga diri seorang dokter bila diminta pergi dari rumah sakit yang mengundang mereka. Kedua dokter itu pasti merasa sedang dipermainkan oleh pihak rumah sakit. Undang lalu usir.


"Oke...kita semua sudah hadir... apa ada yang mau disampaikan?" Dokter Alam memulai pembicaraan karena dia paling tua di antara ketiga dokter.


Arjuna menatap Kunti yang tampak gusar harus memulai mengatakan kalimat paling tabu dalam hidupnya. Dalam kondisi begini dia masih mau pertahankan gengsi sama saja cari benci Arjuna. Arjuna takkan maafkan Kunti bila Baladewa dan Srikandi pergi.


"Begini ...aku selaku kepala rumah sakit meminta maaf atas perilaku salah satu petugas kami yang tak sopan pada kalian. Dokter Kunti tak melihat seberapa tinggi gunung bila didaki. Dia hanya melihat dari jauh anggap gunung sejajar dengan dirinya. Mohon kalian maafkan dia!" Arjuna bangkit dari kursi tak malu memohon maaf dari semua dokter.


Srikandi mau ketawa dengar Arjuna secara gamblang tunjukkan kalau Kunti itu hanya orang kurang wawasan anggap gunung tidak tinggi karena dilihat dari jauh. Bahkan sejajar bila dilihat dari gedung tinggi. Srikandi tidak tahu bagaimana reaksi Kunti bila dia tertawa mengeluarkan suara. Perempuan itu pasti akan merasa terhina dianggap bodoh oleh Arjuna.


Kunti menarik nafas dalam-dalam kesal pada Arjuna bukan bela dia malah seolah hujat kebodohan dia. Dia tak bisa mundur sudah terlanjur datang ke tempat menjatuhkan dasi tergantung di lehernya. Masih untung tidak tercekik.


"Aku Kunti Kurawa minta maaf bila tak sengaja telah menyakiti hati para dokter. Aku hanya ingin bercanda tunjukkan sikap ramah tapi sayang candaan aku disalah artikan. Sekali maaf..." Kunti menundukkan kepala biar Arjuna puas lihat cara dia meminta maaf. Apapun akan dilakukan Kunti asal Arjuna senang.


Arjuna tampak puas Kunti mau merendahkan diri minta maaf. Laki ini tahu hal ini sulit buat Kunti namun dia mesti tanggung jawab selesaikan masalah yang dia buat sendiri.


Dokter Alam cepat sadar segera menerima kata maaf dari Kunti. Kalau dia yang lebih tua telah terima berarti Baladewa dan Srikandi juga mesti ikut. Kedua dokter itu tak mungkin membantah perkataan seorang dokter senior.


"Asal dokter Kunti sudah tahu salah dan janji tak ulangi maka kita terima. Kami datang dari jauh hanya untuk bantu kalian sekalian tukar ilmu bukan cari musuh. Sekarang lebih baik kita saling salaman tanda masalah clear."

__ADS_1


Dokter Alam paling duluan salami Arjuna dan Kunti. Giliran Baladewa hendak ulurkan tangan tiba-tiba Srikandi bangkit dan membungkukkan badan minta ijin ke belakang. Jelas sekali Srikandi enggan jabatan tangan dengan kedua orang itu.


"Silahkan lanjutkan! Aku mau ke belakang sebentar." Srikandi pergi tanpa menunggu jawaban dari orang yang berada di dalam ruangan. Arjuna merasa sedih melihat sikap cuek Srikandi terhadap dirinya. Buntut kejadian delapan tahun lalu berbuntut hingga kini. Srikandi sudah menghapus kata maaf untuk Arjuna dan Kunti.


Baladewa dan dokter Alam saling berpandangan tak mengetahui apa yang telah terjadi. Seingat mereka Srikandi adalah sosok wanita yang sangat lembut hati dan baik. Mereka pernah bertemu beberapa kali di dalam forum internasional membahas berbagai penyakit. Sikap Srikandi selalu welcome dan menghargai sesama teman satu profesi. Mengapa tiba-tiba Srikandi bersikap anarkis meninggalkan orang yang ingin memberi salam. Sikap Srikandi cukup membingungkan kedua dokter senior itu.


Arjuna dan Kunti tahu persis mengapa Srikandi menghindari bersalaman dengan mereka. Srikandi sedang katakan tak ada maaf untuk mereka berdua. Hanya dokter Alam dan Baladewa tak tahu kisah sedih di antara mereka.


Wardana selalu penanggung jawab kegiatan para dokter muda dan dokter kontrak bersyukur masalah bisa selesai. Kalau Srikandi dan Baladewa hengkang imbasnya sampai pada dokter choas yang telah pilih Srikandi sebagai tutor. Semua jadwal telah Wardana susun rapi tinggal tunggu Srikandi dkk mulai praktek.


"Begini pak...sebagai permohonan maaf yang tulus aku mengundang bapak-bapak untuk makan malam. Aku sudah pesan meja di hotel ternama sebagai penebus dosa." kata Kunti lebih rilex tanpa Srikandi. Tanpa wanita itu Kunti bisa berlagak sesuka hati tanpa saingan.


Kunti sedang menunjukkan bahwa dia wanita berkelas yang memiliki banyak harta sanggup menjamu para dokter di restoran mahal. Dari awal sampai akhir Kunti tetap menganggap uang adalah segala-galanya. Dengan uang segudang dia bisa melakukan apa saja untuk menyenangkan orang lain.


"Kami terima asal undangan dokter Kunti tulus. Kita tunggu apa dokter Srikandi bersedia ikut. Dia dokter muda sedang jadi bahan perbincangan karena membuat terobosan baru operasi jantung tanpa memasang ring. Srikandi itu dokter berbakat maka dia ditarik ke rumah sakit di bawah naungan internasional. Sungguh bakat luar biasa." dokter Alam memuji Srikandi di depan Kunti. Dokter Alam tak tahu kalau darah di dalam tubuh Kunti langsung mendidih ingin membakar orang. Sifat dengki Kunti melarang wanita itu menerima kekalahan sebagai seorang dokter digandrungi semua orang.


Selanjutnya mereka hanya berbincang yang ringan-ringan mengenai jadwal praktek sambil menunggu kehadiran Srikandi. Kelihatannya Srikandi memang sengaja mengulur waktu untuk tidak lebih lama berada di ruangan bersama Arjuna dan Kunti.


Pada akhirnya Srikandi muncul juga dengan wajah datar tanpa ekspresi perasaan apapun. Wajahnya dingin seperti baru keluar dari freezer. Dokter Baladewa juga bingung dengan sikap apatis Srikandi. Padahal sebelumnya Srikandi tampak ceria mau ajak dia bercanda ringan. Kok sudah dapat maaf jadi dingin. Apa kata maaf Kunti mengandung es batu sehingga membekukan ekspresi wajah Srikandi.


"Maaf aku agak lama. Tadi jumpa dokter muda yang magang. Ngobrol sebentar." ujar Srikandi sebelum dihakimi ramai-ramai sebab kabur dari inti perkara. Srikandi sengaja menghindari bersalaman dengan kedua orang itu. Itu saja topiknya.


"Tak apa...ayok duduk lagi! Tadi dokter Kunti ajak makan malam. Kami rasa harus tanya padamu dulu." Baladewa menepuk kursi di samping minta Srikandi duduk di sisinya.


Srikandi tersenyum tipis pada Baladewa lalu menggeleng, "Kali ini aku yang minta maaf karena tak bisa bergabung dengan kalian. Aku sudah janjian dengan seseorang untuk makan malam bersama. Jadi kalian silakan lanjut acara kalian."


"Sayang sekali kita tak bisa bareng... baiklah! Semoga lain kali kita bisa makan malam bersama-sama." Baladewa tidak memaksa mengingat Srikandi memberi kesan ingin menghindari kedua orang itu.


Kunti merasa kesal karena Srikandi tidak menghargai niat baiknya menjamunya makan malam. Seharusnya Srikandi merasa bangga dipandang tinggi oleh Kunti. Namun sayang Srikandi tetap teguh tak ingin memberi muka kepada Kunti. Sepiring nasi tidak akan menyembuhkan luka yang terlanjur menganga di hati Srikandi.

__ADS_1


"Kurasa perbincangan kita telah selesai. Aku harus segera pergi." Srikandi merasa sudah sangat tak betah berada di tempat ini. Pantatnya serasa berasap sebentar lagi bisa keluar api bakar kursi.


"Tunggu...ada hal penting harus disampaikan supaya semua puas. Setelah lalui pertimbangan dewan direksi pihak rumah sakit akan beri sanksi berupa skorsing pada dokter Kunti tak boleh praktek di rumah sakit selama dua bulan." Arjuna mengumumkan keputusan dari pihak rumah sakit skorsing Kunti tak boleh praktek selama 2 bulan.


Berita ini sangat mengejutkan semua orang terutama Kunti yang tak menyangka Arjuna tega membuat keputusan merugikan dia. Padahal Kunti telah berusaha tampil maksimal meminta maaf kepada para dokter sebagai hukuman atas kesalahannya. Sebenarnya Kunti pantas mendapat hukuman yang sudah termasuk ringan karena berbuat semena-mena di rumah sakit.


"Mas...apaan ini? Aku sudah minta maaf tapi tetap dihukum?" seru Kunti berang tak terima kena sanksi tak boleh datang ke rumah sakit.


Srikandi tak beri reaksi anggap itu harga pantas untuk seorang pecundang macam Kunti. Srikandi tak mau ikut campur kebijakan Rumah sakit milik Arjuna. Terserah Arjuna bagaimana mau menghukum Kunti karena yakin itu tak ada hubungan dengan dia.


"Maaf dokter... putusan ini diambil setelah mengadakan rapat bersama. Silakan tanya pada Pak Wardana!" Arjuna melemparkan sebagian dosa kepada Wardana yang juga ikut bertanggung jawab kejadian di rumah sakit.


Arjuna tak bisa mengambil keputusan seorang diri karena di rumah sakit ini memiliki beberapa pemilik saham walaupun dalam posisi minoritas. Sekecil pun saham mereka tetap saja bernilai yang mampu membuat keputusan.


"Dokter Kunti... kami juga sangat tidak nyaman mendengar keputusan yang disampaikan oleh seluruh dewan deteksi rumah sakit. Tetapi rumah sakit ini mempunyai beberapa pemimpin yang harus kita patuhi. Jadi keputusan ini sudah mutlak dan dokter Kunti harus bersabar menunggu 2 bulan lagi baru boleh kembali praktek." Wardana membantu Arjuna mengulas sanksi Kunti lebih jauh.


Apapun penjelasan Wardana tidak masuk tidak akal sehat Kunti. Kunti tidak mau tahu tak diizinkan praktek karena dia tetap ingin bersama Arjuna setiap saat. Apalagi sekarang telah muncul Srikandi yang mempunyai peluang untuk merebut kembali Arjuna. Tak usah ditimbang berapa beratnya cemburu Kunti kepada Srikandi. Tak ada timbangan mampu menampung beban cemburu Kunti yang berlebihan.


"Mas kau kepala rumah sakit masak nggak bisa memberi suara untuk membebaskan aku kembali praktek." Kunti kembali memperlihatkan drama seorang wanita sangar tak mau tahu kesusahan orang. Sudah diterangkan kalau keputusan ini bukan hanya berdasarkan satu suara namun Kunti tidak mau tahu memaksa Arjuna harus menghapus skorsingnya.


Srikandi merasa pusing saksikan drama yang sedang diperlihatkan oleh Kunti. Wanita itu tidak tahu makin panjang dia membantah hanya mempermalukan diri sendiri. Dengan begini Kunti sedang mengatakan bahwa dia tidak mengaku bersalah walaupun mulut mengucapkan kata maaf. Srikandi betul-betul muak melihat tingkah laku Kunti yang tidak berubah dari tahun ke tahun.


"Dokter Kunti... kita sebagai seorang dokter harus siap menerima segala resiko bila terjadi kesalahan dalam bertugas. Aku juga pernah kena skorsing hanya gara-gara salah menempatkan orang sakit. Kedengarannya sangat sepele menempatkan orang sakit tuberkolosis di bagian orang berpenyakit stroke. Tapi faktanya memang kita bersalah. Hanya gara itu aku kena skorsing selama tiga bulan. Ini akan menjadi pelajaran untuk membangun mental kita agar lebih tegak. Aku sebagai seorang dokter senior bukan ingin memberi mu kuliah tetapi menganjurkan kamu untuk menempatkan diri menjadi seorang dokter yang benar-benar mengabdi pada masyarakat."


"Memangnya aku bersalah pada pasien? Aku hanya gegabah berkata secuil. Buntutnya kok sepanjang jalan tol... Kalian boleh tiadakan jadwal kerja tapi aku akan tetap berada di rumah sakit."


Arjuna sangat malu pada kelakuan Kunti yang benar-benar mencoreng nama baik rumah sakit. Wanita ini terlalu banyak telan uang logam emas sehingga mulut doang bersinar mengeluarkan kalimat-kalimat yang tak sedap di kuping orang. Coba saja kalau otaknya yang cemerlang maka tidak akan terjadi kejadian hari ini menyusahkan orang lain.


"Dokter Kunti... Kamu boleh saja datang ke rumah sakit tetapi tidak boleh melakukan praktek. Izin praktekmu dibekukan selama 2 bulan." Arjuna berkata dengan sangat tegas supaya Kunti sadar bahwa dia tidak sedang bermain-main.

__ADS_1


__ADS_2