KESEMPATAN KEDUA SEWINDU TAHUN

KESEMPATAN KEDUA SEWINDU TAHUN
Tersingkir


__ADS_3

Safitri tersipu malu dibilang cantik. Sadewa memang sangat pintar mengambil hati orang. Gayanya meyakinkan gadis kecil itu bahwa dia memang cantik kalau dalam kondisi manis. Kedua orang dewasa yang berada dalam ruangan tertawa kecil mendengar rayuan Sadewa yang bau kencur. Kecil-kecil sudah pandai merayu kalau besar bagaimana lah jadinya anak ini.


Hidung Safitri kempas-kempis mendapat pujian dari cowok ganteng walaupun masih kecil. Sadewa memang memiliki sejuta pesona memikat wanita karena terlalu ganteng.


"Aku mau minum obat..." ujar Safitri semangat mengagetkan kedua penjaga gadis kecil itu. Obat segera diberikan pada Safitri sebelum anak itu berubah pikiran.


Perawat dan penjaga Safitri sangat bersyukur dengan kehadiran Sadewa. Sadewa telah mempermudah pekerjaan mereka karena dari tadi membujuk Safitri namun Safitri tetap menolak obat yang diberikan. Hanya dengan beberapa kata-kata Sadewa telah menaklukkan Safitri dengan gombalan ala anak kecil.


Safitri merasa telah menjadi superhero wanita setelah meminum obat. Safitri merasa hebat telah berhasil menelan obat yang sangat pahit itu. Sadewa tersenyum senang pancingan dia telah membawa hasil. Ternyata Safitri tak beda dengan anak kecil lain gampang dibujuk. Kalau dia dan Nakula tak mudah terperdaya oleh rayuan murah gitu. Yang lebih dahsyat tak mampu membeli hati mereka apalagi hanya modal sepatah dua patah kalimat.


Sadewa tepuk tangan untuk lengkapi kebahagiaan Safitri telah menjadi gadis hebat. Mata cekung Safitri muncul seberkas harapan untuk sembuh berkat rangsangan semangat dari Sadewa.


"Itu baru cewek keren...jangan lupa aku dan saudaraku ada di depan kamarmu. Kita bisa saking kunjungi bila kami belum pulang. Ok?" Sadewa tertawa perlihatkan dekik mungil menambah kegantengan dia. Safitri mengangguk sangat setuju ingin bertandang ke ruang depan untuk lihat saudara Sadewa.


"Aku pasti ke sana..." ujar Safitri tampak ceria.


Sadewa tak ingin memadamkan keceriaan Safitri memberi senyum maut biar Safitri tetap terkenang padanya.


"Aku balik dulu ya! Nanti dikira kabur tak mau bayar biaya rumah sakit. Makan yang banyak biar cepat sehat. Kutunggu kamu nona cantik." Sadewa menyanjung Safitri setinggi langit biar anak itu makin yakin untuk cari kesembuhan.


Safitri tertawa renyah diguyon oleh Sadewa. Wajah anak itu tidak kelam lagi mendapatkan teman baru yang pandai mengambil hati orang. Perawat dan penjaga anak itu sangat berterimakasih pada Sadewa. Kelucuan Sadewa telah membangkitkan semangat Safitri.


Penjaga Safitri ikut antar Sadewa keluar kamar mau lihat apa benar Sadewa juga dirawat di sini. Sadewa hanya menyeberang ke depan berjalan beberapa langkah. Anak lajang itu melambai pada penjaga Safitri sebelum masuk ke dalam ruangan.


Penjaga Safitri membalas lambaian tangan Sadewa tanda berterima kasih. Sadewa mengangkat tangan ke atas beri tanda semua tak masalah.


Setelahnya Sadewa masuk untuk lihat apa Nakula sudah mulai stabil. Anak itu kembali tertidur mungkin kena obat lagi. Tapi nafas Nakula tidak sekencang tadi. Tampaknya dia juga stabil. Sadewa sangat berharap bisa pulang ke rumah sebelum Srikandi kembali dari dinas. Sadewa sangat takut perihal mereka masuk rumah sakit sampai ke kuping Srikandi. Arimbi pasti jadi tersangka utama disusul mereka berdua akan kena imbas.


Meskipun Nakula tampak tenang bukan berarti mereka bisa pergi dari rumah sakit begitu saja. Tentu saja harus ijin dari dokter merawat. Orang itu adalah Arjuna yang tangani mereka. Sadewa termenung sendirian tak tahu harus berbuat apa. Onty mereka juga belum balik bikin Sadewa makin tenggelam dalam kesepian. Sadewa jadi teringat pada Safitri yang tampak memiliki penyakit tertentu. Anak itu bukan sekedar sakit biasa seperti anak umum yang kadang terserang demam, flu, radang tenggorokan. Dia memiliki penyakit cukup serius cuma Sadewa tak tahu sakit apa.


Untuk mengisi waktu kosong Sadewa mainkan ular tangga sendiri. Untuk main ponsel Android Sadewa merasa malas. Paling juga nonton film di salah satu aplikasi yang telah mendunia. Sadewa tidak bergairah melelahkan mata. Main sendiri juga tidak membosankan.


Malam tiba mengusir mentari untuk istirahat. Kini tugas rembulan dan bintang di langit menemani insan di bumi disertai hembusan angin malam yang datangkan hawa dingin. Satu persatu insan mencari ketenangan setelah seharian berkutat dengan pekerjaan masing-masing. Berkumpul dengan keluarga adalah hal terakhir yang ingin dilakukan semua mahluk bila malam menguasai bumi.


Bocah kembar Srikandi tampak sudah fit seratus persen setelah cukup istirahat. Besok mereka sudah bisa pulang ke rumah jalankan aktifitas seperti biasa. Kembali ke bangku sekolah tentu saja dibekali puluhan nasehat dan ancaman dari onty judes mereka.


Malam ini Pandu sekeluarga nginap di rumah sakit temani buah hati Pandu. Pandu rela bolak balik hanya demi menjaga kedua cucu kesayangan. Pandu meminta pihak rumah sakit menambah bed khusus untuk dia dan Dewi Madri. Keduanya sudah berumur tak mungkin begadang hingga pagi. Arimbi masih bisa numpang tidur di salah satu bed si kembar. Lalu bagaimana dengan kedua orang tua itu.

__ADS_1


Pandu membawa makanan lezat untuk kedua cucunya sebagai ganti tak boleh konsultasi makanan dingin. Gimanapun mereka masih bocah yang kadang merasa tertantang untuk cicipi makanan pantangan.


Nakula paling doyan roti bakar sedangkan Sadewa senang dengan ayam goreng crispy. Si kembar tak malu-malu sapu bersih makanan lezat bawaan sang kakek. Pandu dan Dewi Madri turut bahagia melihat si kembar telah ceria lagi. Mereka tak makan tapi ikut kenyang. Arimbi juga tak mau kalah bantu keduanya habiskan makanan. Tawa cerah sekali-kali bergema membuat suasana jadi semarak.


Di sela tawa derai bergema tiba-tiba pintu ruangan diketok dari luar. Kelima orang itu saling tukar pandangan heran siapa datang di jam begini. Semua pasien telah istirahat kok ,asih ada yang iseng datang bertamu. Arimbi bergerak bangun lihat siapa yang datang.


Pintu terkuak memunculkan seorang gadis kurus duduk di kursi roda. Wajah itu pucat dengan tatapan mata tak bergairah. Sorot mata kuyu datangkan rasa iba semua yang lihat.


"Safitri..." seru Sadewa segera mengenali anak dirawat kamar depan. "Ayok masuk!"


Sadewa berlari kecil menyambut anak itu. Sadewa antusias Safitri mau bergabung dengan mereka. Ini bagus untuk kesehatan Safitri ketimbang bersedih memikirkan penyakit.


"Apa aku boleh masuk?" tanya anak lirih. Safitri ragu melihat ruangan itu penuh dengan keluarga Sadewa.


"Tentu saja...mereka adalah opa, Oma dan onty..dan itu Nakula saudara kembar ku." Sadewa menyentuh kursi roda Safitri hendak membawa anak itu masuk untuk ikutan ceria. Penjaga Safitri ragu mengijinkan anak itu masuk segan pada keluarga Sadewa.


"Tak usah dek! Kami mengganggu..."


"Ganggu apa...kita kan teman."


Penjaga itu sangat berterima kasih pada niat baik Sadewa. Jarang-jarang ada anak kecil bersedia berbagi bahagia pada orang lain. Beda sekali dengan Sadewa memahami kondisi buruk Safitri.


"Oh Tante...kami senang berteman. Ayok Safitri masuk! Kita lagi makan. Safitri mau makan apa? Ada roti bakar, ayam crispy, pizza dan susu segar." Sadewa menawarkan makanan sudah seperti penjaja makanan.


Safitri mengangkat kepala meminta ijin pada mamanya untuk rasakan makanan yang ditawarkan Sadewa. Mamanya angguk beri ijin karena makanan itu tidak akan merusak kesehatan Safitri. Masih bisa dikonsumsi.


"Terimakasih ma..."


Mama Safitri mendorong kursi roda agar masuk ke dalam ruang rawat Sadewa. Kakek nenek Sadewa tidak keberatan menambah satu orang lagi ikut larut dalam kebahagiaan. Pandu bukan tidak tahu kalau Safitri menderita penyakit kronis. Kesedihan di wajah mama Safitri sudah wakili kegundahan hati wanita itu. Wanita itu termasuk wanita tegar sanggup bertahan walau kondisi anak memprihatinkan.


Nakula hanya jadi penonton dari aksi Sadewa menjamu tamu. Rumah sakit dijadikan tempat beramah tamah sesama pasien. Hanya Sadewa yang bisa sekonyol itu.


Sadewa memberi Safitri sepotong roti bakar berisi keju. Keju merupakan makanan sehat bisa menambah berat badan karena mengandung lemak tinggi. Ini bagus untuk Safitri yang kurus kering. Safitri mengunyah makanan itu perlahan walau tak berselera makan. Safitri mungkin tak tega mengecewakan niat Sadewa ingin menyenangkan dia.


"Enak?" Sadewa kembali cari perhatian.


"Enak...kalian sudah sehat?" Safitri mengalihkan mata pada Nakula. Nakula tampak segar seperti tak pernah sakit. Pipinya mulai berona merah lagi.

__ADS_1


"Alhamdulillah sehat...kamu juga harus sehat. Kita bisa pergi main bersama."


"Aku sakit..." keluh Safitri menunduk memandangi sisa roti di tangan. Mama Safitri tidak bisa tahan kesedihan berusaha menahan air mata agar tidak meleleh. Safitri sudah setahun ini sakit parah akibat penyakit kanker darah yang dia derita. Anak itu keluar masuk rumah sakit hanya untuk mendapatkan pengobatan. Sejauh ini hanya bisa bertahan karena kondisinya makin memburuk.


"Sakit apa?"


"Leukemia...kata orang penyakitku tak ada obat. Aku akan mati."


Nakula angkat kepala dengar penyakit Safitri. Penyakit yang mematikan. penderita penyakit ini sering berakhir kematian. Semoga Safitri belum mencapai stadium akhir.


"Siapa bilang kamu akan mati...kita sakit maka ada dokter. Kita tak boleh pikir kita akan mati. Kita harus lawan penyakit itu. Aku yakin kamu akan sembuh bila ikuti peraturan pengobatan. Ada teman mami kami sangat ahli di bidang ini. Namanya dokter Baladewa...dia pasti akan menyembuhkan kamu." ujar Nakula cool membuat pijaran semangat Safitri menyala.


"Tapi nanti rambutku hilang bila kemoterapi..." Safitri meraba rambut di kepala yang makin menipis akibat banyak konsumsi obat keras.


"Cuma rambut? Nanti tumbuh lagi..lihat gigi kita! Sudah copot tumbuh baru. Lebih kuat lagi...jangan pikir aneh deh! Kau harus semangat biar kelak kita bisa kuliah bersama. Kau mau jumpa kami lagi kan? Si kembar paling ganteng sedunia." Sadewa berkata sambil meletakkan tangan di dagu memancing tawa Safitri.


Semua tertawa termasuk Safitri. Mama Safitri sudah lama tak lihat anaknya tertawa senang. Rasanya tak ada hadiah paling berharga selain lihat tawa anaknya kembali hiasi sudut bibir yang pucat itu. Tuhan berbaik hati pertemukan anaknya dengan teman yang baik.


"Aku mau di kemoterapi asal bisa jumpa kalian selamanya."


"Oh tentu...kita akan berteman selamanya. Kita tumbuh gede dan nikmati keindahan dunia bersama-sama. Kamu cantik dan kami pasti ganteng dong!"


Senyum di bibir Safitri makin melebar. Sisa roti segera dilahap hingga habis. Sadewa melanjutkan aksi memberi sekotak susu cair pada gadis cilik itu sebagai pengantar roti masuk ke dalam perut. Safitri bisa habiskan sepotong roti sudah merupakan prestasi bagus. Biasa dua suap makanan dia sudah merasa mual. Ternyata hati gembira bisa pengaruhi pola makan seseorang. Untuk sejenak Safitri melupakan penyakit yang dideritanya. Sadewa pandai melucu membangkitkan gairah hidup Safitri. Anak itu mulai menemukan keceriaan walau belum full seratus persen.


"Kalian akan pulang besok?"


"Mungkin...tapi kamu jangan kuatir! Kita bisa video call dan lagi mami kami juga bertugas di sini. Kami janji akan datang menemanimu bila pulang sekolah. Cepat sembuh biar kita sekolah bareng."


Safitri angguk senang dijanjikan janji manis Sadewa. Safitri tidak takut kesepian lagi karena janji Sadewa. Pandu bangga bukan main punya cucu demikian bijak tahu cara menyanjung orang sakit. Penderita akan membaik bila menemukan harapan hidup. Semangat adalah kunci dari semua masalah. Makin tinggi semangat berjuang maka maki tinggi presentase kesembuhan.


Canda tawa warnai ruang rawat Nakula Sadewa hingga larut malam. Pada jam tertentu ketiga anak itu harus tidur agar kesehatan makin bagus terutama Safitri.


Dewi Madri dan Pandu seperti kejatuhan bintang di langit punya cucu demikian luar biasa. Penantian akan kehadiran seorang cucu terbayar sudah. Bahkan mereka mendapatkan cucu bernilai plus. Karunia Tuhan tak terhingga jelang hari tua. Arjuna mau nikah atau tidak bukan soal lagi. Mereka sudah ada penerus maka anak Arjuna kelak tak jadi patokan lagi. Apalagi kalau Arjuna bersikeras mau nikahi Kunti. Itu urusan Arjuna. Pandu dan Dewi Madri tak mau ambil open dengan keturunan Kunti. Yang pasti takkan masuk buku Pandawa.


Pagi sekali Arjuna datang kontrol kesehatan Nakula Sadewa. Arjuna tidak pulang ke rumahnya semalaman karena tetap mau pantau kondisi kedua bocah itu. Perlahan tapi nyata Arjuna makin terikat pada Nakula Sadewa. Semua ciri mengarah pada Arjuna. Keraguan Arjuna tehadap status keduanya makin mengerucut ke satu titik. Keduanya anak Arjuna yang tertinggal di perut Srikandi sewaktu mereka bercerai.


Arjuna terbelalak melihat seluruh keluarganya berada dalam satu ruangan. Pandu dan Dewi Madri tidur di lantai beralaskan kasur single sedangkan Arimbi tidur berpelukan dengan Sadewa. Nakula sendirian di bed meringkuk seperti boneka beruang. Acara reunian satu keluarga minus Arjuna dan Srikandi. Mereka berlima masih tidur pulas tak sadar telah hadir orang lain di ruangan.

__ADS_1


Sungguh keluarga luar biasa. Seorang presiden direktur rela bergulung di lantai demi jaga cucu. Arjuna bukan orang bodoh tak paham keadaan. Kedua orangtuanya tahu siapa Nakula Sadewa maka rela menderita. Dewi Madri bukan orang mudah dipengaruhi oleh hal bukan urusan dia. Kalau tak ada kepentingan dia mana mau ikut campur urusan orang lain. mamanya turun tangan urus kedua bocah pasti karena ada hubungan istimewa.


Arjuna urungkan niat periksa keduanya pagi sekali. Nanti dia balik setelah matahari tinggi. Arjuna tak tega mengusik tidur nyenyak keluarganya. Arjuna pergi dengan lesu karena kurang tidur. Sedih juga tak dianggap keluarga lagi.


__ADS_2