
Srikandi meminta Sriwati mencari tahu siapa yang bertanggung jawab untuk pasien yang dalam kondisi antara sadar dan tidak sadar. Mereka tidak bisa sembarangan melakukan tindakan sebelum mendapat persetujuan dari keluarga yang bersangkutan. Bisa-bisa mereka dituduh melakukan malpraktek terhadap pasien Karena melakukan tindakan tanpa persetujuan keluarga.
Srikandi melanjutkan memantau kondisi pasien sedangkan Sriwati mencari perawat yang bertanggung jawab di ruang perawatan ini. Srikandi merasa pasien ini bukan hanya sekedar menderita penyakit jantung koroner melainkan ada penyebab lain yang membuat dia tidak bisa sadar. Srikandi menduga pasien ini tidak bisa lari dari operasi kedua untuk membuatnya bisa bangun dari mimpi buruk. Sejauh ini Srikandi tidak berani mengambil keputusan sebelum mendapat persetujuan dari keluarga untuk mengambil tindakan lebih lanjut.
Sriwati telah mendapat data mengenai orang yang bertanggung jawab terhadap pasien ini dan memberikannya kepada Srikandi. Srikandi hanya menerima 2 nomor ponsel tanpa ada keterangan lain. Srikandi hanya bisa terbengong karena tak tahu apa yang harus dia lakukan dengan nomor ponsel ini.
"Apaan ini?" kata Srikandi bingung. Sriwati mengedik bahu tak punya jawaban untuk pertanyaan Srikandi. Dia juga hanya dapat keterangan ponsel dari perawat ruangan.
"Katanya pagi-pagi ada seorang wanita datang sebentar lalu pergi lagi. Besok dia baru akan datang jenguk pasien."
"Anaknya?"
"Kurang jelas Bu...heran ada orang demikian tega terlantarkan seorang bapak. Apa kelewat uang maka anggap remeh orang tua."
Srikandi juga sangat geram pada orang yang menjadi keluarga bapak ini. Seorang bapak dibiarkan seorang diri menghadapi maut sementara dia bersenang-senang di luar. Ada juga manusia model begitu tidak menghargai jerih payah orang tua membesarkan dia.
Srikandi mengeluarkan ponsel lalu coba hubung salah satu nomor di kertas yang berisi keterangan dua nomor ponsel. Yang satu masuk namun di reject. Sudah masuk tetapi tak mau menerima telepon dari Srikandi membuat daftar ini mendecak marah geram pada manusia model begitu. Srikandi tidak segera putus asa mencoba menelepon nomor satu lagi. Nomor yang ini tidak reject melainkan tidak diangkat batas waktu panggilan berakhir.
Srikandi malas mengulang panggilan karena merasa tidak dihargai. Dia berniat baik ingin membantu orang tua itu namun terjadi penolakan. Sriwati memperhatikan wajah bosnya dengan hati miris juga. Kini keduanya menatap bapak tua yang tertidur di bed tanpa bisa berbuat apa-apa.
"Kita kembali ke ruang praktek dulu. Nanti kita konsultasi dengan pemilik rumah sakit. Kita tidak punya hak mengambil tindakan tanpa persetujuan seseorang."
"Iya Bu..mari!"
Keduanya berniat meninggalkan kamar perawatan pasien kelas 1 itu. Baru saja selangkah Srikandi berjalan ponselnya berbunyi. Wanita ini segera menghentikan langkah untuk melihat siapa yang memanggil. Mata Srikandi melihat itu adalah panggilan nomor yang kedua. Tadi ditelepon tidak diangkat sekarang memanggil balik. Kalau menurut emosi Srikandi ingin sekali ikutan reject nomor ini. Berhubung ini menyangkut kesehatan pasien mau tak mau Srikandi harus menahan diri untuk tidak marah.
"Halo..."
Srikandi mendengar suara lelaki bernada berat. Dari suaranya Srikandi bisa merasa kalau dia sedang berhadapan dengan lelaki sangat dewasa.
"Halo...saya ini dokter Srikandi yang dipercayakan untuk melihat kondisi keluarga anda."
"Oya...maaf tadi aku sibuk tak bisa angkat telepon Bu Dokter...apa yang bisa kulakukan untuk Bu dokter?"
Srikandi sedang berpikir otak lelaki ini di mana emangnya apa yang biasa dia lakukan untuk Srikandi. Seharusnya Srikandi yang bertanya pertanyaan ini apa yang harus dia lakukan untuk membantu keluarga orang ini. Sungguh orang aneh.
"Saya adalah dokter baru di sini dan dipercayakan untuk merawat keluarga anda. Kulihat di catatan kalau keluarga anda baru saja dilakukan tindakan operasi pemasangan ring di jantung. Namun sampai detik ini keluarga anda belum sadar maka aku menyimpulkan ada gangguan lain di dalam organ tubuh keluarga anda jadi aku mau kalian datang ke sini untuk membicarakan tindakan selanjutnya."
"Bukankah ada istriku merawat ayahku?"
"Istri? Maaf kami tidak melihat siapa-siapa di sini karena menurut pengakuan perawat penjaga bahwa pagi hari ada seorang wanita datang ke sini sebentar lalu pergi sampai besok baru kembali lagi. Apakah tindakan ini sudah benar menurut penilaian anda? Dia itu orang tua kalian tetapi kalian tidak memperdulikannya. Apakah anda tahu kalau bapak anda dalam kondisi?"
__ADS_1
"Sialan..." Srikandi mendengar jelas lelaki itu sedang memaki.
"Maaf...apa maksudmu?" Srikandi sangat tersinggung dianggap membawa sial karena lelaki itu mengatakan kata sialan.
"Oh maaf...kata itu bukan untukmu melainkan untuk istriku. Aku menyuruh dia jaga ayah namun dia keliaran... Aku akan segera datang untuk membicarakan kelanjutan pengobatan ayahku. terima kasih sudah menelepon aku dan aku meminta maaf sekali lagi karena telah menyinggung perasaan bu dokter. Aku segera datang."
Tanpa basa-basi lelaki itu mematikan ponsel. Srikandi belajar untuk tidak tersinggung. Dia sadar di dunia ini banyak sekali karakter manusia berbeda gaya. Dia yang waras harus bisa menahan diri terhadap keluarga pasien.
Srikandi tertawa sinis karena baru pertama kali praktek sudah mendapat pasien permasalahan. Bukan pasiennya yang bermasalah melainkan keluarganya yang kurang tanggap terhadap kesehatan orang tua. Sesibuk apapun seorang anak tetap saja harus mengutamakan kesehatan orang tua yang telah susah payah membesarkan mereka. Jangan sudah tua dianggap barang usang yang hendak di gudangkan. Srikandi paling tidak suka pola pikir yang menganggap remeh orang lain.
"Kita tunggu keluarganya di ruang praktek saja. Mana tahu kita sudah dapat pasien. Semoga aku berjodoh dengan pasien bisa meringankan derita mereka."
Baru kali ini Sriwati mendapat dokter yang sangat memperhatikan kesehatan pasien. Biasanya dokter memberi pengobatan lalu selesai. Bagaimana kelanjutan nasib pasien bukan menjadi urusan mereka lagi.
Kedua wanita ini kembali ke ruang praktek Srikandi yang memiliki angka 8. Dari jauh Srikandi melihat ada seorang wanita berumur didampingi oleh seorang wanita muda duduk menunggu di depan pintu prakteknya. Itu belum tentu pasiennya karena kadang pasien kamar sebelah hanya kebetulan numpang duduk di tempat mereka.
Srikandi melewati pasien sampai memberi seulas senyum ramah walaupun pasien itu belum tentu dia yang tangani. Pasien siapapun tetap saja harus mendapat pelayanan ramah dari rumah sakit.
Srikandi masuk ke ruang prakteknya lalu duduk memikirkan banyak sekali persoalan. Mengapa anak-anak bapak itu tidak menghargai orang tua mereka sementara dia sangat merindukan kedua orang tuanya yang telah meninggal karena kecelakaan. Apa nilai kemanusiaan di zaman ini makin menipis mengikis perasaan orang sehingga tega menelantarkan orang tua.
Mata Srikandi tertuju pada bunga sedap malam yang menebarkan aroma semerbak. Srikandi sangat menyukai aroma bunga itu karena mengandung keharuman mistis yang kadang membuat orang berhalusinasi bahwa hidup ini tidaklah nyata. Semua hanyalah mimpi buruk yang akan hilang biar bila terbangun.
"Bu...kita dapat pasien." Sriwati mengagetkan Srikandi.
"Iya Bu..."
Sriwati mempersilahkan pasiennya masuk ke dalam untuk diperiksa. sebelum diperiksa Srikandi harus mengetahui pasiennya memiliki riwayat penyakit apa. Ini bisa menjadi pedoman Srikandi untuk tindak lanjut.
Ternyata pasien pertama Srikandi adalah ibu-ibu yang duduk di depan pintu. Wanita muda yang mendampingi ibu-ibu itu dengan sabar menuntun si ibu masuk ke dalam. Dengan teladannya wanita itu mendudukkan ibunya ke kursi di depan meja Srikandi.
Kali ini Srikandi mendapat pemandangan yang berbeda dari yang pertama. Srikandi memuji kesetiaan wanita itu terhadap sang ibu yang memang mulai jompo. Srikandi tak peduli itu anaknya menantunya ataupun hanya orang kerja. Yang penting sudah ada pendamping.
"Selamat datang Bu...aku dokter Srikandi. Ayok katakan keluhan ibu! Kita cari kesembuhan bersama." Srikandi memperlihatkan jurus pertama yaitu ramah kepada pasien.
"Ibuku agak pikun Bu dokter... sekarang ibuku sering sesak bila malam telah tiba. Kalau bernafas sering mengeluarkan bunyi. Apa ada penyakit berbahaya?" wanita muda itu memaparkan keluhan ibunya.
"Bisa faktor usia bisa juga terjadi penyumbatan pembuluh darah. Lebih baik kita periksa biar tahu dari mana asal sesak ibumu. Sri.. bantu ibu berbaring." Sriwati dengan sigap membantu ibu itu bangkit untuk dinaikkan ke ranjang pemeriksaan. Anaknya ikut bantu karena ranjangnya agak tinggi untuk orang tua lemah.
Srikandi turut membantu untuk memudahkan pekerjaan mereka. Bekerja sama akan mempersingkat waktu. Srikandi memeriksa pasien dengan teliti lantas menekan perut ibu itu mau tahu apa ada keluhan lain. Ibu itu kelihatan tak bereaksi maka Srikandi telah temukan sedikit jawaban kalau tidak memiliki gangguan pada organ dalam.
Srikandi kembali duduk menunggu ibu itu turun dari ranjang. Naik susah tapi turun gampang. Begitu diangkat wanita tua itu sudah terduduk menjulurkan kaki ke bawah. Sekali tarik ibunya itu sudah jejakkan kaki ke lantai marmer hijau muda.
__ADS_1
Dengan dibantu anak dan perawat ibu itu kembali duduk di kursi didampingi anak yang setia. Dalam satu hari Srikandi diberi suguhan dua anak beda versi. Yang satu durhaka dan satunya lagi setia. Ternyata masih ada manusia berhati mulia tehadap orang tua. Orang itu di depan mata Srikandi.
"Ibu ini malas makan ya?" tanya Srikandi tetap lembut mendayu.
"Kurang selera nak...mulutnya selalu asam." sahut itu nyambung dengan pertanyaan Srikandi. Pikunnya belum terlalu berat masih bisa dipahami.
"Nah itu penyebab ibu sesak. Ibu memiliki penyakit gastritis di mana lambung produksi asam berlebihan membuat angin menumpuk menyesak ke dada. Ini belum terlalu serius tapi jaga pola makan. Hindari makanan asam juga pedes. Minuman mengandung gas seperti soda juga tak boleh. Kalau ibu patuh insyaallah akan sembuh. Aku beri resep dan tebus di apotik ya. Kudoakan ibu cepat sehat..."
"Benarkah begitu Bu Dokter? Kami sudah kuatir Ibu kena penyakit jantung." wanita itu tamak senang ibunya tidak menderita penyakit berbahaya. Ketulusan terpancar dari wajah wanita itu menggembirakan Srikandi. Dapat perhatian saja merupakan obat paling manjur.
"Kita doakan bersama ya! Ingat pantangan ibu. Makan tak perlu banyak-banyak karena akan pengaruhi daya kerja lambung. Makan dikit tapi perbanyak frekwensi makan. Itu saja. Ibu tidak sakit kok!" Srikandi menepuk punggung tangan ibu itu untuk beri spirit. Ibu itu tersenyum senang jumpa dokter peramah. Tak perlu minum obat rasanya sudah lega diperlukan penuh kasih sayang oleh dokter.
"Terimakasih dok..."
Srikandi menulis beberapa macam obat di atas kertas putih berlogo rumah sakit lalu Srikandi bubuhkan stempel pribadi untuk pertanggung jawab atas pasien ini. Srikandi berharap analisanya tidak salah mengenai penyakit ibu ini. Kalau berlanjut maka harus dilakukan cek lebih lanjut seperti Rontgen, endoskopi bahkan sampai MRI. Semoga saja hal itu tak perlu dilakukan.
Pemeriksaan pasien pertama telah selesai kini tinggal menunggu pasien kedua. Srikandi masih baru wajar mesti sabar menunggu pasien. Orang belum kenal dia maka belum berani percayakan kesehatan pada Srikandi. Srikandi tak perlu kecil hati belum ramai pasien.
Selanjutnya mereka kembali vakum. Sriwati keluar menemani Citra di luar menunggu pasien. Berada di dalam bersama Srikandi hanya membuat Sriwati canggung kendatipun Srikandi sangat baik. Lebih enak ngobrol dengan Citra mendulang pasien.
Srikandi kembali kesepian menunggu pasien. Srikandi tak berharap dapat pasien walau akan datangkan kerugian bagi rumah sakit. Makin jarang pasien berarti lebih banyak orang sehat. Kabar baik tapi pihak rumah akan bangkrut bila tak dapat masukan.
Baru saja Srikandi melamunkan kerjanya pintu diketok dari luar lalu menyembul wajah Sriwati dari luar. Srikandi memberi kode agar gadis itu masuk dengan cara melambai. Srikandi risih bicara dengan orang di pintu.
"Bu...ada pak Yudistira ingin ketemu. Katanya anak pasien yang kena penyakit jantung."
"Oh...suruh masuk!"
Sriwati membuka pintu lebar-lebar memberi ijin pada laki bertubuh tegap masuk ke ruang kerja Srikandi. Langkah laki itu mantap seakan menyatu dengan bumi. Orang dengan karakter begini pasti punya daya tarik bikin cewek jatuh pingsan bila berdekatan. Srikandi lagi berpikir berapa banyak gadis cantik kepincut pesona laki gagah ini. Betapa beruntung wanita yang menjadi istrinya.
"Bu dokter...ini pak Yudistira!"
"Eh iya...silahkan duduk!" Srikandi malu sendiri termakan pesona laki itu. Srikandi tak boleh punya pikiran nakal kagumi laki orang. Itu sudah melawan hati nurani sendiri. Srikandi paling benci orang pengacau rumah tangga orang.
Laki itu tida segera duduk malah menelanjangi Srikandi dengan tatapan tajam seakan ragu wanita ini punya profesi sebagai dokter. Apa ada anak kecil bergelar dokter spesialis penyakit dalam. Di mata laki ini Srikandi tak ubah anak mahasiswi sedang belajar ilmu pengobatan.
"Nona dokter yang telepon tadi?" tanyanya ragu.
"Iya...kami butuh persetujuan bapak untuk lakukan serangkaian medical cek up lagi. Aku curiga ayah anda menyembunyikan penyakit lain. Tapi sebelum memastikan penyakit apa kami butuh konfirmasi dengan bapak selaku keluarga."
Laki itu menarik kursi menurunkan badannya yang tegap agar tidak tampak seperti raksasa sedang interogasi gadis kecil. Kini mereka lebih seimbang sudah duduk setara walau tubuh laki bernama Yudistira masih menjulang.
__ADS_1
"Istriku setiap jam di sini mengapa tidak minta pendapat dia."
Srikandi tertawa kecil geli membayangkan laki segede kena tipuan mentah dari istri. Namun Srikandi tak punya wewenang buka kesalahan orang lain. Bisa-bisa timbul perang keluarga.