
Perut Bu Tari terasa mual mendengar perkataan mantan mertuanya yang sangat pede mengira Duryudana akan mendapat harta dari perceraian mereka. Mantan mertua Utari tidak tahu kalau semua harta adalah peninggalan orang tua Utari yang tidak bisa dibagi ataupun dituntut oleh Duryudana. Namun Utari masih menghargai orang tua tidak mengatakan apapun karena mereka akan bertemu di pengadilan. Itu semua akan terbuka secara jelas apa yang menjadi hak Duryudana.
"Bu...aku takkan ijin mas Yana masuk rumah ini lagi. Mas Yana sudah memilih untuk menikah lagi dengan wanita pilihan dia maka gugurlah hak dia atas diriku dan semua yang ada di dalam rumah ini. Pergilah ke minimarket karena kalian akan tinggal di situ selamanya."
Mantan mertua Utari belum menerima keputusan Utari. Perempuan tua ini mengira kalau Utari sedang mengancam mereka. Kalau dia tidak keras maka Utari pasti tidak akan membiarkan mereka masuk ke dalam rumah. Apapun cara mereka tetap harus tinggal di rumah mewah ini.
"Kamu tunggu saja Yana datang. Kamu akan lihat bagaimana anakku habisin kamu." mantan mertua Utari mengepal tinju ke arah Utari. Sinar mata kelabunya mau ditajamkan namun tak ada pancaran sinar mematikan karena mata itu mulai jatuh senja. Tak ada kilatan tajam menakutkan justru Utari kasihan pada wanita tua ini dijadikan tameng oleh Duryudana dan Prita.
Utari malas berpanjang lebar memilih meneleponi ketua RT untuk bantu dia usir ibu tua ini. Paling tidak pak RT bisa membujuk mantan mertuanya untuk pergi ke tempat Yanti. Utari yakin Hastina dan Yanti mampu tangani kesombongan keluarga Duryudana.
Angin malam bertiup kencang membuat tubuh orang menggigil. Mantan mertua Utari juga rasakan hal sama namun dia mesti bersikeras untuk bisa kembali hidup mewah seperti dulu. Perempuan tua itu menepis siksaan dingin. Ini tak seberapa bila harus hidup serba kekurangan bila tak bisa kembali ke rumah Utari.
Pak RT dan beberapa aparat kampung datang untuk bantu Utari menyelesaikan masalah rumah tangga yang berbelit-belit. Masalah apapun bisa diselesaikan secara baik-baik kecuali masalah rumah tangga yang acap kali berakhir dengan keributan besar. Masing-masing memiliki argumen sendiri sehingga keadaan menjadi ribet.
Sesulit apapun masalahnya Pak RT tetap harus turun tangan mendamaikan warganya. Ini sudah menjadi kewajiban seorang RT mengayomi seluruh masyarakat warga kampung.
"Selamat malam Mak Yana...Bu Utari...ada apa lagi? Ini sudah malam lho! Kok masih ribut?" pak RT menyapa dengan ramah sekedar mendinginkan suasana yang memanas di tengah udara dingin.
"Aduh Pak RT...untung kamu datang... menantu durhaka ini melarang aku masuk ke rumah kami. Sebentar lagi Yana akan pulang sini sama istri barunya tapi menantu durhaka ini tak ijinkan kami masuk. Dasar apa dia larang kami pulang." mantan mertua Utari langsung melaporkan semua ulah Utari.
Pak RT manggut-manggut seolah memahami perasaan mantan mertua Utari. Pak RT yang menjadi saksi pernikahan Duryudana dengan Yanti dan Hastina serta perceraian Utari memahami situasi. Sejujurnya Duryudana tak ada hak lagi di rumah mewah Utari. Pak RT tahu kalau rumah ini adalah peninggalan orang tua Utari yang tak bisa dijadikan harta Gono gini. Namun mengingat usia mantan mertua Utari sudah tidak muda maka pak RT harus gunakan cara persuasif membujuk orang tua itu pergi agar tak timbulkan keributan lebih besar.
"Mak Yana...Bu Utari dan Duryudana sudah pisah maka mereka tak boleh satu rumah lagi. Ini namanya berzina. Begini...lebih baik Mak Yana pergi ke tempat menantu Mak Yana di minimarket sana. Besok baru kita bahas lagi. Ini sudah malam. Tak baik untuk kesehatan Mak Yana. Ayo kuantar ke sana!" pak RT tetap bicara pelan seperti membujuk anak kecil yang ngambek.
Mantan mertua Utari menjadi ragu dengan keterangan Pak RT. Mantan mertua utara sudah mengetahui kalau Utari dan Duryudana telah berpisah secara agama tetapi tidak di pengadilan. Duryudana masih bisa pulang sebelum ketok palu. Namun sayang Utari tak mau terima kehadiran lelaki itu lagi apalagi bersama istri barunya.
"Kita tunggu anakku datang pak! Aku mau masuk untuk istirahat dulu. Aku lelah." mantan mertua Utari menepuk lutut yang mulai pegel akibat lama berdiri. Di hari biasa Utari akan iba hati serta memberi obat pada wanita tua itu. Namun perbuatannya yang sengaja menyodorkan wanita pada Duryudana melukai hati Utari.
Apa Utari malaikat tak bersayap punya sejuta maaf untuk pengkhianat macam keluarga Duryudana. Sayang Utari tak memiliki jiwa sebesar itu mampu menerima pengkhianatan dalam rumah tangga.
Pak RT kehilangan akal untuk bujuk Mak Yana alias mantan mertua Utari. Wanita ini kekeh mau tunggu putranya pulang untuk bersama masuk ke rumah yang dia klaim punya anaknya.
__ADS_1
"Bagaimana kalau kita tunggu di rumahku saja? Kita harus hormati keputusan Bu Utari tak ijinkan mantan suami masuk ke dalam rumah. Ayok Mak!" pak RT menggamit lengan Mak Yana meninggalkan rumah Utari. Untunglah perempuan itu patuh mungkin sudah lelah berdiri. Dia butuh tempat untuk mengaso sekejap. Kumpul tenaga biar sanggup melawan Utari lagi.
Utari merapatkan tangan ke dada mengucapkan terima kasih pada pak RT yang bijaksana. Utari sangat bersyukur akhirnya mantan mertuanya bersedia diajak pergi. Biarlah selanjutnya menjadi urusan Pak RT.
Utari cepat-cepat meminta satpam membuka pintu pagar dan masuk ke dalam. Selanjutnya Utari meminta Satpam menggembok pintu pagar agar Duryudana dan komplotannya tidak menerobos masuk. Utari wanti-wanti pada satpam agar jangan goyah walaupun Duryudana mengeluarkan seribu ancaman.
Srikandi melihat mobil Pandu masih berada di depan rumahnya bertanda kakek dan nenek anaknya masih di rumah. Srikandi tak menyangka kalau Pandu dan Dewi Madri betah bermain bersama anak-anaknya. Srikandi berusaha memaklumi situasi di mana Pandu dan Dewi Madri baru pertama kali berjumpa dengan cucu-cucu mereka. Wajar tak ingin berpisah.
Srikandi memilih mengetuk pintu walaupun dia memiliki kunci serap. Sungguh tak sopan masuk tanpa hargai orang di dalam rumah walaupun itu rumahnya. Srikandi mau menjadikan Pandu dan Dewi Madri sebagai majikan dari kedua anaknya selama mereka tidak merebut keduanya dari tangan Srikandi.
Arimbi si gadis ceria membuka pintu langsung membesarkan mata karena Srikandi telah kembali. Baru saja berangkat dan kini ini telah kembali. Apa mungkin Srikandi tidak jadi ke pesta karena ada Arjuna di situ?
"Assalamualaikum..." sapa Srikandi lembut seperti yang sudah-sudah.
"Waalaikumsalam...kok sudah balik? Pestanya sudah bubar?"
Srikandi tidak segera menjawab malah menjulur kepada kepala ke dalam untuk melihat apa kedua orang tua Arimbi masih di dalam. Srikandi tidak mau kedua orang tua Arimbi mengetahui apa yang telah terjadi di arena pesta. Kedua orang tua itu pasti makin anti kepada Kunti bila mengetahui apa yang telah terjadi.
Untunglah kedua orang tua itu tidak berada di ruang tamu. Ke mana pula perginya kedua orang tua itu? Kedua anaknya juga ikut menghilang.
Arimbi ikut melongok ke dalam tak melihat adanya siapa-siapa, "Mereka ada dalam kamar."
"Oh... apa kalian semua sudah makan?"
"Sudah... tadi kupesan online food. Kakak tidak jadi ke pesta?"
Srikandi nyelonong ke dalam dan menghempas diri di atas sofa dengan kesal. Bayangan keangkuhan Kunti masih terlintas di kelopak mata Srikandi. Srikandi tidak tahu apa yang terjadi setelah mereka pergi. Apa Arjuna akan membujuk Kunti untuk meminta maaf lagi ataupun membiarkan wanita itu berbuat semena-mena. Srikandi tidak ingin memikirkan semua itu cuma hanya bisa berharap dirinya ditarik kembali ke rumah sakit pusat agar terbebas dari pemandangan menyakitkan mata.
"Kunti berulah. Dia mengusir kami secara tak langsung. Dokter Baladewa tersinggung dan akan resign. Dokter Baladewa mana makan hinaan Kunti. Dia dokter berlabel internasional." Srikandi tidak menyembunyikan keadaan bercerita apa adanya kepada Arimbi. Srikandi selalu percaya kepada Arimbi karena wanita muda ini telah menemaninya selama bertahun-tahun. suka duka sudah dia melalui bersama dengan Arimbi.
Arimbi meninju telapak tangannya sendiri saking kesal dengan kebodohan Kunti. Susah payah mengundang dokter spesialis pada akhirnya diusir tanpa perasaan oleh wanita setan itu. Bagaimana reaksi Pak Pandu bila mengetahui perbuatan Kunti membuat Baladewa dan Srikandi ingin hengkang dari rumah sakit mereka. Kalimat tiada maaf bagimu semakin melekat di bibir Dewi Madri yang memang sangat membenci Kunti.
__ADS_1
Arimbi yakin kalau Srikandi tak ingin membongkar kesalahan Kunti diharap di hadapan kedua orang tuanya. Kalau Srikandi tak ingin melaporkan kelakuan Kunti biarlah dia yang akan menegakkan keadilan. Kuntilanak itu sudah saatnya diberi pelajaran agar tidak berbuat sesuka hati seakan rumah sakit itu milik nenek moyangnya.
"Bim... jangan katakan apapun pada Papa dan Mama! Nanti mereka akan makin membenci Kunti. Kunti kan tunangan abangmu jadi janganlah membuat suasana menjadi riuh."
Arimbi terloncat bangun kaget sejak kapan ada kabar abangnya sudah tunangan. Mengapa dia tak tahu kalau Arjuna sudah tunangan dengan Kunti. Arimbi tak terima berita ini. Kunti musuh satu keluarga mana mungkin diterima sebagai kakak ipar.
"Yang bener kak? Kok aku tak tahu mas Juna tunangan? Main backstreet? Wah tak bisa dibiarkan!" Arimbi sudah seperti cacing kepanasan. Sebentar lagi akan jadi cacing gosong. Nada suara gadis ini melengking pasti akan menarik perhatian kedua orang tuanya.
Srikandi segera mendekap mulut Arimbi agar kecilkan volume suara. Srikandi benar-benar tak mau mencari keributan. Apalagi di depan kedua anaknya.
"Jaga mulutmu! Nanti di dengar papa mama!" bisik Srikandi di telinga Arimbi.
"Ini gila kak! Sejak kapan mas Juna tunangan? Ngak bener nih!" Arimbi kena sihir ikut berbicara lembut.
Srikandi menarik Arimbi untuk duduk di sampingnya dengar rencana selanjutnya. Kalau Baladewa pergi Srikandi pasti ikut angkat kaki. Pada dasarnya Srikandi memang tak ikhlas datang ke tempat ini. Tempat di mana dia mendapatkan luka. Sekarang dia memiliki alasan untuk kembali ke tempat dia bertugas. Justru ini merupakan karunia Srikandi. Kekacauan yang ditimbulkan oleh Kunti membuahkan hasil baik buat Srikandi.
"Bim... aku akan membawa kedua keponakan kamu kembali ke state! Dan kamu bisa membantu papa meneruskan perusahaan. Kamu tidak perlu lagi mengikuti ke mana perginya kedua keponakanmu. Kamu mulai bertanggung jawab kepada diri sendiri dan keluargamu."
"No way... apapun terjadi kamu harus tetap di sini sampai setahun. Kamu tak boleh mengingkari janji kepada kedua keponakanku untuk mengenal keluarganya lebih dekat. Kamu cuma butuh waktu setahun sekaligus mengobati lukamu. Kamu harus tunjukkan kepada kedua manusia laknat itu bahwa kamu lebih tegar dari mereka. Masak segitu sudah ngaku kalah." Arimbi menangkap kedua tangan Srikandi tak ijinkan wanita itu buat rencana baru.
Srikandi berjanji kepada Arimbi akan memberi kesempatan kepada Nakula Sadewa mengenal kakek dan neneknya. Baru kenal satu dua hari Srikandi mau mengingkari janji bawa kabar mereka lagi. Arimbi tidak terima kalau Srikandi menelan ludah sendiri.
Srikandi memang ingin tapi perasaan tetap terluka melihat Arjuna dan Kunti makin intim. Kenangan buruk kembali hantui Srikandi walau telah berhasil menata hati. Hati yang pernah remuk kini telah bersatu lagi.
"Kita lihat reaksi dokter Baladewa...Oya mana mereka?" mata Srikandi mencari kedua orang tua Arimbi dan kedua anaknya. Jangankan orangnya bayangannya saja tidak nampak.
"Mereka di kamar...kau tak lihat bagaimana papa dan mama memuja kedua cucunya. Kau akan terharu saksikan mata papa selalu berkaca-kaca menatap buah hatinya. Sadewa sukses jadi favorit papa sedang Nakula kesayangan Oma. Kedua orang tua itu berlomba merebut hati kedua cucunya. Apa kamu tega memisahkan mereka yang baru saja berkumpul."
Dada Srikandi terasa sesak. Dia sudah berusaha ingin melupakan Arjuna tetapi di sudut hati tetap saja menyimpan nama lelaki itu. Srikandi sangat mencintai Arjuna sejak kecil dan sangat bahagia tatkala dipersunting oleh lelaki itu. Sayang sekali kebahagiaan itu hanya bertahan setahun dan menjadi kebahagiaan semu.
"Aku masuk kamar ya! Kau urus saja keponakanmu. Jangan tidur telat!" Srikandi bangkit meninggalkan Arimbi. Srikandi pilih menghindar sebelum ditanya ini itu oleh Pandu. Srikandi tak mungkin menceritakan semua keburukan Kunti secara gamblang. Srikandi tak mau dianggap iri hati kepada wanita itu yang telah berhasil mencuri Arjuna darinya.
__ADS_1
"Besok Sabtu kak... mereka tidak sekolah. Boleh ya tidur telat dikit." pinta Arimbi masih mau beri kesempatan pada kedua orang tuanya melewati detik demi detik bersama cucu.
Srikandi mengedik bahu tanda terserah. Srikandi bukan manusia tidak memiliki perasaan tak mengetahui kerinduan Pandu dan Dewi Madri. Biarlah mereka melepas kerinduan sepuasnya asal tidak membawa lari kedua anak itu.