KESEMPATAN KEDUA SEWINDU TAHUN

KESEMPATAN KEDUA SEWINDU TAHUN
TAK SEINDAH BAYANGAN


__ADS_3

Pandu mendengar helaan nafas Arjuna. Pandu tahu Arjuna sedang dilanda dilema untuk memecat Kunti. Selama ini Kunti yang mendampingi Arjuna melalui kesendiriannya. Tak mungkin Arjuna tega mengusir wanita itu begitu saja dari rumah sakit. Tetap saja harus mengikuti prosedur tidak langsung memecat wanita itu. Kunti bisa diskor tak boleh praktek selama waktu ditentukan oleh pihak rumah sakit.


"Pa... Om Sengkuni mempunyai saham di rumah sakit kita. Bagaimana mungkin kita memecat anaknya?"


"Oooo...kau kasihan padanya? Ok...papa lepas tangan tak ikut campur lagi. Asal kamu tahu salah satu diantara mereka adalah perwakilan dari JCI. Kalau mereka sempat pergi makan kubur mimpimu untuk menaikkan akreditas Rumah sakit kamu." ancam Pandu geram pada kebodohan anaknya. Entah apa yang dia lihat dari diri Kunti. Bagi Pandu kalau Kunti itu hanyalah manekin hidup yang tak memiliki jiwa.


"Bukan gitu pa... aku tahu resiko kalau mereka pergi. Aku akan memaksa Kunti meminta maaf kepada mereka. Cobalah minta Arimbi memohon kepada Srikandi agar mau tetap tinggal! Bukankah Arimbi sangat dekat dengan Srikandi?"


"Kamu ini ya? Kunti yang berbuat salah mengapa harus Arimbi yang menyelesaikannya. Siapa berbuat harus bertanggung jawab. Papa tak mau tahu masalah yang diciptakan Kunti. Jangan harap papa dan Arimbi mau bantu kamu. Pikirkan sendiri cara halangi dokter kontrak keluar dari rumah sakit." Pandu tak mau beri kesempatan pada Arjuna membela Kunti.


Dari dulu keluarga Arjuna memang tak suka Kunti yang dianggap kelewat sombong dengan harta keluarga. Anggap remeh orang lain gunakan kekuatan materi. Pandu bukanlah orang yang bisa dibutakan oleh harta. Harta Pandawa juga tak kalah dari keluarga Kunti.


"Papa sudah tahu Srikandi merupakan salah satu dokter itu?"


"Tahu kenapa? Kau bisa bawa dia balik ke rumah? Kalau kau bisa baru lah papa anggap kau gentleman.


Arimbi dan kedua bocah ganteng Srikandi sudah siap dengan ransel di punggung masing-masing. Arimbi telah persiapkan kedua keponakan berpetualang hari ini.


"Tadaaaa...kami ready...!" teriak Arimbi tak menyadari kalau papanya sedang teleponan dengan Arjuna.


Suara Arimbi jelas terdengar oleh Arjuna. Ini kesempatan buat Arjuna memohon pada Arimbi untuk bicara dengan Srikandi untuk tetap bekerja di rumah sakit. Hanya adiknya itu punya akses kontak dengan Srikandi. Kalau Arjuna yang ngomong pasti dianggap angin lalu oleh Srikandi. Jangankan bicara, lihat tampang Arjuna saja mata Srikandi terasa malas. Mendingan lihat tembok putih bersih ketimbang lihat tampang pengkhianat.


"Ada Arimbi pa... sekalian omong ya!"


"Arimbi sibuk tak ada waktu omong. Papa dan mama juga sibuk jadi kau selesaikan sendiri masalah kamu."


Arimbi acung jempol puji ketegasan papanya. Sudah saatnya Kunti diberi pelajaran agar tidak angkuh. Selalu berbuat semena-mena di rumah sakit membully para perawat dan dokter Junior. Sekarang Kunti sudah kena batunya jumpa dokter yang lebih keras darinya. Untunglah dokter Baladewa memiliki sifat keras tak mudah ditaklukkan oleh kekayaan keluarga Kunti.


"Rasain sok kecakapan... ngaku-ngaku tunangan lagi! Anak durhaka tunangan tak ijin orang tua." seru Arimbi menambah minyak di api biar makin menyala besar.


Pandu dan Dewi Madri terbelalak mendengar perkataan Arimbi. Sejak kapan Arjuna dan Kunti tunangan mengapa mereka sebagai orang tua tidak mengetahuinya. Sudah sejauh mana hubungan kedua manusia itu. Pandu dan Dewi Madri tidak terima Kunti masuk keluarga mereka.


"Juna...kau sudah gila tunangan tak beritahu orang tua?" teriak Dewi Madri sangat marah pada putranya. Kelakuan Arjuna dan Kunti semakin merajalela tak hargai orang tua lagi. Arjuna bisa dicoret dari daftar nama keluarga kalau benaran tunangan sama musuh keluarga.


"Ya Tuhan...kapan aku tunangan. Itu hanya ocehan Kunti. Kok kalian bisa tahu Kunti bilang tunangan aku? Apa Srikandi bersama kalian?"


Pandu menatap Srikandi ditanya oleh Arjuna. Insting Arjuna tak bisa dipandang remeh. Laki itu bisa meraba merasakan kehadiran Srikandi di antara mereka. Namun di saat ini Pandu mana mungkin mengaku kalau Srikandi bersama mereka. Sama saja dengan mengkhianati Srikandi yang mulai percaya kepada mereka. Pandu bukan orang bodoh mau kehilangan cucu demi orang tak punya moral.


"Srikandi apa? Pokoknya papa tak mau dengar kamu ada hubungan intim dengan wanita itu. Assalamualaikum..." Pandu tak mau panjang cerita lagi. Srikandi ada di depan mereka. Salah omong taruhannya adalah kehilangan cucu mereka. Pandu menyimpan telepon sambil buang nafas kesal pada sikap plin plan Arjuna. Selalu bilang tak cinta Kunti tapi tak pernah pisah. Setiap hari bersama.

__ADS_1


Keadaan menjadi kurang sedap setelah Arjuna telepon. Pandu sekeluarga makin merasa bersalah pada Srikandi. Setiap kalimat Arjuna beri kesan bela Kunti yang jelas telah bawa bencana. Sudah sampai di tahap begini masih bantu Kunti mohon belas kasihan.


"Mengapa tidak cerita Kunti buat masalah di rumah sakit?" Pandu sedikit kecewa Srikandi tak mau ungkap apa yang telah terjadi di rumah sakit. Ini jelas merugikan pihak mereka selaku pemilik rumah sakit.


Srikandi merasa kurang enak di tegur oleh Pandu. Srikandi sengaja tidak mengatakan apapun karena tak ingin menjelekkan Kunti di depan orang tua Arjuna. Srikandi tidak memiliki sifat buruk seperti Kunti suka mencari kesalahan orang lain. Yang tidak memiliki kesalahan juga disalahkan apalagi kalau memang bersalah padanya.


"Saya tak mungkin membuka kesalahan tunangan putra kalian." Srikandi kemukakan alasan dia pilih diam.


"Arjuna tidak pernah bertunangan dengan Kunti. Itu hanya karangan Kunti untuk mencari posisi di rumah sakit. Arjuna sudah katakan dia tak tunangan sama Kunti. Sri...kau tega meninggalkan rumah sakit? Apa kau tak tahu reputasi rumah sakit akan anjlok bila kamu pergi?"


Srikandi menjadi gelisah mendengar perkataan Pandu. Srikandi bukannya tidak tahu nama baik Rumah sakit Arjuna sedang dipertaruhkan bila mereka angkat kaki dari rumah sakit itu. Rumah sakit Arjuna akan susah kenaikan akreditas bila telah menolak kehadiran dokter yang ditempatkan dari rumah sakit internasional.


"Kunti telah salah omong sama dokter Baladewa. Coba kalian hubungi dokter Baladewa agar dia mau netap. Kalau Baladewa netap aku juga netap. Kami datang bersama pergi pun harus bersama."


"Apa kamu mau mengatakan kalau dokter Baladewa adalah perwakilan JCI?"


"Belum tentu karena masih ada dokter Alam. Suruh Kunti meminta maaf kepada dokter Baladewa secara terbuka biar dokter itu merasa dihargai. Coba kalian pikirkan kami sudah datang dari jauh-jauh meninggalkan tugas kami hanya untuk membantu kalian tetapi apa yang kami dapat? Penghinaan.."


Srikandi menampakkan kedewasaannya bicara dengan sopan. Pandu tak menampik apa yang dikatakan Sandra itu tak salah. Kunti memang sudah kelewatan mengangkat semua orang harus tunduk kepadanya. Pandu merasa ini sebagian juga kesalahan Arjuna yang terlalu memanjakan Kunti. Wanita itu menjadi makin merajalela menganggap rumah sakit itu adalah miliknya.


"Papa akan bicara dengan Arjuna. Kalaupun kamu ingin pergi bukan masalah rumah sakit yang kami sesali melainkan kami harus berpisah lagi dengan kedua cucu kami. Papa mohon biarkan kami mengenal lebih jauh jadi tetaplah menetap di sini." Pandu merangkap tangan memohon kepada mantan menantunya itu membuat Srikandi membuang muka tak dapat menahan rasa haru.


"Ini sudah siang. Kalian ingin menikmati hari libur? Pergilah sebelum matahari terbit makin tinggi!" Srikandi mengalihkan topik pembicaraan karena tidak tahu harus menjawab apa. Kalaupun Srikandi ingin tinggal tetapi dokter Baladewa ingin pergi maka mau tak mau Srikandi harus ikut pergi. Mereka adalah dokter-dokter di bawah naungan Rumah sakit internasional jadi mereka harus tetap kompak.


Pandu dan Dewi Madri mengetahui kalau Srikandi ingin mengelak dari permintaan Pandu. Tampaknya Kunti telah berhasil menciptakan kekacauan paling aktual di tahun ini. Kalau saja Kunti berada di depan Dewi Madri tak ayal tangan wanita tua ini akan mendarat di wajah Kunti. Kenapa Kunti selalu menjadi bayangan buruk bagi kehidupan Arjuna? Kapan arwah penasaran itu akan meninggalkan anaknya memberi Arjuna kesempatan mencari kehidupan baru.


Arimbi yang paling tahu sifat Srikandi tak mau perpanjang masalah ini. Wanita itu sudah katakan jumpai dokter Baladewa berarti kuncinya ada di tangan dokter Baladewa. Arimbi menepuk pantat kedua keponakan untuk segera berangkat. Berdebat sampai malam pun takkan jumpa titik temu kalau Srikandi sudah serahkan keputusan di Baladewa.


"Ayo kita cabut! Pa...ma...ayo! Nanti kita bahas lagi." Arimbi mengedip mata supaya papa dan mamanya tak usah mengulang permintaan sama agar Srikandi mau menetap. Jawaban Srikandi pasti takkan berubah.


Pandu dan Dewi Madri meninggalkan rumah Srikandi dengan berat hati. Belum ada kejelasan membuat mereka kuatir dua hal. Herannya mengapa Srikandi berubah keras susah dibujuk. Dulu Srikandi anak patuh tak pernah membantah orang tua. Waktu yang telah menempa wanita itu menjadi keras tak punya timbang rasa lagi.


Srikandi tetap manis mengantar kedua anaknya sampai ke pintu mobil. Kedua anak itu berlomba menyalami Srikandi sebelum meninggalkan rumah. Pandu dan Dewi Madri bisa saksikan bagaimana Srikandi mendidik anak. Didikan patut dapat acung jempol. Tanpa didampingi seorang lelaki Srikandi berhasil membesarkan anak baik. Harus disematkan bintang jasa seorang ibu penuh dedikasi.


Srikandi melambai sambil kirim kecupan sayang. Kedua anak itu latah ikutan balas ciuman jarak jauh sambil tertawa renyah. Jarang-jarang mereka dapat liburan karena Srikandi sibuk kerja sedangkan Arimbi sibuk kuliah. Hanya sekali-kali Srikandi dan Arimbi membawa kedua anak itu pergi jalan-jalan. Itupun seputar kota saja.


Srikandi masuk rumah menutup pintu dengan rapat. Hari ini Srikandi akan lebih santai tanpa ada gangguan dari bocil-bocil lucunya. Kalau tak sekolah ada saja ulah kedua anak itu cari kesibukan di rumah. Kalau bukan mau bantu masak pasti minta di dongeng kan. Apa saja boleh yang penting mengusik sang mami cari perhatian.


Baru saja Srikandi menekuni layar laptop ponselnya berdering. Benda pipih di atas meja kerja dia bergetar kencang seperti kesurupan setan ajojing. Berteriak memohon perhatian Srikandi.

__ADS_1


Srikandi klik bulatan hijau lalu aktifkan loud speaker malas dekatkan benda itu ke kuping. Srikandi sudah menduga Kalau obrolan ini akan panjang lebar melebihi lapangan sepak bola. Maka itu dia pilih ngobrol sambil mengerjakan tugas di layar laptop.


"Halo... assalamualaikum..." sapa Srikandi halus menghanyutkan. Andai yang dengar seorang pasti ikut terseret dalam ayunan lembut suara Srikandi.


"Waalaikumsalam...gimana? Ada perkembangan?"


"Perkembangan apa?" Srikandi pura-pura bodoh malas bahas soal yang sama untuk kedua kali. Topiknya pasti soal kejadian semalam.


"Ya ampun...itu kuntilanak..."


"Namanya ja setan untuk apa dilayani. Kita berada di tempat yang terang sedang dia berada di alam kegelapan. Untuk apa membuang tenaga meladeni arwah gentayangan itu."


Utari tertawa terpingkal-pingkal mendengar jawaban Srikandi. Bisa juga wanita ini berkata sarkasme terhadap Kunti. Kunti itu sudah tidak ada obatnya selain dikirim ke neraka.


"Kau tak ingin pergi?"


"Aku juga tak tahu... Kunti telah menciptakan salah paham dengan dokter Baladewa. Seharusnya dia mulai dari dokter Baladewa. Kalau dia kelar dengan dokter itu maka aku akan netap."


"Gitu ya...semoga Arjuna bisa bujuk setan itu minta maaf. Kau di mana? Aku mau jumpa pengacara aku. Kau mau temani?"


"Aku bisa ke mana? Transportasi cuma kedua lutut. Sebentar-sebentar taksi kantongku bakal bolong."


"Aku punya stok mobil nganggur. Kau bisa sewa satu. Sebulan tiga puluh hari."


Srikandi tertawa diguyon temannya. Srikandi percaya kalau Utari tak bohong. Utari punya kekayaan cukup lumayan sanggup penuhi garasi rumah dengan aneka koleksi mobil. Cuma Srikandi bukan orang tamak mau saja terima tawaran menggiurkan. Srikandi tak mau tanam budi yang tak tahu kapan dia bisa bayar.


"Terimakasih sobitku...aku tak punya surat ijin mengemudi tanah air. Jadilah biarlah aku ganti pasangan tiap hari. Coba bayangkan setiap hari tukar pacar antar ke tempat kerja. Prestasi mengagumkan bukan?"


"Kagum piye toh? Cewek playgirl...mau ngak temani aku?"


"Buat sahabat tercinta apa yang tidak? Jangan bilang jatuh cinta padaku ya!"


"Kamu ini...baru saja mau kutembak sudah kamu larang! Kuberikan seluruh hidupku padamu. Terima ngak?"


"Ngak...tak punya modal ngasih makan tuan putri macam kamu. Kau jemput aku. Aku bersiap dulu. Oya gimana masalah kamu semalam?"


"Aku serahkan pada ketua RT. Aku heran terbuat dari apa otak keluarga Duryudana. Seenaknya mau pulang ke rumah setelah talak aku. Mau bawa parasit hamil pula. Enak bingit...pikir rumahku tempat singgah apa??" Utari merepet masih kesal pada mantan-mantannya.


Srikandi termenung membayangkan masalah Utari lebih rumit darinya. Srikandi sudah tak ada hubungan dengan Arjuna sedangkan Utari masih harus lalui sidang demi sidang untuk bebas dari laki durjana. Mengapa nasib mereka sama dikhianati orang tercinta.

__ADS_1


__ADS_2