
Arimbi terdiam kena semprot mamanya. Arimbi terlalu gegabah memikirkan begitu gampang pergi dari rumah sakit tanpa sepengetahuan dokter. Itu sama saja mencari masalah dengan rumah sakit. Apalagi semua biaya pengobatan telah dibayar oleh pihak sekolah jadi mereka tidak ada alasan membawa pergi Nakula Sadewa tanpa seizin dokter yang merawat.
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" Arimbi kembali terduduk lemas tak mempunyai ide lebih baik lagi untuk membawa pergi Nakula Sadewa dari incaran Arjuna.
"Papamu sedang kemari... semoga papamu mempunyai ide untuk mengalihkan perhatian Arjuna." Dewi Madri hanya bisa berharap Pandu segera tiba memberi solusi selesaikan masalah ini.
Kalau saja Srikandi berbesar hati mengizinkan Arjuna mengetahui mereka memiliki anak maka semuanya akan berjalan mudah. Dewi Madri mengetahui seberapa bencinya Srikandi terhadap Arjuna sampai tak mengizinkan Arjuna mengenali anaknya. Mereka sekeluarga juga sudah terlanjur janji kepada Srikandi untuk menyembunyikan status Nakula Sadewa maka mereka harus menepati janji.
Pandu tergesa-gesa masuk ke rumah sakit sambil membawa mainan untuk kedua cucunya. Pandu lupa kalau anaknya juga bertugas di rumah sakit ini besar kemungkinan berjumpa dengan Arjuna. Namun pikiran Pandu sudah tidak fokus terhadap masalah lain selain memikirkan nasib kedua cucunya. Pandu sudah tidak sabar ingin melihat langsung kondisi Nakula Sadewa.
Siapa yang ingin melihat cucu yang baru dia jumpai dalam kondisi sekarat. Baru saja kehidupan mereka dipenuhi dengan bunga-bunga bermekaran kini harus segera layu kembali. Pandu tak ingin apapun terjadi pada kedua cucunya.
Pandu yang berjalan sambil berlari kecil tidak mengetahui kalau ada dua pasang mata menatap heran ke arahnya. Kedua orang itu merasa surprise kalau orang nomor satu di rumah sakit ini juga hadir di antara mereka. Ini menambah keyakinan kalau kedua bocah ini erat hubungan dengan keluarga Pandawa.
Bima mencolek pinggang Arjuna yang terpaku melihat kehadiran Papanya di rumah sakit ini. Angin apa meniup Pandu hadir ke rumah sakit di jam begini. Biasanya Pandu akan sangat sibuk di kantor pada saat-saat kerja. Tumben hari ini di turun dari singgasana bertandang ke tempat kerja Arjuna.
"Kaisar sudah turun tangan...kau kira ada apa di rumah sakit ini? Kau mau samperin?" Bima membuyarkan kebekuan Arjuna yang tidak bisa memikir lebih jauh mengapa Papanya datang ke sini.
"Jangan...mungkin dia ada urusan lain. Kita ikuti saja dia ke mana." Arjuna bergegas ikuti Pandu dalam jarak yang aman agar jangan ketahuan sedang intip pria paro baya itu. Bima dan Arjuna sudah seperti detektif sedang mengincar tersangka.
Pandu bukannya berjalan ke kantor yang berada di lantai bawah melainkan pergi ke arah lift untuk naik ke atas. Kalau dia ada urusan dengan direksi maupun manajer Rumah sakit pasti akan mencari mereka di kantor bukan naik ke atas yang merupakan tempat perawatan orang sakit.
Arjuna dan Bima mengintip ke mana perginya Pandu tetapi tidak berani ikut masuk ke dalam lift karena akan ketahuan. mereka harus menyelidiki kemana arah perginya Pandu.
Pandu menghilang di dalam lift membuat Arjuna dan Bima kehilangan sasaran. Mau langsung ikut tetapi takut ketahuan.
"Gimana nih?"
Arjuna berpikir keras apa yang dia harus lakukan untuk mengikuti Pandu tanpa ketahuan apa yang dilakukan oleh Papanya. Mata Arjuna sampai berputar-putar memikirkan langkah apa yang harus dia tempuh untuk mengintai Pandu dari jauh.
"CCTV...ayok kita ke ruang pemantau...kita mulai dari tempat perawatan kedua bocah itu. Kalau papaku di sana sudah pasti kedua anak itu mempunyai hubungan dengan keluarga kami. Mereka pintar menghindari aku kita juga mempunyai cara untuk mengetahui apa yang telah terjadi."
"Oke juga idemu...come on!" Bima menyambut baik-baik ide Arjuna untuk memantau Pandu dari CCTV yang terpasang di seluruh rumah sakit.
__ADS_1
Keduanya bergegas menuju ke ruang pemantau CCTV untuk melihat secara langsung ke mana perginya Pandu. Mereka seperti pemain sinetron yang memainkan peran menjadi detektif mengejar maling. Sinetron tanpa sutradara ini berjalan live tanpa arahan. Semua berjalan alami tanpa adanya skenario.
Dua petugas pemantau CCTV sangat kaget melihat kehadiran direktur utama Rumah sakit. Dalam rangka urusan apa sampai direktur sendiri turun tangan untuk melihat keamanan rumah sakit. Namun mereka tidak memiliki hak untuk melarang Arjuna masuk ke ruang pemantau karena ini adalah wilayah terlarang buat orang luar.
Keduanya mengangguk hormat kepada Arjuna dan Bima sambil berdiri. Arjuna memberi tanda agar keduanya kembali duduk tanpa perlu sungkan pada mereka. Mata Arjuna lebih tertuduh pada layar monitor yang menampilkan setiap sudut yang terpasang CCTV. Mata Arjuna sampai pedas meneliti yang mana layar harus diteliti karena terlalu banyak yang mesti dipantau.
"Coba tunjukkan ruang perawatan anak kecil!" Bima lebih cerdik tidak ingin matanya kelelahan meneliti satu-satu. Dokter gigi ini memerintah pada petugas keamanan untuk menunjukkan di mana pemasangan CCTV ruang rawat inap anak-anak.
Petugas itu dengan sigap menunjukkan yang mana layar untuk memantau ruang perawatan anak. Di situ terlihat beberapa sudut di mana para perawat dan beberapa orang lalu lalang sepanjang koridor ruangan khusus untuk anak-anak. Arjuna dan Bima menunggu dengan hati berdebar-debar menanti Pandu keluar dari lift untuk meyakinkan mereka menuju ke tempat perawatan Nakula Sadewa.
Baru beberapa menit mereka menunggu orang yang nanti benar-benar muncul dari lift menuju ke arah kamar di mana Nakula Sadewa dirawat. Arjuna merasa tidak perlu melihat lebih jauh karena papanya pasti menuju ke tempat kedua bocah itu. Tanda tanya besar makin mengambang di kepala Arjuna. Makin dipikir Arjuna bisa makin stres.
Bima tertawa puas mendapatkan jawaban atas kehadiran Pandu. Tak diragukan lagi kalau kedua bocah itu mempunyai hubungan erat dengan keluarga Pandawa.
"Kalian lanjutkan kerja! Terima kasih sudah kerjasama!" Arjuna menyemangati kedua pegawainya yang masih segan berhadapan dengan majikan mereka.
Keduanya segera keluar dari ruang pemantau keamanan rumah sakit mencari tempat untuk melanjutkan obrolan mereka. Tak mungkin juga mereka balik ke tempat perawatan Nakula Sadewa menggebrek Papanya yang entah bersama siapa di sana.
Arjuna memilih kembali ke kantornya untuk menenangkan diri agar bisa berpikir lebih waras. Kini lelaki ini mulai menghubung-hubungkan kejadian yang terjadi beberapa waktu ini. Srikandi muncul lalu Arimbi lalu kedua bocah lalu kedua orang tuanya yang sering menolak kehadirannya. Ada perihal apa di dalam keluarganya.
Kedua lelaki ini duduk terdiam sambil memikirkan pola pikiran masing-masing mengenai kejadian hari ini. Bima sibuk memikirkan Arimbi sedangkan Arjuna sibuk memikirkan keluarganya dan kedua bocah itu. Benarkah kedua bocah itu adalah darah dagingnya yang tertinggal di perut Srikandi sewaktu mereka bercerai. Kalaupun benar apa yang harus dia lakukan untuk mendapat pengakuan dari kedua bocah itu.
Apa mungkin Srikandi mengijinkan dia mengenal bocah itu lebih dekat. Dari sorot mata Srikandi yang penuh dengan kebencian Arjuna menepis harapan bisa dekat dengan kedua bocah itu.
"Jun... kurasa kamu harus secepatnya melakukan tes DNA sebelum keluarga kamu menyembunyikan kedua bocah itu lagi. Kurasa sudah cukup lama mereka menyembunyikan mereka dari kamu."
Arjuna mengetuk-ngetuk meja dengan jarinya penuh kebimbangan. Arjuna memang menyadari kalau kedua orang tuanya memang bertingkah aneh. Setiap dia ingin pulang untuk bersama mereka selalu saja ada alasan menolak kehadirannya. Mereka menolak Arjuna seolah-olah Arjuna adalah anak buangan yang tidak diharapkan. Arjuna tidak tahu kalau Dewi Madri sering membawa kedua bocah itu pulang ke rumah maka melarang Arjuna datang ke rumah.
"Kurasa tidak terlalu lama...kisaran sejak kemunculan Srikandi. Sebelumnya Mama aku sering memaksa aku untuk segera berkeluarga agar memiliki keturunan. Tetapi sekarang malah jarang menelepon aku." Arjuna termenung sendiri memikirkan nasibnya yang mulai pudar di dalam keluarga. Satu kesalahan delapan tahun lalu membawa derita panjang tak berkesudahan.
"Kasihan kamu bro...aku sih hanya direpeti agar segera menikah. Aku harus kejar yayang Arimbi. Aku mau cuti sebulan untuk full time pantau yayang aku."
"Emang ada dokter cuti sebulan? Kenapa tidak resign saja. Eh kau lama di sini memangnya sudah lepas piket?"
__ADS_1
"Sudah dong... pasienku sudah habis. Kau mau aku pergi intip apa kerja papamu di ruangan bocah kembar itu?" Bima berbaik hati menawarkan diri menjadi pengintai.
"Kau mau?"
"Mau dong kakak ipar...restui aku ya!" Bima merangkap tangan minta Arjuna restui dia mengejar Arimbi lagi. Cintanya tak pernah pudar pada adik Arjuna. Tak peduli orang tuanya memberi barisan deretan cewek cakep agar dia mau menikah bahkan ada artis top namun hati Bima tidak tersentuh. Masa depannya tetap Arimbi.
"Pergilah! Hati-hati jangan ketahuan! Aku takut mereka susun rencana lain kaburkan kedua bocah itu."
Bima acung jempol siap laksanakan misi memantau kegiatan keluarga Arjuna di kamar kedua bocah kembar itu. Bima pantau situasi kiri kanan lihat apa ada yang mencurigakan.
Sepanjang lorong agak sepi jauh dari kegiatan. Hanya ada satu dua orang lalu lalang tak perhatikan Bima yang gunakan pakaian dokter. Bima baper sendiri ketakutan ketahuan padahal dia dokter wajar berada di sekitar orang sakit.
Mengendap-endap Bima dekati kamar rawat Nakula Sadewa intip dari luar tanpa menimbulkan kebisingan. Dari balik kaca Bima melihat keluarga Pandawa sudah lengkap minus Arjuna. Ada Pandu, Dewi Madri dan Arimbi.
Mata Bima berubah sayu melihat gadis yang mengukir kata cinta di hati duduk di atas salah brankar. Sementara kedua bocah masih pulas. Kelihatannya mereka sedang serius bahas hal penting. Sayang Bima tak bisa menangkap apa yang jadi topik bahasan keluarga Pandu. Suara mereka kecil sekali tak terdengar keluar. Bima keluarkan ponsel foto keluarga dalam ruang perawatan agar ada bukti buat Arjuna.
Bima segera angkat kaki sebelum ketahuan sama Pandu ada orang sedang pantau mereka. Akibatnya bisa fatal bila Arimbi tahu Bima sedang pantau kegiatan mereka. Kini Bima cuma perlu bawa barang bukti pada Arjuna untuk kasih kabar apa yang dia lihat.
Sebenarnya Bima juga prihatin dengan kondisi Arjuna. Bima tidak tahu persis apa yang terjadi 8 tahun lalu tetapi Arjuna telah mendapat hukuman atas perbuatannya berselingkuh dari Srikandi. Kalau benar kedua bocah itu adalah anak Arjuna maka lelaki itu telah berbuat kesalahan yang sangat fatal. Bahkan keluarga sendiri tak percaya pada Arjuna menyembuhkan identitas kedua bocah itu. Di mana harga Arjuna di dalam keluarga.
Bima kembali ke kantor Arjuna untuk memberikan hasil pantauan dia. Tak bisa dipungkiri kedua bocah itu memiliki ikatan dengan Arjuna. Bima mengetok pintu ruang kerja Arjuna segan kalau tiba-tiba ada orang lain dalam ruangan. Siapa lagi dalam ingatan Bima kalau bukan Kunti yang mirip lem setan nempel pada Arjuna.
"Masuk..." tetapkan pintu Bima mendapat sambutan dari dalam maka tanpa ragu lelaki itu segera nyelonong masuk.
Bima melihat Arjuna masih dalam posisi semula duduk termenung di belakang meja. Bima hanya sekedar iba kepada nasib Arjuna tetapi tidak kasihan pada tubuh lelaki itu. Ini adalah ganjaran buat orang yang berselingkuh dari keluarga. Apapun alasannya Arjuna tak boleh membelakangi Srikandi yang baru dinikahi setahun.
Arjuna memandang penuh harapan pada Bima membawa hasil yang dia inginkan. Bima tak banyak bicara hanya sodorkan ponsel berisi foto Arimbi dan kedua orang tua Arjuna. Foto ini kembali membuat Arjuna tertegun. Apa maksud keluarganya menyembunyikan hal begitu penting dari dirinya. Baik itu anak Arimbi maupun anak Arjuna tetap harus ada satu keputusan. Masalah segitu besar mereka tutupi dari Arjuna. Sedihlah hati Arjuna tak dianggap keluarga lagi.
"Apa pendapatmu bro? Anak Arimbi atau anakmu?" Bima kembali duduk di hadapan Arjuna memberi dua pilihan. Siapapun kedua anak itu tetaplah keturunan dari Pandawa. Bima tentu saja tak mengharap kalau kedua bocah itu adalah milik Arimbi. Kalau kepunyaan Arimbi berarti Arimbi sudah ada yang punya barulah ada kedua bocah.
"Apa aku harus ke sana untuk minta penjelasan?" gumam Arjuna merasa sakit hati plus jengkel. Arjuna jengkel sekali kepada keluarganya yang menyembunyikan keberadaan kedua bocah ini.
"Kurasa jangan! Kamu pura-pura tak tahu dulu sambil cari kesempatan test DNA. Kalau itu anak Arimbi maka DNA dengan mu pasti persennya kecil. Ada pertalian darah tapi tida capai seratus persen. Kalau milikmu maka persentase capai maksimal. Setelah dapat hasilnya barulah kamu tuntut jawaban dari orang tuamu."
__ADS_1
Arjuna manggut-manggut setuju dengan analisa Bima. Walaupun Bima hanya seorang dokter gigi namun pengetahuannya cukup luas. Mengapa Arjuna sendiri tidak berpikir sampai sejauh itu mencari keterangan lengkap mengenai kedua bocah itu. Arjuna harus main cantik pura-pura tak tahu apa-apa agar lebih mudah dapat keterangan mengenai kedua bocah itu.
Yang paling utama adalah mengorek keterangan dari mulut kedua bocah itu. Anak kecil biasanya tak pandai berbohong seperti orang dewasa. Arjuna harus pandai ambil hati kedua anak itu.