KESEMPATAN KEDUA SEWINDU TAHUN

KESEMPATAN KEDUA SEWINDU TAHUN
Test DNA


__ADS_3

Pikiran Arjuna kembali mengembara kepada dua bocah yang berada di ruang perawatan. Apakah kedua bocah itu adalah bocah yang sama dijumpai oleh teman Arjuna.


"Kalau aku jumpakan kamu dengan mereka apa kamu masih kenal?"


"Kau pikir aku sudah pikun tak kenal orang lagi? Ya pasti kenal apalagi anaknya Arimbi. Kapan ya dia mau menjanda. Aku mau kok menunggu jandanya."


Arjuna merasa kesal dengan ocehan dokter gigi itu. Adiknya belum menikah sudah disumpahin menjanda. Sahabat macam apa itu?


"Kau masih ada otak bro? Masak doain Arimbi yang jelek. Aku cukup pusing kamu tambah lagi."


Dokter Bima menopang dagu perhatikan wajah Arjuna dalam-dalam. Kedua anak itu lebih mirip Arjuna ketimbang Arimbi. Kalau dibilang anak Arjuna semua orang pasti setuju.


"Bro...kamu pernah titip bibit pada seseorang?" Bima tak bisa kunci mulut untuk hadirkan pertanyaan konyol.


Kesabaran Arjuna makin menipis hadapi teman tak punya etika. Yang doain janda Arimbi kini tanya pula hal di luar jangkauan akal sehat.


"Pergi sono! Mumet lihat kamu." usir Arjuna menjadi raja tega. Teman baik dia usir karena menambah sakit kepala dia.


"Kejam nian...kau tahu aku sudah lima tahun tunggu Arimbi. Sekali jumpa dia sudah punya buntut. Apakah aku tak boleh berkabung?" Bima pasang wajah sedih untuk cari simpatik Arjuna.


Arjuna memang kasihan kepada Bima yang telah Setia menanti kepulangan Arimbi. Yang bikin kepala Arjuna pusing adalah Bima mengatakan Arimbi telah memiliki dua orang anak. Dari mana asal anak Arimbi pula.


Arjuna dihantam berbagai pertanyaan secara bertubi-tubi apa kepalanya tidak mau pecah?


"Aku tak percaya itu anak Arimbi. Kalaupun dia telah memiliki anak kedua orang tuaku pasti akan memberitahu padaku walaupun Arimbi telah mencoret namaku dari daftar sebagai Abang."


"Aku takut dia main backstreet dengan cowok ciptakan generasi baru. Aku bersedia kok menjadi papi dari anak-anak itu kalau memang tidak memiliki seorang papi. Aku akan mencintai keduanya seperti aku mencintai Arimbi."


Arjuna semakin bimbang mendengar penjelasan Bima seolah-olah adiknya itu memang telah melakukan hal tak senonoh sambil melahirkan anak. Jalan yang paling tepat adalah membawa Bima lihat anak kembar yang keracunan es krim. Arjuna mau yakinkan kalau kedua anak itu mempunyai hubungan darah dengannya walaupun anak Arimbi.


"Kita lihat kedua bocah itu dulu. Apa bocah yang sama." Arjuna bangkit dari tempat duduk berjalan ke pintu tanpa peduli Bima setuju atau tidak. Laki itu masih galau memikirkan nasib cintanya. Lima tahun terbuang sia-sia menunggu milik orang. Kalau ditanya sakit tak ada jawaban saking tak bisa lukis seberapa sakit di seluruh badan. Cuma di hati terlalu sedikit. Ini mencakup dari ujung kepala hingga kaki.


Bima terpaksa menyeret langkah ikut Arjuna yang sudah duluan kabur mencari informasi mengenai di mana kedua bocah Srikandi di rawat. Keduanya anak itu dirawat di kamar kelas dua berdasarkan kemampuan pihak sekolah. Tak mungkin sekolah kucur dana terlalu besar untuk menanggulangi biaya perawatan Nakula Sadewa. Sekolah sudah mau bertanggungjawab atas kesalahan murid itu sendiri sudah syukur.


Kalaupun sekolah tidak ingin membayar biaya pengobatan keluarga Pandawa juga tidak keberatan karena mereka memiliki kemampuan untuk membayar secara mandiri.


Arjuna sudah mengantongi informasi di mana kedua anak itu dirawat tak membuang waktu segera mencari di mana keduanya di tempatkan. Bima seperti kerbau dicocok hidung mengikuti kemanapun Arjuna pergi. Arimbi yang secara kebetulan melihat kedua sosok itu bergerak menuju ke tempat Nakula Sadewa dirawat seperti kesengat kalajengking. Dewi Madri masih berada di situ pasti akan ketahuan bila Arjuna melihat mamanya di situ. Kalau melihat keberadaan Dewi Madri Arjuna pasti bisa menduga itu anak siapa.


Arimbi segera bergerilya meneleponi Dewi Madri untuk cari tempat bersembunyi dari pantauan Arjuna. Kalau laki itu sempat melihat salah keluarga mereka di situ maka tamatlah riwayat Arimbi. Srikandi pasti tidak akan memaafkannya.


"Halo... assalamualaikum ma...mas Juna sedang ke tempat kedua bocil. Mama sembunyi.."


"Apa??? Kok bisa?" Dewi Madri ikut panik karena di situ atk ada tempat untuk sembunyi. Hanya kamar empat kali empat tanpa ada sekatan. Mata Dewi Madri mencari posisi amankan diri dari penglihatan Arjuna. Kalau boleh pilih Dewi Madri ingin Arjuna mengetahui keberadaan kedua bocil ini tetapi mereka sudah terlanjur janji pada Srikandi untuk menutupi keberadaan kedua anak ini dari Arjuna. Maka Dewi Madri tak punya pilihan selain mengikuti aturan yang telah diterapkan oleh Srikandi.

__ADS_1


"Aduh ma...itu nanti. Mama sembunyi ke toilet dulu. Jangan bersuara! Cepatan!"


Dewi Madri tersadar kalau ide Arimbi bisa dipakai. Kedua bocah itu juga sedang tidur maka Dewi Madri segera menyeret badannya masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci pintu. Dewi Mardi seperti seorang maling takut ketahuan sama punya rumah mengunci diri diri di dalam kamar mandi.


Dewi Madri mendekatkan kuping ke pintu untuk mendengar kalau-kalau Arjuna ada yang masuk ke dalam kamar rawat cucu-cucunya. Dewi Madri menahan nafas dan melepaskannya pelan-pelan takut ketahuan oleh Arjuna di dalam kamar mandi ada mahluk yang paling dia kenal.


Benar kata Arimbi karena di dalam ruangan terdengar langkah masuk lumayan ramai. Yang datang bukan satu orang melainkan ada dua atau tiga orang karena terdengar derap terdengar bergantian.


"Apa ini mereka?" tanya Arjuna pada Bima.


Bima memperhatikan kedua bocah yang sedang tertidur pulas. Tidak diragukan lagi kalau keduanya memang anak yang dibawa oleh Arimbi. Bima tidak bisa melupakan tawa renyah dari kedua anak itu sewaktu mereka bertemu. Keduanya membekas di dalam pikiran Bima.


"Ya benar ini mereka... kenapa bisa di sini? Mengapa tak ada yang jaga? Wah ngak bener ini..." Bima menggaruk kepala makin tak ngerti jalan skenario kehidupan Arimbi.


Kalau kedua bocil ini adalah anak Arimbi mengapa tidak tampak bayangan gadis itu. Keduanya ditinggalkan dirawat tanpa pendamping seperti anak tidak memiliki orang tua.


Arjuna memperhatikan lebih seksama kedua bocah yang tertidur pulas itu. Wajah mereka begitu damai seperti malaikat kecil tanpa dosa. Wajah mulus putih bersih jelas sekali kalau mereka berdua dirawat dengan baik. Cuma Arjuna bertanya-tanya apa hubungan anak ini dengan keluarganya. Memiliki rupa yang mirip dengannya, memiliki riwayat penyakit yang sama dengannya dan sekarang Bima mengaku kalau kedua anak ini dibawa oleh Arimbi. Arjuna bertanya-tanya di dalam hati apa yang sedang terjadi?


"Tadi mereka datang diantar guru mereka. Mana gurunya pula?" Arjuna merasa kasihan kepada dua anak ini dirawat tanpa ditemani oleh keluarga. Mengapa hati Arjuna seperti diiris-iris oleh mata pisau silet melihat keduanya terlantar di rumah sakit tanpa ada yang jaga.


"Mungkin gurunya sudah pulang dan menunggu kehadiran orang tuanya. Apa yang akan kamu lakukan pada dua bocah ini?"


Arjuna memutar kepala menatap wajah temannya sambil berpikir pertanyaan Bima seperti menyudutkannya harus bertanggung terhadap kedua anak ini. Padahal Arjuna sama sekali tidak tahu asal usul kedua bocah ini. Dia hanya dokter yang kebetulan merawat keduanya.


Bima mengambil file yang tergeletak di atas meja periksa semua catatan keduanya dari masuk rumah sakit sampai nama dokter yang merawat. Dokter IGD tertera nama Utari sedangkan dokter bertanggung jawab Arjuna sendiri. Nama mereka yang menarik perhatian Bima.


"Nama mereka Nakula Sadewa... Nama si kembar adik Arjuna. Wah makin tak jauh darimu bro..."


Arjuna seperti menelan bola pingpong di kerongkongan tak bisa mengeluarkan suara lagi. Suaranya langsung tercekik di tenggorokan. Arjuna sangat kenal dengan kedua nama itu karena dulu dia dan Srikandi pernah berangan-angan memiliki anak kembar diberi nama Nakula Sadewa. Mengapa ada hal kebetulan lagi.


Otak Arjuna makin buntu memikirkan kejadian ajaib ini. Anak siapa ini? Mengapa seluruh cerita mengarah pada dia. Mengapa terpikir pikiran konyol itu anaknya dari Srikandi. Dia hanya pernah berhubungan dengan Srikandi selama ini. Tapi ini hal mustahil karena sewaktu berpisah Srikandi tak mengatakan apapun.


"Apa kamu percaya kalau aku katakan ini adalah anak-anakku?" gumam Arjuna tak jelas. Arjuna tak berani berkata dengan tegas takut mempermalukan diri sendiri sok ke ge eran.


"Aku percaya... ke mana otakmu yang biasa runcing? Apa sering bergaul dengan kuntilanak berubah menjadi tumpul?"


"Jangan menghina orang bro!"


"Menghina bagaimana? Kau ini kan orang primitif tak pernah lihat wanita. Cewek kadaluarsa kamu agung-agungkan sedangkan yang fresh kamu tinggalkan. Coba kamu gunakan akal sehat kamu! Srikandi muncul dan muncul juga bocah ini. Mengapa tidak kamu lakukan tes DNA untuk meyakinkan kalau keduanya adalah bibit kamu yang tinggal di dalam perut Srikandi."


Bolanya lampu di atas kepala Arjuna kontan menyala kena klik oleh saran Bima. Satu saran cemerlang yang tidak terpikir oleh Arjuna.


Arjuna menepuk bahu Bima berterima kasih atas saran yang diberikan oleh sahabatnya itu. Kepala Arjuna yang memperoleh berbagai kemelut mendadak plong berharap kalau keduanya memang adalah bocahnya.

__ADS_1


"Tumben kamu pinter...makasih bro!!! Aku akan usaha dapatkan sampel darah keduanya."


"Tak perlu dua. Cukup satu. Keduanya kan sama... ku sarankan kamu ambil air ludah dan rambutnya saja. Jangan menyakiti mereka dengan mengambil sampel darah! Nanti mereka trauma dengan rumah sakit."


"Wah... hari ini akalmu sangat lurus."


"Iya dong!!! Kalau ini bocah kamu berarti yayang Arimbi belum memiliki pasangan. Berarti jalan ke Roma tak perlu berliku-liku lagi. Cukup berjalan lurus walaupun ada sedikit rintangan itu tak jadi soal."


"Arimbi melulu..." sungut Arjuna gemas Bima hanya mengelukan Arimbi.


"Daripada kamu kuntilanak melulu... kusarankan kamu kembalikan dia ke habitatnya di sekitar kuburan yang banyak batang-batang besar. Di situlah seharusnya dia berada." Bima kembali melontarkan kalimat tak suka kepada Kunti.


Gara-gara perbuatan Kunti dia kena imbasnya maka Bima sangat tidak suka kepada. Bima dan Arimbi pacaran dan putus gara-gara Arimbi meninggalkannya menyusul Srikandi ke luar negeri. Ini asal muasalnya dari Kunti yang ingin merebut Arjuna dari Srikandi dan wanita itu telah berhasil menyingkirkan Srikandi dari hidup Arjuna.


"Aku akan perintahkan perawat ambil sampel dari kedua bocah ini. Kita pergi dulu tak usah ganggu tidur mereka. Yok..." Arjuna menepuk bahu sahabatnya untuk meninggalkan kedua bocah yang masih tertidur pulas akibat reaksi obat.


Dewi Madri mendengar dengan jelas percakapan antara Bima dan Arjuna dari balik kamar mandi. Dewi Madri sangat panik mendengar Arjuna telah menduga kalau kedua bocah ini ada hubungan dengan dirinya. Apa yang akan terjadi bila Srikandi mengetahui Arjuna akan melakukan tes DNA pada kedua bocah ini. Jangan-jangan Srikandi akan membawa kedua bocah ini langsung meninggalkan tanah air. Apa yang harus mereka lakukan untuk mempertahankan keberadaan Nakula Sadewa di tanah air.


Setelah yakin Arjuna dan Bima telah pergi Dewi Madri keluar dari kamar mandi sambil mengurut dada melepaskan beban yang menghimpit dada. Baru saja mereka mereguk kebahagiaan bersama kedua cucunya dan sekarang mendapat masalah baru. Herannya mengapa Srikandi tidak mengizinkan Arjuna mengetahui kalau dia memiliki sepasang anak kembar. Apa yang ingin disembunyikan oleh Srikandi.


Dewi Madri kembali menancapkan mata ke tubuh kedua bocah ini secara bergantian. Dewi Madri belum rela kehilangan kedua cucunya untuk sementara waktu ini. Mereka adalah anak-anak lucu yang pandai menghibur kakek dan neneknya.


Arimbi masuk ke dalam ruang rawat dan menutup pintu dengan nafas tersengal-sengal seperti barusan berjumpa dengan hantu. Arimbi sangat panik melihat Arjuna bolak-balik melihat Nakula Sadewa. Ini sangat tidak sesuai dengan harapan mereka.


"Ma..." panggil Arimbi pelan takut mengganggu tidur kedua bocah ini.


Dewi Madri menangkap bayangan Arimbi segera memutar badan. Dewi Madri menangkap bayangan gelisah terukir di wajah anak putrinya itu.


"Apa yang harus kita lakukan sekarang? Mas Juna adalah dokter mereka. Kita tidak bisa main kucing-kucingan terus-menerus." Arimbi menghempaskan badan di bangku yang telah disediakan.


"Kita tunggu kehadiran Papa saja. Gimana kalau kita memindahkan keduanya ke rumah sakit lain. Abangmu sudah curiga kalau kedua anak ini adalah anaknya. Ini gara-gara kamu jumpa dengan Bima ya?"


Arimbi mengangguk lemas mengingat kalau mereka pernah berjumpa dengan Bima di jalanan. pasti Bima yang melapor pada Arjuna kalau Arimbi membawa kedua bocah ini sehingga Arjuna bisa menghubungkan kejadian demi kejadian.


"Gila...Kurasa saran mama sudah pas..."


"Abangmu mau test DNA..."


"What???" teriak Arimbi namun cepat sadar mendekap mulut sendiri kelepasan suara. "Wah... makin ribet ini. Aku akan urus administrasi untuk membawa mereka keluar dari sini sekarang juga."


"Tapi mereka sedang tidur..." Dewi Madri tidak tega mengusik kedua cucunya yang tertidur pulas. Keduanya adalah permata hati Dewi Madri yang tidak bisa digantikan oleh apapun. Dikasih sebongkah berlian belum tentu diterima Dewi Madri bila ingin digantikan dengan kedua cucunya.


"Mama tunggu di sini saja biar aku menyelesaikan administrasi dan kita tinggalkan rumah sakit ini."

__ADS_1


"Di mana otakmu? Pergi dari rumah sakit ini harus ada izin dari dokter yang menanganinya. Bukan kabur-kaburan begitu saja. Kalau buat onar akan makin menarik perhatian Arjuna."


__ADS_2