KESEMPATAN KEDUA SEWINDU TAHUN

KESEMPATAN KEDUA SEWINDU TAHUN
Anak Lucu


__ADS_3

Arjuna ingin sekali katakan pada Nakula kalau dia bukan orang jahat hendak celakai mereka. Sayang Nakula tak beri kesempatan pada Arjuna untuk katakan apapun. Anak itu buang muka tak mau lihat ke arah Arjuna. Hati terasa perih tapi dia tak boleh sakit hati. Semua ini bermula dari dirinya juga maka terjadi tragedi hari ini.


"Kalian boleh pulang. Semua biaya sudah ditanggung pihak sekolah jadi kalian boleh pulang tanpa perlu urus biaya rumah sakit. Kalian anak-anak jangan sekali-kali makan makanan dingin lagi ya. Tidak setiap kali kita beruntung seperti sekarang. Yang rajin sekolah biar pinter." Arjuna mengelus kepala Sadewa. Hanya anak ini bisa dia sentuh, yang satunya seperti landak bentengi diri dengan duri tajam.


"Iya pinter ngeles dan berbohong. Berbuat salah tapi anggap itu hanya ilusi yang bisa dihapus begitu saja." cetus Nakula ntah pada siapa.


Lagi-lagi Arjuna merasa kalimat dari mulut Nakula ditujukan padanya padahal Anka itu tidak menunjukkan orang itu siapa. Nakula sudah angkat senjata melawan dia dari dini. Nakula sudah persiapkan diri untuk berperang dengan Arjuna.


Pandu dan Dewi Madri bukannya tidak tahu apa yang dimaksud oleh Nakula. Anak itu tentu saja ingin menyindir Arjuna yang telah mencampakkan mereka untuk seorang perempuan tak tahu malu. Sadewa hanya tersenyum simpul langsung bisa menebak kalimat itu ditunjukkan kepada siapa. Walaupun ada rasa kasihan di hati Sadewa tetapi Arjuna pantas mendapat sindiran dari Nakula.


Arjuna tidak menjawab takut masalah akan makin panjang yang akan mempermalukan dirinya di hadapan keluarga. Kalaupun terbukti Nakula Sadewa adalah anak-anaknya tidaklah mudah untuk meraih kedua anak itu kepelukan. Pasti akan ada penolakan dari salah satu anaknya masih belum puas Arjuna tega mencampakkan mereka demi seorang pelakor.


"Aku permisi dulu... kalian sudah boleh pulang." Arjuna sudah tidak betah berada di situ karena mulut tajam Nakula. Hati Arjuna bukannya tidak hancur disindir secara telak oleh seorang anak kecil. Nakula sengaja mengingatkan Arjuna tentang kejadian 8 tahun lalu padahal dia saja belum lahir. Arjuna tidak tahu bagaimana caranya Srikandi menanamkan rasa kebencian di hati kedua anak itu kepada dirinya.


Semua hanya terdiam membiarkan Arjuna meninggalkan ruang rawat Nakula Sadewa. Dokter anak yang sangat gagah kini terkulai layu seperti baterai kehilangan daya. Pandu dan Dewi Madri tidak bisa berbuat apa-apa untuk melindungi putranya yang jelas-jelas telah melakukan kesalahan besar. Sudah tahu telah melakukan kesalahan tetapi masih juga bersama dengan wanita yang menghancurkan hidupnya. Arjuna sudah tidak ada obatnya. Penyakitnya sudah terlalu parah untuk diobati.


Dewi Madri tidak ingin terpaku lama-lama segera membereskan semua barang-barang Nakula Sadewa untuk kembali ke rumah. Hari ini Dewi Madri ingin membawa kedua cucunya untuk tinggal bersama mereka mengingat kondisinya belum pulih 100%. Dia harus membuat alasan pada Srikandi agar mengizinkan kedua cucunya untuk tinggal bersama mereka sampai Srikandi kembali ke rumah. Tak mungkin juga dia membiarkan Arimbi merawat mereka seorang diri.


Singkatnya Pandu memboyong kedua cucunya kembali ke rumahnya untuk mendapat perawatan lebih lanjut. Dewi Madri yang sudah sangat ahli merawat anak alergi makanan dingin merasa terpanggil untuk merawat kedua cucunya. Dewi Madri sudah mengetahui apa yang menjadi pantangan kedua anak ini. Untuk sementara mereka harus makan makanan yang hangat untuk menetralkan suhu tubuh yang terlanjur drop.


Arimbi meneleponi Srikandi membuat alasan agar kedua bocah boleh nginap di rumah orang tuanya. Arimbi tahu bukan gampang untuk meyakinkan Srikandi mengijinkan si kembar tidur di rumah orang tuanya. Bayangan buruk terhadap Arjuna terlanjur melekat di hati Srikandi. Srikandi tak apa yang telah terjadi di sini, wanita itu tak tahu kalau si kembar sudah jumpa musuh bebuyutan Srikandi. Dua sekaligus.


Arimbi cari tempat nyaman untuk ngobrol dengan Srikandi yang sibuk dengan seminar para dokter internis. Semoga saja dokter muda itu tidak sedang berada di tempat pertemuan. Arimbi mencoba sebelum ditegur Srikandi karena telah nekat bawa anaknya tidur di tempat orang tua Arimbi.


"Halo... assalamualaikum kak...sibuk ya???"


"Waalaikumsalam...baru saja keluar dari aula. Gimana kedua keponakan kamu?" Srikandi langsung tanya keadaan Nakula Sadewa. Arimbi tak bisa bayangkan bagaimana reaksi Srikandi bila tahu si kembar baru saja keluar dari rumah sakit.


"Alhamdulillah sehat...kakak kapan pulang?"


"Rencana besok siang setelah acara penutupan."

__ADS_1


"Syukurlah!!!! Oya...si kembar kuajak ke rumah papa mama... kami mau nginap sini. Boleh ya!" Arimbi merengek manja biar Srikandi luluh.


"Apa aman dari dia?"


"Insyaallah aman...Besok pagi kami langsung ke sekolah dari sini. Kakak tidak perlu kuatir. Aku akan menjaga mereka baik-baik."


"Kamu yakin tidak terjadi sesuatu? Aku kok malah curiga telah terjadi sesuatu pada mereka sehingga kamu membawa mereka ke rumah Papa dan Mama."


"Ya ampun nyonya... mereka dalam keadaan baik-baik saja. Kakak teleponi aja mereka agar tahu bagaimana kondisi mereka."


"Baik aku percaya kepadamu... jagalah mereka dengan baik karena mereka adalah hartaku yang paling berharga!"


"Yaelah nyonya... emangnya mereka bukan hartaku? Aku habiskan sebagian masa remaja aku bersama mereka. apa ini belum membuktikan kalau aku menyayangi mereka?"


"Maaf bukan tak percaya padamu tapi aku takut dia datang melihat si kembar. Kurasa abangmu belum buta tak bisa lihat mereka mirip siapa."


"Justru dia buta tak bisa lihat kerikil dan berlian. Kalau matanya normal tak mungkin lihat seonggok sampah menebar bau busuk sebagai barang berharga." Arimbi terpancing emosi bila ingat betapa bodoh Arjuna pilih bersama Kunti ketimbang merajut masa depan bersama Srikandi.


"Tak baik omong gitu Bim...ya sudah jaga baik-baik keduanya. Tunggu aku pulang besok. Salam ya untuk semuanya."


Arimbi meletakkan ponsel di meja menghembus nafas lega. Betapa plong hatinya telah berhasil membujuk Srikandi mengeluarkan ijin tinggal. Kini Arimbi tinggal membuat kedua bocah itu makin betah di sini agar kelak terbuka kesempatan bersama lagi di keluarga.


Srikandi pulang ke rumah kontrakan mendapat sambutan hangat dari si kembar. Keduanya tampak sangat rindu pada Srikandi padahal baru berpisah selama dua hari. Rasanya sudah bertahun-tahun tak lihat mami mereka. Sadewa tak henti memeluk Srikandi untuk membayar rasa kangen selama dua hari. Nakula lebih dewasa hanya tersenyum senang mami mereka telah pulang. Sikap cool Nakula yang bikin orang gemes ingin cubit pipi gembulnya.


Srikandi duduk di sofa murah sambil melambai pada Nakula untuk mendekat. Anak itu berdiri agak jauh beda dengan Sadewa bergelayut manja pada mami tak ingin terpisah.


Nakula mendudukkan pantat di samping Srikandi dengan gaya orang sudah sangat dewasa. Semua tindak tanduk Nakula menggambarkan dia jauh lebih wibawa dari Sadewa.


Srikandi membelai jidat Nakula dengan satu tangan. Sebelah lagi memeluk Sadewa yang masih betah menempelkan tubuh ke tubuh Srikandi. Srikandi mau berbagi kasih sayang sama rata tanpa pilih kasih.


"Tidak kangen sama mami?" tanya Srikandi tak henti mengelus kepala Nakula.

__ADS_1


"Ya pasti kangen mi...kangen kan tak perlu bertingkah seperti monyet kehilangan induk." Nakula menyindir Sadewa yang masih bergelayut manja mirip monyet kecil sedang meminta dukung induknya.


"Emang ada monyet seganteng ini? Dasar katarak tahunan...segini ganteng di bilang monyet." Sadewa merepet tak terima dibilang mirip monyet.


"Hei kok jadi tengkar...kalau Sadewa monyet berarti kamu juga. Kalian kan kembar..."


Sadewa tepuk tangan senang dibela maminya. Nakula kena senjata makan tuan. Terlalu sinis sampai lupa dia mempunyai saudara kembar.


Nakula mendekap kedua tangan di dada memalingkan wajah dari mami dan adiknya tanda dia sedang ngambek. Sadewa tidak mau kalah membuat gerakan yang sama membuang muka ke arah lain. Sadewa melakukannya hanya sebagai bentuk protes pada tingkah Nakula yang sering memojokkannya.


Srikandi menggeleng kepala mil lihat kelakuan kedua anaknya yang ajak kali bertengkar hanya gara-gara masalah sepele. Kedua saling menyayangi tetapi sering juga adu mulut hanya untuk hal-hal gak penting.


"Kalian ini cuma berdua bersaudara tetapi setiap hari bertengkar. Apa tidak bosan tarik urat leher? Lama-lama urat leher kalian bisa molor. Ngomong-ngomong di mana onty kalian?" Srikandi bertanya karena tak melihat bayangan Arimbi. Tak biasanya Arimbi meninggalkan kedua bocah tanpa pengawasan.


"Onty sedang pergi mencari cemilan untuk kami... Aku mau bakso daging sapi dan Nakal mau siomay. Tak jauh kok...dekat simpang jalan di depan."


"Oh...mami istirahat sebentar ya! malam kalian mau makan apa?"


"Tak usah mi...Oma sudah antar makan malam. Katanya tinggal panasin. Masakan Oma lezat lho cuma dikit hot...bibirku terbakar makan masakan Oma. Pedes tapi enak lho!" Sadewa terusan ngoceh cari perhatian Srikandi.


"Kalian merepotkan Oma terusan...Oma sudah tua lho! Tak baik bikin repot orang tua." Srikandi berkata sambil mengangkat tasnya untuk masuk ke dalam kamar. Srikandi hanya membawa beberapa hal yang pakaian karena di sana kebanyakan menggunakan pakaian dokter jadi tidak perlu membawa banyak pakaian sehari-hari.


"Kami tidak pernah meminta oma memasak untuk kami. Kami tahu Oma sudah tua tapi Omanya yang mau repot sendiri. Oma sampai ke sekolah tungguin kami sekolah. Kami sih sangat kasihan kepada oma tetapi omanya tidak mau mendengar kami suruh pulang."


Langkah Srikandi terhenti mendengar perkataan Sadewa. Srikandi tidak tahu seberapa berat kasih sayang yang diberikan oleh keluarga Pandawa. Tapi itu tak berarti Srikandi akan menyerahkan kedua bocah ini kepada mereka. Srikandi sudah bertekad ingin membesarkan kedua anak ini dengan tangannya sendiri tanpa campur tangan keluarga Pandawa.


"Apa kalian ada ucapkan terimakasih pada Oma?"


"Ada dong! Mami tidak usah khawatir kami akan melupakan sopan santun terhadap orang tua. Kami kan anak mami jadi Mami tidak perlu kuatir kami akan mempermalukan mami." Sadewa menepuk dada bangga pada diri sendiri. Saking semangat anak ini sampai terbatuk-batuk kena tepukan kuat.


"Tuhlah anak bengek... daripada ngoceh terus lebih baik kamu ambil piring dan mangkuk bakal makan kita. Anak kecil harus patuh kepada orang tua." Nakula mencolek kepala Sadewa anggap dia lebih jauh lebih tua padahal selisih beberapa menit.

__ADS_1


"Tua amat ya kamu...manusia jaman apa? Kayaknya manusia kanibal jaman perompak Viking..."


Srikandi merasa pusing dengar debatan kedua buah hatinya. Srikandi malas campur tangan karena perdebatan keduanya sangat tidak sehat. Kalau dia ikut dengar yang ada kepalanya tambah pening dan kupingnya merasa panas. Srikandi menyeret langkah meninggalkan keduanya melanjutkan perdebatan yang selalu mewarnai hari-hari kedua bocah itu. Biarlah mereka berdebat asal tidak menjurus hal-hal yang saling melukai.


__ADS_2