KESEMPATAN KEDUA SEWINDU TAHUN

KESEMPATAN KEDUA SEWINDU TAHUN
PENGAKUAN


__ADS_3

Tak sampai setengah jam Utari sudah tiba di rumah kontrakan Srikandi. Srikandi sudah menunggu kehadiran temannya di depan rumah. Pagi ini Srikandi mengenakan celana panjang dipadu dengan kemeja lengan panjang yang serasi. Rambutnya yang panjang di kuncir ekor kuda membuat Srikandi tampak seperti gadis remaja yang ingin menghabiskan akhir pekan di satu tempat. Srikandi betul-betul nampak sangat manis walaupun ada guratan kesedihan terbayang di wajah itu.


Utari membunyikan klakson mobil pertanda tidak ingin turun dari mobil melainkan meminta Srikandi segera masuk ke dalam mobil. Srikandi meraih tas gantung dan menutup pintu sebelum menghampiri temannya yang masih berada di dalam mobil. Srikandi tak mau menyusahkan Utari menjemput langsung dari dalam rumah seolah Srikandi sangat tinggi gengsi. Sesama teman tak pakai acara hitungan level pekerjaan. Posisi Sandar lebih tinggi dari Utari buka berarti Sandra minta dihormati.


Panas matahari belum menyengat kulit jadi Srikandi tak perlu menghindari kelembutan cahaya sang mentari. Pancaran sinar matahari pagi hari malah bagus untuk kesehatan karena mengandung vitamin D. Ini sangat berguna untuk kesehatan tulang.


Srikandi mengambil tempat di sebelah Utari sambil memberi senyum penyemangat. Wanita ini mengajak Srikandi bertemu dengan pengacara tentu saja untuk mengurus perceraian dia. Utari sangat terdesak untuk menyelesaikan perceraian dengan Duryudana karena tak mau di rongrong terus oleh keluarga itu. Utari benar-benar sudah patah orang terhadap Duryudana yang pernah singgah di hatinya itu. Pijaran api cinta yang pernah berkobar di dalam dada telah padam tersiram oleh penghianatan lelaki itu.


Setelah yakin kalau teman yang telah duduk manis mata Utari segera menjalankan kendaraan. Pagi ini lalu lintas belum begitu macet karena sebagian orang banyak yang tidak beraktivitas di akhir pekan. Pegawai kantoran memang tidak masuk terus sedangkan beberapa sekolah menerapkan Sabtu Minggu jari libur.


Kendaraan melaju dengan tenang berbaur dengan kendaraan-kendaraan yang menuju ke tempat tujuan. Kedua wanita ini saling memberi senyum lantas tertawa sendiri memikirkan nasib mereka. Mereka berdua sama-sama korban dari lelaki berkata keranjang. Ceritanya mereka senasib walaupun berbeda versi.


"Kulihat wajahmu kurang berseri...jangan terlalu tegang sikapi hidup. Kita kejar yang tak nyata sama saja menyimpan duri dalam daging. Kecil tapi tetap terasa sewaktu disentuh. Aku sih easy go saja. Meratapi nasib tak ada guna, kita harus perlihatkan kepada setan-setan itu bahwa kita jauh lebih kuat dari mereka. Aku tahu seberapa rasa sakit dalam hati. Tak ada orang bisa menyembuhkan rasa sakit itu selain diri kita sendiri." Utari mengerti apa yang sebabkan Srikandi muram durja kalau bukan ingat Arjuna.


Utari sengaja menguatkan Srikandi agar melupakan masa lalu. Seperti dirinya yang harus tegar menghadapi keluarga Duryudana yang jauh lebih parah daripada Arjuna. Keluarga Duryudana seperti benalu yang menghisap darahnya. Utari tidak bodoh membiarkan orang-orang berhati picik berkeliaran di sisinya lantas menoreh luka membuat darahnya setitik demi setitik menetes hingga kering. Utari tidak akan membiarkan Duryudana menyakitinya dan tidak akan meneteskan darah untuk lelaki bejat itu.


Srikandi tersenyum pahit. Apa yang dikatakan oleh Utari tidak ada salahnya namun Utari tidak tahu kalau Srikandi memiliki sepasang anak kembar dengan Arjuna. Itu yang akan membuat Srikandi bersangkutan dengan Arjuna selamanya.


"Aku memikirkan banyak hal.. kalau aku kembali ke tempat tugasku maka ada yang tersakiti."


Utari tidak tahu apa yang ada di pikiran Srikandi sampai menjaga perasaan Arjuna. Apa gunanya menjaga perasaan lelaki berhati setan itu. Kalau dia lelaki baik-baik tak mungkin dia akan mengkhianati istri yang jauh lebih muda daripada Kunti. Moral Arjuna sangat diragukan.


Padahal Srikandi tidak mengatakan hal ini untuk Arjuna melainkan kepada kedua orang tua Arjuna. Srikandi belum bercerita kalau dia memiliki sepasang anak dari Arjuna maka pikiran Utari mengarah kepada lelaki berhati bejat itu.


"Aku nasehati kamu kawan... laki model Arjuna itu tidak pantas diberi panggung. Aku mendukung kamu kalau memang ingin meninggalkan tanah air. Jauhilah sumber penyakit agar kamu tetap sehat! Sejujurnya aku juga tak ingin kamu pergi namun mengingat jiwamu yang label maka kusarankan kamu kembali ke tempat kamu bertugas."


Srikandi belum bisa menentukan sikap menunggu bagaimana reaksi Kunti terhadap dokter Baladewa. Apa wanita itu bersedia merendahkan diri memohon maaf dari Baladewa. Sejujurnya Srikandi ingin segera angkat kaki dari tanah air untuk melupakan kepedihan di hati namun Srikandi juga tidak bisa mengabaikan perasaan kedua orang tua Arimbi. Srikandi dapat membayangkan betapa sedihnya kedua orang itu bila Srikandi membawa pergi kedua cucunya.


"Kita semua memiliki masalah masing-masing. Aku bisa saja pergi meninggalkan tanah air namun aku memiliki beban yang harus ku selesaikan. Aku mau tanya apa pengacaramu bisa diandalkan?"


Utari terbengong karena tiba-tiba Srikandi menanyakan pengacaranya. Ada kasus apa lagi Srikandi dengan Arjuna sampai menginginkan hadirnya pengacara. Apa mungkin Srikandi ingin menuntut harta gono gini yang tak pernah dia dapat dari Arjuna karena pergi secara mendadak.

__ADS_1


"Kau mau apa? Mau bercerai sekali lagi dari Arjuna?"


"Omong kosong apa kamu ini? Aku hanya ingin meminta pendapat dari pengacara kamu."


"Pengacara Aku bernama Bisma. Single dan lumayan tampan walaupun tidak setampan Arjuna. Dia adalah pengacara perusahaan papa aku. Sekarang Aku hanya bisa mengandalkan dia untuk meluruskan masalahku dengan Duryudana si manusia laknat itu. Memangnya kamu ada kasus apa?" Utari mengalihkan mata sekejap dari jalan raya melirik Srikandi. Utari sangat berharap temannya itu mau bicara semua masalah. Srikandi terlalu lembut tak mau menyusahkan orang lain. Padahal Utari ini sekali bisa membantu temannya ini.


"Mengenai saham Papa di perusahaan. Kami sekeluarga pindah ke luar negeri secara mendadak jadi papa mempercayakan perusahaan pada rekannya yaitu Sengkuni Kurawa. 2 tahun kemudian Papa mendapat kabar Kalau perusahaan telah diambil alih oleh Sengkuni dan menjadi miliknya. Apa yang tak merasa menjual perusahaan ingin kembali ke tanah air untuk meluruskan masalah ini namun siapa sangka dalam perjalanan menuju ke bandara Papa dan Mama mengalami kecelakaan dan meninggal di tempat. Aku yang kurang mengerti masalah perusahaan hanya bisa berdiam sampai tahun lalu ada seseorang mengirim semua berkas dan mengatakan bahwa Sengkuni mengalihkan saham perusahaan secara licik. Sengkuni menggunakan kesempatan Papa tidak ada di tempat memindahkan semua aset atas namanya."


Utari merasa dadanya sesak kasihan kepada Srikandi yang tertimpa bencana bertubi-tubi. Pertama kehilangan suami lantas kehilangan kedua orang tua dan perusahaan. Dalang dari semua itu berasal dari satu keluarga yang sama yaitu Kunti Kurawa dan Sengkuni Kurawa. Mereka satu keluarga benar-benar manusia yang sangat licik.


"Apakah kamu memiliki dokumen penting yang menyatakan bahwa perusahaan itu milik bapak kamu?"


"Aku tak tahu pasti karena semua dokumen ada di safety box di salah satu bank. Aku memiliki akses untuk membuka safety box itu maka aku ingin membicarakan masalah ini dengan pengacara kamu. Apa aku bisa mengambil kembali perusahaan Papa dari tangan manusia jahat itu." Srikandi berkata dengan pelan namun mengandung kebencian di dalam nada suara nya.


Srikandi menganggap kepergian kedua orang tuanya merupakan salah satu dosa keluarga Kurawa. Andaikata Sengkuni Kurawa tidak berbuat jahat maka Papanya tidak akan meninggal. Papa dan mamanya tentu tidak akan pulang ke tanah air untuk mengejar aset mereka yang amblas begitu saja. Ternyata nasib berkata lain membuat Srikandi harus kehilangan segala-galanya.


"Baik...nanti kita jumpai Bisma dan katakan masalah kamu. Aku akan dampingi kamu sampai titik terakhir." janji Utari sungguh-sungguh.


"Terimakasih Tar...aku hanya bisa andalkan kamu!"


"Sudahlah...itu gunanya punya teman. Kita ke sana." mobil melaju menyusuri aspal hitam mencari keberadaan pengacara Bisma. Di situ semua akan terbuka mencari semua titik kebenaran.


Pandu membawa keluarganya berlibur di daerah wisata yang ber udara dingin. Pandu membawa kedua cucunya berlibur di villa mereka di daerah puncak. Di situ hawanya sejuk terbebas dari polusi. Pemandangan alam yang indah di mana tumbuhan masih tampak hijau di sana-sini. Dari jauh nampak hamparan kebun-kebun teh milik warga ataupun juragan-juragan dari kota.


Pandu sengaja mengajak cucu-cucunya melihat keindahan alam. Selama ini kedua cucunya hanya melihat gedung-gedung pencakar langit karena berada di lingkungan perkotaan. Pandu tak tahu apa judulnya pernah melihat secara langsung keindahan alam pedesaan yang asri.


Pandu membiarkan anak dan istrinya mengajak cucu-cucu mereka berlari di hamparan rerumputan merasakan keindahan alam terbuka. Pandu merasa sangat bersalah tidak bisa memberi perlindungan yang seharusnya didapatkan oleh kedua cucu itu. Arimbi juga bersalah menyembunyikan keberadaan kedua anak itu sehingga Pandu dan Dewi Madri tidak mengetahui telah memilih penerus yang sangat tampan.


Tapi semua belum terlambat karena mereka telah kembali untuk menyatu dengan keluarga kandung mereka. masalahnya sekarang adalah keinginan Srikandi untuk kembali ke tempat kerjanya di luar negeri. Secara tak langsung kedua cucunya akan mengikuti Ibu mereka kembali ke luar negeri. Pandu dan Dewi Madri akan kehilangan kebersamaan bersama cucu mereka lagi. Mereka memang masih bisa bertemu tetapi harus melewati gunung dan samudra barulah bisa bersatu.


Pandu teringat perkataan Srikandi dia akan tinggal bila Kunti berhasil meminta maaf pada dokter Baladewa dan memohon dokter itu bersedia melanjutkan kontrak. Baladewa menetap maka Srikandi juga akan menetap. Kunci satu-satunya sekarang berada di tangan Kunti. Pandu harus menekan Arjuna agar meminta kunci melakukan permintaan secara terbuka kepada dokter itu. Kalau tidak dia akan kehilangan cucunya untuk kedua kali.

__ADS_1


Pikir punya pikir Pandu mencari tempat yang nyaman untuk menelepon ni Arjuna menanyakan perihal keputusan Kunti. Wanita itu pasti berada di sekitar Arjuna karena wanita itu seperti lem setan yang selalu lengket pada Arjuna. Mau disingkirkan juga sangat sulit. Entah dengan cara apa Pandu baru bisa memisahkan Kunti dari Arjuna.


Pandu segera mencari nomor kontak anaknya dan menghubungi anak itu. Baru sekali berdering telah mendapat sambutan dari seberang sana. Kelihatannya Arjuna juga sedang memegang handphone untuk menyelesaikan masalah dia.


"Halo.. assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam..." sahut Pandu karena Arjuna duluan beri salam. Anak itu masih ingat sopan santun walau telah berkali mengecewakan orang tua.


"Papa di mana?"


"Papa dan Mama sedang liburan dengan adik kamu. Kami sudah lama berpisah maka ingin menikmati hari-hari bersama. Sekarang kamu di mana?"


"Masih di rumah sakit... tadi aku sudah menjumpai dokter Alam dan beliau bersedia menetap."


"Hanya dokter Alam??? Asal kau tahu kalau wakil dari JCI itu Baladewa. Kalau dia pergi tamatlah kamu. Kau minta perempuan itu minta maaf secepatnya sebelum Baladewa pesan tiket pulang ke negaranya. Apa kamu mau jerih payah kamu selama bertahun-tahun hancur oleh seorang wanita?"


"Kunti hanya mau minta maaf secara tertulis lewat wa. Anak itu memang menyusahkan. Aku akan skor dia tak boleh masuk kerja selama dua bulan. Aku sudah sampaikan padanya namun dia tak terima."


"Juna...kamu itu seorang pemimpin mana bisa diintervensi oleh seorang dokter tak punya skill apapun. Perempuan itu tak cocok jadi dokter. Harusnya dia bekerja di night club untuk ekspresikan jiwa histerisnya. Sekarang apa rencana kamu untuk menahan dokter Baladewa?"


"Bukan cuma Baladewa pa... Srikandi juga harus netap. Srikandi memiliki keahlian yang sangat diakui dalam bidang kardiovaskuler. Kita harus banyak belajar dari Srikandi. Aku ingin dia tetap berada di rumah sakit."


"Nah itu kamu tahu kalau Srikandi bisa diandalkan tetapi perempuan itu terus-terusan menyakitinya. Papa sangat suka pada Srikandi. Dia itu wanita yang tahu diri dan ngerti tata krama. Bukan seperti seseorang yang tidak tahu malu."


Arjuna bukannya tidak tahu kalau Pandu sedang menyindir Kunti. Dari tadi Pandu tidak sekalipun menyebut nama Kunti melainkan mengatakan perempuan itu. Dapat dibayangkan seberapa benci keluarga Pandu kepada wanita yang bernama Kunti itu.


"Pa... aku tahu Kunti itu bukanlah menantu yang baik untuk papa. Dan aku juga tidak berniat menikahi dia. Aku menghargai dia selama di rumah sakit karena orang tuanya memiliki saham di rumah sakit kita. Bukan karena aku tergila-gila kepadanya. Kunti tidak seujung kuku pun bila dibandingkan dengan Srikandi."


"Nah itu kamu mengerti apa yang Papa inginkan... papa harap kamu menangani masalah ini secepatnya dan selesaikan tepat waktu. Papa harap Papa mendapat kabar baik darimu karena ini menyangkut perasaan Mama kamu."


"Kok ke mama? Apa hubungan masalah rumah sakit dengan mama? Hanya karena mama tak suka kepada Kunti? Papa dan mama tak usah kuatir kalau aku akan berumah tangga dengan Kunti. Kalau aku mau menikahinya bukan sekarang melainkan dari tahun-tahun kemarin. Di dalam hatiku tetap Srikandi yang terbaik."

__ADS_1


Pandu seperti terkejut mendengar pengakuan Arjuna. seharusnya Pandu menyadari mengapa Arjuna tidak pernah mengatakan ingin menikahi Kunti walaupun mereka telah bersama selama 8 tahun. Ternyata Kunti tidak sanggup membuka pintu hati Arjuna walaupun dikatakan mereka telah berselingkuh yang menyebabkan Srikandi meninggalkan semuanya untuk menghindari Arjuna.


__ADS_2